Cinta Terhalang Dinding Pesantren
Muthi'ah Azzahra hanya ingin menjalani hidupnya sebagai santriwati dengan tenang. Namun, semuanya berubah ketika dia mengetahui bahwa dirinya telah dijodohkan dengan Jay, putra pengasuh pesantren yang selama ini terasa begitu jauh dari kehidupannya.
Bagi Muthi'ah, perjodohan itu adalah keputusan yang tidak pernah dia minta. Bagi Jay, itu adalah janji keluarga yang perlahan berubah menjadi sebuah pilihan.
Di tengah aturan pesantren, gosip, bullying, tekanan keluarga, dan perasaan yang tumbuh diam-diam, mereka harus belajar mengenal satu sama lain tanpa kehilangan hak untuk menentukan masa depan.
Sebab, cinta yang sebenarnya bukan tentang siapa yang menjodohkan mereka, tetapi tentang apakah mereka mampu memilih satu sama lain dengan hati yang benar-benar ikhlas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Juliani Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - Jay Menjaga Dari Jauh
Habis sidang kecil itu, Kiai Hasyim memanggil Jay lagi ke ndalem. Tapi kali ini nadanya beda. Tidak marah seperti kemarin, lebih seperti... lelah.
"Jay, untuk sementara, kamu jangan dekat-dekat dulu dengan Muthi'ah ya. Bukan karena Abi marah dengan kamu, tapi untuk menjaga nama baik Muthi'ah. Kasihan dia, baru saja difitnah. Kalau kamu masih kelihatan dekat, gosipnya tidak akan reda. Mengerti ya?" kata Kiai Hasyim.
Jay mengangguk. Meskipun berat, dia mengerti.
"Inggih, Abi. Saya paham," jawab Jay.
Sejak hari itu, Jay benar-benar menjaga jarak.
Kalau biasanya dia masih suka lewat depan kelas putri untuk mengecek roan, sekarang dia memilih memutar lewat belakang masjid, jalannya lebih jauh.
Kalau rapat Haflah, yang tadinya dia masih ikut, sekarang dia serahkan semua ke Heeseung dan Jungwon.
Di mata santri lain, Jay kembali menjadi Jay yang dulu. Dingin, jaim.
Tapi di dalam, dia tidak tenang.
Malam itu, di lab komputer putra, Jay duduk di depan komputer inventaris Haflah. Di layarnya bukan kitab, tapi tab browser. Isinya beasiswa.
Beasiswa Al-Azhar Kairo, beasiswa Marmara Turki, beasiswa PBSB Kemenag Malang.
Heeseung masuk membawa dua gelas teh.
"Ngapain lu? Tidak tidur?" tanya Heeseung.
Jay tidak menoleh, "Mengerjakan sesuatu."
Heeseung mengintip layar, langsung tersenyum.
"Ooh, mencari beasiswa untuk Muthi'ah ya?"
Jay kaget, langsung menutup setengah layar, mukanya merah, "Sok tahu lu."
Heeseung tertawa, duduk di sebelah Jay, "Sudah, tidak usah malu."
Jay membuka file Word berisi list beasiswa yang sudah dia rangkum rapi. Ada link, syarat, deadline. Lengkap dengan tabel. Di bawahnya, ada catatan kecil tulisan tangan yang sudah dia tulis di kertas kecil terpisah untuk diselipkan.
Dulu waktu rapat Haflah, Muthi'ah pernah bilang ingin kuliah Bahasa Arab, ingin lanjut ke Mesir atau Turki kalau ada rezeki.
"Gue tidak bisa memberi langsung. Makanya gue minta tolong lu, Hee," kata Jay pelan.
Heeseung mengangguk, "Mau gue kasih ke siapa? Ke Zahra?"
"Iya. Lewat Zahra. Bilang saja dari kakak kelas yang peduli, tidak usah sebut nama gue. Atau sebut saja dari perpustakaan. Yang penting sampai ke Muthi'ah," jawab Jay.
Keesokan harinya, jam istirahat putri, Zahra lagi di perpus. Heeseung datang, pura-pura mengembalikan kitab.
"Zahra, ini ada titipan," kata Heeseung pelan, menyodorkan kertas print-printan yang dilipat rapi. Di dalam lipatannya diselipkan kertas kecil tulisan tangan.
Zahra membuka, melihat list beasiswa. Matanya langsung berbinar.
"Ini dari siapa?" tanya Zahra.
Heeseung tersenyum, "Dari yang menjaga dari jauh. Jangan sebut nama ya. Bilang saja dari hamba Allah yang mendukung Muthi'ah kuliah."
Sore itu, di kamar putri, Muthi'ah lagi rebahan. Zahra masuk.
"Muth, lihat deh, aku dapat ini di perpus. Kayaknya ada yang menaruh di rak buku bahasa Arab," kata Zahra sambil menyodorkan print-printan itu.
Muthi'ah duduk, membuka lipatannya. Membaca.
Daftar Beasiswa S1 & S2 Bahasa Arab
Lengkap dengan syarat dan link. Di bawahnya ada kertas kecil tulisan tangan yang familiar, rapi, miring sedikit ke kanan.
Semangat kejar mimpinya. Jangan biarin gosip menghalangi kuliah. - Hamba Allah
Muthi'ah kenal tulisan itu. Pernah melihat waktu roan bersama, tulisan Jay di list piket gudang.
Matanya langsung berkaca-kaca.
"Zahra, ini dari siapa?" tanya Muthi'ah pelan.
Zahra berbohong dengan halus, "Tidak tahu, Muth. Ada yang menaruh di perpus."
Muthi'ah memeluk kertas itu.
Dina dan Salsa masuk kamar, melihat Muthi'ah memegang kertas.
"Apaan tuh, Muth?" tanya Dina.
Muthi'ah tersenyum, senyum pertama yang agak lebar setelah seminggu muram, "List beasiswa. Buat kuliah."
Salsa langsung heboh, "Wah, serius? Kamu mau daftar yang Mesir? Keren banget!"
Di asrama putra, Jay lagi di lapangan, melihat dari jauh Zahra keluar dari asrama putri sambil tersenyum. Heeseung di sebelahnya memberi kode jempol.
Jay tersenyum tipis, lega.
Malam itu, Muthi'ah membuka lagi mushaf kecil dari Nyai Maryam, lalu menaruh kertas list beasiswa itu di dalamnya, jadi pembatas. Dia sholat tahajud, doanya beda.
"Ya Allah, kalau memang jalan saya kuliah, mudahkan. Dan... jaga juga orang yang memberi semangat ini, di manapun dia," bisiknya.
Di asrama putra, Jay juga lagi tahajud. Doanya juga beda.
"Ya Allah, jaga Muthi'ah. Biarin dia kejar mimpinya dulu. Saya bisa menunggu."
Dua doa yang tidak janjian, tapi isinya sama-sama tentang menjaga dari jauh.