Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Tahu Diri
"Fadli nya, Ada?
"Ada.. Kenapa cari suami saya?
Deg!.
"Fadli, Suami kamu?
"Iya.. Saya istrinya, Kenapa?
Wanita itu diam membeku usai mendengar bahwa wanita cantik dihadapannya ini adalah istri dari Fadli.
"Kalau boleh tahu, Mbak siapa ya? Pagi-pagi udah bertamu?" Tanya Amara. Entah benar atau tidak firasatnya, Akan tetapi Amara merasa kalau wanita dihadapannya ini adalah Lidya. Wanita pujaan hati Fadli. Wanita yang katanya membuat Fadli tertarik..
Karena wanita ini, Fadli sampai berjanji tidak mau menyentuhnya sama sekali. Miris sekali pernikahannya..
"Aku, Aku.. Sekretaris Fadli, Dia..
"Suruh saja dia masuk.. " Fadli tiba-tiba saja datang dan langsung menyuruh Lidya masuk. Amara menoleh pada pria itu, Dengan entengnya pria itu langsung menyuruh Lidya masuk.
Fadli seakan abai padanya. Pria itu tidak peduli dengan raut wajah ketidaksukaan Amara pada wanita itu.
"Lidya, Masuklah. Kita sarapan bersama.." Kata Pria itu mengajak Lidya untuk sarapan bersama. Kedua tangan Amara terkepal erat. Dia yang istrinya tapi wanita lain yang pria itu aja sarapan bersama.
"Ohya, Pak Fadli..
"Kenapa harus, Pak? Panggil Fadli saja.. Kita kan sedang berada diluar jam kerja.." Wanita yang bernama Lidya itu tersenyum. Dia melirik Amara yang tak mengatakan apapun.
"Ayo, Kita sarapan dulu. Setelah ini, Barulah kita berangkat ke kantor bersama.." Kata Fadli lagi. Apakah pria itu buta atau bagaimana? Masih ada Amara disana, Tapi Fadli lebih peduli dengan Lidya.
"Aku perhatikan sejak tadi, Kak Fadli lebih peduli dia ya, Daripada aku yang istrinya.." Fadli dan Lidya saling pandang. Lidya mendekatkan diri, Wanita itu tersenyum pada Amara yang raut wajahnya mulai tidak bersahabat.
"Jangan salah paham dulu.. Aku dan Fadli tidak punya hubungan apapun. Kita hanya sekedar rekan kerja saja.. " Kata Lidya, Amara terkekeh mendengar ucapan wanita itu.
Apa katanya? Hanya rekam kerja? Rekan kerja apa sampai segitunya..
"Aku tidak tanya kalian punya hubungan apa? Dan aku tidak mau tahu kalian punya hubungan apa? Tapi ya, Wanita mana yang tidak salah paham. Kalau pria yang merupakan suami kita lebih peduli dengan wanita lain.. Ngajak sarapan, Ngajak berangkat kerja bareng.. Romantis sekali" Setelah mengatakan itu, Amara berlalu pergi kedapur.
"Jangan dengarkan Amara. Mungkin dia sedang datang bulan, Makanya kalau ngomong agak ngawur.." Lidya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.
"Gapapa.. Dia kan istri kamu. Wajarlah kalau dia cemburu.."
"Tapi kamu gak cemburu kan?" Goda Fadli pada wanita itu.
"Kamu apaan sih? Kita itu tidak punya hubungan apapun.. Aku gak berhak cemburu.." Fadli mengangguk.
"Yaudah, Kita sarapan dulu.."
Pria dan wanita yang tak punya hubungan apapun itu pergi keruang makan bersama. Disana sudah ada Amara yang lebih dulu sarapan tanpa menunggu dua orang itu.
"Silahkan duduk.." Fadli menarik kursi agar bisa diduduki oleh Lidya. Pemandangan itu tak lepas dari tatapan dingin Amara. Dia saja yang istrinya tidak diperlakukan seperti itu. Ini, Wanita lain..??
"Kak Fadli digaji berapa sampai harus menyiapkan kursi segala?" Lidya yang hendak duduk itu mengurungkan niatnya. Ucapan Amara barusan sungguh membuat Lidya mati kutu.
"Amara, Bicara yang sopan?" Tegur Fadli, Amara meletakkan garpu dan sendoknya lalu menatap keduanya.
"Memangnya aku tadi ngebentak dia? Aku cuma bicara apa adanya loh? Ya, Kan disini yang istri aku itu kamu. Kok bisa kak Fadli lebih peduli sama dia dibanding aku? Atau jangan-jangan mata kakak terkena minus ya? Makanya sampai salah orang.." Fadli tak menjawab. Pria itu duduk dikursi yang tadi hendak Lidya duduki. Sementara Lidya lebih memilih duduk dikursi yang lainnya.
"Fadli mau sarapan? Biar aku ambilin ya?" Fadli tak menjawab, Lidya bangkit. Wanita itu meraih piring, Wanita itu ingin melayani Fadli. Sungguh, Tak disangka wanita sekarang ini kebanyakan tak punya malu.
"Ternyata jadi pelakor itu mudah sekali, Ya?" Pergerakan Lidya berhenti. Wanita itu menatap Amara dengan tanda tanya. Fadli pun juga menatap Amara.
"Amara, Kamu bicara apa sih?
"Emang aku bicara apa sih? Aku cuma asal nyeletuk aja.. Rupanya, Wanita untuk menjadi seorang pelakor tidak begitu sulit ya? Cukup kasih sedikit perhatian, Tutur kata yang lembut.. Insya Allah berhasil merebut suami orang.. Dan satu lagi, Tidak tahu diri. Benarkan, Kak Fadli? " Fadli bangkit. Pria itu mulai muak dengan semuanya.
"Lidya, Kita tidak perlu sarapan.. Kita sarapan diluar saja.." Kata Fadli dengan nada yang emosi.
"I.. Iya.." Lidya pun mengikuti apa kata Pria itu. Keduanya hampir pergi, Akan tetapi..
Cekrek!
"Seorang suami lebih memilih sarapan diluar bersama wanita lain dibanding dengan istri sendiri.. "
Langkah Fadli terhenti, Pria itu berbalik badan.
"Amara! Kamu itu apa-apaan sih? " Amara tersenyum. Ia menunjukkan sebuah foto serta caption distory pribadinya.
"Bagus kan, Captionnya.. Hal seperti ini udah umum dijaman sekarang, Kak? Bukan cuma kakak ajah.. Kakak banyak temanya, Kok..." Fadli mendekat..
"Hapus Amara..." Titah Fadli tegas, Amara hanya medongak seraya mengangkat kedua bahunya.
"Kenapa harus hapus? Kakak gak suka?
"Jangan kekanak-kanakan Amara.. Kamu itu udah dewasa.. " Amara berdiri. Wanita itu menatap Fadli dengan tatapan yang entah tatapan apa itu. Fadli sendiri mulai merasa berbeda dengan adiknya ini.
"Disini bukan aku yang kekanak-kanakan kak? Tapi kakak yang punya pikiran seperti itu.. Kakak tahu kalau kita ini sudah suami istri. Tapi kakak lebih mementingkan perasaan wanita lain dibandingkan dengan perasaan ku.. Bocil banget.." Fadli memejamkan matanya. Seumur hidup dia tinggal satu atap dengan Amara, Fadli belum pernah melihat sikap Amara yang seperti ini.
"Amara, Dengar.. Tolong hapus postingan itu. Bagaimana nanti dengan perasaan Lidya kalau sampai orang-orang tahu dan menuduh nya sebagai pelakor.." Amara mengangguk-anggukan kepalanya.
"Jadi kakak masih lebih peduli dengan perasaannya? Okey, Kalau begitu.. Aku akan ganti captionnya..
"Pasangan yang sangat serasi.. " Lalu Amara memotret dirinya sendiri.
Cekrek..
"Dan aku adalah pelakornya.." Amara memberikan caption atas foto dia sendiri dengan caption yang merendahkan itu.
"Saatnya dikirim..
"Okey-okey! Mulai besok Lidya tidak akan ikut sarapan bersama kita lagi.." Kata Fadli. Amara tersenyum tipis. Putri bungsu Abi Rafa dan Umma Zakia itu menatap Lidya yang tiba-tiba menunduk.
"Mbak dengar? Bukan aku loh, Ya.. Yang bilang. Tapi Kak Fadli sendiri yang mengatakan kalau mulai besok, Mbak gak perlu kesini lagi buat sarapan bareng.. Bukan pelit Mbak, Tapi Mbak tahu kan, Kalau sekarang Kak Fadli itu udah nikah. Setidaknya tanpa dikasih tahu, Harus tahu diri.. " Ucap Amara dengan tegas. Kini tatapan Amara beralih pada Fadli.
"Kak Fadli paham kan? Aku rasa kak Fadli lebih mengerti daripada aku... Kalau kakak masih belum mengerti, Sia-sia dong kak Fadli belajar hukum agama selama ini.." Fadli dibuat bungkam oleh ucapan Amara. Kemudian pria itu mengangguk..
"Aku berangkat dulu.." Pamit pria itu tanpa membantah ucapannya Amara yang membuat dua orang itu mati kutu.
Seperginya Fadli dan Lidya. Amara meminum air yang berada dalam gelas hingga tandas. Wanita itu tidak menyangka sama sekali kalau pernikahan yang ia impikan ini tidak sesuai dengan espektasinya.
"Awas aja ya, Kalau kalian macam-macam.. "
"Wanita itu hampir tiap hari Non kesini. Kalau gak pagi, Ya siang.. Terus, Mereka makan bareng ." Amara langsung menoleh pada Bi Darmi.
"Bener Bi?" Wanita itu mengangguk.
"Iya.. Kadang Bibi juga mikir, Kok bisa Den Fadli gitu. Padahal mereka gak punya hubungan apapun. Sekarang Non adalah istri Den Fadli, Jangan biarkan mereka bareng terus Non.. " Amara terdiam, Apakah benar kalau mereka itu saling cinta? Kalau memang benar, Apakah tidak lebih baik dia saja yang mundur.
Tapi tunggu, Tidak seru kalau dia langsung mundur. Bukankah lebih baik Amara bermain-main saja dulu.?
•
•
•
TBC
.... Sebenarnya othor mau up kemaren.. Tapi karena terjadi sedikit eror, Nulisnya Ditunda dulu..
heh jalang, siap-siap kamu dan keluarga kamu masuk penjara dan jadi gembel 🤣🤣🤭🤭
hayo tamatlah riwayatmu Lidya
dan kamu Fadli siap siap datang kepengadilan untuk pembatalan pernikahan. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 senangnya hatiku melihat mereka berdua terpojok