NovelToon NovelToon
Vendetta

Vendetta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Action
Popularitas:221
Nilai: 5
Nama Author: Cukstaw

Season pertama mengisahkan kejatuhan tragis klan mafia termasyhur, Valenti, akibat pengkhianatan terencana pada malam penyerahan takhta kepemimpinan. Leo Valenti, pewaris tunggal yang dituduh membunuh ayahnya sendiri, diburu oleh gabungan faksi rival dan terlempar ke titik terendah setelah terluka parah. Di tengah keputusasaan, Leo bersimpangan jalan dengan Elena, seorang peretas dan pemilik jaringan informasi independen yang memiliki masa lalu kelam dengan pelaku kudeta tersebut. Mereka sepakat membentuk aliansi rahasia yang dingin dan saling memanfaatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INTEROGASI SINGKAT

Leo mengangkat botol air mineral itu dengan tangan kirinya yang gemetar. Ia meneguk air dingin itu rakus, membiarkan sebagian cairannya tumpah membasahi dagu dan lehernya. Tenggorokannya yang tadinya terasa seperti diisi pasir dan pecahan kaca kini sedikit mereda, meski rasa perihnya masih tertinggal. Ia meletakkan botol plastik yang sudah kosong setengah itu ke atas meja baja, lalu menarik napas panjang.

Di seberang ruangan, Elena duduk bersandar di kursi komputernya. Ia tidak lagi mengetik. Matanya yang tajam dan berwarna cokelat gelap menatap Leo lekat-lekat, menilai setiap inci gestur pria itu. Ruangan bawah tanah itu hanya diterangi cahaya biru pucat dari layar monitor raksasa dan satu lampu gantung redup di tengah ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang di wajah mereka berdua.

"Kau sudah merasa lebih seperti manusia hidup sekarang?" Elena memecah keheningan dengan nada suaranya yang selalu terdengar sinis.

"Lebih mirip mayat hidup, tapi kurasa ini cukup," Leo menjawab seraya memijat pelipisnya.

Kepalanya masih berdenyut. Ia menatap Elena, mencoba membaca isi kepala gadis peretas itu. Kesepakatan sudah dibuat, tapi udara di antara mereka masih terasa sangat tebal oleh ketidakpercayaan.

"Bagus. Karena sebelum kita mulai membicarakan rencana balas dendammu atau akses data apa pun yang kuinginkan dari klan Valenti, ada satu hal yang harus kita bereskan," Elena menyilangkan kakinya, menaruh siku di atas sandaran tangan kursinya.

"Apa lagi? Kau mau aku menandatangani kontrak berdarah?" Leo mendengus pelan, menahan nyeri di bahunya.

"Aku butuh kau menceritakan ulang apa yang sebenarnya terjadi di Grand Royale tadi malam," Elena menatap lurus ke dalam pupil mata Leo. "Detail demi detail. Dari saat kau naik ke panggung sampai kau melompat ke sungai seperti orang tolol."

Leo mengernyitkan dahinya.

"Untuk apa? Kau sudah tahu ayahku dibunuh dan Marco menjebakku. Seluruh kota sedang membicarakannya. Kau bahkan mendengarnya sendiri dari radio komunikasi bajingan yang mengejarku."

"Berita di radio polisi dan celotehan kroco mafia di jalanan adalah sampah," Elena memotong cepat. "Mereka hanya mengulang apa yang Marco perintahkan untuk mereka katakan. Aku butuh kebenaran versimu. Dan ingat, Tuan Valenti, aku menghabiskan seluruh hidupku membaca data dan kebohongan orang-orang. Jika kau menyelipkan satu saja kebohongan dalam ceritamu untuk membuat dirimu terlihat lebih baik, aku akan tahu. Dan saat itu terjadi, kesepakatan kita batal. Aku akan menendangmu keluar dari pintu itu."

Leo terdiam. Rahangnya mengeras. Ia sangat benci diinterogasi, apalagi oleh seseorang yang bukan bagian dari klannya. Tapi di sisi lain, ia sadar Elena sedang menguji fondasi aliansi mereka. Tanpa kepercayaan penuh mengenai malam itu, mereka tidak akan bisa bekerja sama.

"Baiklah. Kau mau dengar? Akan kuceritakan semuanya," Leo menghela napas kasar, memposisikan dirinya sedikit lebih tegak di tepi meja.

"Mulai dari awal," Elena menginstruksikan.

"Malam itu adalah malam suksesi. Ayahku... Don Antonio, berencana menyerahkan cincin kekuasaan padaku di depan seluruh petinggi klan dan keluarga sekutu," Leo memulai, suaranya terdengar berat saat menyebut nama ayahnya. "Gedung itu sudah disterilkan. Tidak ada senjata yang boleh masuk selain milik pengawal inti. Marco adalah orang yang mengatur seluruh sistem keamanan malam itu."

"Jadi Marco memiliki akses penuh ke ruang kontrol listrik dan pengawasan CCTV?" Elena bertanya, tangannya mulai mengetik sesuatu di layar secara perlahan.

"Ya. Dia tangan kanan ayahku. Orang yang paling dipercaya di seluruh klan selama dua dekade," Leo menjawab dengan nada getir. "Saat ayahku mulai memberikan pidatonya, lampu utama tiba-tiba padam. Total kegelapan. Tidak ada genset darurat yang menyala. Semuanya sudah disabotase."

"Lalu?" Elena menuntut kelanjutannya.

"Kepanikan pecah. Ruangan itu penuh dengan orang-orang berbahaya yang paranoid. Tiga detik setelah lampu mati, aku mendengar suara tembakan. Satu kali. Suaranya redam, seperti memakai peredam suara," Leo menutup matanya sejenak, mengingat kembali momen mengerikan itu. "Aku langsung menerjang maju ke arah ayahku di tengah kegelapan. Saat aku menyentuhnya... dadanya sudah bersimbah darah."

"Di mana posisimu dan posisi ayahmu saat tembakan itu terjadi?" Elena bertanya dengan nada datar, matanya menyipit mengobservasi gestur Leo.

"Aku berdiri sekitar dua meter di belakang sebelah kanannya. Marco berada di ujung panggung sebelah kiri, dekat tangga," jawab Leo yakin.

"Lalu apa yang terjadi setelah kau menemukan ayahmu?" Elena bersandar ke depan.

"Lampu tiba-tiba menyala kembali," Leo membuka matanya, kilat amarah memancar jelas di sana. "Lampu sorot langsung mengarah padaku. Marco berdiri di sana, menunjuk ke arahku sambil berteriak bahwa aku telah membunuh ayahku sendiri karena tidak sabar menunggu takhta. Aku berlumuran darah ayahku, dan Glock 19 milikku... pistolku tiba-tiba sudah tidak ada di sarung pinggangku. Pistol itu tergeletak di lantai, tepat di sebelah kaki ayahku."

"Seseorang mencopet senjatamu dalam kegelapan dan menggunakannya untuk mengeksekusi ayahmu," Elena menyimpulkan sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja komputer.

"Ya. Bajingan itu menjebakku dengan sangat sempurna," Leo mengepalkan tangan kirinya erat-erat. "Para pengawal ayahku, yang sebagian besar sudah dibeli oleh Marco, langsung menodongkan senjata padaku. Aku tidak punya pilihan selain lari melewati pintu rahasia di balik panggung."

Elena terdiam selama beberapa saat. Ia memutar kursinya, menghadap ke arah layar monitor tengahnya.

"Cerita yang bagus," ucap Elena pelan. "Tapi aku punya satu pertanyaan, Leo."

"Apa?" Leo menatap punggung gadis itu.

"Bagaimana jika ternyata Marco mengatakan yang sebenarnya?" Elena memutar kembali kursinya dengan cepat, menatap Leo dengan sorot mata menantang. "Bagaimana jika kau memang sudah muak menunggu? Don Antonio terkenal kolot dan lambat dalam mengambil keputusan. Bisnis klan Valenti merosot tajam tiga tahun terakhir karena ayahmu menolak berbisnis obat-obatan dan perdagangan manusia. Sebagai pewaris muda yang ambisius, kau merasa ayahmu adalah beban. Jadi kau mematikan lampu, menembak dadanya, tapi sayang sekali rencanamu ketahuan oleh Marco yang ternyata lebih sigap dari perkiraanmu."

Wajah Leo berubah merah padam. Urat-urat di lehernya menonjol. Ia memaksa tubuhnya turun dari meja baja, mengabaikan rasa sakit yang langsung meledak di bahu dan kakinya.

"Tarik kembali ucapanmu, brengsek!" Leo membentak keras, suaranya menggema di ruangan bawah tanah itu. Ia berjalan tertatih mendekati Elena, tatapan matanya mengisyaratkan pembunuhan. "Ayahku adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki! Aku lebih baik mati terbakar di neraka daripada melukai seujung rambutnya! Marco yang membunuhnya, dan aku akan merobek jantungnya karena itu!"

Elena sama sekali tidak bergeming dari kursinya. Ia menatap amarah Leo yang meledak-ledak di depan wajahnya dengan ekspresi tenang. Ia bahkan tidak berusaha meraih pistol di pinggangnya.

Dua detik kemudian, sudut bibir Elena tertarik ke atas, membentuk senyum kepuasan yang tipis.

"Duduklah kembali, Pangeran. Jahitanmu bisa robek," Elena berkata santai, gesturnya berubah jauh lebih rileks dari sebelumnya.

Leo berhenti melangkah. Ia menatap Elena dengan napas tersengal, kebingungan bercampur amarah masih menguasai dadanya.

"Kau memancing emosiku," Leo mendesis.

"Aku memancing kebenaran," Elena meralat. "Manusia bisa memalsukan cerita, menyusun kronologi palsu di kepala mereka, dan berlatih menatap mata tanpa berkedip. Tapi manusia tidak bisa memalsukan kemarahan murni saat orang yang paling mereka cintai dituduh telah mereka bunuh. Luka di matamu tadi... itu asli. Kau tidak membunuh ayahmu."

Leo menghela napas kasar. Ia mundur dan menjatuhkan dirinya ke sebuah kursi plastik kosong di dekat sana. Ia merasa seperti baru saja dipukul mundur dalam sebuah permainan catur psikologis.

"Kau benar-benar gila. Kau bisa saja membuatku mencekik lehermu tadi," gumam Leo.

"Kau boleh mencobanya kalau kau merasa cukup cepat," Elena tersenyum miring.

Gadis itu lalu menekan beberapa tombol di keyboardnya. Layar monitor raksasa di belakangnya menampilkan sebuah laporan forensik kepolisian yang masih berstatus rahasia, lengkap dengan foto-foto olah TKP dari Grand Royale Hotel.

"Aku sudah meretas database kepolisian pusat tiga jam yang lalu," Elena menjelaskan sambil menunjuk layar. "Otopsi awal Don Antonio menunjukkan bahwa peluru bersarang di dada kirinya, menembus dari sudut atas ke bawah. Ayahmu tidak ditembak oleh seseorang yang berdiri di panggung yang sama dengannya."

Leo membelalakkan matanya menatap layar tersebut.

"Dari sudut atas?" Leo bergumam, mencoba mencerna informasi itu. "Penembaknya... penembaknya ada di balkon VIP lantai dua."

"Tepat sekali," Elena mengangguk. "Dan dari denah hotel yang kutarik dari server arsitek kota, balkon VIP itu punya akses langsung ke ruang kontrol listrik dan CCTV. Marco pasti menempatkan penembak runduknya di sana. Pistolmu yang jatuh di lantai hanya digunakan sebagai barang bukti palsu untuk memberatkanmu di mata para tetua klan yang panik."

Leo menundukkan kepalanya, mengusap wajahnya yang kasar dan belum bercukur. Kebenaran yang baru saja dipaparkan Elena membuat teka-teki malam itu menjadi sangat jelas. Rencana Marco sangat rapi, sistematis, dan terencana jauh sebelum malam suksesi.

"Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal kalau kau sudah tahu dari bukti forensik?" Leo menatap Elena dengan rasa frustrasi.

"Karena bukti digital bisa saja dimanipulasi oleh pihak kepolisian yang sudah dibeli Marco," jawab Elena logis. "Aku butuh konfirmasi dari subjek utama. Dan sekarang, setelah aku tahu kau jujur dan ceritamu cocok dengan data yang kupunya... kita bisa lanjut ke tahap berikutnya."

Leo menatap gadis peretas di depannya dengan pandangan yang sama sekali baru. Elena bukan sekadar peretas yang bersembunyi di balik layar. Ia adalah ahli strategi, manipulator informasi, dan sangat teliti. Jaringan "Phantom" yang selalu digosipkan di jalanan ternyata jauh lebih mengerikan dari sekadar rumor.

"Lalu apa sekarang?" Leo bertanya, nada suaranya kini tidak lagi merendahkan. "Marco menguasai seluruh klan Valenti, kepolisian, dan jalanan. Aku hanya punya pakaian compang-camping dan bahu yang hancur. Kau hanya punya komputer di ruang bawah tanah."

"Salah," Elena mengoreksi seraya memutar kursinya sepenuhnya menghadap layar monitor, jari-jarinya bersiap di atas keyboard. "Kau punya nama Valenti dan hak sah untuk memimpin. Dan aku punya akses ke setiap rahasia kotor di kota ini. Marco mungkin menguasai siang hari, Leo. Tapi mulai malam ini, kita akan menghancurkannya dari dalam bayangan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!