NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: KEMBALINYA SANG KAKAK TERTUA

Tak lama kemudian, setelah semua belanjaan pesta tersusun rapi di pendopo, para wanita cantik itu mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

Sinta Maharani sibuk menata bunga, Laras sibuk di dapur menyiapkan kue, Anjani dan Sekar sibuk menghias ruangan, sehingga Bima Samudra akhirnya memiliki waktu untuk bersantai sendirian.

Bima berkeliling pelan melihat-lihat sekeliling markas besar Organisasi Tujuh Bidadari di Colomadu.

Ternyata tempat ini cukup indah dan sangat nyaman, banyak terdapat taman bunga anggrek dan melati yang tertata asri. Tapi sepertinya lokasi taman terdalam ini adalah area privat, hanya khusus para kakak-kakak seperguruannya saja yang boleh masuk, pikir Bima. Aura di sini sangat tenang.

Saat sedang berkeliling dengan santai, banyak orang-orang yang Bima temui di sepanjang jalan setapak. Para perempuan yang bekerja di sana, para staf dan pelayan, terlihat sangat ramah dan menunduk hormat saat melihat Bima. Namun ada pula beberapa staf laki-laki yang terlihat menatap dengan sinis dan penuh iri hati. Mereka berpikir Bima ada di sini hanya karena dia adalah adik manja dari tujuh dewi penguasa markas ini, sementara dia sendiri tidak punya kemampuan apa-apa dan hanya menumpang hidup.

Begitulah pikiran picik orang-orang itu terhadap Bima.

Namun Bima hanya mengabaikannya saja dengan senyum tipis, dia tidak mau membuat masalah yang tidak perlu di rumah kakak-kakaknya sendiri.

Setelah cukup lama berkeliling, akhirnya pandangan Bima tertuju pada sebuah taman yang paling indah di sudut paling belakang, yang di tengahnya tumbuh sebuah pohon beringin yang sangat besar dan rindang, dengan akar yang menjuntai indah.

Bima pun bergegas menuju ke pohon itu dan bersantai di bawahnya, dia duduk bersila dengan nyaman di atas rumput yang lembut.

Tak lama, Bima memutuskan untuk berkultivasi sejenak, hanya untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya yang sedikit lelah setelah perjalanan dari Mall Paragon tadi.

Dia memejamkan mata, mengatur napas, dan mulai menyerap energi alam.

Setelah merasa cukup dan segar, Bima pun perlahan membuka kedua matanya yang tajam. Sorot matanya sedikit kecewa.

"Energi langit dan bumi di zaman ini ternyata sudah sangat tipis sekali, sungguh berbeda jauh dari zaman di Benua Kuno Nusantara dahulu. Tapi untuk sekedar menyegarkan tubuh dan menenangkan pikiran, masih lumayanlah," pikir Bima di dalam hati.

"Memang energi langit dan bumi di masa modern ini sudah sangat menipis, apalagi posisi kita saat ini berada di tengah perkotaan Solo yang padat, yang mana polusi kendaraan dan asap pabrik sudah mencemari udara dari setiap sudutnya. Jika begini keadaannya, sungguh mustahil orang biasa bisa berkultivasi sampai ke tingkat surgawi hanya dengan mengandalkan udara kota," pikir Bima sambil bersandar santai di batang pohon beringin itu.

Dia merasa dirinya sangat beruntung, sangat beruntung bisa menembus tingkat Nirvana Tertinggi di usianya yang masih sangat muda. Apalagi dia sekarang memiliki tiga warisan darah binatang legendaris dengan tubuh fisik terkuat, dan juga Pedang Pembalik Langit. Dengan kekuatan seperti ini, siapa lagi di dunia ini yang akan bisa menjadi lawannya.

Memikirkan hal itu, tiba-tiba ingatan Bima melayang kepada sosok gurunya.

"Guru..."

Seketika, wajah cantik nan agung dan berwibawa milik Ratu Ayu Kirana muncul dengan jelas di benaknya, senyumnya yang lembut namun penuh misteri.

"Guru pasti punya alasan yang sangat besar kenapa beliau mengirim ku ke tempat warisan di balik Air Terjun Tujuh Warna itu. Pasti ada sebuah malapetaka atau hal besar yang akan aku hadapi di masa depan, sehingga Guru sengaja mengirim ku untuk mendapatkan warisan sekuat itu sebagai persiapan. Jika tidak, untuk apa aku membutuhkan kekuatan sebesar ini...? Api Nirvana milik Sekar Lestari saja sudah tidak ada yang bisa menahannya, bahkan jutaan Iblis Ekstratoritorial saja bisa musnah dalam sekejap,"

Memikirkan semua misteri itu, Bima hanya bisa menghela napas panjang dan menatap langit, dia hanya bisa menunggu saatnya tiba berjumpa kembali dengan gurunya nanti untuk menanyakan semuanya secara langsung.

Sedang asik bersantai sambil termenung sendirian di bawah pohon rindang itu, tiba-tiba raut wajah Bima berubah.

Dia merasakan sebuah aura yang sangat familiar, aura yang sangat dia rindukan, aura kasih sayang seorang kakak.

"Kak Ratih dan yang lainnya sudah tiba rupanya," gumam Bima dengan senyum bahagia yang tidak bisa disembunyikan.

Bima memiliki tujuh kakak seperguruan yang sangat dia sayangi dan yang sangat menyayanginya, mereka sudah bersama sejak mereka masih kecil di Gunung Lawu, mereka semua tumbuh bersama, makan bersama, dan berlatih bersama di bawah bimbingan Ratu Ayu Kirana.

Mereka adalah

Ratih Maheswari,

Dewi,

Bulan,

Sinta Maharani,

Laras,

Anjani,

Sekar.

Ketujuh wanita luar biasa ini adalah keluarga satu-satunya bagi Bima.

Tak selang beberapa saat kemudian, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan suara panggilan yang penuh rindu.

"Hai, bocah nakal...! Ternyata kamu di sini...! Kami mencari mu kemana-mana dari tadi...!" tegur Sinta Maharani dengan suara keras namun penuh cemas dari kejauhan.

Tak lama setelah itu, seorang gadis cantik dengan wibawa seorang pemimpin, dengan rambut panjang yang tergerai indah, langsung berlari dan memeluk Bima dengan sangat erat dari belakang.

Seketika Bima merasakan kehangatan yang luar biasa dari tubuh lembut nan wangi itu, kehangatan yang sudah sangat lama tidak dia rasakan.

Ya, itu adalah Ratih Maheswari, kakak pertama, kakak tertua, dan juga pemimpin dari Organisasi Tujuh Bidadari. Pelukan Ratih adalah pelukan yang paling dirindukan Bima.

"Dik... Bima... Kemana saja kamu selama ini...? Kami semua sangat-sangat khawatir pada mu... Tapi kami tidak tahu harus mencari mu kemana... Kami hanya bisa terus memegang teguh dan mempercayai perkataan Guru, bahwa kau pasti akan kembali saat waktunya sudah tiba," kata Ratih Maheswari dengan suara yang sangat lembut dan bergetar menahan tangis, dengan tatapan mata yang penuh kasih sayang yang tulus.

Mendengar ketulusan itu, hati Bima benar-benar merasa tersentuh dan hangat.

"Kak Ratih... Kakak-kakak semua... Maafkan adik kalian yang tidak berguna ini... Maaf sudah membuat kalian semua khawatir dan cemas selama ini," kata Bima dengan suara pelan dan penuh penyesalan.

"Sudah, jangan bicara seperti itu lagi, Bima sayang. Kami tahu kau pergi bukan karena keinginan mu sendiri, tapi karena keinginan dan rencana besar Guru. Kami tidak pernah menyalahkan mu sedikit pun," ucap Dewi sambil mengelus kepala Bima dengan lembut.

"Ceritakan pada kami, ceritakan perjalanan mu selama kau pergi itu, kami ingin mendengarnya. Kami rindu mendengar cerita mu," kata Bulan.

"Baiklah, karena sekarang semua kakak sudah berkumpul lengkap di sini, aku akan menceritakan semuanya. Semoga kalian percaya dengan cerita adik mu yang terdengar seperti dongeng ini," kata Bima sambil tersenyum, dia menarik napas dalam-dalam.

"Awalnya aku diajak Guru ke Air Terjun Tujuh Warna di Grojogan Sewu. Di sana Guru menyuruh ku masuk ke balik tirai air terjun itu. Ketika aku masuk, aku langsung terhisap oleh sebuah portal cahaya yang sangat kuat dan terlempar ke sebuah dunia lain yang sama sekali tidak aku kenal, aku tidak tahu itu di mana. Aku hanya berjalan mengikuti kemana kaki ku melangkah, berhari-hari aku berjalan tanpa tujuan dan tanpa arah yang jelas di sebuah padang gurun yang luas, hingga akhirnya aku tiba di sebuah gua yang memancarkan cahaya keemasan dari dalamnya. Aku pun pergi menuju sumber cahaya itu, setibanya di dalam, ada sosok tubuh yang hanya berupa jiwa yang tersisa, entah itu siapa, orang itu sangat kuat, dan orang itu mewarisi ku semua ilmu dan kekuatannya, dan juga memberi ku sebuah senjata pusaka,"

"Senjata apa itu...? Seperti apa bentuknya...? Cepat tunjukkan pada kami...!" sela Laras dengan wajah yang sangat penasaran dan mata yang berbinar.

"Ayu Lestari, keluarlah sebentar, temui kakak-kakak ku," panggil Bima dengan lembut.

Para wanita cantik itu bingung, siapa yang Bima panggil, mereka saling pandang.

Tak lama kemudian,

"Wuuussssst..."

Dari dahi Bima memancarkan sebuah cahaya putih yang terang dan keluarlah sebuah pedang panjang yang sangat indah, melayang dengan anggun di udara. Pedang itu bisa berbicara dengan suara wanita yang sangat merdu dan memberi hormat kepada Bima sebagai tuannya.

"Tuanku Bima memanggil hamba..."

Para wanita cantik itu sangat terkejut bukan main, mulut mereka sampai terbuka lebar.

"Ternyata... ternyata itu adalah senjata roh...! Ternyata senjata roh itu bukan cuma legenda di buku-buku kuno, tapi memang benar-benar ada di dunia ini...! Luar biasa...!" sorak para wanita itu dengan kagum dan tidak percaya.

Setelah Bima menunjukkan Pedang Pembalik Langit miliknya yang berisi roh Ayu Lestari, dia pun melanjutkan ceritanya dengan wajah yang dibuat serius. Dia menceritakan bagaimana dia menolong seorang gadis yang sekarat di hutan dan kemudian diajak ke perguruannya, serta bagaimana dia harus melawan jutaan Iblis Ekstratoritorial yang mengerikan bersama para petinggi dari seluruh benua itu.

Para wanita cantik itu kembali terkejut dan menutup mulut mereka, mereka tidak menyangka sama sekali bahwa perjalanan adik kecil mereka yang polos selama ini sangat sulit, sangat berbahaya, dan penuh darah, sampai harus melawan para iblis yang mengerikan itu sendirian.

Bima melanjutkan ceritanya dengan sangat hati-hati, walaupun banyak hal yang sengaja dia tutupi dan dia rahasiakan, terutama tentang pernikahannya dengan tujuh istrinya, yaitu

Intania,

Amelia,

Melinda,

Tasya,

Wandira,

Sherly,

Salsa.

Bisa kacau dan bisa terjadi perang dunia jika ketujuh kakaknya yang pencemburu ini tahu sekarang.

Bima melanjutkan dengan berkata,

"Karena aku berhasil membantu mereka membunuh banyak sekali iblis dan menyelamatkan benua itu dari kehancuran, para petinggi dari 5 Kerajaan, 7 Perguruan, dan 9 Keluarga Besar di sana sangat berterima kasih kepada ku, sehingga semuanya berebut ingin merekrut ku dan mengangkat ku menjadi pemimpin di kelompok mereka masing-masing,"

"Karena semua orang di sana menginginkan ku dan berebut, aku jadi bingung. Jadi aku mengusulkan sebuah ide untuk membuat sebuah aliansi besar saja agar mereka tidak bertengkar lagi, sebuah aliansi yang adil untuk semua orang,"

"Karena merasa itu adalah ide yang paling terbaik dan paling adil, para petinggi benua itu pun akhirnya setuju, sehingga terbentuklah sebuah aliansi besar yang bernama Aliansi Dao Surgawi Nusantara di sana,"

Setelah mendengarkan penjelasan Bima yang terdengar seperti legenda itu, tiba-tiba Ratih Maheswari bertanya dengan logis,

"Lalu, Bima, bagaimana cara mu bisa pulang kembali ke sini, ke dunia kita ini...?"

Bima berpikir sejenak, tidak mungkin dia memberitahukan rahasia terbesarnya bahwa dia sekarang menguasai Teknik Teleportasi Lintas Dimensi milik Naga Langit yang bisa berpindah ke mana saja.

Jadi Bima hanya bisa mengarang sebuah cerita yang masuk akal bagi kakak-kakaknya,

"Karena aku sudah dianggap sangat berjasa besar di sana, para petinggi dan para tetua terkuat di sana akhirnya sepakat untuk membantu ku kembali pulang. Mereka bersama-sama menggunakan sebuah Formasi Teleportasi Lintas Waktu Kuno yang sangat terlarang yang ada di tempat terlarang di benua itu,"

"Demi bisa membantu ku pulang, orang-orang kuat di sana sampai harus menguras banyak sekali energi spiritual mereka untuk bisa mengaktifkan formasi teleportasi lintas waktu itu," jelas Bima.

"Ohhh, jadi begitu ceritanya... Pantas saja kau bisa kembali... Mereka pasti sangat berhutang budi pada mu, Bima," jawab Ratih Maheswari dan yang lainnya yang langsung percaya begitu saja dengan cerita Bima, karena mereka tahu adik mereka tidak pernah berbohong.

"Lalu, apakah kau bisa kembali lagi ke sana...? Ke dunia kuno itu...?" tanya Dewi dengan sedikit cemas.

"Aku tidak tahu pasti, Kak. Nanti aku akan membahas hal yang sangat penting ini langsung dengan Guru Kirana jika sudah bertemu, karena hanya Guru yang mungkin tahu jawabannya," jawab Bima dengan bijak untuk mengalihkan pembicaraan.

"Yah sudah, tidak usah dipikirkan dulu. Yang terpenting sekarang adalah kau sudah pulang dengan selamat dan berkumpul lagi bersama kami, itu sudah lebih dari cukup bagi kami," ucap Ratih Maheswari dengan penuh kasih sayang, dia memeluk Bima lagi dengan erat.

Tiba-tiba suasana haru itu pecah oleh suara Laras yang sudah tidak sabar dari tadi,

"Oh iya...! Bima...! Cepat beritahu kami...! Bagaimana cara mu membawa begitu banyak barang belanjaan kami dengan sangat mudah kemarin di Mall Paragon...? Sihir apa yang kamu gunakan...? Bagaimana caranya...? Kau kan sudah berjanji akan memberi tahu saat kami semua sudah berkumpul lengkap...! Ayo cepat...!" Begitu Laras bicara tanpa henti dengan semangat, Ratih dan yang lainnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil melihat tingkah Laras yang polos itu.

"Iya, iya, Kak Laras, sabar... Aku tidak lupa janji ku kok," kata Bima sambil tersenyum.

"Wuuussssst..."

Dengan lambaian tangannya, seketika muncul tujuh buah cincin giok kecil yang sangat indah, melayang di udara di depan ketujuh kakaknya. Cincin itu terlihat kecil, namun di dalamnya terdapat sebuah ruang dimensi mini yang luasnya dua kali lapangan sepak bola.

"Kakak-kakak ku yang cantik, ini namanya Cincin Semesta Mini. Ini adalah harta penyimpanan yang biasa digunakan oleh para kultivator kuno untuk menyimpan barang-barang mereka agar mudah dibawa kemana-mana," jelas Bima.

"Kakak hanya perlu menggunakan sedikit kekuatan fokus dan niat dari jiwa untuk bisa memasukkan atau mengeluarkan barang apa pun yang kakak mau dari dalam cincin ini,"

"Coba Kak Laras pakai dulu yang ini," Bima memberikan satu cincin kepada Laras dan menyuruhnya untuk mencoba menggunakan fokus jiwanya untuk menyimpan sebuah kursi kayu yang ada di dekatnya.

"Wuuussssst..."

Seketika kursi kayu yang cukup besar itu menghilang tanpa jejak, masuk ke dalam cincin.

Tak lama kemudian,

"Wuuussssst..."

Laras kembali mengeluarkannya dengan mudah hanya dengan memikirkannya.

Hal ajaib itu membuat Laras sangat bahagia dan kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru, tanpa sadar dia langsung memeluk dan mencium pipi Bima bertubi-tubi karena saking senangnya.

"Laras... Sampai kapan kamu akan terus menciumi adik mu itu di depan kami...? Sudah, sudah, lepaskan..." tegur Ratih Maheswari dengan wajah pura-pura cemburu, namun sebenarnya dia juga gemas.

Mendengar teguran itu, Laras langsung sadar dan merasa sangat malu, wajahnya memerah seperti tomat.

"Kakak-kakak, ini untuk kalian masing-masing satu, sebagai hadiah selamat datang dari adik mu ini. Anggap saja ini oleh-oleh dari dunia kuno," kata Bima sambil menyerahkan cincin-cincin giok itu satu per satu kepada kakak-kakak seperguruannya dengan penuh kasih sayang.

Hal itu membuat para wanita cantik itu sangat gembira dan terharu, mereka langsung memakai cincin itu di jari mereka masing-masing dan mulai mencoba-coba memasukkan dan mengeluarkan barang dengan penuh tawa bahagia.

Suasana di taman beringin itu pun menjadi sangat hangat dan penuh dengan tawa ceria keluarga yang akhirnya berkumpul kembali.

BERSAMBUNG...

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!