Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Gengsi Selangit
“Ehem...”
Suara deheman bernada godaan itu seketika memecah keheningan di antara mereka. Marisa melipat kedua tangannya di dada sambil tersenyum lebar, menatap anak laki-laki dan menantunya dengan pandangan penuh geli.
“Wah, mentang-mentang udah berdua, dunia serasa milik berdua ya? Tadi di telepon katanya gengsi mau ngaku kangen, giliran dibocorin Doni kalau mau jemput, eh, gercep banget datangnya kayak pahlawan kesiangan,” celetuk Marisa terang-terangan, sengaja menggoda Arka yang kini salah tingkah.
Naya yang mendengar ucapan mertuanya langsung mengerjap bingung.
“Jemput? Jadi... Mas Arka dari kantor memang sengaja mau jemput aku?” tanyanya pelan sambil menatap suaminya dengan mata berbinar.
Arka mendadak salah tingkah luar biasa. Ia berdehem keras untuk menetralisir ekspresinya, mencoba kembali memasang wajah sedingin dan sebisa mungkin setenang biasanya demi menutupi rasa gugup yang tiba-tiba menyerang dadanya.
“Sialan si Doni,” batin Arka mengutuk sahabatnya yang terlampau jujur di telepon tadi.
“Siapa juga yang mau jemput. Tadi kebetulan ada urusan klien di sekitar sini, jadi ya... sekalian,” elak Arka dengan nada datar, meski sorot matanya tidak bisa menyembunyikan salah tingkah karena kebohongannya tertangkap basah.
“Alasan aja terus,” balas Marisa dengan tawa kecil yang renyah, sama sekali tidak termakan oleh alibi putranya. “Tadi di telepon bilangnya 'Biar Arka yang ke sana buat jemput'—eh, giliran udah ketemu malah gengsinya kambuh.”
Naya menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang nyaris terbit di sudut bibirnya. Rasa lelah yang mendera tubuhnya sejak siang mendadak menguap begitu saja, berganti dengan kehangatan aneh yang merayap di dadanya. Sifat Arka yang biasanya dingin dan kaku di kantor kini runtuh begitu saja.
“Udah selesai belum ngeceknya?” tanya Arka mengalihkan pembicaraan, sengaja menatap lurus ke arah Naya dengan rahang yang mengeras kaku, gaya khasnya saat salah tingkah. Suaranya terdengar sedikit kaku, namun terselip kelembutan yang kentara di sana.
Naya mengerjap, lalu mengangkat clipboard di tangannya dengan gugup.
“S-sudah, Mas. Tinggal rekap terakhir sama vendor katering habis ini.”
“Kalau gitu, berhenti sekarang,” titah Arka mutlak, tanpa memberi ruang untuk membantah. Ia langsung mengambil clipboard dari tangan Naya dan menyerahkannya begitu saja ke salah satu staf panitia di dekat mereka.
“Pekerjaan hari ini cukup sampai di sini. Kamu pulang sama saya.”
“Eh, tapi Mas Arka—”
Belum sempat Naya menyelesaikan protesnya, Arka sudah lebih dulu meraih pergelangan tangannya dengan lembut namun tegas, lalu menariknya pelan untuk menjauh dari area tengah ballroom menuju pintu keluar.
Marisa hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum gemas melihat tingkah anak laki-lakinya itu.
“Dasar gengsi gede, tapi sat-set!” teriak Marisa setengah menggoda, membuat langkah Arka nyaris tersandung sementara Naya semakin menenggelamkan wajahnya di balik punggung sang suami karena malu luar biasa.
Marisa menghela napas pelan, matanya masih mengekor kepergian Arka dan Naya yang berjalan berdampingan, meski sang anak laki-laki berjalan terburu-buru demi menutupi salah tingkahnya.
Senyum di wajah Marisa kemudian perlahan memudar, berganti dengan kilatan kekhawatiran yang samar di balik sorot matanya yang hangat.
“Semoga saja Naya tidak seperti Karin,” gumam Marisa pelan, hampir tak terdengar di tengah bisingnya staf gedung yang mulai membereskan dekorasi.
Bayangan masa lalu mendadak berkelebat di benaknya. Nama Karin seperti duri yang pernah meninggalkan luka cukup dalam di keluarga kecil mereka, terutama bagi Arka.
Wanita itu, mantan masa lalu Arka yang egois dan hanya memandang materi, pernah hampir mengubah hidup putranya sebelum akhirnya pergi begitu saja saat Arka sempat berada di titik terendah kariernya.
Luka dari pengkhianatan itu membuat Arka berubah menjadi sosok yang dingin, kaku, tertutup, dan sangat sulit membuka hati pada wanita lain.
Perlahan-lahan, Marisa mulai melihat perubahan. Tatapan mata Arka pada Naya berbeda. Ada rasa kepemilikan dan kelembutan tersembunyi yang dulu tidak pernah Marisa temukan pada diri Karin.
“Karin dulu hanya bisa menuntut kesempurnaan dan memanfaatkan kebaikan Arka,” batin Marisa bermonolog sembari merapikan tas tangannya.
“Tapi Naya... anak itu tulus. Dia sabar menghadapi sikap dingin Arka tanpa pernah mengeluh.”
Marisa tulus berharap, ketulusan Naya mampu meruntuhkan seluruh benteng es di hati putranya, sekaligus menyembuhkan trauma masa lalu yang masih kerap menghantui Arka. Jangan sampai bayang-bayang masa lalu kembali merusak kebahagiaan yang baru saja mulai tumbuh di antara Arka dan menantunya itu.
*
*
Suasana di dalam kabin mobil ber-AC itu terasa jauh lebih senyap dibandingkan keramaian ballroom hotel sebelumnya.
Aroma khas new car scent berpadu dengan parfum beraroma woody milik Arka yang menguar tipis, menciptakan atmosfer yang intim sekaligus canggung bagi mereka berdua.
Arka fokus menyetir, kedua tangannya mencengkeram lingkar kemudi dengan buku-buku jarinya yang sedikit memutih. Wajahnya dipasang sesinis dan sepiawai mungkin untuk menutupi sisa-sisa salah tingkah akibat kepergok sang ibu tadi.
Sementara itu, Naya duduk di kursi penumpang depan, mencuri-curi pandang ke arah suaminya dengan hati yang masih berdegup tidak karuan.
Naya merapikan helaian rambutnya yang sedikit berantakan akibat lelah beraktivitas seharian, mencoba mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya membuka suara untuk memecah keheningan.
“Ehm... Pak Arka,” panggil Naya pelan, nyaris berbisik.
Arka melirik sekilas lewat ekor matanya, lalu kembali fokus menatap jalanan di depan yang mulai diterangi lampu kota.
“Hm? Kenapa?” tanyanya dengan nada datar yang dibuat-buat sedingin mungkin.
“Tadi... bukannya Pak Arka bilang ada urusan klien di sekitar gedung?” Naya memberanikan diri bertanya, matanya mengerjap ragu-ragu.
“Kenapa Pak Arka harus repot-repot datang sendiri ke sana... padahal kelihatannya sibuk banget?”
Mendengar pertanyaan itu, gerakan tangan Arka di kemudi tampak sedikit tersentak. Alisnya yang tebal langsung menaut tajam.
“Sial,” batin Arka mengutuk. Pertanyaan telak itu sukses membuat benteng pertahanan gengsinya kembali diuji.
Skakmat.
Kalau ia jujur bilang rindu atau tidak sengaja memikirkan Naya sejak tadi siang, harga diri dan gengsi tingkat dewa seorang Arka Dirgantara mau ditaruh di mana?
Arka lantas berdehem pelan, sengaja menegakkan posisi duduknya agar terlihat berwibawa. Ia menoleh sesaat ke arah Naya dengan tatapan lurus yang terkesan mengintimidasi, padahal itu hanyalah topeng untuk menyembunyikan pipinya yang terasa panas.
“Siapa yang repot?” elak Arka cepat, suaranya terdengar dingin dan tegas, mencoba mematahkan asumsi Naya.
“Jangan GR dulu, Naya.”
Naya langsung mengerjap kaget, sedikit ciut mendapati nada bicara suaminya yang kembali ketus.
“Saya kebetulan lewat daerah situ karena mau survei lokasi proyek baru,” lanjut Arka berdusta, merangkai alibi dengan wajah tanpa dosa meski jantungnya berdegup kencang karena takut ketahuan berbohong.
“Lagi pula, perut saya lapar. Daripada saya harus makan sendirian di restoran mahal atau pesan makanan online, mending sekalian nyari makan di luar.”
Arka melirik Naya lagi, lalu menambahkan dengan nada separuh memerintah demi menutupi salah tingkahnya yang makin menjadi,
“Lagian, kamu kelihatan pucat kayak belum makan dari siang. Mau pingsan di tempat kerjaan orang lain dan bikin reputasi saya sebagai suami jelek? Makanya, saya ajak kamu sekalian makan malam. Anggap saja saya sedang menjalankan kewajiban menafkahi jasmani istri.”
Naya terdiam sejenak mendengar penjelasan panjang lebar yang terdengar sangat kaku dan formal itu. Gadis itu menunduk, menahan senyum lebar yang mendesak ingin keluar.
Alasan klise. Lelaki di sampingnya ini benar-benar jago bersilat lidah untuk menutupi rasa gengsinya. Mana ada survei proyek malam-malam mengenakan pakaian kerja rapi tanpa helm proyek atau dokumen lapangan?
Namun, alih-alih berdebat atau membongkar kebohongan Arka, Naya justru merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Di balik kalimat ketus dan gengsi raksasa milik Arka, terselip bentuk perhatian nyata. Pria itu datang menjemputnya, memastikan perutnya terisi, dan membawanya pergi dari kelelahan hari itu.
“Oh... gitu ya,” jawab Naya lembut, sengaja melunak untuk meredakan pertahanan Arka.
“Ya sudah... kalau memang Pak Arka lagi mau cari makan di luar, saya temenin. Kebetulan saya juga lapar sekali.”
Arka mendengus pelan, meski dalam hati ia mengembuskan napas lega karena Naya tidak memperpanjang interogasinya.
“Bagus kalau tahu diri. Mau makan apa? Jangan bilang mau makan seblak pinggir jalan lagi,” sindir Arka kaku, meski sudut bibirnya sempat terangkat sekilas sebelum ia kembali memasang ekspresi datar.
“Terserah Mas Arka saja. Apa pun yang penting halal dan enak,” balas Naya tulus, membuat suasana di dalam mobil malam itu perlahan mencair, diselimuti debar-debar halus yang mulai tumbuh di antara dua hati yang dulunya asing.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak