Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah Atau Peduli?
Entah mengapa, pemandangan itu selama ini terasa begitu biasa.
Terlalu biasa, sampai mereka tidak pernah menyadari bahwa kehadiran satu sama lain ternyata memiliki arti.
Kini, yang bisa dilihat Keira hanyalah beberapa tas yang tergeletak dan bayangan samar teman-temannya di bawah cahaya lampu yang redup.
Ia menarik selimut tipis hingga menutupi dadanya.
“Kenapa rasanya jadi berbeda, ya...” gumamnya nyaris tak terdengar.
Pikiran Keira kembali pada kejadian yang terjadi sepanjang hari.
Saat Arsen menggendongnya.
Saat suara pria itu terdengar panik ketika melihat kondisinya.
Lalu kejadian saat makan malam, ketika Arsen menegurnya di depan semua orang.
Ia masih kesal.
Tentu saja.
Namun, jauh di dalam hatinya, Keira juga menyadari satu hal.
Arsen tidak pernah benar-benar membiarkannya jatuh.
Pria itu juga tidak benar-benar bersikap seolah tidak peduli.
Keira mengembuskan napas panjang lalu memejamkan mata.
.....
Di kamar lain, Arsen juga sudah memejamkan mata.
Namun, pikirannya masih belum mau beristirahat.
Wajah Keira ketika hampir kehilangan kesadaran terus muncul di benaknya.
Wajahnya yang pucat.
Tubuhnya yang terasa begitu ringan ketika Arsen mengangkatnya.
Arsen mengubah posisi tidurnya, berusaha mengusir bayangan tersebut.
“Untuk apa aku memikirkannya?” bisiknya kepada diri sendiri.
Ia mencoba memejamkan mata lebih erat.
Namun, semakin ia berusaha melupakan, wajah Keira justru semakin jelas terbayang.
.....
Di kamar yang berbeda, Keira ternyata sedang mengalami hal yang sama.
Tanpa sadar, ia pun membisikkan kalimat yang hampir serupa.
“Untuk apa aku memikirkan dia...”
Keduanya sama-sama mencoba menyangkal sesuatu yang sebenarnya mulai mereka rasakan.
Malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada saling sindir.
Tidak ada suara yang biasanya memenuhi rumah mereka.
Hanya ada keheningan.
Dan di dalam keheningan itu, tanpa mereka sadari, muncul sebuah ruang kosong yang terasa begitu asing.
Selama ini mereka mungkin sering bertengkar.
Saling menyakiti lewat perkataan.
Bahkan terkadang berharap bisa segera terbebas dari satu sama lain.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka, keduanya merasakan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Sebuah perasaan yang selama ini tersembunyi di balik pertengkaran dan sikap acuh.
Rindu.
Rindu pada seseorang yang selama ini selalu berada di sisi mereka, tetapi kehadirannya justru terlalu sering dianggap biasa.
. ..
Pagi itu, suasana rumah posko sudah ramai bahkan sejak matahari mulai menampakkan sinarnya. Sumur yang berada di belakang rumah menjadi tempat paling sibuk karena para mahasiswa harus bergantian menggunakannya.
Ember-ember sudah berjejer di dekat sumur. Suara gayung yang beradu dengan bak mandi terdengar bersahutan, diselingi panggilan para mahasiswa yang saling mengingatkan tentang giliran mereka.
Keira keluar dari kamar sambil membawa handuk dan perlengkapan mandi. Ia hanya mengenakan tanktop putih sederhana dengan celana pendek selutut.
Rambutnya diikat seadanya, sementara wajahnya masih polos tanpa sedikit pun riasan.
Keira sama sekali tidak memikirkan penampilannya. Baginya, yang terpenting adalah segera mandi sebelum antrean di sumur semakin panjang.
Namun, beberapa mahasiswa laki-laki yang sedang duduk di teras spontan menoleh ketika Keira lewat. Sebagian langsung mengalihkan pandangan, sementara beberapa lainnya tanpa sadar masih memperhatikannya.
“Eh… pagi,” sapa salah seorang mahasiswa dengan nada sedikit gugup.
Keira hanya membalas dengan anggukan kecil.
“Pagi.”
Ia kemudian berdiri di bagian belakang antrean tanpa menyadari bahwa beberapa pasang mata masih mengikuti gerak-geriknya.
Di sisi lain halaman, Arsen baru saja keluar dari kamar khusus yang ditempatinya.
Sebuah handuk tersampir di bahunya. Rambutnya masih sedikit basah karena sebelumnya ia sudah mandi di kamar mandi dalam rumah Pak RT.
Namun, langkah Arsen mendadak terhenti ketika pandangannya tertuju ke arah sumur. Ada satu sosok yang langsung menarik perhatiannya.
Keira.
Pakaian yang dikenakan Keira sebenarnya sederhana dan tidak berlebihan. Namun, di tengah suasana pedesaan dan banyaknya mahasiswa laki-laki di sekitar sumur, penampilan itu membuat Arsen merasa kurang nyaman.
Terlebih ketika ia melihat beberapa mahasiswa pria mulai berbisik-bisik sambil sesekali melirik ke arah Keira.
Tatapan mereka jelas bukan sekadar tatapan biasa. Wajah Arsen seketika berubah. Rahangnya mengeras, sementara kedua alisnya berkerut.
Dia sengaja menggoda orang-orang itu atau bagaimana? Berani sekali dia memakai pakaian seperti itu. Apa dia pikir ini rumah sendiri?
Arsen mengembuskan napas berat.
Setiap pagi di rumah saja aku sudah sering melihatnya seperti itu. Sekarang malah banyak orang yang ikut melihat.
Tangannya mengepal tanpa sadar. Namun, Arsen segera mengingat posisinya.
Ia tidak punya hak untuk mengatur Keira sesuka hati, terlebih mereka sedang berada di depan banyak orang. Bagaimanapun juga, dirinya adalah dosen pembimbing dalam kegiatan tersebut.
Ia harus tetap menjaga sikap dan bersikap profesional. Meski begitu, tatapan Arsen terhadap Keira tak kunjung berpaling.
Namun, perasaan itu muncul begitu saja—sebuah emosi yang bahkan sulit dipahami oleh Arsen sendiri.
Bukan sekadar rasa kesal. Ada sesuatu yang lebih dalam.
Cemburu.
Sementara itu, Keira yang sedang berdiri di dalam antrean tiba-tiba merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Ia menoleh dan langsung menemukan Arsen sedang menatapnya dari kejauhan.
Tatapan pria itu terlihat dingin dan tidak bersahabat. Tajam, tegas, seolah sedang memberikan sebuah peringatan.
Keira mengernyitkan kening. 'Kenapa lagi sih dia?'
Ia sempat menunduk melihat pakaian yang dikenakannya, kemudian kembali menatap Arsen dengan ekspresi datar.
'Memangnya kenapa?'
Tanpa banyak bicara, Arsen berjalan menghampirinya. Langkahnya tenang, tetapi terlihat penuh ketegasan.
Beberapa mahasiswa yang melihat kedatangannya langsung terdiam dan memberi jalan.
“Keira.”
Suara Arsen terdengar rendah, tetapi cukup untuk membuat suasana di sekitar mereka berubah.
“Iya, Pak?” jawab Keira sengaja menekankan panggilan tersebut.
Arsen melirik pakaian Keira sekilas sebelum kembali menatap wajahnya.
“Setelah selesai mandi, ganti pakaian yang lebih sopan. Kita sedang berada di lingkungan masyarakat.”
Keira langsung merasa tersinggung.
“Ini cuma pakaian santai, Pak.”
“Kita bukan sedang berada di rumah,” balas Arsen dingin.
Ucapan sederhana itu terasa seperti sindiran bagi Keira.
Ia menatap Arsen tajam.
“Saya tahu, Pak.”
Beberapa mahasiswa yang berada di sekitar mereka mulai merasakan adanya ketegangan. Mereka saling melirik meskipun tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Arsen menahan diri untuk tidak melanjutkan perdebatan. Ia sadar terlalu banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
“Cepat mandi. Setelah itu kita berkumpul untuk pembagian tugas hari ini,” ujarnya akhirnya dengan nada kembali profesional.
Tanpa menunggu jawaban, Arsen berbalik dan pergi. Keira masih berdiri di tempatnya selama beberapa detik.
Hatinya terasa campur aduk. Kesal, bingung, sekaligus ada perasaan lain yang tidak bisa ia pahami.
'Dia marah? Atau dia peduli?'
Dan yang paling membuat Keira heran, mengapa tatapan Arsen tadi terasa berbeda?
...
Setelah antre mandi yang cukup melelahkan, suasana dapur posko mulai ramai.
Dapur sederhana itu tidak terlalu luas. Hanya terdapat kompor gas dua tungku dan sebuah meja kayu panjang yang digunakan untuk menyiapkan berbagai bahan makanan.
Keira berdiri di depan kompor sambil mencoba menggoreng tempe. Di sampingnya, Rina sibuk mengiris cabai, sedangkan dua mahasiswa lainnya mencuci sayuran.
“Pelan-pelan, Kei. Minyaknya panas banget,” ingat Rina.
“Iya, iya—”
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, minyak di dalam wajan tiba-tiba meletup cukup keras.
“Ahh!”
Keira spontan berteriak kecil dan mundur. Tubuhnya hampir saja menabrak Rina.
Beberapa percikan minyak mengenai tangannya. Tidak sampai menyebabkan luka serius, tetapi cukup membuat Keira terkejut.
Rina langsung tertawa.
“Ya ampun! Baru kena cipratan sedikit aja udah teriak.”
Mahasiswa lain ikut menggoda.
“Drama banget sih, Keira!”
Keira mengembungkan pipinya sambil meniup-niup tangannya.
“Sakit tahu!”
“Tuh, kan. Manja,” celetuk salah seorang teman sambil tertawa.
Keira hanya memutar bola mata sebelum akhirnya ikut tertawa. Suasana dapur kembali mencair.
Suara tawa mereka bahkan terdengar hingga ke teras depan rumah, tempat beberapa mahasiswa laki-laki sedang duduk dan mengobrol.
Arsen yang duduk di kursi plastik ikut mendengar suara tersebut. Suara tawa Keira terdengar cukup jelas di antara suara mahasiswa lainnya.
Ia menoleh sekilas ke arah dapur yang pintunya terbuka setengah.
Dari celah pintu, Arsen bisa melihat Keira masih berdiri di depan kompor. Wajahnya sempat cemberut, tetapi beberapa detik kemudian ia kembali tertawa bersama teman-temannya.
Arsen segera mengalihkan pandangan.
Namun, pikirannya justru tidak bisa ikut tenang.
Keira memang manja. Hal kecil seperti itu saja bisa dibesar-besarkan, gumamnya dalam hati.
Arsen terdiam cukup lama. Kemudian sebuah pikiran kembali muncul di kepalanya.
Mungkin keputusanku untuk bercerai dengannya memang sudah tepat.
Ia menghela napas pelan.
Aku pantas mendapatkan seorang istri yang benar-benar sesuai dengan tipe wanita yang kuinginkan.