Kisah cinta yang terhalang dengan keegoisan orang tua. Namun kembali dipertemukan oleh takdir setelah semuanya berubah.
Cerita hanya fiktif belaka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tinggal satu rumah dengan Bagas. Mila selalu menghindari bertemu dengan pria itu. Saat Bagas masuk ke dalam kamar Emma. Mila memilih keluar.
"Emma sayang papa!" Bagas selalu menggendong Emma di saat pulang bekerja dan akan berangkat kerja.
Meskipun hari-hari Bagas disibukkan dengan banyak pekerjaan. Di atas meja kerjanya ia tidak pernah lupa menaruh handphone untuk memantau kegiatan Mila di kamar Emma.
Sesekali lekuk tubuh indah Mila terlihat oleh Bagas saat wanita itu mengganti pakaian di kamar Emma.
Demi menghibur Emma. Mila terkadang bertingkah menjadi wonder woman, spiderman ataupun bat man centil. Hasilnya bukan Emma saja yang tertawa Bagas juga diam-diam ikut tertawa di kantornya.
Mila yang banyak beraksi mengangkat tangan tidak sengaja Bagas melakukan zoom terhadap Mila. Pria itu terkejut saat melihat ada sobekan bolong pada daster yang Mila kenakan tepat di area tulang rusuknya.
"Perasaan sudah dua kali dia gajian kenapa pakaiannya tidak ada yang bagus?" pikir Bagas bertanya-tanya.
*
Sudah entah berapa kali Bagas menelpon Yoga tetapi pria itu belum ada kabar.
"Drrett!" Saat Bagas sedang serius memperhatikan Mila.
Ponsel Duda anak satu itu berbunyi.
"Sorry Gas, Mas tadi ketiduran."
"Ok, Oh iyah Mas, kenapa semua laporan Future Food tidak sesuai dengan data lapangan?" Keluh Bagas terhadap Yoga.
"Sorry, Mas janji akan kirim ulang lagi, masih banyak yang belum di edit?" Jawab lesu Yoga.
"Kamu kenapa Mas, sakit?" Tanya Bagas.
"Bukan?"
"Patah hati?" Tebak kepo Bagas.
"Bukan juga, patah hati dengan siapa?" tanya Yoga pura-pura tegar.
"Hem!" Jawab sebel Bagas.
"Aku hanya sedikit kelelahan?" Jawab Yoga.
(Demi menghindari gosip yang menyakitkan. Wita memutuskan tidak lagi memasak untuk Yoga Wita juga sudah mengembalikan kelebihan uang Yoga. Sudah dua hari berlalu, komunikasi Yoga dan Wita terputus total. Wita tidak pernah menerima panggilan dan membalas puluhan chat Yoga yang memenuhi notifikasi ponselnya)
"Istirahat lah Mas!" anjuran Bagas.
"Iyah?" Jawab Yoga begitu lesu tidak bersemangat
"Oh Iyah Mas. Sepertinya aku akan mencari asisten untuk bekerja di Kalimantan. Aku terlalu repot jika hampir setiap bulan datang ke kota itu?"
"Maksudmu kau lebih memilih stay di Jakarta?" Tanya Yoga.
"Iyah begitulah, kasihan Emma, ia sudah kehilangan ibunya tentu putriku itu membutuhkan kehadiranku setiap hari!" Jawab Bagas.
"Bukan karena ada Mila?" tebak Yoga.
"Hah (tawa kecil Bagas) Yah bukanlah, apa hubungannya dengan Mila?" tangkis Bagas.
"Ok, Mas akan bantu carikan untuk Asisten kamu disana," jawab dingin Yoga.
"Terima kasih Mas."
Yoga pun menutup ponselnya.
"Kenapa dia, seperti orang yang sama sekali tidak memiliki energi" gumam Bagas.
*
Setiap pukul 20.00 wib malam hari Bagas sudah meninggalkan kantor, ia lebih memilih pulang lebih cepat dan bermain sejenak bersama Emma.
Sesekali keluarga besar Tyas juga datang berkunjung melihat kondisi Emma. Mereka senang karena Emma telah mendapatkan ibu pengasuh yang cocok dengannya.
Keluarga Tyas juga sudah setuju jika Bagas menikah demi mendapatkan ibu sambung Emma.
Suatu hari.
Sudah mulai lincah tengkurap. Tubuh Emma dilanda demam tinggi membuat Mila panik mendapatkan Bagas.
Malam itu Bagas dan Mila melarikan Emma ke rumah sakit. Mila terlihat sangat khawatir dengan kondisi Emma.
"Kamu sudah makan?" tanya Bagas kepada Mila.
Wanita itu hanya menggeleng.
Bagas sigap berinisiatif mencari sendiri makanan di jam 23.09 malam untuk Mila.
Suasana ruang inap Emma begitu sepi. Bagas melihat Mila tertidur di kursi sebelah Bed sambil memegangi tangan imut bayi itu.
"Mila!" Sapa Bagas sambil menepuk kecil pundak Mila.
"Iyah!" wanita itu terhentak bangun.
"Ini makan!" Bagas memberikan bingkisan makanan enak.
Mila mulai makan Sementara Bagas duduk disamping Emma.
Mila dan Bagas sangat jarang sekali berbicara kecuali mengenai perkembangan Emma. Saat Bagas menelpon Mila untuk urusan Emma. Wanita itu tidak pernah ingin menunjukkan wajahnya. Hanya mengarahkan kamera kepada Emma saja.
Malam itu cukup hening. Bagas melirik Mila yang sedang makan dengan lahap.
"Tubuhnya semakin kurus?
Dia sangat lapar tapi kenapa dia tidak meminta makanan?" Bagas bertanya-tanya.
Setelah Mila selesai makan. Wanita itu menghampiri Bagas.
"Tuan pulanglah biar Mila yang menjaga Emma!" ucap wanita itu begitu tegang.
"Oh Baiklah, kalau ada apa-apa, kamu tinggal telpon saja!"
"Baik Tuan!" Angguk Mila.
Karena besok pagi-pagi ia harus berangkat ke kantor, Bagas akhirnya memilih pulang dan beristirahat di rumah.
Sudah beberapa hari ini Bagas sering terbangun akibat bermimpi hal-hal vulgar (mimpi basah pria) bersama wanita yang wajahnya mirip sekali seperti Mila. Pasalnya memasuki 7 bulan Bagas resmi menduda dan belum menyalurkan hasratnya kepada wanita manapun.
"Aaargh! Ada apa denganku, kenapa wajah itu seperti wajah Mila!" ucap Bagas dengan kesal membuang guling ke lantai lalu meremas rambutnya.
Bagas terpaksa minum obat tidur agar mendapatkan waktu istirahat yang berkualitas.
*
Pagi kembali datang. Matahari bersinar terang.
Bagas buru-buru menyiapkan semua pekerjaannya lalu kembali menuju rumah sakit.
"Emma!" Sapa manis para dokter dan tim medis disana memeriksa perkembangan kesehatan Emma.
"Bagaimana kondisi putri saya dok?" tanya Bagas.
"Mas Bagas, Emma sudah bisa kembali pulang, dia hanya demam biasa karena sedang menyesuaikan dengan banyaknya keterampilan yang sudah ia dapatkan, Emma sangat cerdas" puji sang Dokter.
"Terima kasih Dok!" ucap senang Bagas menjabat tangan Dokter spesialis Emma.
Mila mulai bergegas membereskan barang-barang Emma.
"Tuan, kami pulang dengan supir saja?" pinta lembut Mila.
"Aku ini Papanya, aku yang berhak mengantar Emma pulang!" ucap marah Bagas membuat Mila terkejut dan tidak bisa berbicara lebih.
"Kamu ada hubungan apa dengan Rizal?" Supir pribadi Bagas.
"Kalian pacaran?" tanya sewot Bagas yang sering melihat Rizal berbicara akrab dengan Mila. Saat pergi imunisasi Emma dan membeli keperluan yang diinginkan Mila. Rizal selalu cepat.
"T...tidak ada Tuan?" Jawab takut Mila.
"Aku membayar kamu mahal untuk fokus pada Emma, bukan mau pacaran!" Omel Bagas.
"I-iyah Tuan!" jawab cepat Mila.
("Selalu saja serba salah" gerutu sedih Mila)
Tidak senang dengan keakraban itu. Bagas memutuskan untuk menugaskan Rizal menjadi supir kantor dan mengganti supir pribadinya yaitu pria berusia 50 tahun. Begitu juga dengan petugas keamanan. Bagas mengganti petugas keamanan dengan dua pria yang sudah menikah.
Semakin hari Mila semakin takut dengan sikap Bagas. Tatapan pria itu semakin sering dan seram kepadanya. Padahal ia sudah bekerja sangat maksimal.
Mila sering diam-diam menangis dan sangat merindukan keluarganya. Disela-sela waktu. Mila berusaha mencari informasi lowongan kerja lain bahkan ke luar negeri.
trimakasih banyak kaaaaa🙏🙏🙏🙏 akhir'y pecah telor
bikin karya baru yoook
Doa Bu Wirda tembus ke langit sehingga anak² beliau bisa mendapatkan kebahagiaan,,,
Very cepat datang dong tolong bos Bagas jangan sampai terlambat,,,
Mila jangan keluar nurut apa kata Bagas tetap di dalam mobil saja
Emang paling susah ngurusin anak mertua di lawan takut dosa, sudah bawel ya apalagi monster biawak😂😂😂