NovelToon NovelToon
TERJERAT CINTA PAK KADES

TERJERAT CINTA PAK KADES

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Beda Usia
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: julieta

Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...

Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PULANG KE DESA

Tiiiiiiin…

Suara klakson, membuat Vallery langsung menolehkan kepalanya. Sebuah mobil pick up berhenti, tepat di belakang tubuh Vallery.

Sang supir, begitu melihat jika perempuan yang menghalangi perjalanan mereka untuk pulang adalah seorang manusia, diam-diam menghela nafas lega.

"Oalah, manusia toh, aku pikir jurit (setan/hantu) penunggu gerbang", ucap Supri sambil mengusap dadanya beberapa kali begitu menyadari jika yang ada didepannya betul-betul manusia bukan dedemit.

"Mbak, jangan berdirinya di tengah jalan, susah kalau ada yang mau lewat" teriak Supri sambil sedikit mengeluarkan kepalanya.

Vallery yang baru saja sadar jika ia tengah melamun ditengah jalan segera menarik kopernya untuk minggir.

"Maaf pak, saya baru sampai dari kota. Tadi masih liatin gerbang apa benar ini desa nenek saya", jelas Vallery

Wajar jika Vallery sedikit lupa dengan kampung halaman papanya karena semenjak perusahaan yang papanya rintis dari nol berkembang pesat, mereka sekeluarga sudah sangat jarang pulang ke desa akibat kesibukan kedua orang tuanya yang seakan tiada habisnya.

Vallery saja terakhir kali ke desa ini pada saat kakeknya meninggal dunia, sepuluh tahun silam. Dan biasanya, neneknyalah yang pergi ke ibukota untuk menyambangi mereka. Setahun bisa tiga hingga empat kali, membuat ia dan keluarganya pun semakin jarang pulang ke Desa Maju Bersama ini.

Supri yang melihat jika gadis cantik didepannya adalah tamu dari kota sedikit memaklumi jika ia tampak sedikit linglung dengan berdiri didepan pintu gerbang desa.

"Ooh...datang dari kota toh.." gumannya pelan.

Mendengar ucapan sang supir pick up, spontan kepala Vallery langsung mengangguk, tak lupa Vallery juga memberikan senyuman manisnya.

Sementara si supir, untuk melihat jelas wajah yang tampak tidak asing itu iapun segera keluar dari mobilnya, dan  berjalan mendekati Vallery.

"Mau ke rumah siapa, mbak?" tanya Supri sambil tersenyum ramah.

Melihat bapak supir ini tampak seperti orang baik dan sangat ramah, Vallery pun menjawab dengan sopan "Mau ke rumah nenek saya pak, nenek Gendhis".

"Ke rumah nenek Gendhis, jangan-jangan kamu anaknya almarhum Anton dan Bella ya?" tebak Supri, yang lagi-lagi dijawab anggukan kepala oleh Vallery  saat nama mendiang kedua orang tuanya disebut.

"Oalah...kamu to nduk. Yowes tak antar yuk ke rumah nenek Gendhis dari pada bingung mau naik apa kesana karena kalau sudah malam begini sulit untuk dapat ojek didesa ini",  ajak Supri dengan ramah.

Vallery yang tak mau merepotkan segera menolak ajakan itu, "Nggak apa-apa pak, saya bisa jalan kerumah nenek?".

Supri yang melihat jika bahaya membiarkan seorang gadis yang asing dengan desa mereka naik kedesa sambil berjalan kaki seorang diri, segera mengangkat koper milik Vallery dan menaikkannya keatas mobil pick upnya.

“Bahaya nduk malam-malam begini jalan sendiri. Apalagi kamu bukan warga asli desa ini jadi kalau kamu sampai kesasar, bisa nangis darah nenek Gendhis nanti", ucap Supri yang hanya dibalas senyuman kikuk oleh Vallery karena tak tahu harus merespon apa atas kebaikan bapak supir ini.

“Tapi kamu duduk dibelakang nggak pa pa kan nduk, soalnya didepan ada mas Dirga yang sedang tidur di kursi depan”, Supri berkata sambil mulai membeberkan spanduk bekas kampanye yang biasanya dibuat sebagai penutup barang kini dijadikan alas buat Vallery untuk duduk.

Vallery yang merasa tak enak hati jika terus menolak apalagi koper besarnya sudah nangkring manis dibelakang mobil pick up dan juga sudah disiapkan alas duduk, mau tidak mau pada akhirnya iapun mengalah dan segera naik kerasa pick up dengan cepat.

“Terimakasih dan maaf sudah merepotkan bapak”, ucap Vallery dengan ekspresi malu.

“Oalah…ndak pa pa nduk. Lagian jalannya juga searah sama rumah nenekmu jadi ini sama sekali tidak merepotkan”, jawab Supri dengan bahasa yang medok sambil melambaikan satu tangannya dan bergegas masuk kembali kedalam  mobil untuk melanjutkan perjalanan.

Sebagai orang kota yang jarang berinteraksi karena tetangga disekitar rumahnya merupakan golongan para pekerja yang sibuk sehingga jarang ada dirumah, berinteraksi seperti ini dan mendapatkan bantuan dari orang asing yang tulus, membuat hati Vallery merasa hangat.

Kedua mata Vallery pun mulai berkaca-kaca karena terharu tak menyangka jika baru saja datang sudah ada orang baik yang membantunya, tidak seperti keluarga besar mamanya yang bahkan dengan tega mengusirnya dengan kejam dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia, padahal sebelumnya sikap mereka tak seperti itu, meski hanya nenek tiri tapi wanita itu sangat baik hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk tetap tinggal di rumah utama dan merawatnya tanpa tahu jika semua itu hanya topeng dan baru terbuka ketika kedua orang tuanya meningal dunia.

“Ternyata, keputusanku untuk pergi ke kampung halaman papa tak salah”, batin Vallery, sambil menyeka kasar air mata yang menetes di pipinya.

Dari balik kaca spion, Dirga yang baru saja terbangun setelah terganggu oleh percakapan antara Supri dan Vallery, menatap gadis cantik yang menumpang diatas mobil pick upnya dengan persaaan rumit.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu hingga ia terlihat sangat sedih seperti itu”, guman Dirga dalam hati.

Melihat gadis cantik di belakang tengah memejamkan mata sambil menikmati hembusan angin malam yang menerpa wajahnya, entah kenapa sudut hati Dirga mulai terusik.

Ingin rasanya ia merengkuh tubuh lemah dan rapuh itu kedalam dekapan untuk menyalurkan kehangatan.

Menyadari pikiran konyolnya yang tiba-tiba muncul, Dirga pun menggelengkan kepala kencang-kencang untuk mengusir segala macam pemikiran liar yang mulai muncul dalam kepalanya.

“Apa sih yang kamu pikirkan Dirga? Kalian itu hanya orang asing yang baru juga pertama kali bertemu tapi sudah membuatmu memiliki pemikiran liar seperti itu”, runtuk Dirga dalam hati.

Supri yang melihat Dirga menggelengkan kepala sambil memikul kepalanya  beberapa kali sedikit khawatir, “ Ada apa to mas Kades, kenapa kepalanya dipukul-pukul seperti itu?.

Dirga yang tersadar oleh suara Supri segera menoleh, “Tidak apa-apa pak, cuma sedikit pusing saja baru bangun tidur”, elaknya.

Supri yang melihat Dirga segera menghabiskan setengah gelas air mineral kemasan yang baru saja dibukanya dan melihat ekspresi datarnya yang biasa, kekhawatiran dalam hatinya pun sirna.

“Itu siapa pak?”, tanya Dirga sambil mengarahkan tatapannya kearah kaca spion yang menampilkan sosok Vallery yang tampak tengah menikmati pemandangan malam penuh bintang hari ini.

Supri mengikuti arah pandang Dirga.” oh, itu cucunya nenek Gendhis. Kasihan gadis itu, kedua orang tuanya baru saja meninggal dunia dalam kecelakaan. Minggu kemarin nenek Gendhis baru saja pulang menghadiri acara seratus hari meninggalnya anak dan menantunya itu. Kakaknya juga tengah tugas di pedalaman Papua, jadi mungkin gadis itu kesepian dirumah sendirian  sehingga memilih datang kedesa neneknya untuk liburan”, ucapnya menebak.

Semua orang tak ada yang mengira jika gadis cantik itu baru saja diusir secara kejam oleh keluarga mamanya hingga memutuskan pergi ke Desa Maju Bersama ini untuk tinggal bersama nenek dari pihak papanya.

Melihat Dirga hanya menjawab “oh”, Supri dan semua warga desa yang tahu bagaimana iritnya pria itu dalam berekspresi dan berbicara kembali menatap kearah depan, tak mempermasalahkan tanggapan Dirga yang terlampau dingin itu.

Setelah melewati rimbunan pohon jati dan juga pohon bambu disepanjang jalan, akhirnya Vallery pun mulai melihat rumah warga.

Didesa Maju Bersma ini, jarak antara rumah yang satu dengan rumah yang lain cukup jauh karena halaman rumah setiap orang sangat luas, yang biasanya halaman depan rumah mereka digunakan untuk menjemur gabah (padi yang belum yang baru dipanen dan belum digiling) serta aneka hasil panen lainnya seperti kopi dan juga cengkeh, sehingga halaman rumah setiap orang sangat luas.

Melihat rumah yang tak terlalu rapat seperti rumah yang ada di perkotaan dimana tak ada lahan yang akan dibiarkan kosong dan juga aneka tanaman merambat hijau yang dipergunakan oleh warga sebagai pagar rumah mereka, membuat hati Vallery merasa damai dan tentram.

Meski baru tiba tapi ia sudah mulai merasa betah untuk tinggal di desa ini lebih lama, setidaknya sampai ia memutuskan untuk kembali ke ibukota dimana perusahaan yang dirilisnya bersama sahabat-sahabatnya tak mungkin akan selamanya ia tinggal dan mungkin jika bisa, ia akan membujuk nenek Gendhis untuk tinggal di ibukota bersama dengannya.

Vallery sebenarnya memiliki sebuah apartemen pribadi yang cukup dekat dengan perusahaan miliknya, hanya saja ia tak emmutuskan pergi kesana setelah di usir untuk membuat keluarga mamanya lengah. Biarlah mereka mengira jika Vallery sudah tak lagi memiliki apapun sehingga memutuskan untuk kembali ke kampung halaman papanya sehingga keluarga munafik itu tak akan lagi bisa mengusik kehidupannya.

Untung saja sebelum kecelakaan terjadi, akibat krisis yang dialami oleh perusahaan, papa Vallery telah menjual perusahan tersebut sehingga nenek tiri dan anak-anaknya yang rakus itu tak bisa mengambil alih perusahaan sehingga mereka hanya bisa mengambil rumah utama yang Vallery diami karena tak lagi bisa mengambil harta peninggalan kedua orang tuanya setelah beberapa aset kendaraan dan tanah perkebunan telah mereka kuasai.

1
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
alamaj mbah luraaaaaaaahhpantasimu menakutkan mbah🤣🤣🤣
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Rian Moontero
Mampiiirrr😍👍👍
Fadilah Fadilah
lanjutkan cerita nya 🙏🙏🙏
Fadilah Fadilah
lanjutkan sampai habis cerita ini jan🙏🙏🙏
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
BERSAMBUNG...


TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️

SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA
PengGeng EN SifHa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
walah walah walah walah...dunia dirga benar2 sangat seru dengan mereka yg mempunyai keinginan yg berbeda² demi sebuah VALIDASI
PengGeng EN SifHa
tampah...tledok...kalau ditempatku namane
Fadilah Fadilah
lanjutkan
PengGeng EN SifHa
Tatapanmu bagaikan mata si elang🦅🦅🦅 yang siap menerkam ga🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!