Dewo ceo berumur dua puluh sembilan tahun belum menikah sikapnya yang dingin di jodohkan dengan Ema wanita bar bar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Risa sangat cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedang Bicara Sama Anak Saya
Ema menarik paksa tangannya Aya untuk ke tempat bedak setelah mereka berdua berjalan kini Ema dan Aya sudah ada di tempat bedak membuat kedua matanya Aya berbinar sementara Ema tersenyum masam sedangkan pelayan supermarket yang berada di tempat bedak melihat kedatangan Ema dan Aya berjalan mendekat ke mereka berdua
"Maaf mba bu ada yang bisa saya bantu ?" tanya pelayan supermarket sambil tersenyum ramah sementara Ema menatap ke arah Aya yang sedang berselancar dengan matanya yang menatap ke sana kemari melihat bedak yang berjejeran
"Mba tanya ke mama saya soalnya yang mau beli bedak itu mama saya bukan saya seandainya saya nanti membeli bedak itu karena di ancam oleh mama saya" jelas Ema sambil tersenyum tipis sementara pelayan supermarket menganggukkan kepalanya tanda paham sedangkan Aya yang kedua matanya sibuk menatap bedak yang ada di hadapannya namun dirinya masih bisa mendengar ocehan Ema
"Ema kamu juga harus beli bedak jangan mama doang yang beli bedak kamu sedang menjelek jelekkan nama mama ke orang ?" cibir Aya menatap nyalang ke Ema sementara Ema mengeluarkan cengirannya sedangkan pelayan supermarket menatap ke arah Ema dan Aya secara bergantian
"Maaf bu mba sebenarnya siapa yang mau beli bedak ?" tanya pelayan supermarket sambil tak melunturkan senyuman ramah di wajahnya sementara Aya dan Ema kompak menatap ke arah pelayan supermarket
"Mama saya" jawab Ema sambil menunjuk Aya dengan telunjuknya
"Anaknya saya" jawab Aya sambil menunjuk Ema dengan telunjuknya sehingga mereka berdua menjawab secara bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda
"Mba bu jangan rebutan saya tahu mba sama ibu mau beli bedak tapi sebaiknya belinya gantian jangan rebutan" usul pelayan supermarket sambil mengumbar senyum lebar melihat tingkah anak dan orang tua yang sama sama ingin di layani terlebih dahulu sementara Aya menggaruk garuk belakang kepalanya yang tidak gatal menahan malu karena di tuduh rebutan dengan Ema ingin di layani lebih dulu sedangkan Ema membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga di tuduh ingin membeli bedak dan ingin di layani lebih dulu padahal Ema anak yang jarang memakai bedak
"Mba saya ngga mau" perkataan Ema belum selesai sudah di potong oleh Aya
"Mba anaknya saya ngga mau mengalah jadi lebih baik layani anak saya lebih dulu" jelas Aya sambil tersenyum ramah sementara pelayan supermarket mengangguk anggukkan kepalanya sedangkan Ema menatap tajam ke Aya
"Mah aku itu ngga" lagi dan lagi perkataan Ema belum selesai sudah di potong lalu Aya
"Ema mama tahu kamu mau beli bedak lebih dulu buruan kamu sebutkan nama bedak yang biasanya kamu pakai" usul Aya sambil mendelik ke Ema namun Ema belum sadar tatapan dari Aya
"Ema buruan kamu sebutkan merk bedaknya atau mama tinggal kamu di supermarket ini tanpa mama beri pesangon sepersenpun" ancam Aya berbisik di telinga Ema membuat Ema menatap nyalang ke Aya
"Mba mau beli bedak merk apa biar saya ambilkan lagian mama mba juga sudah sangat baik banget memberikan izin buat mba untuk membeli bedak terlebih dahulu" jelas pelayan supermarket sambil menatap Ema dengan senyuman yang mengembang di wajahnya sementara Ema memutar bola matanya malas sedangkan Aya menebarkan senyum lebar di wajahnya di puji seperti itu
"Mba aku mau beli bedak merk Z iya mama saya sangat baik banget bahkan kalau memasak telur pakai cangkangnya mungkin supaya kenyang buruan mba ambilkan takutnya mama saya sudah ngiler pengin di ambilkan bedak juga" jelas Ema dengan nada ketus sementara pelayan supermarket menahan tawanya mendengar jawaban Ema sedangkan Aya melototkan kedua matanya ke Ema
Dewo sudah sampai di tempat kemeja yang ingin di beli lalu kedua tangannya Dewo langsung membongkar dan mengobrak ngabrik kemeja yang ada di hadapannya lebih tepatnya kedua tangannya Dewo dengan telaten memilah milah kemeja satu persatu dengan kedua matanya Dewo yang sangat fokus menatap ke kemeja yang ada di hadapannya
"Lebih baik gue beli dan memilih kemeja sebanyak delapan puluh potong saja terserah mama gue mau membolehkan atau gugak tapi gue masukkan saja semua kemeja pilihan gue ke tas belanjaan mama gue tapi nanti di hitung sama mama gue semut saja yang sampai ratusan saat berkerumun juga di hitung beras juga kayaknya pasti di hitung juga oleh mama gue lebih baik gue ambil tas belanjaan sendiri buat menampung kemeja yang mau gue beli" batin Dewo lalu berjalan untuk mengambil tas belanjaan
Ane masih menampilkan kedua pipi yang merah merona seperti kepiting rebus yang siap di santap gara gara pujian yahh di lontarkan oleh Dewo sehingga sampai sekarang Ane belum menyadari bahwa Dewo sudah pergi dari hadapannya Ane mengira Dewo masih ada di hadapannya
"Dewo apa benar kata kamu kalau mama masih cantik" ucap Ane mengawali pembicaraan setelah hening selama berpuluh puluh menit sementara Dewo tak menjawab hanya diam karena kenyataannya Dewo sekarang sudah tidak ada di hadapannya Ane lagi
"Dewo apa benar kata kamu kalau mama masih cantik ?" tanya Ane lagi sambil menaikkan volume suaranya sampai ratusan ribu oktaf karena mengira bahwa Dewo belum mendengar karena volume suaranya yang belum terlalu keras sedangkan Dewo masih diam tak menjawab pertanyaan Ane
"Dewo kalau mama nanya itu di jawab jangan ngga di jawab ingat mama itu orang yang melahirkan kamu" teriak Ane membuat orang orang yang berlalu lalang menatap ke arah Ane sambil tawa kecil atau tersenyum melihat Ane yang bicara sendiri ada juga yang mencibir Ane tanpa Ane sadari sementara pelayan supermarket mendekati Ane setelah ada di hadapan Ane dirinya berkata
"Maaf ibu sedang bicara sama siapa ?" tanya pelayan supermarket sambil menatap Ane sementara Ane membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga dalam hatinya dirinya berkata bahwa pelayan supermarket itu matanya katarak karena tidak melihat Ane yang sedang berdiri dengan seorang pria tampan dan ganteng
"Mba saya sedang bicara sama anak saya matanya mba ngga katarak kan masa pria tampan dan ganteng di sebelah saya ngga bisa terlihat Dewo kamu lihat sendiri kan makanya kalau di ajak mengobrol itu bicara jangan diam terus jadi di tuduh kamu makhluk astral atau makhluk tak kasat mata nanti" cerocos Ane panjang lebar melebihi panjangnya rel kereta api sedangkan pelayan supermarket mengintip ke sebelah kanan dan kiri Ane tapi tidak ada orang lalu dirinya menengok ke depan dan belakang tetap tidak ada orang lalu pelayan supermarket juga melirik ke atas dan bawah tetap saja dirinya cuma melihat cuma ada dua orang yaitu dirinya dan Ane
"Maaf bu tapi di sini tidak ada siapa siapa lagi selain kita berdua anak ibu berupa manusia kan ? tapi di sini ngga ada anaknya ibu mata saya awas dan penglihatan saya tajam dan matanya saya ngga katarak makanya saya bilang kalau di sini cuma ada kita berdua di sebelah ibu cuma ada saya ngga ada pria tampan dan pria ganteng diam terus karena dari tadi ibu bicara sendirian saya ngga menuduh anak ibu makhluk astral atau makhluk tak kasat mata tapi memang kenyataannya di sini ngga ada wujudnya anak ibu" jelas pelayan supermarket sambil tetap menaburkan senyuman lebar di wajahnya sementara Ane membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut melongo
"Mba di sini itu bukan cuma kita berdua doang soalnya ada anaknya saya berarti di sini ada tiga orang anak saya manusia soalnya saya dan suami saya itu manusia walaupun wajahnya suami saya ngga ganteng saya ngga percaya sama mba soalnya anaknya saya itu masih ada di sini Dewo kamu jawab dong jangan di" perkataan Ane belum selesai namun kata katanya seolah di telan kembali setelah Ane tadi melihat dengan kepalanya sendiri tempat asalnya Dewo tadi berdiri dan ternyata kosong membuat kedua matanya Ane terbelalak lebar dengan mulut melongo
"Mba dimana Dewo anaknya saya ?" teriak Ane sambil menatap tajam ke pelayan supermarket sementara pelayan supermarket dengan cepat menggeleng gelengkan kepalanya
"Saya tidak tahu anak ibu dimana" jawab pelayan supermarket jujur sedangkan Ane langsung membulatkan kedua matanya
"Kalau mba dari tadi tahu saya bicara sendiri ngga bicara sama anaknya saya berarti mba tahu kemana anaknya saya pergi" tuduh Ane dengan menaikkan suaranya sampai ratusan juta oktaf sementara pelayan supermarket menggelengkan kepalanya mantap
"Saya ngga tahu anaknya ibu kemana saya tahunya ibu sudah bicara sendirian dan anaknya ibu sudah ngga ada di sini" jelas pelayan supermarket sejujur jujurnya sedangkan Ane membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga
"Jangan jangan Dewo di culik gimana dong tapi Dewo kan makannya banyak kenapa penculiknya ngga takut memberi makan Dewo terus" kata Ane dengan raut wajah cemas dan panik
"Bu supermarket ini bebas dari penculik karena menyediakan cctv atau ibu mau ikut saya buat melihat cctv kemana anaknya ibu pergi" saran pelayan supermarket sementara Ane mendelik ke pelayan supermarket
"Mba kata siapa bebas dari penculik siapa tahu saja penculik itu membelikan makanan atau permen ke orang yang mau di culik saya ngga mau mengecek cctv buang buang waktu soalnya saya yakin anaknya atas di culik saya mau ke tempat pengumuman di supermarket ini supaya penculik anaknya saya malu karena telah menculik anaknya saya" tegas Ane dengan tatapan menusuk ke pelayan supermarket sementara pelayan supermarket menganggukkan kepalanya
"Baik bu ayo saya antar ke tempat pengumuman untuk mengumumkan akan ibu yang hilang" ajak pelaku supermarket sementara Ane menganggukkankepalanya sebagai jawaban setelah melihat mendapat anggukan kepala tanpa basa basi pelayan supermarket berjalan ke arah pengumuman membuat Ane mengikuti jejak langkah kakinya pelayan supermarket