Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.
Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.
Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.
Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.
Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.
Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 17
Langit siang yang cerah, perlahan terhalang oleh awan mendung. Hawa dingin juga mulai terasa. Tidak lama lagi, hujan dipastikan akan segera turun.
Dave dan Emma masih terlihat berada di taman. Belum ada tanda-tanda mereka akan beranjak dari tempat itu.
"Sebentar Emma, untuk yang ini aku tidak bisa melakukannya," kata Dave. Ia duduk di skuter di atas jalan setapak taman. Tangannya telah menggenggam pada kedua setang.
Pria itu belum memiliki keberanian untuk belajar mengendarai skuter matik. Sebab pertama kalinya ia naik skuter, Emma melajukannya sangat menakutkan. Ia kembali teringat saat perempuan itu melaju cepat, menyalip beberapa kendaraan dalam ruang sempit dan membuatnya sempat menahan napas sejenak dengan perasaan khawatir yang berlebihan.
Seumur hidupnya, Dave baru pertama kali naik skuter dan langsung diajak Emma meluncur dari jalan tanjakan. Bagi perempuan itu memang menyenangkan, namun bagi Dave berbeda. Semua pengalaman itu membuatnya trauma untuk berkendara.
"Kenapa Dave ?" ucap Emma. Ia berdiri di dekat skuter. "Tidak ada yang perlu ditakutkan. Caranya mudah, putar kuncinya dan tekan—"
"Tunggu sebentar," seru Dave memotong perkataan. "Bagimu memang mudah, tapi bagiku ini sulit. Lain kali saja aku belajar mengendarainya," lanjutnya.
"Tidak Dave," jawab Emma menggeleng. "Pokoknya harus hari ini. Kalau lain kali, pastinya akan selalu tertunda," lanjutnya.
Dave terdiam. Ia mengatur napas dan cengkeraman kedua tangannya. Entah kenapa tiba-tiba tangannya basah berkeringat padahal cuaca tidak sepanas beberapa menit yang lalu.
"Tidak perlu waktu lama Dave," ucap Emma. "Lebih baik kamu segera memulainya," lanjutnya sambil berusaha menekan tombol stater. Namun, tiba-tiba pergelangan tangannya digenggam Dave.
"Tunggu, Emma," ucap Dave. "Aku bisa melakukannya sendiri," lanjutnya.
Saat menatap Dave, entah kenapa pria itu terlihat berbeda. Auranya yang dingin, angkuh dan sombong di hari pertama ketemu, tidak terasa. Emma melihat ada sisi lain dari diri pria itu, yaitu kelembutan dan kehangatan. Tanpa disadari ia melamun menatap mata Dave.
"Hei, Emma ?" kata Dave sambil melambaikan tangan di depan wajah Emma yang terpaku menatapnya. Dengan salah tingkah, perempuan itu meninggalkan lamunannya.
"Kamu melamun ya ?" tanya Dave. "Pasti kamu terpukau dengan ketampananku, kan ?" lanjutnya dengan bangga diri.
"Tidak, aku tidak melamun," jawab Emma canggung dengan menggeleng. "Sudah tidak perlu dibahas, lebih baik kamu segera belajar berkendara sebelum hujan," lanjutnya.
"Baik, tapi aku akan melakukannya secara perlahan," kata Dave. "Aku mau kamu tetap disampingku."
"Iya, aku akan mengawasimu," jawab Emma sambil bersedekap dan memalingkan wajah. "Semakin banyak kamu bicara, kita akan semakin lama disini dan pastinya kita akan kehujanan,"lanjutnya.
Dave menatap ke langit sesaat. Awan mendung telah menutupi langit. Ia lalu mengatur napas dan cengkraman kedua tangan di setang skuter. "Baik, aku akan mulai," ucapnya.
Tombol starter ditekan. Suara skuter menyala halus, menggetarkan setang yang di genggam Dave dengan erat. Perlahan walaupun masih ragu, pria itu memutar gas dan sedikit demi sedikit sekuter melaju.
Emma terus mengamati pria itu. Saat skuter itu melaju lurus di jalan setapak, ia ikut berjalan disampingnya.
"Lihatkan aku bisa," kata Dave bangga.
"Coba pelan-pelan kamu tambah kecepatan," sahut Emma. "Setelah sampai air mancur itu, nanti kamu balik kesini," lanjutnya. Ia berhenti dan tidak berjalan di samping Dave.
Dave berusaha menyemangati diri sendiri. "Oke, kamu bisa Dave," gumamnya lirih.
Dave perlahan menambah kecepatan. Ia sempat terkejut sesaat, ketika skuter tiba-tiba melaju cepat karena ia memutar gas terlalu dalam, untungnya ia segera mengerem.
"Pelan-pelan, Dave. Kamu pasti bisa. Gunakan perasaan," teriak Emma.
Dave sekali lagi ingin mencoba menambah kecepatan. Ia perlahan memutar gas sedikit demi sedikit. Walaupun sempat jantungnya berdegup kencang—khawatir tiba-tiba skuter melaju cepat—ia berusaha untuk tetap tenang.
Terlihat Emma tersenyum gembira melihat pria itu berhasil berkendara mulus dan mampu mengatasi rasa takutnya.
Saat hampir mencapai air mancur, Dave perlahan mengurangi kecepatan dan pelan-pelan memutar setang untuk putar balik menghampiri Emma. "Lihatkan, aku bisa melakukannya," serunya bangga.
"Kalau kamu memang bisa, kenapa tadi begitu takut ?" ucap Emma.
"Namanya juga baru pertama berkendara sendiri. Seharusnya kamu memaklumiku."
"Baiklah Dave. Aku memaklumimu. Cobalah sedikit cepat kesini, agar kita bisa langsung melanjutkan perjalanan."
"Oke, oke."
Dave kembali memutar gas. Tanpa perasaan takut lagi, ia tampak senang skuter melaju lebih cepat. Namun, ia tak menyadari kalau ada ular yang tiba-tiba keluar dari rerumputan.
Saat ular terlihat masuk ke jalan setapak, Dave panik. Ia tak bisa menguasai skuter. Akhirnya skuter melaju oleng mengarah ke Emma yang berjalan kembali menuju kursi panjang.
"Awaaass, Emma !" ucap Dave. Karena panik ia tak tahu harus berbuat apa.
Emma yang ingin memutar tubuh, tiba-tiba tertabrak. Perempuan itu jatuh ke rerumputan hijau di pinggir jalan setapak dan skuter jatuh didekatnya. Ia meringis kesakitan.
"Emma, maafkan aku," kata Dave. Ia mendekat ke Emma, memastikan perempuan itu baik-baik saja. "Aku tadi panik karena ada ular di tengah jalan," lanjutnya.
"Tidak...apa-apa...Dave," Jawab Emma sambil meringis kesakitan.
Dave dengan sigap membantu perempuan itu berdiri. Ia merangkulnya dan berjalan bersama menuju kursi.
"Emma aku benar-benar minta maaf," ucap Dave bersalah. "Aku akan membawamu ke klinik," lanjutnya. Ia lalu memandang sekitar, mencari klinik terdekat dari taman.
"Tidak perlu," sahut Emma menahan sakit. "Lebih baik kita segera kembali ke toko." Sambil meringis kesakitan ia berusaha berdiri.
"Emma, kamu harus diperiksa dulu," ucap Dave. "Aku tidak mau nantinya terjadi sesuatu padamu," lanjutnya dengan cemas.
"Aku tidak apa-apa Dave. Aku baik baik saja." Emma tersenyum, menunjukkan kalau ia memang tidak mengalami cedera serius. "Sebentar lagi, pasti rasa sakitnya akan hilang. Kamu tidak perlu khawatir."
"Kamu yakin Emma?" Dave masih khawatir dengan kondisi perempuan itu.
"Iya Dave. Kamu tenang saja. Tidak perlu terlalu mengkhawatirkanku." jawab Emma. "Lebih baik, kamu bawa kita kembali ke toko. Jangan sampai kita ke hujanan yang akhirnya membuat kita terlambat untuk mengantar pizza yang kedua," lanjutnya.
"Tapi aku belum mahir dalam berkendara," kata Dave.
"Bukan kamu tidak mahir, tapi kamu tidak percaya pada dirimu sendiri," sahut Emma. Ia lalu berjalan sedikit pincang menghampiri skuter yang jatuh ke tanah.
"Ayo Dave, kita harus cepat," seru Emma, saat ia hampir dekat ke skuter.
Dave berjalan beberapa langkah dibelakang Emma. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia masih khawatir pada kondisi Emma. Apalagi ia melihat perempuan itu berjalan pincang.
"Sepertinya kamu memang harus diperiksa dulu ke klinik," ucap Dave.
"Tidak perlu Dave. Aku tidak apa-apa," jawab Emma yakin. "Sekarang cepat bantu aku mengangkat skuternya dan kamu segera membawa kita kembali ke toko."
Dave perlahan mengangkat skuter. Lalu ia duduk di depan. "Kamu bisa duduknya ?" tanyanya, saat Emma perlahan duduk di jok belakang.
"Iya aku bisa," jawab Emma dengan sesekali tampak meringis kesakitan.
Setelah Emma duduk dengan nyaman, Dave perlahan segera melajukan skuter meninggalkan taman. Memang ia tidak secepat Emma, tapi itu lebih aman baginya.