Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan tak nyaman : 07
“Mama!” suara Alan menggelegar. Suasana seketika senyap hanya ada mereka bertiga diruang santai. Lainnya sudah masuk ke kamar masing-masing.
Helya bergerak menyamping, pandangannya langsung ke dada tak terbungkus baju. Suaminya baru keluar dari bagian dapur tertutup lemari partisi dua sisi.
Terlalu lelah mental maupun fisik, Helya tak mampu berpikir lebih jauh lagi. Hanya berdiri mematung dengan tatapan mata hampa.
“Durhaka kamu meneriaki Mama hanya demi wanita ini!” Telunjuk Ganira menuding tepat pada wajah menantunya.
“Mama keterlaluan! Helya gak mungkin mendua, dia tipe setia! Mandul lagi, mandul lagi … itu terus yang Mama jadikan senjata untuk menghina istriku!” Alan telah sampai di samping Helya, tangannya langsung memeluk pinggang tak teraba tulang belakangnya. Penuh lemak.
“Hampir jam sepuluh malam baru pulang, sedangkan dia pergi mengantar Mirma dari pukul lima sore, kalau gak main serong ngapain lagi, coba?” suaranya masih menggebu-gebu ingin menjatuhkan nama baik sang menantu dimata putranya sendiri.
“Tadi fobia ku kambuh pas denger sirine ambulan,” jawab Helya jujur.
“Yang bener, Sayang?” Rangkulannya terlepas, ia berdiri di depan Helya, lalu membingkai wajah masih terasa lengket akibat berkeringat dingin.
“Iya.” Angguknya membalas tatapan khawatir Alan.
“Kenapa kamu gak hubungi, Mas? Terus siapa yang nolong?” Alan merengkuh wanitanya sambil mengusap-usap punggung.
“Ada beberapa pengendara motor yang bantuin sampai keadaanku baikan,” ujarnya tidak sepenuhnya dusta.
‘Wangi parfum siapa ini?’ Hidungnya menghirup dalam sampai rongga dada mengembang.
“Kamu kenapa? Masih sesak napas kah?” Alan mundur tanpa melepaskan belitan tangan.
“Kangen aja, tadi kepikiran mas Alan terus pas ketakutan.” Helyara maju, menelusupkan wajah, kembali ingin mencium wangi manis, sensual yang jelas bukan parfum kepunyaannya maupun Alan.
“Serius?” suaranya renyah, seperti orang tengah bahagia sebab dirindukan.
Helyara mengangguk. Dalam hati merasa heran kenapa dia berbohong. Hal yang hampir tidak pernah dilakukan sebelumnya.
“Syukurlah. Helya … Mas ini suamimu, kalau ada apa-apa langsung hubungi. Jangan sampai denger kabar buruk paling akhir, bisa gila Mas nanti, Sayang.” Dieratkan pelukan sampai dagunya bertumpu di pucuk kepala Helyara.
‘Kenapa tubuhku tak bereaksi seperti biasanya, malah merasa gak nyaman?’ pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan.
“Halla … lebay!” cibirnya merusak suasana romantis.
Sebisa mungkin Alan tidak terpancing emosi. Ia lerai pelukan lalu merangkul pundak istrinya. “Ma, Helya baru saja melewati hari berat. Bisa kali sedikit saja berempati?”
Bibir kanan wanita memakai daster, tertarik ke atas menciptakan senyum sinis.
“Lima tahun dia berjuang melawan rasa trauma sampai ke psikolog, tapi bukan sembuh malah terkadang mirip orang gak waras. Teriak-teriak gak jelas kalau denger bunyi sirine ambulan padahal di televisi. Dasarnya istrimu manja, gak kasihan sama kamu yang mati-matian memajukan toko emas warisan orang tuanya,” diungkitnya jasa sang putra.
Helyara yang lelah, malas berdebat, maju melangkah sampai rangkulan suaminya terlepas. Dia melengos pergi.
“Lihat itu! Lihat kelakuan istrimu! Orang tua lagi ngomong malah ditinggal.” Ganira bersedekap tangan.
Alan mengepalkan tangan lalu meninju angin. Beberapa saat memejamkan mata guna mengendalikan emosi.
“Mama keterlaluan!” Dia bergegas menyusul Helya ke kamar mereka.
Ganira tidak peduli, hatinya sedikit puas bisa melampiaskan rasa kesal.
“Punya menantu satu kok ya mandul. Apa gunanya dipelihara, cuma buat keluargaku jadi bahan cemoohan saja di kampung.” Ganira berjalan ke bagian kiri hunian besar, masuk ke dalam kamarnya.
Tok!
Tok!
Tok!
“Sayang, kamu lagi ngapain di dalam?” Alan mengetuk pintu kamar mandi, merasa sang istri sudah terlalu lama tidak juga keluar.
Terdengar suara kucuran air keran, lalu beberapa saat setelahnya pintu kamar mandi dibuka dari dalam.
Helya dalam balutan baju tidur kesukaannya yakni daster polos longgar panjang selutut, tersenyum tipis. “Aku gapapa, Mas. Jangan terlalu khawatir.”
Alan menggandeng tangan kiri wanita wangi bunga Lavender, lalu mendudukkan Helya di tepi kasur, dia sendiri berlutut masih terus menggenggam tangan istrinya.
“Maafkan Mama ya, Sayang? Mas yakin, kalau kita punya anak, Mama sama Papa kembali menyayangimu seperti awal kita menikah dulu.”
“Semoga saja,” katanya tak lagi bersemangat seperti biasa. Kehilangan minat, mulai malas berharap.
Helya teringat masa-masa tahun pertama pernikahan — kedua mertuanya mencurahkan kasih sayang, penuh perhatian, sampai vonis dokter mengubah hal manis jadi pahit, hubungan harmonis perlahan renggang, berlanjut tumbuhnya kebencian.
Dari memantu sangat disayang, berujung dimusuhi, dicap mandul, dianggap gagal menjadi seorang wanita serta istri dikarenakan tak bisa memberikan keturunan.
Kecupan berbunyi keras terdengar berulang-ulang. Alan mencium punggung tangan yang jarinya lebih besar dari jemari tangannya.
“Jangan patah arang, Helya. Kita sudah berjanji untuk melalui semua ini bareng-bareng, kan?”
“Mas, aku lelah, ngantuk. Ayo tidur!” ajaknya sambil menarik tangan.
“Baiklah. Malam ini Mas akan memelukmu sampai pagi.” Alan berdiri, lalu memutari tepian ranjang.
Helya menaikan kaki, lalu menarik selimut sampai batas ketiak. Dia diam saja kala perutnya dibelai dari arah belakang.
Dada Alan merapat ke punggung Helyara, ia berbisik dengan nada mesra. “Malam ini bercinta yuk?”
“Lain kali saja, Mas. Aku beneran gak punya tenaga tersisa,” seandainya saja semalam Alan mengajak, pasti dia senang sekali.
Namun tidak dengan hari ini setelah sebuah kebohongan terungkap, diserang caci maki ibu mertua, traumanya kambuh.
“Yaudah gak apa-apa.” Tangannya naik, meremas buah dada besar, terasa kendur dalam genggaman.
Gairah Helyara seperti dibelenggu, tak terangsang malah batinnya menjerit dan tangan ingin menepis.
Tidak ingin menciptakan suasana tegang berlarut-larut berakhir pertengkaran. Helya memaksa untuk tidur sesegera mungkin.
Caranya cukup ampuh, dalam hitungan menit sudah terlelap.
Alan juga tertidur sambil memeluk istrinya dari belakang.
***
Tengah malam Helyara terbangun dikarenakan rasa lapar. Perutnya perih membuat tidurnya tidak nyenyak.
Ia meraba samping, kosong. Netra setengah terbuka, membulat sempurna.
“Kemana mas Alan?” pikirannya mulai memunculkan praduga.
Helyara turun dari pembaringan, lalu memeriksa kamar mandi. Suaminya tidak ada disana.
“Dimana mas Alan?" tanpa mengenakan alas kaki, Helya keluar dari dalam kamar. Ia mencari keberadaan pria yang berjanji akan memeluknya sampai pagi.
Gorden jendela samping bersebelahan dengan pintu belakang disibak, Helya mengintip keluar. Sepi. Kursi santai tepi kolam renang terletak pada bagian sebelah kanan juga kosong.
Gazebo pun tak berpenghuni. Entah di mana keberadaan Alandi.
Helyara mulai menyusuri dapur, lalu ruang olahraga yang ada treadmill, sepeda statis. Sayup-sayup terdengar rengekan bayi, lalu gumaman suara orang dewasa seperti tengah menenangkan.
Seperti ada dorongan kuat yang menggerakkan kaki wanita berambut kusut. Langkahnya mendekati pintu sebuah kamar bersebelahan dengan ruang santai.
Setiap pijakan pada lantai menghantarkan rasa dingin merambat naik sampai ulu hati. Perasaan Helya mulai tak menentu.
Tinggal sedikit lagi jarak terbentang, tiba-tiba seseorang keluar dari dalam kamar ....
.
.
Bersambung.
nahh kan mau bilang apa coba