Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belanja
Belanja kebutuhan dapur sudah selesai dilakukan. Juga beberapa kebutuhan sehari-hari lain seperti sabun, deterjen dan pasta gigi sudah dibeli. Sean sengaja menambahkan beberapa kilo buah, sekotak daging daging, dan lima bungkus makanan olahan siap saji khusus untuk dikirimkan ke suami serta anak-anak Hanis nanti.
Mereka keluar dari area supermarket dengan dua trolley penuh barang belanjaan. Hanis mendorong satu dan Sean satu.
“Mau dibawa ke mobil aja dulu?” tawar Sean. “Biar nanti gampang jalan-jalannya.”
Hanis mengernyitkan dahi bingung. “Loh? Jalan-jalan? Sudah selesai ini belanjanya…”
“Iya, belanjanya sudah selesai, makanya bisa ditaruh di mobil dulu, terus kita lanjut jalan-jalan.”
“Oh… ya.” Hanis akhirnya menurut saja.
Barang belanjaan berhasil diletakkan di bagasi mobil, trolley dikembalikan di sudut pengembalian, dan mereka kembali masuk ke dalam mall. Sean merangkul Hanis sembari berjalan beriringan.
Wanita itu tersenyum kaku. “Sean… ini…?”
Sean melirik Hanis. “Nggak apa-apa. Biar kamu nggak hilang.”
Pertama-tama mereka menuju ke toko pakaian wanita. Sean mempersilahkan untuk membeli pakaian, mengingat wanita itu selama ini hanya mengenakan pakaian pemberian Jinny yang mungkin sebenarnya tidak sesuai dengan seleranya.
“Beli aja yang kamu mau, jangan lihat harganya,” ucap Sean sebelum mendudukkan diri di kursi penunggu di tengah toko. Seperti yang biasa ia lakukan saat menunggui Jinny berbelanja.
Hanis melihat lihat pakaian yang digantung, beberapa memang menarik perhatiannya. Namun setiap kali melihat label harga, langsung tidak jadi mengambilnya. Harga satu potong pakaian adalah sama atau bahkan lebih tinggi dari penghasilan Rino selama sebulan saat masih bekerja.
Akhirnya, karena tidak enak dengan Sean jika tidak membeli sama sekali, Hanis mengambil satu potong pakaian yang paling murah. Sebuah kaos tipis putih polos yang diskon tujuh puluh persen.
“Sudah,” lapor Hanis, berdiri di hadapan Sean dengan membawa kaos pilihannya di tangan.
“Cuma ini?” tanya Sean, pasalnya Jinny tidak pernah beli satu, istrinya itu selalu beli lebih dari lima potong tiap kali masuk toko.
Sean membawa Hanis ke kasir untuk membayar, dan ia baru sadar bahwa Hanis memilih produk termurah yang diskon, maka ia menoleh ke arah Hanis dengan raut wajah tidak suka. “Ambil lagi, Nis. Jangan liat harga.”
“Tapi…”
“Ayo, cepet pilih. Kasihan yang antri di belakang.”
Hanis buru-buru kembali ke deretan rak dimana ia tadi sempat tertarik oleh beberapa potong baju. Ngambilnya cepat dan membawa ke kasir dimana Sean telah menunggu.
Dengan cepat, satu kantong kertas besar berpindah ke tangan Sean. Mereka melangkah keluar toko.
“Sekarang kita cari sandal buat kamu. Atau sepatu?”
“Sandal saja;” jawab Hanis cepat. Pikirnya, mau ke mana ia pakai sepatu, sandal akan jauh lebih berguna.
Hanis memilih sebuah sandal karet nyaman dan Sean menyetujuinya. Itu akan cocok digunakan saat Hanis mengandung nanti.
“Sepatu untuk anak-anak?” tanya Sean, kembali teringat pada anak-anak yang mungkin butuh sepatu untuk sekolah. “Anak sulungmu sudah punya sepatu sekolah?”
“Sudah, Sean. Dibelikan ayahnya di pasar pakai uang waktu itu…”
“Baru satu, kan? Ayo beli lagi. Untuk adik-adiknya juga.”
Perasaan Hanis jauh lebih senang saat berbelanja untuk anak-anaknya ketimbang untuk dirinya sendiri. Ia memilih tiga pasang sepatu anak laki-laki yang modelnya mirip, hanya berbeda ukuran.
“Ini saja,” ucap Hanis. Sebuah senyum tercetak di bibirnya.
“Yang bungsu?”
“Masih bayi, belum pakai sepatu.”
“Oh…”
Sean yang membayar ke kasir, sementara Hanis menunggu dengan duduk sambil memegangi dua kantong belanjaan besarnya.
“Setelah ini, mau belanja apa?” tanya Sean yang menghampiri dengan sebuah tas kanvas besar berisi tiga kotak sepatu anak-anak.
“Hmmm… alat tulis?” sahut Hanis meski ia sendiri tak yakin apakah alat tulis dan perlengkapan sekolah dijual di dalam mall.
...****************...