Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Berhenti
Malam hari di rumah Rea, tersisa Rea, Gala dan kedua orang tuanya.
"Kalian mau tinggal di sini atau beli rumah sendiri aja? Sayang juga kalau rumah ini enggak ditempati," ucap Saka membuka suara.
Mereka duduk di ruang tengah lantai bawah. Saka duduk berdampingan dengan Revin, lalu Rea duduk di triple sofa dengan Gala yang memabaringkan kepala di pangkuannya.
"Bukannya Bella masih tinggal di sini?" tanya Gala seraya memainkan jemari lentik Rea yang berada di atas dadanya.
"Dia enggak punya hak apapun atas rumah ini, karena dia bukan anak kandung orang tua Rea. Dia hanya dititipkan pada Althan, karena Papi Bella harus dipenjara. Sekarang Bella sudah dewasa, sudah seharusnya hidup mandiri. Kalaupun harus tinggal di sini, rumah ini tetap akan menjadi hak milik Rea, dia yang berhak untuk menentukan siapa yang akan tinggal di rumah ini."
Gala mendongak, menatap Rea yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.
"Lo mau tinggal di sini?" tanyanya.
Rea membalas tatapan Gala, sebelum mengangguk pelan.
"Berarti kita tinggal di sini aja, enggak apa-apa?"
"Ya enggak apa-apa. Masalah Bella terserah kalian. Mau tetap membiarkan dia tinggal di sini silahkan, kalau enggak juga enggak apa-apa. Setau Papa, Papinya Bella juga sudah selesai masa tahanan."
"Kalaupun Papi Bella belum selesai masa tahanan, Bella tetap harus lepas dari kalian. Bukan tanggung jawab kalian untuk menghidupi dia, karena dia juga sudah dewasa. Dia sudah harus bisa menghidupi dirinya sendiri."
Rea dan Gala hanya mengangguk, mengiyakan apa yang Saka ucapkan.
"Ya sudah, kalau gitu kami pulang dulu. Kalian berdua baik-baik di sini, hindari pertengkaran apalagi sampai main tangan dan bentak. Berantem boleh, tapi jangan terlalu lama, enggak baik. Bicarakan baik-baik kalau ada masalah, jangan saling menghindar apalagi perang dingin."
Gala bangun dari tidurnya, meraih tangan kedua orang tuanya untuk salam.
Revin menatap Rea dengan senyum menenangkan. Ia menggenggam lembut tangan gadis itu.
"Jangan sedih lagi, ya? Ada Ibu, Papa sama Gala. Kami keluarga kamu, jangan pernah sungkan untuk datang ke rumah. Ibu sama Papa juga orang tua kamu."
Rea mengangguk seraya tersenyum sendu, sebelum memeluk Ibu mertuanya.
Saka tersenyum lalu mengusap kepala Rea dengan lembut. Memiliki anak perempuan adalah impiannya sejak dulu, dan sekarang ia sudah mendapatkannya dari sang menantu.
Saka beralih pada Gala yang hanya diam menatap interaksi Rea dan Revin. Ia terkekeh dan menepuk pundak cowok itu, membuatnya menoleh.
"Jangan cemburu, Bang. Dia istri kamu," godanya.
Gala tak menjawab, ia beralih memeluk Papanya. Sejak dulu, Gala paling tidak suka jika melihat Ibu dan Papanya lebih perhatian pada orang lain dibandingkan dirinya.
Gala bahkan seringkali mengambek hanya karena Revin lebih perhatian pada Saka, ataupun sebaliknya. Gala memegang prinsip jika kedua orang tuanya hanya boleh sayang padanya, tidak pada orang lain.
Saka tersenyum dan menepuk punggung putranya. Sedewasa apapun anak itu, dia tetaplah putra kecilnya. Sampai kapanpun, Gala akan menjadi prioritas utama untuknya.
"Jaga istrinya, ya? Dibimbing, disayang, jadikan dia prioritas utama kamu. Dia sepenuhnya tanggung jawab kamu sekarang," ujar Saka seraya mengecup puncak kepala putranya.
Gala mengangguk, lalu melepas pelukannya. "Kalau marah, jangan sampai membentak atau main fisik. Tegas boleh, tapi jangan jahat. Cara terbaik menasihati perempuan adalah dengan kelembutan, sekeras apapun perempuan itu."
Setelah kepergian Saka dan Revin, kini tersisa mereka berdua ditemani keheningan.
"Kalau Bella datang nanti, bicara baik-baik. Jangan ada keributan di antara kalian, yang nantinya justru merugikan diri lo."
Rea menoleh pada Gala yang berada tepat di sampingnya. "Gue enggak pernah ngajak ribut, tapi dia."
Gala membalik badan, menghadap Rea. Ia bergerak menyelipkan helai rambut Rea ke belakang telinga.
"Gue cuma enggak mau lo luka," katanya sambil mengusap kepala Rea.
"Kenapa memang?" Rea menatap lekat mata Gala yang juga menatapnya.
Gala memasang wajah datar. "Cuma gue yang boleh nyakitin lo."
Rea berdecak kesal, sambil memukul lengan Gala.
"Perutnya masih sakit?"
Rea menggeleng kemudian memeluk Gala manja.
Gala menepuk kepala gadis itu. "Kok lo manja?"
Rea mendongak. "Lo enggak suka?"
Gala menggeleng pelan. "Suka," ucapnya terjeda.
"Ya sudah."
"Sama lo."
Rea hendak menunduk, namun mendengar ucapan Gala barusan membuatnya kembali menatap cowok itu.
"Ngomong apa?"
"Gue suka sama lo."
Rea mendengus. "Bulshit."
"Terserah."
"Suka belum tentu cinta, kan?" Rea mengangkat kedua alisnya.
Gala mengangguk. "Tapi sayang."
Rea terkekeh. "Lo sayang gue?"
Gala kembali mengangguk singkat.
Lagi, Rea tertawa pelan sambil menepuk dada Gala yang kini menjadi sandarannya.
"Sejak kapan seorang Gala enggak gengsian?"
Gala menatap Rea yang tengah menggodanya, lama.
"Gue enggak pernah gengsi."
Rea memajukan bibir bawahnya, meremehkan. "Bilangnya enggak gengsi, tapi suka pura-pura enggak peduli, padahal sayang banget."
"Siapa cinta pertama lo?" tanya Gala basa-basi.
Sambil menunggu waktu tidur, mungkin lebih baik mereka gunakan untuk saling mengenal satu sama lain.
"Enggak penting."
Gala menatap Rea dengan mata memicing, kala melihat gadis itu menundukkan kepalanya tiba-tiba.
"Gara?"
Rea menggeleng tegas mendengarnya.
"Terus?"
"Enggak usah kepo."
Gala mengedikkan bahunya. "Enggak penting juga. Siapapun dia, tetap gue pelabuhan terakhirnya."
"Itu tau. Kalau lo?"
Gala mengedarkan pandangannya, menghindari tatapan lekat dari Rea.
"Ada, cewek."
Rea mengerucutkan bibirnya. "Siapa? Gue kenal?"
Gala mengangguk. "Kenal, mungkin. Biasanya seseorang lebih mudah mengenal orang lain, dibandingkan dirinya sendiri."
Rea mengerutkan kening. "Maksudnya?"
"Dia cewek, cantik, bawel, manja. Dia jelek banget kalau lagi nangis, makanya gue paling enggak suka kalau dia nangis."
Rea mendengus mendengar gambaran yang Gala berikan. "Sekarang masih cinta sama dia?"
Gala terdiam sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya pelan.
Hal itu, membuat Rea menegakkan tubuhnya, menjauh dari Gala.
Gala mengangkat sebelah alisnya, melihat perilaku Rea tersebut.
"Kenapa?"
Rea menghela nafas. "Kalau gini, kayaknya gue cuma bisa pasrah. Sebesar apapun usaha gue untuk mengambil hati lo, dan berusaha membuka hati buat lo. Kalau saingan gue adalah masa lalu, gue tetap akan kalah."
Gala diam, tak menjawab apapun ucapan Rea. Namun, tatapannya tak pernah lepas dari raut wajah gadis itu.
Rea menatap lekat Gala. "Kenapa lo enggak jujur dari awal? Kalau gini, gimana caranya berhenti membuka hati yang hampir sepenuhnya buat lo?"
"Kenapa harus berhenti?" tanya Gala pada akhirnya.
Rea menatap Gala dan memutar bola matanya malas. "Terus lo mau gue sakit sendirian, gitu? Di saat nanti lo balik sama masa lalu lo, gue cuma bisa pasrah doang, membiarkan hati gue terluka?"
Gala memajukan wajahnya, untuk menatap wajah Rea lebih dekat. Tatapan mereka beradu, saling menyorot satu sama lain.
Tangan Gala terulur, mengusap pipi Rea dengan lembut, membuat gadis itu menutup matanya sejenak.
"Lo enggak perlu berhenti dengan usaha lo."
Rea kembali membuka mata untuk menatap sorot mata Gala yang penuh ketulusan.
Dapat Rea rasakan jika wajah Gala bergerak semakin dekat, hingga nafas cowok itu menerpa wajahnya.
Tubuh Rea menegang dan matanya kembali terpejam erat, saat merasakan benda kenyal nan hangat milik Gala menempel sempurna di bibirnya.
"Gue cinta sama lo," bisik Gala setelah melepas ciumannya, tanpa memundurkan wajahnya sedikitpun.
Hanya ada jarak beberapa milimeter, nafas mereka saling bertukar.
Rea melihat sorot kelembutan di mata Gala yang biasanya menyorot tajam sekitar.
"Lo cinta pertama gue."
Gala mengusap bibir Rea, lalu ke pipi dan ke keningnya.
"Jangan pernah berhenti belajar mencintai gue."
Rea menikmati dekapan dan ciuman hangat yang Gala berikan sekarang.
Rea menelan ludah, seraya membalas pelukan Gala erat. Menyembunyikan wajahnya di dada cowok itu, dengan mata terpejam.
"Bantu gue mencintai lo."
.
.
.
To be continue ....