NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Gelombang Pasang dari Barat

Beberapa minggu telah berlalu sejak malam berdarah di Celah Ohara. Di Gunung Kurama, kabut tebal kembali menyelimuti pepohonan sugi tua, menyembunyikan jejak pembantaian pasukan Suppa dan menyimpan rahasia tentang murka para yokai rapat-rapat dari mata dunia. Namun di luar batas gunung suci itu, Jepang tidak pernah tidur.

Pesan berdarah dan ingatan teracak yang dibawa Rokusuke kembali ke Istana Jurakudai bekerja persis seperti yang diprediksi oleh Biksu Tenkai. Kuroda Kanbei, dengan kalkulasi dingin dan rasionya yang amat tajam, memutuskan untuk membekukan seluruh operasi rahasia di wilayah Kurama. Bagi sang ahli strategi, membuang sumber daya dan memicu konflik gaib tak terukur dengan klan Iga serta klan Tokugawa di saat benteng terbesar di Jepang sedang menanti di timur adalah sebuah kegilaan taktis.

Perhatian seluruh negeri kini terikat pada satu tujuan tunggal. Provinsi Sagami, wilayah jantung klan Hojo di Kanto.

Kyoto dan Osaka kini telah berubah menjadi tungku raksasa dari mesin perang Toyotomi. Jalan-jalan utama menuju timur—Jalur Tokaido dan Nakasendo—bergetar saban hari di bawah ribuan derap langkah kaki prajurit, derak roda pedati logistik yang berat, serta ketukan terompet kulit kerang yang membahana membelah udara dingin awal tahun.

Di pelabuhan Osaka dan Sakai, armada laut klan Kuki dan Wakizaka mengerahkan ratusan kapal perang bertiang ganda. Geladak-geladak kapal itu dipenuhi karung beras, pasokan mesiu import dari pedagang Portugis, serta ribuan senapan tanegashima yang berkilat ditimpa sinar matahari pagi. Jalur laut Teluk Sagami siap dikunci rapat, memutus jalur pasokan makanan bagi klan Hojo dari arah samudra.

Sementara itu, di aula markas besar pengerahan pasukan di Istana Jurakudai, Toyotomi Hideyoshi berdiri di depan panggung kayu raksasa. Di atas panggung tersebut membentang relief tiga dimensi wilayah Kanto yang dibuat dari tanah liat, kayu, dan cat warna-warni—sebuah mahakarya pemetaan yang mengesankan, memetakan setiap celah pegunungan Hakone, alur Sungai Tama, hingga posisi megah Benteng Odawara di tepi pantai Provinsi Sagami.

"Luar biasa..." gumam Hideyoshi seraya mengusap janggut tipisnya. Matanya yang tajam dan licik berbinar menatap maket Kanto tersebut. "Dua puluh tahun klan Hojo bertengger di Sagami seperti elang yang tak tersentuh. Uesugi Kenshin mengepung mereka dan gagal. Takeda Shingen mengepung mereka dan terpaksa mundur. Hari ini, kita tidak hanya akan mengepung mereka... kita akan menelan seluruh provinsi itu bulat-bulat."

Di samping Hideyoshi, Kuroda Kanbei berdiri menopang tubuhnya dengan tongkat kayu ukirnya. Wajah Kanbei tampak lebih tirus dari biasanya, lingkaran hitam menyelimuti matanya akibat malam-malam panjang yang dihabiskan untuk merancang jalur pasokan logistik terbesar dalam sejarah.

"Seluruh kesiapan telah mencapai sembilan puluh persen, Tuan Kampaku," terang Kanbei, suara parau dan dinginnya meluncur di antara jajaran para daimyo yang hadir di ruangan tersebut. "Pasukan garis depan di bawah komando klan Sanada dan klan Uesugi telah mulai bergerak dari utara untuk mengunci jalur Gunung Usui. Sementara itu, klan Tokugawa di Mikawa telah mengonfirmasi bahwa mereka siap mengerahkan tiga puluh ribu prajurit untuk membuka jalur utama di Tokaido."

Hideyoshi menoleh ke arah seorang pria paruh baya berbadan tambun yang duduk tenang di jajaran daimyo sebelah kanan. Pria itu adalah Tokugawa Ieyasu. Wajah Ieyasu tampak tenang, mengumbar senyum ramah yang sukar ditebak, seolah-olah ia hanyalah seorang jenderal setia yang gembira melayani sang Kampaku.

"Ieyasu-dono!" panggil Hideyoshi dengan nada akrab yang dipaksakan. "Pasukanmu adalah mata tombak di garis depan Tokaido. Apakah kau siap memimpin jalan bagi kita menuju Sagami?"

Ieyasu membungkuk dalam-dalam dengan penuh hormat. "Klan Tokugawa adalah hamba yang taat bagi keagungan Tuan Kampaku. Seluruh jalan di sepanjang Mikawa dan Totomi telah kami amankan. Pasokan beras dan tempat peristirahatan untuk dua ratus ribu prajurit klan Toyotomi telah disiapkan di setiap pos perbatasan."

"Bagus! Sangat bagus!" Hideyoshi tertawa lebar, menepuk bahu Ieyasu dengan akrab. Namun di balik tawa renyah itu, mata Hideyoshi memancarkan kewaspadaan yang tidak pernah padam. Ia tahu betul bahwa Ieyasu adalah serigala yang sabar. Menempatkan pasukan Tokugawa di garis terdepan bukan hanya untuk menggempur Hojo, tetapi juga untuk menguras kekuatan militer Mikawa agar tidak menjadi ancaman bagi klan Toyotomi di masa depan.

Malam harinya, di dalam paviliun pribadi Kuroda Kanbei di luar istana, suasana jauh lebih sunyi dan menekan.

Kanbei duduk sendirian di hadapan meja tulisnya. Di atas meja itu terhampar daftar nama para komandan, jumlah pasokan mesiu, dan jadwal pelepasan armada laut. Namun, di sudut meja, terdapat sebuah gulungan kain sutra kecil yang terlipat rapi—laporan pribadi yang ditulisnya sendiri mengenai kegagalan Misi Celah Ohara.

Pintu geser paviliun terbuka perlahan. Ukon Takayama, salah satu jenderal kepercayaan Hideyoshi yang juga merupakan sahabat dekat Kanbei, melangkah masuk dan duduk bersila di hadapannya.

"Kau masih memikirkan Kurama, Kanbei?" tanya Ukon pelan, memperhatikan pandangan sahabatnya yang tertuju pada gulungan sutra tersebut.

Kanbei menyandarkan tubuhnya ke sandaran kayu, meraba pergelangan kaki kirinya yang terasa ngilu akibat perubahan cuaca dingin.

"Seorang ahli strategi yang baik tidak pernah membiarkan ada simpul yang tidak terikat, Ukon," jawab Kanbei datar. "Rokusuke kembali dari gunung itu dalam keadaan hancur secara mental. Laporannya penuh dengan keanehan—yokai berparuh burung, racun gaib, dan peringatan dari seorang biksu bernama Tenkai."

Ukon menyipitkan matanya. "Tenkai? Nama yang sangat tidak asing. Apakah kau percaya pada cerita tentang makhluk gaib itu?"

Kanbei tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin tanpa rasa humor. "Aku tidak percaya pada monster, Ukon. Tapi aku percaya pada keahlian klan Iga dalam memanfaatkan mitos dan ketakutan manusia. Dan aku percaya bahwa Biksu Tenkai... adalah seseorang yang sangat mengenal jalan pikiranku."

Kanbei menghela napas panjang, menatap lilin yang berkedip ditiup angin malam. "Tenkai tahu bahwa saat ini perhatian utamaku harus tertuju seratus persen pada Provinsi Sagami. Dia sengaja menciptakan kekacauan di Ohara untuk menunjukkan bahwa biaya untuk membongkar rahasia Kurama jauh lebih mahal daripada nilai strategis tempat itu saat ini."

"Dan kau menelan umpan itu?" tanyak Ukon.

"Bukan menelan umpan, tapi memilih pertarungan yang tepat," potong Kanbei tegas. "Dua ratus ribu prajurit kini siap bergerak ke Kanto. Jika aku memaksa Tuan Kampaku untuk mengalihkan fokus dan bertempur di Kurama sekarang, retakan dalam persekutuan kita dengan klan Tokugawa akan terbuka lebar sebelum kita sempat menyentuh benteng Odawara."

Kanbei mengambil kuas bulunya, lalu mencoret nama "Gunung Kurama" dari daftar area pengawasan khusus dalam catatannya.

"Biarkan Kurama menjadi tanah suci yang terlupakan untuk sementara waktu," ujar Kanbei dengan nada dingin yang final. "Jika Hojo Ujimasa jatuh di Sagami, seluruh Kanto akan menjadi milik kita. Dan ketika seluruh tanah ini berada di bawah telapak kaki Toyotomi... tidak ada satu pun gunung, kuil, atau bayangan masa lalu yang bisa bersembunyi dari kita."

***

Sementara itu, di kemah militer klan Tokugawa di perbatasan Mikawa, Hattori Hanzo baru saja tiba dari perjalanan rahasianya dari Kurama.

Di dalam tenda utama yang hanya diterangi oleh sebatang lilin kecil, Tokugawa Ieyasu sedang duduk menikmati secangkir teh panas. Pria berbadan tambun itu menatap penasihat bayangannya yang baru saja berlutut di kegelapan sudut tenda.

"Bagaimana situasi di Kurama, Hanzo?" tanyakan Ieyasu pelan tanpa memutar tubuhnya.

"Pasukan penyusup Kuroda Kanbei telah dihancurkan sepenuhnya di Celah Ohara, Ieyasu-sama," laporkan Hanzo. "Biksu Tenkai telah mengirimkan peringatan keras yang membuat Kanbei menarik mundur seluruh pasukannya dari area gunung."

Ieyasu manggut-manggut perlahan, menyeruput tehnya dengan tenang. "Kuroda Kanbei adalah pria yang sangat bijaksana. Dia tahu kapan harus maju dan kapan harus menahan diri. Dengan begini, pergerakan kita menuju Odawara tidak akan terganggu oleh kecurigaan Hideyoshi."

"Ieyasu-sama," ujar Hanzo lagi, ada keheningan sejenak sebelum ia melanjutkan. "Biksu Tenkai... beliau menyetujui untuk mulai memberikan pelatihan spiritual bagi Mumei-sama di Kurama."

Gerakan tangan Ieyasu yang memegang cangkir teh terhenti sejenak. Matanya melirik ke arah Hanzo di kegelapan.

"Tenkai..." gumam Ieyasu, sebuah senyuman penuh makna terukir di bibirnya. "Pria tua itu selalu tahu kapan harus muncul dari balik layar. Bagus. Mumei membutuhkan pengawasan spiritual itu jika ia ingin selamat dari takdir besar yang menantinya di masa depan."

Ieyasu berdiri, melangkah menuju pintu tenda dan menatap ke arah timur—ke arah pegunungan Hakone dan tanah Kanto yang akan segera menjadi lautan darah dan api.

"Gendang perang Odawara telah ditabuh, Hanzo," bisik Ieyasu, suaranya dipenuhi oleh kalkulasi politik yang amat matang. "Hideyoshi akan membawa seluruh pasukannya ke Sagami. Dia percaya bahwa pertempuran ini adalah puncak dari keagungannya... padahal pertempuran ini adalah awal dari kemunduran klan Toyotomi."

Ieyasu membalikkan badan, menatap Hanzo dengan mata yang penuh keteguhan. "Pastikan Mumei tetap aman di bawah naungan kabut Kurama dan bimbingan Tenkai selama perang ini berlangsung. Ketika abu Odawara telah reda, dan Kanto jatuh ke dalam genggaman klan kita... anak itu akan menjadi kunci terakhir untuk mengunci masa depan tanah Jepang."

"Sesuai perintah Anda, Ieyasu-sama," jawab Hanzo membungkuk dalam-dalam sebelum menyatu kembali dengan kegelapan malam.

Di luar tenda, terompet perang klan Tokugawa membahana melintasi perkemahan Mikawa. Ribuan prajurit bersenjata lengkap mulai berbaris, menyusuri Jalur Tokaido menuju Provinsi Sagami—menyambut badai perang raksasa yang akan meruntuhkan klan Hojo dan mengubah takdir negeri ini selamanya, sementara Mumei tetap bertumbuh dalam sunyi di bawah naungan bayangan suci Gunung Kurama.

1
Xiao Qiao
keknya makanan kesukaan dia babi asap nih 🤣
Xiao Qiao
😭
Friend_A
bagus
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!