NovelToon NovelToon
DETEKTIF INDRA KE 6

DETEKTIF INDRA KE 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Misteri / TKP
Popularitas:862
Nilai: 5
Nama Author: Jilbab putih

Bagi publik dan media, Reno Devano adalah pendiri agensi Vanguard Private Crime Investigation (VPCI) sekaligus detektif swasta paling jenius yang selalu bisa membongkar kasus pembunuhan paling mustahil. Namun, di balik deduksinya yang tajam, Reno menyimpan satu rahasia besar: ia memiliki indra ke-6. Melalui sentuhan pada barang bukti di tempat kejadian perkara, ia mampu melihat kilas balik detik-detik sebelum korban meregang nyawa.

Ketika sebuah kasus pembunuhan pengusaha besar ditutup oleh polisi dengan dugaan pelaku tunggal, Reno yang menyentuh kancing kemeja korban di TKP mendapati penglihatan mengerikan korban sebenarnya dieksekusi secara terencana oleh dua orang pelaku.

Karena paham bahwa "penglihatan gaib" tidak akan pernah diterima di meja hijau, Reno harus menyembunyikan kemampuannya dari tim forensik dan tim hukumnya sendiri yang terbiasa berpikir logis. Reno bertarung dengan waktu: menggunakan penglihatannya untuk 'memandu' dokter forensik dan ahli siber menemukan bukti fis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilbab putih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: DAFTAR LIMA NYAWA

BAB 6: DAFTAR LIMA NYAWA

Lampu indikator merah di server utama VPCI masih berkedip liar saat mobil SUV Reno mengeram masuk ke area parkir basement gedung. Hujan deras yang membasahi Jakarta malam itu seolah enggan reda, menyatukan suasana dingin di luar dengan ketegangan mencekam di dalam ruang operasional agensi.

Ketika Reno, dr. Sara, Widya, dan Bara melangkah masuk, Dion masih tampak menempelkan dahinya ke atas meja kerja. Tiga layar monitor besarnya dipenuhi deretan kode rahasia yang teracak, menyisakan satu jendela dokumen berwarna hitam dengan tulisan tebal berwarna merah menyala di tengahnya.

"Gue udah coba trace back IP address-nya, Ren," ujar Dion dengan suara serak, matanya yang merah dan berair menatap Reno lelah.

"Tapi peretas ini pakai server pantulan bertingkat dari lima negara berbeda. Dia masuk ke sistem kita persis saat kamu menyentuh kemudi mobil Hakim Rustam di danau tadi. Dia tahu timing-nya... dia tahu persis kapan kita lagi lengah."

dr. Sara melangkah mendekati monitor, menarik napas panjang. "Buka dokumen daftar namanya, Dion."

Dion menekan satu tombol. Layar utama langsung menampilkan sebuah daftar berisi lima nama lengkap beserta tanggal, foto, dan status hukum yang pernah dijatuhkan oleh Hakim Agung Rustam Effendi sepuluh tahun lalu.

* Rustam Effendi (Hakim Agung) — Status: TEWAS (Tenggelam / Asfiksia)

* Kencana Subroto (Mantan Jaksa Penuntut Umum) — Status: TARGET

* dr. Herman Teja kusuma (Saksi Ahli Ad-Hoc) — Status: TARGET

* Bramantyo Wardhana (Pengusaha / Terdakwa Utama Kasus Pencemaran Limbah 2016) — Status: TARGET

* Reno Devano (Pendiri VPCI / Detektif Utama) — Status: TARGET UTAMA / EKSEKUSI AKHIR

Widya menutupi mulutnya yang ternganga.

"Empat nama pertama... mereka semua adalah orang-orang kunci dalam Kasus Skandal Limbah Beracun Pabrik Sentosa sepuluh tahun lalu! Kasus yang membuat puluhan warga desa di pesisir tewas karena keracunan air tanah, tapi seluruh terdakwanya divonis bebas oleh Hakim Rustam!"

"Dan nama kelima adalah Reno," bisik dr. Sara. Sang dokter forensik beralih menatap Reno yang berdiri kaku di sampingnya. "Reno sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus sepuluh tahun lalu itu. Kenapa nama Reno ada di daftar ini?"

Reno mengepalkan jemarinya di dalam saku mantel. Sensasi dingin bekas sentuhan di kemudi mobil Hakim Rustam masih membayang tegas di benaknya. Tatapan pria bermantel hitam di dalam kilas balik itu senyuman tipis yang menembus dimensi masa lalu—adalah jawabannya.

"Karena dia tahu siapa aku," jawab Reno dingin. Suaranya bergema pelan namun menusuk. "Dia tidak menyasar namaku karena masa lalu. Dia menyasarku karena aku satu-satunya orang yang bisa 'melihat' jejak dosanya."

"Maksudmu?" tanya Bara bingung, mengernyitkan dahi.

"Pelaku ini menganggap dirinya sebagai eksekutor keadilan," analisis Reno, mencoba mengarahkan timnya secara rasional.

"Dia mengeksekusi orang-orang yang meloloskan diri dari hukum sepuluh tahun lalu. Dan dia menantang VPCI menantangku karena dia tahu VPCI punya kemampuan untuk membongkar kejahatan yang tidak bisa tersentuh oleh polisi biasa. Dia ingin melihat siapa yang lebih cepat: pembalasan dendamnya, atau hukum yang kita bawa."

"Kita harus melaporkan ini ke Mabes Polri dan minta perlindungan saksi untuk tiga target sisanya!" tegas Widya cepat, menyambar ponselnya di atas meja.

"Jangan, Widya!" potong Reno tegas.

"Kalau kita serahkan kasus ini sepenuhnya ke polisi biasa tanpa persiapan, mereka tidak akan mengerti pola pergerakan pelaku. Pelaku ini punya akses siber kelas atas dan kemampuan melumpuhkan saraf medis dalam hitungan detik. Jika polisi bertindak gegabah, Kencana Subroto dan dr. Herman akan tewas sebelum kita sempat menyentuh mereka."

"Lalu apa rencana kita, Bos?" tanya Bara, meremas sarung tangan taktisnya. "Kita tidak bisa cuma duduk manis menunggu giliran nama kamu dipanggil!"

Reno menatap daftar di layar. Tangannya menunjuk nama kedua. "Kencana Subroto. Mantan Jaksa Penuntut Umum. Dion, lacak posisi Kencana sekarang juga. Bara, siapkan perlengkapan lapangan. Kita meluncur ke lokasi Kencana detik ini juga."

Tiga puluh menit kemudian, SUV VPCI melaju menembus hujan deras menuju sebuah rumah peristirahatan mewah di kawasan perkebunan teh Puncak yang sepi.

Kencana Subroto, pria berusia enam puluh lima tahun yang kini menikmati masa pensiunnya, hidup mengasingkan diri di area perbukitan yang minim penerangan. Dari analisis siber Dion, ponsel Kencana masih terdeteksi aktif di dalam villa tersebut.

Namun, begitu kendaraan VPCI memotong jalan setapak berkerikil menuju halaman depan villa, insting ketajaman Reno mendadak bergejolak hebat. Pelipisnya berdenyut nyeri—sebuah sinyal alami yang selalu muncul setiap kali ia berdekatan dengan jejak trauma pembunuhan yang baru saja terjadi.

Pintu depan villa kayu itu tampak sedikit terbuka, bergoyang pelan diterpa angin malam yang berembus kencang.

"Bara, amankan perimeter luar. Sara, tetap di belakangku," bisik Reno seraya menarik senter taktis dan batang besi pertahanan diri dari balik jaketnya.

Mereka bertiga melangkah masuk secara hati-hati melewati ambang pintu. Suasana di dalam villa begitu gelap gulita. Bau harum teh herbal bercampur dengan aroma amis darah yang hangat mendadak menyengat hidung dr. Sara.

"Reno... baunya," bisik dr. Sara pelan, menyiapkan sarung tangan medisnya secara refleks.

Sinar lampu senter Reno menyapu ruang tengah yang berantakan. Di atas kursi goyang kayu dekat perapian yang sudah padam, Kencana Subroto duduk terkulai. Kepala sang mantan jaksa terkulai ke belakang, matanya membelalak kaku menatap langit-langit rumah. Lehernya mengucurkan darah segar yang menetes lambat membasahi karpet bulu di bawahnya.

"Terlambat..." gumam Bara frustrasi dari arah pintu samping. "Pelaku sudah berada di sini sebelum kita sampai."

dr. Sara mendekati jasad Kencana dengan langkah cepat. Tangannya memeriksa urat nadi di leher korban yang masih terasa hangat.

"Kematian belum lewat dari lima belas menit. Luka sayat tunggal di arteri karotis... sangat presisi. Pelaku memotong pembuluh darah utamanya hanya dalam satu kali gerakan tanpa ada perlawanan."

Di atas meja kopi tepat di samping kursi goyang korban, sebuah benda kecil menarik perhatian Reno. Sebuah arloji saku perak tua milik Kencana tergeletak di sana dengan kaca penutup yang sengaja dipecahkan.

Di bagian dalam tutup arloji itu, terukir lukisan kecil berbentuk mata bersinar menggunakan cairan darah segar milik korban.

Reno menatap arloji saku itu. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah barang bukti baru. Barang bukti yang masih sangat 'hangat' dari cengkeraman sang pembunuh.

"Reno, jangan sentuh barang bukti itu sembarangan sebelum Bara memasang penanda TKP!" tegur dr. Sara cepat saat melihat Reno mulai melepaskan sarung tangan kulitnya.

Namun Reno tidak mendengarkan. Ia tahu waktu mereka sangat sempit. Setiap detik yang terbuang berarti satu nyawa berikutnya dr. Herman Teja kusuma semakin dekat dengan ajal. Reno butuh melihat wajah asli atau setidaknya petunjuk arah pelarian sang pembunuh sekarang.

Jemari bertelanjang milik Reno menyentuh permukaan kaca arloji saku perak yang ternoda darah itu.

Deg.

Hantaman kilas balik psychometry kali ini meledak begitu dahsyat di dalam kepala Reno, mengirimkan gelombang rasa sakit yang membuat lututnya hampir lemas seketika.

Dunia di sekelilingnya mendadak berputar kembali ke sepuluh menit yang lalu.

Suara angin malam yang meraung di luar villa terdengar begitu nyata. Kencana Subroto tampak duduk gemetar di kursi goyangnya, memegang pistol kecil yang diarahkan ke sudut ruangan yang gelap.

"Si... Siapa kamu?! Mau apa kamu ke sini?!" teriak Kencana dengan suara bergetar.

Dari balik kegelapan lorong kamar, sosok pria bermantel hujan hitam melangkah keluar. Pria itu bergerak tanpa suara bagaikan bayangan.

Dalam satu gerakan yang begitu cepat, pria itu menepis tangan Kencana yang memegang pistol, melingkarkan lengannya di leher sang mantan jaksa, lalu menarik pisau lipat taktis berbilah tipis melintasi leher Kencana.

Darah menyembur. Kencana terkulai layu tanpa sempat menjerit.

Pria bermantel hitam itu mengambil arloji saku dari saku kemeja Kencana, memecahkan kacanya, dan melukis simbol mata bersinar di atasnya.

Namun, tepat setelah melukis simbol itu, pria bertopeng itu berhenti. Ia memutar tubuhnya perlahan, melangkah mendekati sudut pandang Reno dalam penglihatan tersebut. Pria itu menurunkan kain penutup wajahnya sedikit memamerkan separuh wajah bagian bawahnya yang dihiasi bekas luka bakar parah di sepanjang garis rahang kirinya.

Pria itu tersenyum dingin. Dari balik mantelnya, ia menarik sebuah walkie-talkie dan berbisik dengan suara berat yang pecah:

"Aku tahu kamu menyentuh jam ini, Reno Devano. Target ketiga ada di Rumah Sakit Medika. Sampai jumpa di sana... kalau kamu bisa berlari lebih cepat dari kematian."

Brak!

Reno terperanjat hebat, menarik tangannya dari arloji saku itu hingga tubuhnya mundur beberapa langkah dan menabrak meja kayu. Napasnya memburu parah, peluh dingin membasahi seluruh wajah dan lehernya.

"Reno!" dr. Sara menyambar bahu Reno, memegang kedua pipi sang detektif agar fokus menatap matanya. dr. Sara bisa melihat pupil mata Reno yang berdilatasi hebat tanda dari trauma saraf berlebih.

"Reno, dengarkan aku! Kamu mengalami serangan panic atau apa?! Apa yang kamu lihat saat kamu menyentuh jam itu?!"

Reno menatap mata dr. Sara. Rasa lelah, pusing yang menusuk, dan dorongan kebenaran bertarung hebat di dalam dadanya. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan ini sendirian. Nyawa orang lain dan nyawanya sendiri sedang dipertaruhkan.

"Sara..." bisik Reno dengan suara serak yang bergetar.

"Pelaku punya bekas luka bakar di rahang kirinya. Dia sedang menuju Rumah Sakit Medika sekarang untuk membunuh dr. Herman."

dr. Sara membeku. Matanya membelalak tak percaya. "Bagaimana... bagaimana kamu bisa tahu ada bekas luka bakar di rahangnya?! Kamu bahkan tidak melihat rekam medis atau rekaman CCTV apa pun!"

Reno memegang pergelangan tangan dr. Sara, menatap sang dokter forensik dengan kejujuran yang murni tanpa ada lagi kebohongan deduktif yang biasa diucapkannya.

"Karena aku melihatnya langsung melalui jam saku itu, Sara," bisik Reno pelan namun sarat akan kebenaran yang jujur.

"Melalui ingatan darah Kencana... sepuluh menit yang lalu."

dr. Sara terhenyak. Dunia logika dan keilmuannya seolah runtuh dan terbakar dalam seketika di depan matanya sendiri.

Rahasia terbesar Reno Devano kini akhirnya terhampar telanjang di hadapan sang dokter forensik di tengah ceceran darah korban kedua.

1
Windi Triana
Ceritanya bagus, aku pikir karena judulnya ada tulisan 'indera keenam' pasti ada makhluk astral nya, tapi ternyata tidak ada. Gak tahu nanti bab selanjutnya, apakah ada atau tidak, belum sampai kesana bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!