NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Jadi Ibu Tiri Itu Gak Mudah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18: Dari hati ke hati

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dan penuh lekukan jalan menanjak, mobil SUV hitam itu akhirnya tiba di pelataran parkir kawasan wisata alam tersebut. Udara dingin khas pegunungan menyergap seketika begitu pintu mobil dibuka.

Pemandangan di sana sungguh memanjakan mata. Perbukitan hijau terhampar luas berpadu dengan kabut tipis yang menggantung di kejauhan, taman-taman bunga beraneka warna mekar dengan indah, dan jalan setapak dari batu tersusun rapi mengelilingi wahana permainan.

Moana yang baru saja turun dari mobil langsung melompat-lompat dengan gembira. "Horeee! Sampai! Pemandangannya bagus banget, Ibu!"

Gadis kecil itu tanpa ragu menyambar tangan Ayu, dan menggandengnya erat-erat seraya berceloteh riang tentang pohon-pohon tinggi dan bunga-bunga warna-warni yang dilihatnya.

"Ibu, ayo ke sana! Moana mau foto dekat bunga warna merah itu! Nanti Ibu yang fotoin Moana ya!" celoteh Moana bersemangat, sambil menarik-narik tangan Ayu.

Ayu pun terkekeh geli, lalu mengusap kepala Moana dengan penuh kehangatan. "Iya, Sayang... Ayo, tapi jalan pelan-pelan ya, jangan lari-lari nanti jatuh."

Yoga melangkah di samping mereka, seraya memamerkan senyum lega saat melihat keceriaan putri bungsunya dan kelembutan istrinya. Ia merangkul pinggang Ayu sekilas, dan menyalurkan rasa terima kasih tak terucap atas kesabaran Ayu sepanjang perjalanan tadi.

Namun, di belakang mereka, suasana berbanding terbalik.

Kenzo dan Lea melangkah dengan sangat malas. Kedua tangan Kenzo terbenam di dalam saku jaket hoodie nya, matanya menatap datar ke arah tanah batu.

Sementara Lea berjalan menyeret kakinya, dan memasang wajah ditekuk masam tanpa ada sedikit pun pendar ketertarikan pada pemandangan alam yang indah di sekeliling mereka.

Bagi Kenzo dan Lea, pemandangan seindah apa pun tidak akan pernah mampu menutup kenyataan pahit bahwa posisi ayah kandung mereka kini telah berdampingan dengan wanita lain.

Perjalanan akhir pekan yang digagas sang ayah bukannya menyatukan keluarga, melainkan justru mempertegas jarak dingin dan jurang pemisah yang kian menganga di antara mereka.

_____

Udara sejuk pegunungan membelai lembut kulit, membawa harum aroma pinus yang khas dan kesegaran tanah basah.

Di area padang rumput hijau yang luas, pemandangan lembah membentang indah di balik kabut tipis. Pengunjung lain tampak bersuka ria, memotret atau sekadar menikmati bekal di atas rumput.

Moana sendiri benar-benar menikmati momen liburan itu. Wajah polosnya berbinar-binar penuh dengan kegembiraan yang meluap. Dengan gaun kecil bernuansa pastel dan sepatu ketsnya, gadis kecil itu berlari-lari kecil melompati undakan batu, menjelajah setiap sudut tempat wisata alam yang indah tersebut.

"Ibu! Lihat, ada rumah pohon di sana! Bunganya warna-warni!" seru Moana riang seraya menunjuk ke arah taman bunga di lereng bukit.

Ayu mengikutinya dengan senyum penuh kehangatan, dan menggandeng tangan kecil Moana setiap kali melintasi celah tanah yang licin. "Iya, Sayang... Pelan-pelan jalannya ya, nanti tergelincir."

Ayu dengan sabar mendampingi setiap langkah Moana, mengambilkan foto saat Moana berpose di depan patung kayu, mengusap peluh halus di keningnya, hingga memegangi pakaian Moana saat anak itu penasaran ingin menyentuh kelopak bunga hortensia. Ketulusan dan kasih sayang Ayu terpancar alami, tanpa rekayasa.

Sementara Moana dan Ayu sibuk menjelajah di area taman bunga yang berjarak beberapa puluh meter, Yoga, Kenzo, dan Lea duduk bertiga di atas karpet piknik tebal yang disewa di bawah naungan pohon pinus yang rimbun.

Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di atas kepala mereka. Cangkir-cangkir teh hangat yang dibeli dari kedai terdekat tergeletak di tengah karpet.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, ketiga sosok ini duduk berdampingan tanpa kehadiran Ayu di antara mereka.

Kenzo duduk bersandar pada batang pohon, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie hitamnya. Pandangan matanya menatap lurus ke arah bukit.

Sementara Lea berada di sampingnya, memeluk kedua lututnya erat-erat, sembari menundukkan kepala dengan raut wajah yang masih diliputi sisa-sisa amarah dan rasa tidak nyaman.

Yoga menatap kedua anak remajanya itu dalam keheningan yang cukup lama. Hatinya teriris melihat jarak emosional yang kini membentang di antara mereka.

Dulu, sebelum kehadiran orang baru di rumah mereka, Kenzo dan Lea adalah dua anak yang paling dekat dengannya. Yoga adalah pahlawan hidup mereka, sosok ayah yang single handedly merawat, melindungi, dan merangkul mereka sejak almarhumah Ratna meninggal dunia.

Namun kini, tembok prasangka dan rasa cemburu seolah menghancurkan kehangatan itu.

Yoga menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan hingga uap tipis mengepul di udara dingin.

"Kenzo... Lea..." panggil Yoga dengan suara yang sangat dalam, hangat, dan sarat akan kelembutan seorang ayah.

Kedua remaja itu tidak langsung menyahut, namun gerakan tubuh mereka membeku, menandakan mereka mendengarkan.

"Papa mau bicara... dari hati ke hati, sebagai seorang ayah kepada anak-anak yang paling Papa cintai di dunia ini," lanjut Yoga.

Lea perlahan menegakkan kepalanya, matanya yang redup menatap sang ayah. Kenzo pun melirik sekilas, lalu melepaskan satu earphone dari telinganya.

"Papa tau... beberapa bulan belakangan ini tidak mudah untuk kalian," ujar Yoga penuh kepasrahan. "Papa tau kalian merasa marah, kecewa, dan merasa asing di rumah kita sendiri sejak Papa memutuskan untuk menikah lagi dengan Ayu."

"Papa tau?" potong Lea dengan suara bergetar, matanya pun mulai berkaca-kaca. "Kalau Papa tau... kenapa Papa tetap paksakan? Kenapa Papa harus bawa perempuan itu masuk ke rumah kita dan geser posisi Mama?"

Yoga mengulas senyum tipis yang sarat akan rasa duka dan pengertian. Ia meraih tangan Lea, dan menggenggam jemari dingin putri perempuannya itu dengan erat.

"Lea, dengarkan Papa baik-baik, Nak..." tutur Yoga selembut mungkin. "Tidak ada seorang pun di dunia ini, termasuk Ayu, yang bisa atau berniat menggeser posisi Mama kalian. Mama Ratna adalah cinta pertama Papa, wanita luar biasa yang melahirkan kalian bertiga. Posisi Mama di hati Papa, di hati kalian, dan di rumah kita akan tetap abadi. Tidak akan pernah ada yang bisa menggantikannya."

Kenzo terkekeh pelan, terdengar seperti tawa dingin yang penuh kepahitan. "Tapi kenyataannya Papa bawa dia ke rumah, Pa. Papa cium dia, Papa perhatian sama dia, dan Papa minta kita panggil dia 'Ibu'. Itu namanya ngegantiin Mama."

Yoga menoleh dan menatap putra sulungnya. Pandangan matanya memancarkan ketegasan sekaligus kepedihan yang jujur.

"Kenzo... Papa ini manusia biasa," bisik Yoga dengan suara yang agak serak. "Ketika Mama kalian pergi lima tahun lalu, dunia Papa rasanya runtuh. Papa fokus bekerja, merawat kalian, dan berusaha jadi ayah sekaligus ibu buat kalian. Tapi kalian harus paham... anak-anak Papa akan tumbuh dewasa. Kamu, Kenzo, sebentar lagi akan kuliah, punya kehidupan sendiri. Lea juga akan makin dewasa, punya teman-teman dan dunianya sendiri. Suatu hari nanti, kalian semua akan berlayar menempuh jalan hidup kalian masing-masing..."

Yoga menghentikan kalimatnya sejenak, dan menatap lurus ke dalam mata kedua anak remajanya secara bergantian.

"Apakah salah jika Papa juga butuh teman hidup? Teman untuk berbagi rasa lelah di masa tua Papa? Teman yang menyambut Papa saat pulang kerja, yang mendoakan Papa ketika Papa merasa tertekan? Apakah Papa harus terus-menerus hidup dalam kesendirian sampai Papa tua nanti?"

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!