Dikhianati oleh pria yang sangat ia cintai demi sebuah tahta, membuat Ningmas Danastri Kartawidjaja benar-benar terluka.
Dibawah aturan keluarga, Raden Dwipa Soeradiningrat, tak bisa berbuat apa-apa demi tahta sebagai pewaris dari Trah Soeradiningrat. Ia bahkan harus kehilangan Ningmas Danastri yang sangat ia cintai.
Namun, takdir justru membawa Ningmas Danastri ke arah yang tak disangka-sangka. Karena keterpurukannya, ia justru tanpa sadar menghabiskan malam dengan pria yang memiliki hubungan dekat dengan mantan kekasihnya.
Selain itu, satu persatu rahasia dua Trah (Trah Soeradiningrat dan Trah Kartawidjaja) yang tak pernah akur pun terbuka. Hal yang menyebabkan dua generasi terakhir selalu bersitegang itu, ternyata karena ada masa lalu yang masih belum selesai.
Bagaimanakah kelanjutan hidup Ningmas Danastri Kartawidjaja?
Akankah ia jatuh cinta pada orang yang tepat?
Apakah rahasia masa lalu dari dua keluarga yang masih belum tuntas?
Simak terus keseruan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Peniup Api
"Kamu kenapa, Mas? Bibirmu kenapa bisa sampai terluka seperti itu?" Serayu memberondong pertanyaan pada Dwipa, saat Dwipa masuk ke dalam kamar mereka di rumah utama.
"Bukan urusanmu." Jawab Raden Dwipa dengan tatapannya yang dingin.
"Mas, aku cuma khawatir." Kata Serayu.
"Jangan ganggu aku, Serayu. Sudah aku bilang, aku tidak mau kamu mencampuri urusanku." Ujar Raden Dwipa yang kemudian keluar dari kamarnya karena merasa jengah pada istrinya.
Serayu hanya bisa mendengus kesal. Sulit sekali rasanya untuk meluluhkan Suaminya itu. Bahkan, meskipun kini Raden Dwipa tau jika Serayu sedang hamil darah dagingnya, ia tetap saja tidak melunak.
Tak kehilangan akal, Serayu pun mencari informasi dari beberapa pekerja yang ada di rumah utama Trah Soeradiningrat itu untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Meski tak mendapat bukti secara detil, namun beberapa orang mengatakan jika melihat Raden Dwipa terakhir kali ada bersama dengan Raden Daksa di halaman belakang.
"Pasti karena Astri! Kamu masih gak bisa melepaskan Astri, Mas? Padahal sudah jelas kalau aku sedang mengandung anakmu." Ujar Serayu yang bermonolog dengan wajah teramat kesal.
"Lihat saja, Astri. Aku pasti akan membuat perhitungan denganmu. Karena kamu, aku menjadi diabaikan oleh suamiku sendiri. Sementara kamu, enak-enak di cintai dan diperebutkan oleh dua lelaki kakak beradik itu." Imbuh Serayu.
Setelah mendapatkan informasi yang menyulut emosinya seperti itu, Serayu kemudian mencari keberadaan Astri. Kebetulan, Astri sedang berada di taman samping Pendopo bersama dengan Mawar, Sasa, dan Sus Sari.
"Aduh, sepertinya asyik sekali bermainnya." Sapa Serayu dengan wajah yang dibuat manis dan suara yang dibuat lembut.
Astri pun tersenyum ramah. Sementara Mawar justru melihatnya dengan tatapan yang menyiratkan ketidaksukaan pada saudara ipar keduanya itu. Meski sudah berusaha di bungkus sebaik mungkin, namun tetap saja tatapan itu masih nampak di netra Mawar.
"Sasa sedang main apa?" Tanya Serayu yang mencoba untuk berbasa-basi.
"Sasa sedang membuat mainan dengan origami." Jawab Sasmaya yang sedang melipat-lipat kertas origami di tangannya.
"Bulik Serayu mau buat juga?" Tawar Sasmaya.
"Boleh..." Jawab Serayu yang kemudian ikut bergabung dengan Sasmaya, Mawar, Sus Sari dan Astri. Mereka duduk di atas sebuah tikar yang di gelar di bawah pohon rindang.
Jari serayu dengan terampil melipat kertas origami mengikuti vidio yang diputar di tablet milik Mawar.
"Mbak Astri, sudah tau atau belum?" Tanya Serayu yang menarik perhatian Astri dan Mawar.
"Ada apa, Mbak?" Tanya Mawar yang penasaran, mewakili rasa penasaran Astri.
"Aku dengar dari para pekerja, kalau Raden Daksa habis bertengkar dengan suamiku." Ujar Serayu yang membuat dahi Astri berkerut.
Astri kemudian mengkode Sus Sari untuk membawa Sasmaya pergi, agar tak mendengar pecakapan ini.
"Pantas saja tadi sudut bibir Suamiku memar. Mungkin terkena pukulan dari Raden Daksa." Imbuh Serayu.
"Mas Daksa dan Mas Dwipa bertengkar? Ada masalah apa lagi?" Kata Mawar.
"Aku juga tidak tau. Tapi seperti itulah yang dikatakan oleh pekerja. Waktu aku tanya pada Mas Dwipa, Mas Dwipa malah berusaha untuk menutupi. Sepertinya karena tak ingin orang lain tau kalau dia habis dihajar oleh Raden Daksa. Bagaimanapun, sebagai adik dia pasti tidak ingin nama kakaknya jelek." Kata Serayu dengan wajah yang dibuat polos.
"Kalau Mas Daksa sampai menghajar Mas Dwipa, sudah pasti kalau Mas Dwipa melakukan kesalahan besar. Aku cukup paham bagaimana Mas Daksa. Mas Daksa adalah orang yang sangat tenang, dia tidak pernah berbuat kasar kalau tidak di pancing." Kata Mawar yang mencoba menetralkan suasana.
"Kira-kira apa masalahnya, Ya?" Tanya Serayu yang mencoba membuat suasana semakin tidak nyaman, terutama bagi Astri. Serayu menatap ke arah Astri yang terlihat mulai gelisah. Wanita itu sampai meremat kain jarik yang ia kenakan.
"Mungkin karena Perusahaan." Sahut Mawar.
"Mbak Astri gak usah khawatir. Sebentar lagi juga Mas Daksa dan Mas Dwipa akan akur lagi. Mereka kadang memang seperti itu." Kata Mawar yang coba menenangkan.
Astri hanya tersenyum, meskipun masih menyimpan keresahan dan kekhawatiran tersendiri di hatinya.
Saat menjelang malam hari, Astri kembali ke kamarnya untuk bersiap pada acara jamuan makan yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
"Mas..." Lirih Astri saat melihat Raden Daksa yang juga masuk ke kamar.
"Mas dari mana?" Tanya Astri.
"Mengobrol di Pendopo utama, Dek Ayu." Jawab Raden Daksa sambil tersenyum. Ia kemudian menghampiri Astri dan memeluk istrinya dari belakang.
"Ada apa, Sayang? Kamu cari Mas?" Tanya Raden Daksa, setengah berbisik.
"Aku dengar, Mas habis bertengkar dengan Raden Dwipa. Bahkan, Mas sampai menghajar Raden Dwipa. Benar begitu, Mas?" Tanya Astri.
Raden Daksa menghela nafasnya. Ia memutar tubuh Astri dan membimbing istrinya untuk duduk di tepi ranjang, bersamanya.
"Kamu dengar dari mana, Dek Ayu?" Tanya Raden Daksa.
"Serayu. Serayu yang cerita denganku dan Mawar saat kami sedang berada di taman sebelah pendopo dalam." Jawab Astri sambil menatap mata Raden Daksa. Mencoba mencari tau melalui mata suaminya.
"Iya, Dek Ayu. Mas tadi memang sempat bertengkar dengan Dwipa." Jawab Raden Daksa yang akhirnya mengakui.
"Kenapa, Mas? Ada masalah apa?" Tanya Astri.
"Masalah Perusahaan. Ada permasalahan di antar Perusahaan Mas dan Perusahaan Dwipa." Dusta Raden Daksa.
Ia sengaja tak ingin menceritakan permasalahan yang sebenarnya pada Astri. Tentu karena ia tak ingin Astri merasa terbebani dengan keributan yang baru terjadi antara ia dan Raden Dwipa yang memperebutkan Astri.
"Benar, Mas?" Tanya Astri yang di jawab anggukan oleh Raden Daksa.
Astri pun akhirnya menghela nafas panjang penuh dengan kelegaan. Berarti, apa yang dikatakan Mawar, benar. Mereka meributkan masalah Perusahaan yang bersinggungan, bukan karena dia.
"Syukurlah. Begitu saja kamu sudah over thinking, Astri!" Batinnya yang menggerutui diri sendiri.
"Mas ndak apa-apa? Ada yang luka?" Tanya Astri sambil menelisik wajah tampan Suaminya.
"Mas gak apa-apa, Sayang. Mas baik-baik saja." Jawab Raden Daksa yang kemudian mengecup telapak tangan Astri yang menangkup wajahnya.
Nafas Raden Daksa mulai terdengar sedikit berat. Perlahan, ia menyusuri tangan Astri dengan bibirnya, hingga sampai di bagian leher Astri. Raden Daksa menciumi leher istrinya dengan lembut, meninggalkan jejak basah yang menggetarkan gairah disana.
Astri sendiri hanya bisa memejamkan mata. Setiap ciuman Raden Daksa di kulitnya, terasa seperti sengatan listrik yang mengalirkan sesuatu yang sulit di jelaskan oleh Astri.
"Mas..." Lirih Astri sambil menikmati kecupan-kecupan Raden Daksa di lehernya.
"Nikmati, Sayang. Mas rindu denganmu." Jawab Raden Daksa dengan suara yang terdengar semakin berat.
"Ayaahh! Bundaaa! Sudah siap atau belum? Sasa sudah siap!" Terdengar suara Sasmaya dari luar kamar. Gadis itu memukul-mukul pintu sambil memanggil Ayah dan Bundanya.
Mendengar suara Sasmaya, Raden Daksa dan Astri pun langsung menghentikan kegiatan mereka. Keduanya terkikik geli karena kegiatan yang menggairahkan itu digagalkan oleh Sasa.
"Ayah, Bunda, tolong buka pintunya. Sasa mau minta tolong Bunda untuk merapikan rambut Sasa." Pinta Sasa.
"Njih, Cah Ayu. Tunggu sebentar." Jawab Raden Daksa yang kemudian membukakan pintu untuk putrinya.
Potret Astri, Raden Daksa dan Sasmaya sebelum jamuan makan malam.
🤔🤔
othor kie...🤣😄