Rin-pertemuannya dengan Al adalah kebetulan. Tapi Al bisa memberikan rasa manis dan asem di hari-harinya.
Al-kaku dan dingin. Tapi dinginnya bisa meleleh. Pertemuannya dengan Rin seperti roti. hangat di luar empuk di dalam.
Kisah semanis roti buatan Rin, penuh proses, harus dibentuk dengan bahan takaran yang pas. Baru bisa dinikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Pilihan Al untuk mengajak Rin ke pusat kerajinan tangan tak salah. Rin menyukainya dan membeli beberapa barang lucu. Al juga membelikannya sebuah tas rajut unik. Terlihat sederhana tapi Al yakin itu bakal dipakai terus.
"Udah lama nggak ke bukit, main kesana yuk!" Al mengajak Rin.
"Ayo!"
Keduanya naik ke bukit dan duduk menghadap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
"Capek?" tanya Al saat Rin menyeka keringat di dahinya.
"Lumayan, tapi makasih ya hadiahnya. Aku pikir dapat buket lagi!" ucap Rin.
"Masih inget buket dari si ketua ya?" Al ngambek.
"Ya ampun Al! Ingetnya buket kamu yang harum itu dong!" ucap Rin. "Aku suka wanginya..." lanjutnya lagi.
"Orangnya?" tanya Al.
"Suka!" jawab Rin pelan. Cukup bagi Al. Dia tersenyum.
"Ulurin tangannya!" ucap Al. Rin bingung tapi dia mengulurkan tangannya ke arah Al. Al mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah gelang! Al memakaikannya ke pergelangan tangan Rin. Gelang dengan rantai halus, ada hiasannya berupa bintang.
"Bagus banget! Makasih ya!" Rin memainkan bintangnya.
"Suka?" tanya Al. Rin mengangguk. "Sekarang yang itu dulu ya, aku belum bisa nyari yang lebih bagusan. Kapan-kapan kita cari bareng-bareng kamu mau?" tanya Al.
Rin menatap wajah Al, diam cukup lama. Sampai rasanya suara jantungnya terdengar. Rin mengangguk.
Mereka sama-sama diam. Rin memperhatikan gelang ditangannya. Gelang ungu dari Ara ditemani gelang silver dari Al. Serasa hidup Rin sudah lengkap.
"Rin..."
Rin mendongak dan melihat Al yang gelisah.
"Aku...boleh nggak kalau setiap hari kita ketemu?" tanya Al.
"Ya boleh dong, lu gimana sih!" Rin gemas dengan pertanyaan Al.
"Nggak gitu... M..maksudnya... Kita...kamu, aku... Gitu!"
"Maksudnya apa sih?" Rin bingung.
"Kamu mau temanin aku setiap manggung? Mau nggak kalau kamu lagi nggak ada kerjaan, hidup kamu lagi bosen, kamu marah, kamu sedih, atau apapun yang kamu rasain kamu ceritain ke aku. Kalau kamu nggak nyaman, satu kamar di kantor T&T kemarin itu juga tempat kamu," ucap Al menunduk memainkan ujung bajunya.
"Al ini..."
"Nggak! Dengerin dulu...! Aku nggak maksa, aku nggak nuntut jawaban. Senyamannya kamu aja. Tapi aku nyaman kalo kamu didekat aku," ucap Al lagi.
Rin mengedip. Sekali. Dua kali. Lalu menatap jauh keluar sana, ke arah pemandangan yang tak pernah bosan mereka lihat.
"Gue... Apa ini nggak terlalu cepat Al?" tanya Rin. Al menggeleng.
"Aku udah yakin,"
Kali ini Rin diam cukup lama. Bukannya sulit menjawab tapi ada pertimbangan lain. Soal Vivian, memang Al cerita dirinya dan Vivian sudah selesai. Tapi ada perasaan ragu di diri Rin.
"Al..."
"Rin, kalau kamu nggak yakin. Aku bisa kasih waktu selama yang kamu mau. Nggak harus hari ini. Dan aku mohon, kita jalani ini seperti kemarin dan hari ini. Jangan mengubah apapun," ucap Al menggenggam tangan Rin. Akhirnya Rin bernapas lega dan tersenyum.
"Maaf ya... kalau gue udah yakin, gue bakal jawab. Nggak masalah kan kalo suatu hari nanti gue jawab iya atau nggak?" tanya Rin. Al meneguk ludahnya.
"Yaaaa kalo bisa jangan pake nggak dong!" sifat manja Al keluar lagi.
"Kok maksa?"
"Biarin! Aku maunya kamu!"
"Kalo aku nggak mau?"
"Ya harus mau!"
"Al..!"
"Rin!"
Keduanya tertawa bersama. Satu beban berat lepas dari hati Al, meski masih gantung setidaknya Al merasa lega.
Senja memang berakhir tapi dia akan ada lagi untuk esok. Dia tidak menjanjikan akan seindah hari ini tapi dia selalu ada. Itu yang Al janjikan pada Rin sesaat sebelum satu kecupan di kening Rin. Wajah Rin memerah, Al tertawa.
"Ini curang!" ucap Rin.
"Kamu boleh balas kalau mau!" goda Al.
"Nggak ya!" ucap Rin.
Mereka turun saat matahari terbenam dan Al mengantar Rin sampai ke Roemah Roti.
Al pamit dan Rin mengantar Al sampai ke parkiran.
"Al... Makasih ya... maaf kalau gue belum bisa untuk..." ucap Rin. Al mengurungkan niatnya membuka pintu.
"Nggak usah dipikirin, aku tahu ini terlalu cepat,"
"Lo nggak marah?"
"Nggak, aku bakal nunggu sampai kamu dapat jawabannya," ucap Al disertai senyumnya. Al tersenyum meski ada sedikit sedih di matanya tapi Rin harus memastikan sesuatu dulu.
"Jangan dipikirin! Pokoknya aku tunggu!" Al mengusap kepala Rin. Ia tersenyum dan membuka pintu mobil dan pergi.
Keesokannya, Rin bersiap ke kampus. Mata kuliahnya pukul sepuluh pagi. Pukul sembilan, Rin sudah sampai di kampus. Saat Rin berjalan banyak yang berbisik-bisik dan menunjuk dirinya. Rin memperhatikan penampilannya. Tidak ada yang salah.
Rin berjalan melewati koridor dan melihat selebaran yang di tempel.
SATU PANGGUNG SETELAH SEKIAN LAMA, APAKAH MEREKA KEMBALI?
Foto Al dan Vivian saat di panggung, acara puncak pagelaran kemarin.
BUKTI KEDEKATAN, FANBASE DIPENUHI KOMENTAR POSITIF.
Berita lainnya dengan foto saat Vivian berbisik di telinga Al. Rin hanya melihat sekilas. Tapi matanya berhenti saat melihat selebaran yang ditempel agak ke atas.
TERCIDUK! PANITIA MENGINAP DI KANTOR T&T! Apakah aksi panggung T&T karena "undangan" bersifat personal?
Rin membelalak. Foto Rin di berita itu memang di blur. Tidak terlihat jelas wajahnya tapi siapapun tahu itu Rin. Malam hari masuk bersama Al tapi member lain dan Ara tidak ada di foto! Dan di sebelahnya lagi saat Rin keluar kantor berpegangan tangan dengan Al. Ara juga tidak ada di foto padahal saat itu mereka keluar kantor bertiga.
Rin mau membuang kertas yang penuh fitnah itu tapi kaca untuk membuka mading itu terkunci.
Rin kesal dengan berita yang dibuat. Rin mencari siapa orang yang memuat berita itu. Hanya ada link.
Dengan tangan gemetar, Rin meraih ponsel dan membuka link dari selebaran itu.
Berita di forum itu ramai dikunjungi karena berita lengkap beserta video saat Vivian berbisik ke telinga Al dan dia mengangguk membuat berita itu semakin dipelintir.
Mereka membuat seolah-olah Rin menyerahkan dirinya agar T&T bisa tampil di kampusnya! Bukan murni dari hasil proposal!
Rin terus mencari berita yang semuanya berisi berita yang menjelekkan nama Rin meski tidak menyebut namanya terang-terangan.
Kolom komentar dipenuhi dukungan AlVIan agar mereka balikan. Sementara itu ujaran kebencian dan tuduhan Rin tidur dengan salah satu anggota T&T agar mereka bersedia tampil itu membuat Rin menangis. Matanya mengabur.
Ponselnya dipenuhi pertanyaan kebenaran tentang berita itu. Semua grup bertanya hal yang sama. Tidak hanya itu bahkan link berita dikirim ke semua grup di ponselnya.
Berita itu membuat Rin shock dan tak berani keluar dari toilet. Mereka pasti menghujatnya terang-terangan.
"Ini semua nggak bener!" bisik Rin dengan berurai air mata.
kisah Al dan Rin tak melulu soal cinta, ada sedih, bahagia, lucu dan kadang sedikit kaku🤭
kisahnya nggak berat kok