NovelToon NovelToon
KETIKA HATI NAVIN KALAH

KETIKA HATI NAVIN KALAH

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Jivana

Ophelia (31), karyawan biasa di perusahaan terkaya di Indonesia, sudah kebal dengan pertanyaan "kapan nikah?" di setiap pertemuan keluarga. Ia tidak anti-cinta, ia hanya terlalu sering mendengar keluhan tentang beratnya pernikahan.
Lalu datanglah Navin (28), CEO dingin dengan lidah setajam silet. Dalam pertemuan pertama, kalimatnya melukai Lia. Yang tidak Lia tahu, sejak detik itu Navin tidak bisa berhenti memikirkannya. Navin jatuh lebih dulu, menyangkalnya, lalu jatuh jauh lebih dalam dari yang pernah ia bayangkan. Ketika restu keluarga menjadi tembok, dialah yang hancur paling parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jivana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Kabar dari Cirebon

Selasa malam, Lia sedang menyeduh mi instan dengan telur dan potongan cabai ketika ponselnya berbunyi. Nama di layar membuatnya tersenyum sebelum ia sempat mengangkatnya.

"Kamu tahu ini jam berapa?" jawabnya.

"Jam delapan lewat sepuluh. Dan aku tidak tidur, karena aku punya kabar." Suara Basti terdengar terlalu ceria untuk orang yang baru pulang shift. "Coba tebak."

"Kamu menang undian?"

"Bukan."

"Kamu putus dengan kucing tetangga?"

"Ophelia, aku tidak punya kucing tetangga."

"Kalau begitu aku menyerah."

"Aku dipindahkan ke Bandung."

Lia menjatuhkan sumpitnya ke dalam mangkuk. "Apa?"

"Cabang Bandung meminta tambahan staf logistik gara-gara krisis pemasok itu. Kepala cabangku bilang, siapa yang bersedia. Aku angkat tangan sebelum dia selesai bicara. Pusat menyetujui hari ini. Mulai Kamis aku di lantai tiga, satu lantai denganmu."

Lia menjerit. Bukan jeritan anggun. Jeritan dengan lengkingan penuh yang membuat tetangga sebelah menggedor dinding dua kali.

"Maaf!" teriaknya ke dinding. Lalu ke ponsel, dengan suara lebih pelan tapi masih bergetar: "Bas, kamu serius? Kamu tidak sedang mengerjaiku?"

"Aku hanya pernah mengerjaimu satu kali, pakai kodok di tas waktu kelas empat. Sisanya aku tulus."

"Kodok itu masih kuingat."

"Dan akan kamu ingat sampai kamu menikah."

Lia tertawa, tawa yang lepas dan hangat, dan ia baru menyadari betapa lama ia tidak tertawa seperti itu sejak Kamis dua minggu lalu. Ia menyandarkan punggung ke kursi dan menutup mata.

"Ingat waktu kamu memanjat pohon jambu dan tidak berani turun?" tanyanya tiba-tiba. "Kamu menangis."

"Aku tidak menangis. Aku hanya ketakutan dan menyalahkan angin."

"Ophelia, kamu menangis keras-keras sampai tetangga keluar."

Lia tertawa lagi, dan tanpa sadar berkata, "Kamu tahu, aku kangen," katanya, jujur, sebelum sempat menahan diri.

Sunyi sebentar. Suara Basti melunak. "Aku juga, Ophelia. Waktu kamu menelepon malam itu dan kamu bilang..." Ia berdehem. "Aku tidak mau lagi mendengar kamu sendirian menghadapi itu. Jadi ya. Aku ke sana."

"Basti."

"Apa?"

"Terima kasih."

"Sama-sama. Dan dengar, kalau bosmu macam-macam lagi, kamu bilang padaku. Aku tidak takut jabatan."

"Kamu bekerja untuk dia sekarang."

"Justru itu. Aku bisa mengawasi dari dekat." Basti terkekeh. "Sekarang, soal Nica."

"Aku tidak akan bilang."

"Aku belum bertanya."

"Kamu mau aku merahasiakan ini dari Nica sampai Kamis."

"Bagaimana kamu..."

"Karena aku sudah mengenal kamu sejak umur delapan tahun, Bas. Kamu mau kejutan. Kamu mau berdiri di depan pintu apartemennya sambil membawa martabak dan berkata hai, aku tinggal sepuluh menit dari sini."

Basti terbata. "Aku... tidak sedramatis itu."

"Kamu sudah merencanakan martabaknya."

"Aku sudah merencanakan martabaknya," aku Basti dengan suara kecil.

Lia tertawa lagi sampai perutnya sakit.

Mereka berbicara satu jam lagi. Tentang kos-kosan yang harus ia cari, tentang Ibu Lia yang pasti akan langsung menyuruhnya makan malam Minggu, tentang kantor. Ketika Lia menyinggung soal bosnya, nada Basti berubah waspada.

"Dia masih menyebalkan?"

"Dia berhenti menyebalkan."

"Bagus."

"Lebih menyebalkan lagi, karena aku tidak tahu kenapa." Lia menopang dagu. "Dua minggu terakhir dia memanggilku ke ruangannya dengan alasan-alasan konyol. Dia memberiku payung waktu hujan, dan dia tidak pakai payung sendiri. Basah kuyup."

"Hmm."

"Kenapa 'hmm'?"

"Lia, aku tidak mau menuduh siapa pun. Tapi laki-laki yang tiba-tiba baik setelah menyakitimu biasanya punya alasan."

"Dia CEO. Dia punya tiga puluh alasan."

"Salah satunya mungkin dia sedang mencoba membuatmu lupa."

"Aku tidak akan lupa."

"Bagus. Jangan."

Setelah telepon ditutup, Lia lama menatap layar, dengan ratusan kupu-kupu yang bisa ia rasakan di perutnya. Mi instannya sudah dingin dan mengembang. Ia tidak menghabiskannya. Kalimat Basti terus berdengung, mencoba membuatmu lupa, dan ia sadar, dengan sedikit rasa bersalah, bahwa ia sedang mencari pembenaran bukan untuk membenci pria itu, tapi untuk tidak memaafkannya terlalu cepat.

Rabu malam, Nica menelepon dan bertanya kenapa suara Lia terdengar seperti orang yang baru menang lotere.

"Aku hanya lelah dan senang," kata Lia, dan hampir keceplosan lima kali dalam sepuluh menit.

"Kamu menyembunyikan sesuatu."

"Tidak."

"Kamu tidak pandai berbohong."

"Aku pandai. Aku hanya jarang berusaha."

Nica tertawa, dan Lia menggigit bantal agar tidak berteriak Basti akan datang! Sumpah yang ia tepati dengan perjuangan luar biasa.

Rabu siang, ia nyaris tidak bisa fokus. Ia mengirim surel ke pemasok, menghubungi dua distributor, dan menelepon Ibu.

"Bu, Basti pindah ke Bandung."

"Bastian? Anak Bu Nurul itu?" Suara Ibu naik satu oktaf. "Ya ampun, akhirnya! Suruh dia datang Minggu. Ibu buatkan semur. Dia masih suka semur, kan? Dulu dia kurus sekali, anak Bu Nurul yang doyan tempe itu."

"Bu, dia sudah dewasa."

"Semua laki-laki suka semur, Lia. Itu tidak berhenti dengan usia."

Lia tersenyum, sambil membayangkan Ibu di dapur, mengaduk semur dengan semangat orang yang menyambut anak sendiri pulang dari perantauan. Sepanjang hari, memori tua bermunculan tanpa diundang: Basti umur sepuluh yang menarik layang-layangnya dari pohon jambu, Basti kecil yang menangis diam-diam ketika kucingnya mati dan memohon jangan diceritakan, Basti remaja yang menunggu di depan gerbang sekolahnya setiap hari hanya untuk memastikan ia pulang dengan selamat. Ia tak pernah sadar betapa sepi hidupnya sampai kabar itu datang. Selama ini ia sibuk menjadi kuat di depan semua orang, dan lupa bahwa kuat itu melelahkan kalau tidak ada yang tahu siapa dirimu sebelum kamu belajar berpura-pura.

Kamis pagi, ia berganti blus dua kali, lalu menegur dirinya sendiri. Ia bukan berdandan untuk Basti. Ia berdandan untuk hari yang, untuk pertama kali dalam beberapa pekan, terasa cerah. Ia tiba di kantor pukul tujuh. Terlalu awal, tapi ia tidak bisa tinggal di rumah. Di balik kaca, Navin tampak sibuk membaca. Ia tidak mengangkat kepala saat Lia lewat, dan anehnya, Lia merasa sedikit tersinggung. Ia menyusun laporan sambil sesekali melirik jam. Pukul 08.45, ia menatap ke koridor. 08.50. Ia menghela napas, membuka laporan, lalu menutupnya lagi. Ia harus melapor pukul sembilan pada pria di dalam kaca itu dan ia belum menyiapkan satu pun kata yang ia mau.

Pukul 08.55, terdengar suara langkah di koridor. Bu Retno berjalan dengan wajah cerah, diikuti sesosok pria tinggi berjaket denim dengan kardus di pelukan dan senyum yang Lia kenal lebih dari senyum siapa pun di dunia.

"Bapak-Ibu sekalian," kata Bu Retno, "kabar baik. Tim logistik kita mendapat tambahan. Ini Bastian Aditya, pindahan dari cabang Cirebon."

Jantungnya berdegup seperti anak kecil yang mendengar bel pulang sekolah. Kursi Lia bergeser ke belakang dengan bunyi keras karena ia berdiri terlalu cepat.

Pria itu menoleh. Matanya menyapu ruangan, berhenti pada satu titik, dan senyumnya melebar sampai kedua lesung pipinya muncul.

"Halo, Ophelia Puspa," katanya. "Kangen?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!