Ujian dalam rumah tangga Aini dan Andra dimulai saat Andra mendapat kenaikan jabatan di perusahaan tempatnya bekerja
Ekonomi yang membaik, membuat Andra mulai merasa bosan dengan istrinya yang menurutnya tidak bisa merawat diri, hingga membuatnya terjerat pesona rekan kerjanya sendiri
Aini begitu terluka, saat suaminya membawa seorang wanita yang tengah berbadan dua yang ia perkenalkan sebagai istri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Semuanya telah usai, Aini menatap nanar pada kertas yang menunjukkan jika dirinya telah berpisah dari pria yang telah dua tahun menikahinya
Rencana untuk hidup tua bersama pada akhirnya tidak terjadi, Aini menatap suaminya yang baru saja keluar dengan didampingi oleh wanita hamil yang merupakan istrinya
Aini tidak ingin berlarut, ia melangkah menjauh dari pasangan itu namun suara Andra kembali terdengar
"Maafkan aku Aini"
Aini tidak menjawab, ia tetap diam "Kamu bisa menemui Kasih jika ada waktu"
"Terima kasih"
Setelah mengatakan itu, Aini berlalu. Ia tidak ingin menatap wajah dua orang yang telah begitu menyakitinya
Sekarang fokusnya adalah bagaimana ia bisa mendapatkan hak asuh atas putrinya yang saat ini bersama sang mantan suami
Aini kembali disibukkan dengan pekerjaannya di yayasan pendidikan milik Karina
"Bu Aini" Aini tersenyum pada seorang wanita yang menghampirinya
"Bu Mika" Keduanya saling menyapa lalu melangkah masuk kedalam area sekolah
"Aku turut prihatin yaa Bu, ibu sudah resmi bercerai yaa" Bu Mika adalah teman Aini yang dikatakan cukup dekat
"Ya begitulah, Bu" Aini berusaha tersenyum
"Ibu tenang aja! Bu Aini ini kan cantik, masih muda lagi, pasti gampang cari pengganti nya" Keduanya tersenyum
"Ah Bu Mika bisa saja"
"Bu guru Aini" Mendengar suara teriakan, keduanya menoleh, Aini tersenyum menyambut anak didiknya yang berlari menghampiri
"Selamat pagi Melody" Aini mengusap kepala gadis kecil itu
"Selamat pagi, hari ini aku dianterin sama Papa loh, Bu Aini mau ketemu gak?" Dengan antusias nya Melody mengatakan itu pada ibu gurunya
"Oh ya? Sekarang dimana Papa nya Melody?" Aini mengikuti telunjuk kecil itu saat menunjuk kearah seorang pria yang tengah menelepon
"Sepertinya Papa nya Melody masih sibuk, nanti saja ibu ketemu"
"Tapi..."
Suara bel masuk sekolah membuat ucapan Melody terhenti, Aini tersenyum sambil mengusap puncak kepala gadis itu
"Udah bel, sekarang kita masuk yaa!" Pasrah, Melody mengangguk, ia menoleh sekali lagi pada sang ayah yang masih sibuk dengan ponselnya
Sepulang sekolah, Melody melihat sang guru yang melangkah menuju motornya, misinya adalah membuat guru cantik ini menjadi ibunya
"Bu guru" Aini tersenyum
"Loh, Melody belum dijemput?" Aini celingukan melihat mobil yang biasanya mengantarkan anak didiknya ini
Gadis kecil itu menggeleng "Hari ini Melody pulang sama Oma"
Aini tersenyum, lalu terlihat Karina yang melangkah kearah mereka "Ini Oma"
"Selamat siang Bu" Aini menyapa
"Selamat siang Bu Aini, sudah mau pulang?" Karina bersikap ramah
"Iya Bu, kalau begitu saya duluan yaa" Pamit Aini dan Karina mengangguk
"Bagiamana misinya?" Tanyanya pada sang cucu
"Gagal, Papa sibuk teleponan sampai gak bisa ketemu sama Bu guru Aini" Melody terlihat sedih
"Melody jangan sedih, kita akan membuat Papa ketemu sama Bu guru Aini"
"Nanti Melody akan punya Mama?" Karina mengangguk
"Melody mau kan punya Mama seperti ibu guru Aini?" Bocah perempuan itu mengangguk antusias lalu Karina mengusap kepalanya
Malam harinya kediaman mewah itu begitu tenang, Karina menatap putranya yang makan dengan tenang
Pria tampan yang baru saja kembali, sebenarnya Karina ragu, namun ia tidak akan tahu apa hasilnya jika tidak dicoba
"Tristan"
"Hmm" Sahutnya dingin
"Mama mau bicara penting sama kamu" Karina terdengar ragu
"Tentang pernikahan, Tristan muak" Pria tampan itu melanjutkan makannya tanpa menatap sang ibu
"Dia wanita yang berbeda, kamu bisa bertemu dia dulu. Melody juga suka sama dia" Karina menceritakan apa yang ia lihat dari Aini
Wanita yang cantik juga sangat lembut, Jika wanita itu menjadi ibu dari cucunya pasti Melody akan sangat bahagia
"Janda?"
"Memangnya kenapa kalau janda? Kamu juga duda kan?"
"Maksud aku, dia baru saja bercerai. Masa Iddah nya saja belum selesai, lalu Mama menginginkan aku menikahinya" Tristan menggelengkan kepalanya, menurutnya sang ibu sudah sangat mengada-ada
"Mama gak minta kamu langsung menikahi dia, tapi kalau itu mau kamu, Mama akan sangat setuju" Karina tersenyum
"Lalu Mama ingin aku melakukan apa?"
"Kamu kenalan dulu! Kalian bisa mengobrol, kalau kamu takut, kamu bisa ajak Melody" Dengan semangatnya Karina mengatakan ide nya
"Aku malas jika nanti akan berakhir seperti wanita-wanita pilihan Mama yang lain" Tristan tidak lupa jika setiap tahun sang ibu akan membuatnya berkencan dengan wanita yang berbeda dan selalu berakhir dengan kegagalan
"Aini itu berbeda, dia bukan wanita tukang selingkuh apalagi gila harta, dia juga sangat sayang sama Melody, dia suka sama anak-anak, itu nilai plus" Karina memuji Aini, berharap jika wanita itu akan menjadi menantunya
"Dia menyukai anak-anak karena pekerjaannya memang berurusan dengan mereka"
Tristan jadi penasaran, seperti apa wanita bernama Aini itu? Terlihat sang ibu sangat menyukainya
"Baiklah, besok aku akan bertemu wanita itu"
Mendengar itu, Karina sangat bahagia. Ia tahu jika putranya sangat menyayangi dirinya
Tristan mau melakukan apapun demi untuk kebahagiaan dirinya. Karina hanya berharap sebelum ia meninggalkan dunia ini, ia akan melihat putranya bahagia bersama wanita yang baik
Sudah tujuh tahun, namun Tristan belum bisa melupakan mendiang istrinya yang telah tiada
Karina tahu sebesar apa cinta yang Tristan miliki untuk Clara, istrinya. Tapi dirinya juga tidak sampai hati melihat raut wajah sedih cucunya saat melihat teman-temannya yang ditemani ibu mereka
Karina berharap banyak pada Aini, penilaiannya tidak salah. Wanita itu adalah wanita yang paling tepat untuk mendampingi Tristan sekaligus menjadi ibu sambung bagi Melody
lebih suka Aini sama Yudha saja sih, Yudha juga laki-laki yang baik