NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 - RAHASIA LUKA DI PUNGGUNG SANG KAISAR

Setelah kejadian hujan dan parit lumpur itu, hidupku di Paviliun Mawar berubah total.

Para pelayan tidak lagi memanggilku dengan bisikan takut. Mereka memanggilku dengan tulus, "Gusti Permaisuri Mawar." Katanya, karena aku mau kotor-kotoran bersama mereka di tengah hujan demi menyelamatkan paviliun mereka.

Mbok sampai menangis haru mendengarnya.

Bahkan para tabib istana yang tua-tua itu, setiap pagi datang ke paviliun ku bukan untuk memeriksa Mbok lagi, tapi untuk bertanya, "Gusti Permaisuri, bagaimana cara Gusti membuat parit yang airnya mengalir begitu cepat? Bolehkah hamba mencatat tekniknya untuk mengajari rakyat di desa?"

Aku hanya tersenyum dan memberikan buku panduan drainase sederhana hadiah dari Sistem kemarin. Buku itu aku salin ulang dengan tulisan tanganku sendiri, dengan bahasa yang lebih sederhana agar mereka mengerti.

Satu-satunya orang yang masih bersikap dingin, tapi dinginnya berbeda, adalah Kaisar Segara El-Bhumi.

Sejak kejadian hujan itu, dia tidak lagi membaca laporan di teras paviliun ku. Dia membaca laporannya di dalam paviliun ku, duduk di kursi dekat jendela, sambil sesekali melirikku yang sedang menyalin buku.

Kadang dia berkomentar dengan suara datar, "Tulisanmu jelek, Kahiyang. Seperti cakar ayam."

Kadang dia berkomentar, "Kenapa kau selalu menggambar garis-garis aneh di samping tulisanmu itu?" Garis-garis aneh yang dia maksud adalah bullet point dari abad ke-21.

Aku hanya menjawab santai, "Itu seni keluarga Adiningrat, Gusti Kaisar."

Sore ini, hujan turun lagi, tapi hanya gerimis kecil. Langit mendung kelabu.

Segara tidak datang ke paviliun ku. Kata pengawal, dia sedang berendam di pemandian air panas pribadi di belakang kamarnya setelah seharian berlatih pedang.

Aku yang sedang bosan karena tidak ada yang mengajakku berdebat, memutuskan untuk mengantarkan buku laporan drainase yang sudah selesai aku salin ke kamarnya. Pikirku, sekalian mengembalikan jubah hitamnya yang kemarin dia berikan padaku saat hujan. Jubah itu sudah aku cuci bersih dan aku lipat rapi.

Aku berjalan menuju kamar Kaisar yang pintunya sedikit terbuka.

"Gusti Kaisar? Buku drainasenya sudah selesai saya salin," kataku pelan dari balik pintu kertas yang terbuka sedikit.

Tidak ada jawaban. Hanya terdengar suara gemericik air.

Aku mengintip sedikit. Kamarnya kosong. Tapi dari balik sekat kayu di sudut kamar, terlihat uap air panas mengepul. Pemandian air panas pribadinya ada di sana.

"Gusti Kaisar?" aku memanggil lagi, sedikit lebih keras.

Masih tidak ada jawaban. Mungkin dia tidak mendengar karena suara gemericik air.

Aku melangkah masuk dengan ragu-ragu, meletakkan buku dan jubah hitam yang sudah dilipat di atas meja. Aku berbalik ingin keluar.

Pada saat itulah, sekat kayu pemandian itu bergeser terbuka.

Segara El-Bhumi keluar dari pemandian itu.

Dia hanya memakai celana panjang hitam longgar. Dada dan punggungnya telanjang. Rambut hitam panjangnya basah kuyup, air menetes dari ujung rambutnya ke lantai. Uap air panas masih mengepul dari tubuhnya.

Aku membeku di tempat. Mataku membelalak.

Bukan karena dada bidangnya yang berot karena latihan pedang setiap hari. Bukan.

Tapi karena punggungnya.

Di punggungnya yang seharusnya mulus dan bidang itu, ada sebuah bekas luka yang sangat besar. Bekas luka yang panjangnya hampir dari bahu kirinya sampai ke pinggang kanannya. Bekas luka itu tidak seperti bekas luka pedang biasa. Bekas luka itu bergerigi, hitam, dan terlihat seperti... seperti bekas cakaran binatang buas yang sangat besar. Atau seperti bekas luka bakar yang disayat.

Luka itu sudah lama, sudah kering, tapi terlihat sangat mengerikan dan menyakitkan.

Aku tidak bisa menahan napas tertahan ku. "Ah..."

Suara kecilku itu membuat Segara langsung menoleh dengan sangat cepat.

Matanya yang sedalam samudra itu langsung menatapku. Wajahnya yang tadinya santai setelah berendam, langsung berubah menjadi dingin dan tegang.

"Kahiyang? Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamarku tanpa izin?" Suaranya dingin dan keras.

Aku panik setengah mati. "Maaf, Gusti Kaisar! Saya... saya hanya ingin mengembalikan jubah Gusti dan memberikan buku drainase! Pintu terbuka, saya kira Gusti ada di meja... saya tidak sengaja..."

Aku langsung menunduk, tidak berani menatap punggungnya lagi. Wajahku merah padam karena malu dan takut.

Hening. Hanya terdengar suara tetesan air dari rambutnya yang jatuh ke lantai marmer.

Aku mengira dia akan berteriak menyuruh pengawal membawaku ke penjara karena sudah melihat sesuatu yang tidak seharusnya aku lihat.

Tapi yang dia lakukan justru di luar dugaan.

Dia tidak mengambil baju. Dia berjalan mendekatiku. Langkah kakinya basah meninggalkan jejak air di lantai.

Dia berhenti tepat di depanku yang masih menunduk.

"Angkat kepalamu," perintahnya pelan.

Aku mengangkat kepala dengan gemetar. Wajahnya sangat dekat. Air dari rambutnya yang basah menetes ke pipiku. Dingin.

"Kau melihatnya, ya?" tanyanya pelan. Suaranya tidak lagi marah. Suaranya... lelah.

Aku tidak bisa berbohong. Aku mengangguk pelan.

"Sejak kapan, Gusti Kaisar... luka itu..."

Dia terdiam lama. Matanya menatap ke luar jendela yang sedang gerimis. Tatapannya kosong, menerawang jauh ke masa lalu yang menyakitkan.

"Sejak aku berumur 15 tahun," jawabnya akhirnya, dengan suara yang sangat pelan, hampir seperti berbisik pada dirinya sendiri. "Sehari sebelum aku dinobatkan menjadi Pangeran Mahkota."

Dia berbalik, membelakangiku, memperlihatkan kembali punggungnya yang penuh luka mengerikan itu padaku. Dia tidak malu. Dia seperti ingin aku melihatnya dengan jelas.

"Ayahku, Kaisar sebelumnya, membawaku ke Hutan Terlarang di belakang istana untuk berburu sebagai ujian terakhir. Di sana ada seekor harimau putih penjaga hutan. Harimau itu seharusnya sudah dijinakkan. Tapi hari itu, harimau itu mengamuk. Dia mencakar punggungku. Ayahku... ayahku tidak menolongku. Dia hanya berdiri dan menatapku, katanya, jika aku ingin menjadi Kaisar, aku harus bisa bertahan hidup sendiri, bahkan dari cakaran harimau peliharaannya sendiri."

Cerita itu membuat dadaku sesak. Umur 15 tahun. Ditinggalkan ayahnya sendiri di hutan dengan punggung tercakar harimau.

"Aku berjalan kaki selama dua hari dua malam dari hutan itu kembali ke istana dengan punggung berdarah. Tidak ada yang menolongku. Sejak itu, aku tidak percaya pada siapa pun lagi, Kahiyang. Tidak pada ayahku, tidak pada ibuku, tidak pada permaisuri-permaisuri yang dikirim keluarga bangsawan hanya untuk mengambil kekuasaanku," lanjutnya, suaranya datar, tapi setiap katanya terasa berat.

Jadi itu alasannya. Itu alasan kenapa dia menjadi Kaisar Tanpa Hati. Bukan karena dia kejam sejak lahir. Tapi karena dia pernah dikhianati oleh orang yang seharusnya paling melindunginya, ayahnya sendiri.

Tanpa sadar, air mataku menetes. Bukan karena takut. Tapi karena kasihan. Kasihan pada anak laki-laki berumur 15 tahun yang harus berjalan dua hari dengan punggung berdarah sendirian.

Aku mengulurkan tanganku yang gemetar. Aku ingin menyentuh luka itu. Aku ingin bilang bahwa dia sudah tidak sendirian lagi.

Tapi tanganku berhenti satu sentimeter di depan luka itu. Aku tidak berani.

Segara merasakan keraguanku. Dia menoleh sedikit.

"Kenapa tidak jadi menyentuhnya? Kau takut?" tanyanya.

Aku menggeleng sambil menangis pelan. "Tidak, Gusti. Saya tidak takut lukanya. Saya hanya... sakit melihatnya."

Jawaban jujurku itu membuat Segara terdiam.

Lalu, pelan-pelan, dia meraih tanganku yang gemetar di udara itu dan menempelkannya sendiri ke atas bekas luka besar di punggungnya itu.

Kulit di sekitar luka itu kasar dan tidak rata. Tapi hangat. Hangat karena darahnya masih mengalir di sana.

"Jika kau sakit melihatnya, maka jangan pernah pergi dari sini, Kahiyang," bisiknya pelan, punggungnya masih membelakangiku, tapi tangannya masih menggenggam tanganku yang menempel di luka itu. "Tetap di sini dan lihat luka ini setiap hari, sampai kau tidak sakit lagi melihatnya."

Kata-katanya itu bukan perintah kaisar. Itu terdengar seperti... permintaan seorang anak laki-laki yang kesepian.

Aku mengangguk di belakang punggungnya, air mataku masih menetes.

"Ya, Gusti Kaisar."

Di kepalaku, Sistem tidak berbunyi dengan suara keras seperti biasanya. Sistem hanya berbunyi pelan, dengan tulisan yang lembut.

[KETERTARIKAN KAISAR SEGARA EL-BHUMI +5% - TOTAL 100%]

[STATUS BARU TERBUKA: PERCAYA SEPENUHNYA]

[RAHASIA TERDALAM KAISAR TELAH DIBAGIKAN PADA HOST]

Sore itu, di dalam kamar yang dipenuhi uap air panas dan suara gerimis di luar, alurnya memang santai. Tidak ada yang berteriak, tidak ada yang menghunus pedang.

Tapi rasanya ngena sekali di hati. Karena untuk pertama kalinya, Kaisar Tanpa Hati itu tidak menunjukkan pedangnya. Dia menunjukkan lukanya. Dan untuk pertama kalinya, aku, Kahiyang dari abad ke-21, tidak melihatnya sebagai seorang kaisar.

Aku melihatnya sebagai Segara. Seorang pria yang punggungnya masih sakit, bahkan setelah bertahun-tahun.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!