Hannah adalah wanita bercadar yang menyimpan masa lalu kelam. Pertemuannya kembali dengan Faz, lelaki yang pernah menolongnya, membuat cinta tumbuh hingga mereka hampir bertunangan.
Namun sebuah rahasia membuat mereka tak bisa bersama. Saat Hannah harus merelakan cintanya, Arif—lelaki yang diam-diam telah lama mencintainya—datang membawa sebuah lamaran.
Di antara cinta, luka, dan takdir, Hannah harus menentukan jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alergi Kacang
“Assalamu’alaikum.”
Suara Rozin memecah kekhusyukan mereka bertiga yang sejak tadi sibuk di depan laptop.
“Wa’alaikumussalam,” jawab Faz singkat tanpa menoleh. Pandangannya masih terpaku pada layar laptop.
“Sudah dari tadi?” tanya Rozin sambil menghampiri mereka.
“Ya. Kamu terlambat,” sahut Faz datar.
Rozin hanya menyeringai kecil. Ia meletakkan beberapa minuman dan makanan ringan yang dibawanya ke atas meja. Ada dua gelas latte, dua lemon tea, serta beberapa potong kue dan roti.
“Maaf, aku nggak tahu selera kalian. Jadi, aku pesan menu yang paling enak di tempat ini.”
Faz dan Hannah mengambil latte, sementara Farah dan Rozin memilih lemon tea.
“Istirahat dulu, lah. Dari tadi serius terus,” ujar Rozin sembari menarik kursi dan duduk.
“Aku mau ini, ya,” kata Farah antusias.
Ia mengambil sepotong kue kering, lalu melirik Hannah.
“Kak Hannah mau?”
Hannah mengangguk kecil. “Boleh. Terima kasih.”
Ia mengambil sepotong kue yang disodorkan Farah, kemudian menggigitnya sedikit.
Namun, baru beberapa saat mengunyah, sesuatu yang tidak beres mulai terasa.
Napas Hannah mendadak terasa berat. Dadanya seperti dihimpit benda besar, sementara tenggorokannya perlahan terasa menyempit. Ia mencoba menarik napas lebih dalam, tetapi udara seolah sulit masuk ke paru-parunya.
Hannah meletakkan kue itu dengan tangan gemetar.
Farah yang duduk di sebelahnya langsung menyadari perubahan wajahnya.
“Kak? Kak Hannah, kenapa?”
Hannah berusaha menjawab, tetapi suaranya tidak keluar. Tangannya refleks mencengkeram bagian depan bajunya, berusaha mencari udara yang terasa semakin sulit didapatkan.
Wajah Farah seketika pucat.
“Kak Hannah!”
Faz yang sejak tadi menatap laptop langsung mengangkat kepala. Begitu melihat Hannah kesulitan bernapas, ia segera berdiri dan menghampirinya.
“Hannah!”
Namun, sebelum siapa pun sempat berbuat lebih banyak, tubuh Hannah kehilangan keseimbangan. Ia terkulai dan jatuh tak sadarkan diri.
“Hannah!” Faz bergegas menangkap tubuhnya.
Farah panik. Tangannya gemetar ketika mencoba menyadarkan Hannah.
“Bagaimana ini, Kak? Kenapa Kak Hannah tiba-tiba begini?” Suaranya nyaris pecah.
“Bawa ke rumah sakit sekarang!” ujar Rozin tegas. Ia segera meraih kunci mobilnya. “Aku antar. Kita nggak boleh membuang waktu.”
“Aku ikut, Kak. Aku harus menemani Hannah.”
Rozin mengangguk.
Faz mengangkat Hannah dengan hati-hati, lalu membawanya menuju mobil Rozin yang terparkir di depan tempat itu. Farah segera menyusul dan duduk di kursi belakang untuk menemani Hannah.
Setelah memastikan Hannah berada dalam posisi yang aman, Rozin langsung melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan, Farah tak henti-hentinya memanggil nama Hannah.
“Kak Hannah, bangun, Kak. Kita sebentar lagi sampai.” Ia menggenggam tangan Hannah yang terkulai, berusaha menahan kecemasannya sendiri.
Sementara itu, Rozin berkonsentrasi mengemudi, sesekali melirik melalui kaca spion untuk memastikan keadaan mereka di belakang.
Faz tidak ikut ke rumah sakit. Ia masih berada di tempat mereka tadi, dengan pikiran yang mendadak kacau oleh kejadian yang begitu cepat berlangsung.
---¤---
Begitu tiba di rumah sakit, Hannah segera dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD). Petugas medis langsung mengambil alih dan melakukan pemeriksaan.
Farah berdiri di luar ruang pemeriksaan dengan wajah tegang. Kedua tangannya saling meremas, sementara Rozin berusaha menenangkannya.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar menghampiri mereka.
“Pasien tadi habis makan atau minum apa sebelum mengalami sesak napas?” tanyanya.
Farah segera menjawab, “Habis makan roti dan kue, Dok.”
“Roti atau kue apa?”
Farah terdiam. Ia berusaha mengingat makanan yang tadi mereka pesan, tetapi karena panik, pikirannya justru terasa kosong.
“Aduh, apa ya namanya tadi?” gumamnya kebingungan.
Rozin yang sejak tadi ikut mengingat kejadian di meja langsung menyahut, “Sepertinya roti kacang, Dok.”
“Oh, iya!” Farah mengangguk cepat. “Sepertinya memang itu.”
Dokter mengangguk, lalu menjelaskan, “Dari gejala yang dialami, kami mencurigai adanya reaksi alergi berat akibat kacang-kacangan. Apakah pasien memang memiliki riwayat alergi?”
Rozin menoleh ke arah Farah, seolah meminta penjelasan lebih lanjut. Namun, perempuan itu justru menggeleng pelan.
“Aku juga tidak tahu, Kak. Maaf.” Farah menunduk, merasa semakin bersalah. Ia baru mengenal Hannah beberapa minggu. Selama itu, mereka memang cukup dekat, tetapi ia belum mengetahui banyak hal tentang perempuan yang selalu tampil tenang di hadapannya itu.
“Tidak apa-apa. Yang penting sekarang kita pastikan kondisinya membaik,” ujar Rozin menenangkan.
Dokter mengangguk sebelum kembali masuk ke ruang IGD.
Farah mengembuskan napas panjang. Kedua matanya masih berkaca-kaca.
“Alhamdulillah,” lirihnya, meski kecemasan itu belum sepenuhnya sirna.
Ia menunduk sejenak, merasa bersalah karena tadi menyodorkan makanan itu kepada Hannah tanpa mengetahui isinya.
Andai saja ia memeriksa terlebih dahulu.
Andai saja ia bertanya.
Farah menggigit bibirnya, menahan sesal yang perlahan memenuhi dadanya.
Sementara itu, di balik pintu ruang IGD, Hannah masih terbaring dalam penanganan medis. Tak seorang pun di antara mereka menyangka bahwa pertemuan yang semula berjalan tenang itu akan berakhir dengan kejadian yang begitu menegangkan.
---¤---
Faz tidak ikut ke rumah sakit.
Keputusan itu bukan karena ia tidak mengkhawatirkan Hannah. Justru sejak melihat perempuan itu kehilangan kesadaran dalam pelukannya, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.
Namun, ada alasan yang jauh lebih besar yang membuatnya memilih tetap tinggal.
Dokter yang menangani Hannah adalah dokter yang sama yang selama ini merawat penyakitnya.
Faz tahu betul siapa dokter itu. Ia juga tahu, jika ia muncul di rumah sakit, kemungkinan besar dokter tersebut akan mengenalinya. Lebih buruk lagi, dokter itu mungkin akan menanyakan kondisi kesehatannya atau mengingatkannya tentang jadwal pemeriksaan yang belum lama ini ia lewatkan.
Dan jika itu terjadi di hadapan Rozin?
Faz mengepalkan tangan.
Ia tidak sanggup membayangkan tatapan sahabatnya ketika mengetahui bahwa selama ini ia menyembunyikan sesuatu sebesar itu. Rozin sudah mengenalnya cukup lama. Seharusnya, Faz bisa mempercayainya. Namun, justru karena itulah ia takut.
Ia tidak ingin dikasihani.
Tidak ingin diperlakukan berbeda.
Dan yang paling ia takuti, ia tidak ingin melihat perubahan sikap Rozin setelah mengetahui bahwa dirinya sedang berjuang melawan penyakit yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
“Maaf, Hannah,” gumamnya lirih sambil menatap layar ponsel. “Aku bukannya nggak peduli sama kamu.”
Ia mengusap wajahnya kasar.
“Kalau aku ke sana dan dokter itu melihatku, semuanya bisa terbongkar.”
Faz tahu keputusannya mungkin terlihat egois. Hannah sedang berada di rumah sakit, sementara dirinya justru memilih bersembunyi di rumah. Namun, untuk saat ini, ia belum memiliki keberanian untuk menghadapi kemungkinan terburuk: rahasianya terbongkar di hadapan Rozin.
Ia mondar-mandir di ruang tamu, sesekali memeriksa layar ponselnya. Setiap kali tak ada pesan masuk, kecemasannya semakin menjadi-jadi.
Bagaimana keadaan Hannah sekarang?
Apakah ia sudah sadar?
Apakah dokter itu sudah berhasil mengatasi reaksinya?
Faz meraih ponselnya lagi, nyaris menelepon Rozin. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia tak ingin terdengar terlalu panik dan memancing pertanyaan yang sulit dijawab.
Tak lama kemudian, suara notifikasi terdengar.
Faz segera membuka pesan yang masuk.
Rozin: Hannah baik-baik saja. Sepertinya dia alergi kacang.
Faz mengembuskan napas panjang. Setidaknya, satu beban di dadanya sedikit terangkat.
Alergi kacang.
Entah mengapa, kabar itu justru mengingatkannya pada Papa dan adiknya. Mereka juga memiliki alergi terhadap kacang-kacangan.
Faz menggeleng pelan, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Kenapa, sih, orang-orang di sekelilingku alergi kacang semua?” gumamnya, mencoba mengusir ketegangan dengan kelakar kecil yang hanya didengarnya sendiri.
Namun, senyum tipis itu segera menghilang.
Ia kembali menatap pesan Rozin, lalu mengetik balasan singkat.
Faz: Alhamdulillah. Kabari aku kalau ada perkembangan lagi.
Setelah mengirim pesan itu, Faz meletakkan ponselnya di atas meja. Matanya kemudian beralih pada map berisi hasil pemeriksaan medis yang sengaja ia sembunyikan di laci.
Tangannya terulur, tetapi berhenti sebelum menyentuh map tersebut.
Ia bisa menghindari rumah sakit hari ini. Bisa pula menghindari dokter itu untuk sementara waktu.
Namun, ia tahu, ia tidak akan bisa bersembunyi selamanya.
Cepat atau lambat, Rozin akan mengetahui kebenarannya.
Dan Faz tidak tahu apakah saat itu tiba, ia masih memiliki cukup keberanian untuk menjelaskan semuanya.
semangat terus kaa😍😍
semangat nulis
mampir juga di karyaku Rotinya Manis, Rin😊