Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.
Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Sang Direktur
Suara dering bel penanda jam istirahat siang di SMA Bina Bangsa bergemerincing renyah, memecah keheningan di sela-sela rumus matriks kompleks yang terpampang di papan tulis putih lantai tiga. Sebagian besar siswa berhamburan keluar kelas menuju kantin, meninggalkan ruang laboratorium komputer dan riset sains yang kini terasa sejuk dan senyap.
Di sudut ruangan dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah taman hijau sekolah, Rian duduk dengan tenang di depan layar komputer berteknologi tinggi. Jari-jarinya menari lincah di atas papan ketik, merancang ulang algoritma pemodelan energi kuantum yang akan ia gunakan untuk persiapan olimpiade regional minggu depan. Di sampingnya, Maya duduk sambil merapikan lembar catatan manual, sesekali melirik layar monitor dengan mata terbelalak kagum melihat kecepatan barisan kode yang diketik oleh Rian.
Cklek.
Pintu laboratorium terbuka perlahan. Langkah kaki ringan namun tegas bergemerincing di atas lantai ubin putih. Seorang pria paruh baya berjas abu-abu rapi dengan kacamata berbingkai emas melangkah masuk ke dalam ruangan. Itu adalah Pak Darma, guru pembimbing olimpiade sekaligus kepala jurusan sains.
"Rian, Maya," sapa Pak Darma ramah sambil meletakkan sebuah map biru tebal di atas meja kosong sebelah mereka. Ia tersenyum hangat kepada dua murid paling cemerlang di angkatan tersebut.
Rian menghentikan ketikannya sebentar, lalu mendongak menatap sang guru. "Ada hal penting yang ingin dibahas, Pak?" tanya Rian tenang.
Pak Darma menarik sebuah kursi kayu, lalu duduk di antara mereka berdua. Ia menghela napas pendek, menampilkan ekspresi wajah yang memancarkan campuran antara rasa bangga dan keseriusan.
"Bisa dibilang begitu, Rian," jawab Pak Darma sambil melirik sekilas ke arah layar monitor komputer. "Sebelum aku membahas materi latihan soal olimpiade untuk minggu depan, ada pesan khusus yang baru saja disampaikan langsung kepadaku pagi ini oleh pihak sekretariat yayasan."
Maya mengerutkan keningnya, menatap guru pembimbing itu dengan rasa penasaran. "Pesan khusus dari yayasan, Pak? Apakah ada masalah lagi terkait insiden pameran sains kemarin?"
"Bukan masalah, Maya. Justru sebaliknya," Pak Darma tersenyum lebar. "Direktur Utama Hartawan Kusuma secara pribadi meminta agar Rian dipersiapkan untuk sebuah program akselerasi khusus. Beliau ingin Rian tidak hanya mewakili sekolah di tingkat regional, tetapi juga langsung diproyeksikan untuk mengikuti seleksi riset teknologi tingkat nasional di bawah sponsor utama korporasi Kusuma Group."
Mendengar hal itu, Maya langsung menoleh ke arah Rian dengan mata berbinar-binar. "Wah, Rian! Itu tawaran yang luar biasa! Menjadi bagian dari program riset nasional di bawah sponsor langsung Kusuma Group adalah impian bagi setiap siswa cerdas di negeri ini. Kau akan mendapatkan akses ke laboratorium pusat dan pendanaan penuh!"
Rian tetap menunjukkan ekspresi yang sangat datar. Ia meraih cangkir air mineral di samping mejanya, meneguknya sedikit, lalu menatap Pak Darma dengan tatapan yang tenang.
"Apakah program akselerasi itu memiliki ikatan dinas atau kewajiban administratif yang mengikat waktu saya di luar jam sekolah, Pak?" tanya Rian langsung pada inti masalah, menunjukkan kedewasaan berpikir yang jauh melampaui usianya.
Pak Darma tertawa kecil mendengar pertanyaan pragmatis tersebut. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku sudah menduga kau pasti akan menanyakan hal itu terlebih dahulu, Rian. Tenang saja. Tuan Hartawan secara khusus menginstruksikan bahwa seluruh fasilitas dan hak istimewa tersebut diberikan tanpa syarat apa pun yang membebani waktumu. Beliau hanya ingin memastikan bakatmu tidak disia-siakan di dalam sistem sekolah yang terlalu kaku."
"Kalau begitu, sampaikan ucapan terima kasih saya kepada Tuan Hartawan," balas Rian dengan nada sopan namun tegas. "Saya menerima tawaran fasilitas risetnya, tetapi untuk urusan jadwal, saya akan tetap menyesuaikannya dengan ritme belajar saya sendiri."
Pak Darma mengangguk maklum. Ia sudah terbiasa dengan cara pandang Rian yang independen dan tidak silau oleh gemerlap fasilitas mewah maupun kekuasaan korporasi besar.
"Baiklah, Rian. Akan kusampaikan jawabanmu persis seperti itu kepada pihak sekretariat," kata Pak Darma sambil berdiri dan merapikan map di tangannya. "Sekarang, mari kita alihkan fokus ke lembar soal latihan materi termodinamika kuantum di halaman empat map biru itu. Soal-soal ini diambil dari seleksi olimpiade tingkat internasional tahun lalu."
Sementara suasana di laboratorium komputer berjalan kondusif dan penuh konsentrasi, situasi yang jauh berbeda tengah terjadi di ruang tunggu VIP lantai dasar gedung utama yayasan.
Dua orang pria berbadan tegap berpakaian setelan jas hitam berdiri kaku di depan pintu kaca tebal berlogo emas yayasan. Di dalam ruangan pribadi yang mewah itu, seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan keringat bercucuran deras di pelipisnya—Tuan Edward, mantan anggota dewan penyantun yang merupakan sekutu dekat Viktor Tan—duduk mondar-mandir dengan gelisah di atas karpet wol tebal.
Di hadapannya, duduk seorang wanita paruh baya berkalung permata mewah bernama Nyonya Rosalind, salah satu pemegang saham terbesar dari faksi lama dewan pengurus yang mulai merasa terancam oleh bersih-bersih besar-besaran yang dilakukan oleh Hartawan Kusuma pasca runtuhnya sindikat Viktor.
"Kita tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Hartawan memegang kendali penuh atas seluruh aset yayasan!" bisik Tuan Edward dengan suara bergetar penuh amarah dan ketakutan, menatap tajam ke arah Nyonya Rosalind. "Jika penyelidikan kejaksaan terus melebar ke arah dewan pengurus lama, nama kita berdua pasti akan ikut terseret ke dalam pusaran skandal pencucian uang itu!"
Nyonya Rosalind menyesap teh chamomile dari cangkir porselennya dengan tangan yang sedikit gemetar, meskipun ia berusaha keras mempertahankan raut wajah angkuhnya.
"Tenangkan dirimu, Edward! Jangan bersuara terlalu keras di tempat ini," tegur Nyonya Rosalind tajam dengan nada berbisik. "Hartawan memang sedang berada di atas angin setelah kejadian penangkapan Viktor Tan kemarin malam. Tapi kau lupa... yayasan ini tidak sepenuhnya berada di dalam genggaman tangannya. Masih ada para investor asing dari konsorsium luar negeri yang memegang hak suara mayoritas di dewan komisaris."
"Investor asing...?" Edward menghentikan langkahnya, menatap sang wanita dengan pandangan bingung. "Apa maksudmu, Rosalind? Apakah kau sudah menghubungi mereka?"
Nyonya Rosalind meletakkan cangkirnya perlahan di atas piring kecil, lalu tersenyum tipis penuh kelicikan. "Aku sudah mengirimkan laporan rahasia kepada ketua konsorsium di luar negeri. Aku mengatakan bahwa kepemimpinan Hartawan Kusuma saat ini telah membahayakan stabilitas investasi karena terlalu tunduk pada intrik internal sekolah dan melindungi seorang anak beasiswa misterius yang mencurigakan."
Edward mengerutkan keningnya, mulai menangkap arah rencana jahat rekan se-faksi lamanya itu. "Lalu... apa target utama dari rencana ini?"
"Kita tidak perlu menjatuhkan Hartawan secara langsung," jawab Nyonya Rosalind dengan mata menyipit tajam. "Kita hanya perlu membuktikan di hadapan dewan komisaris bahwa anak beasiswa bernama Rian itu adalah ancaman keamanan data internal yayasan. Kita akan memutarbalikkan fakta, menuduhnya sebagai dalang utama di balik kebocoran data rahasia kemarin, dan mendesak dewan untuk memecatnya sekaligus mengevaluasi ulang seluruh kebijakan Hartawan."
Tepat saat Nyonya Rosalind merumuskan rencana busuk tersebut bersama Edward, pintu kaca ruang tunggu tiba-tiba terbuka lebar tanpa diketuk terlebih dahulu.
Hartawan Kusuma melangkah masuk ke dalam ruangan dengan setelan jas abu-abu elegan dan tatapan mata setajam elang. Di belakangnya berdiri dua orang pengawal pribadi berbadan tegap dengan postur militer yang sangat disiplin.
Suasana di dalam ruangan seketika mendadak membeku. Tuan Edward langsung terperanjat kaku, sementara Nyonya Rosalind perlahan berdiri dari sofa dengan ekspresi wajah yang berusaha ditutup-tutupi oleh senyuman canggung.
"Selamat siang, Nyonya Rosalind, Tuan Edward," sapa Hartawan dengan nada suara yang sangat tenang, namun memancarkan wibawa dingin yang mampu membuat siapa saja merinding. "Aku mendengar suara bisikan yang cukup menarik ketika aku berjalan melewati koridor tadi... membahas tentang rencana memutarbalikkan fakta dan menuduh seorang siswa beasiswa di sekolah kita?"
Wajah Nyonya Rosalind mendadak memucat. Ia menelan ludah dengan susah payah, berusaha mempertahankan gengsinya. "T-Tuan Hartawan... Anda salah paham. Kami hanya sedang mendiskusikan evaluasi rutin mengenai stabilitas administrasi yayasan..."
Hartawan mengangkat sebelah tangannya, menghentikan kalimat pembelaan diri yang diucapkan oleh wanita itu. Ia berjalan perlahan mendekati meja kerja di tengah ruangan, lalu melempar sebuah map transparan berisi transkrip rekaman suara dan salinan surel rahasia tepat di atas meja di hadapan mereka berdua.
"Evaluasi administrasi?" ucap Hartawan dingin, menatap lurus ke dalam mata Nyonya Rosalind dan Edward secara bergantian. "Atau diskus cara-cara kotor untuk menyelamatkan diri kalian dari penyelidikan hukum yang sedang berjalan?"
Edward melirik map transparan di atas meja sekilas, lalu membaca beberapa baris teks di dalamnya. Seketika itu juga, lututnya lemas dan ia jatuh bersandar terduduk di atas sofa, menyadari bahwa seluruh komunikasi rahasia mereka telah disadap dan diketahui oleh Hartawan sepenuhnya.
"Dengarkan baik-baik, Nyonya Rosalind," lanjut Hartawan dengan suara rendah yang tegas dan penuh tekanan mutlak. "Di bawah kepemimpinanku, era di mana yayasan ini dikendalikan oleh intrik kotor, suap, dan ancaman telah berakhir secara permanen. Jika kalian berdua mencoba bernapas pun untuk mengganggu Rian atau merusak ketenangan SMA Bina Bangsa... aku sendiri yang akan memastikan kalian bergabung dengan Viktor Tan di sel tahanan federal sebelum matahari terbenam."
Nyonya Rosalind dan Edward terdiam kaku seperti patung batu, tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri di hadapan kekuatan mutlak sang Direktur Utama.
Kembali ke ruang laboratorium komputer lantai tiga, jam dinding menunjukkan pukul tiga sore ketika sesi latihan soal olimpiade sains bersama Pak Darma akhirnya selesai.
Maya merapikan buku-buku catatannya ke dalam tas, menghela napas lega sambil meregangkan kedua lengannya ke atas. "Fiuh... soal-soal termodinamika tadi benar-benar menguras energi otakku sampai habis, Rian! Kalau bukan karena penjelasan sederhanamu tadi, aku pasti sudah menyerah di nomor tiga."
Rian merapikan laptopnya dengan gerakan tenang dan terukur, lalu memasukkannya ke dalam ransel hitam miliknya. "Kau hanya perlu membiasakan diri melihat pola dasar dari setiap perubahan energi, Maya. Kompleksitas hanyalah ilusi dari ketidaktahuan kita terhadap hukum dasarnya."
Maya tersenyum mendengar gaya bicara khas Rian yang selalu filosofis. "Kau benar, filosof muda. Omong-omong, apa rencana sepulang sekolahmu hari ini? Apakah kau langsung pulang ke rumah?"
Rian menggeleng pelan. "Tidak, aku berencana mampir sebentar ke perpustakaan pusat kota untuk mengambil beberapa referensi buku arsitektur kuno tambahan."
"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan, Rian. Sampai jumpa besok pagi di kelas!" pamit Maya riang sambil melambaikan tangan, lalu berbalik melangkah keluar meninggalkan laboratorium.
Rian berdiri seorang diri di dalam laboratorium yang kini kembali sunyi. Melalui Mata Dewa Pengamat, ia merasakan riak fluktuasi energi spiritual yang sangat halus bergetar di kejauhan—sebuah tanda bahwa meskipun faksi Viktor Tan telah runtuh dan ancaman Nyonya Rosalind berhasil dipatahkan oleh Hartawan, dinamika tak terlihat di dunia luar tidak akan pernah benar-benar berhenti berputar.
Namun, bagi Rian, semua itu hanyalah bagian kecil dari ritme semesta yang berjalan pada jalurnya. Ia menyampirkan ranselnya di bahu kanan, melangkah keluar ruangan dengan langkah tenang, menyambut sore hari yang cerah dengan keyakinan penuh bahwa setiap langkah yang ia ambil selalu berada di bawah kendali kesadaran tertingginya sendiri.