Dulu dia mati karena diam. Sekarang dia hidup untuk bersuara.*
lie yun vei, seorang selir cerdas di era dinasti, mati tragis karena dijebak dan difitnah.
Di kehidupan barunya, dia bereinkarnasi jadi selebriti bawahan yang juga ditindas manajernya, Hans.
Tapi kali ini Naya tidak akan diam.
Dengan otak selir dan mental baja, dia akan membalikkan keadaan.
Di tengah drama, skandal, dan paparazzi... muncullah CEO dingin yang tiba-tiba tertarik padanya.
*Dendam harus dibayar. Ketenaran harus direbut.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dide_Lara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1000 KATA MAAF SETELAH TEFLON MENDARAT
Suara langkah kaki mendekat, seraya pintu terbuka. Aku langsung melayangkan senjata bulat bergagang.
*BUGH! Tengg!*
Suara hantaman teflon terkena kepala menggema di apartemen yang gelap gulita.
Benda bulat bergagang itu beradu dengan tulang keras. Bukan suara kaleng kosong, tapi suara berat dan padat yang terasa asing di telingaku. Getarannya merambat sampai ke pergelangan tangan.
"Auuchh!"
Aku langsung menghidupkan saklar lampu. Saat lampu menyinari ruang apartemen, penglihatanku sedikit silau. Aku menatap bayangan yang sedang memegangi kepalanya. Saat kedua mataku sudah jelas, aku terkejut dan membulat. Dia Vanka, dengan paper bag menggantung di jari tangannya.
Aku berlari meletakkan teflon pada tempatnya, lalu menghampiri Vanka dan memegangi tangannya, merasa bersalah setengah mati.
"Naya, apa yang kau lakukan?" ujarnya, menahan emosi karena ulahku. Keningnya memar dan benjut, merah kebiruan.
Dengan gugup dan rasa bersalah yang menjadi beban di pundak, aku membawa Vanka pada sofa lembut miliknya itu.
"Maaf, Vanka, aku pikir kau orang jahat karena kau sedang keluar bersama Tuan Ajimo," ucapku seraya menunduk bersalah. Suaraku tercekat.
Vanka memegangi keningnya yang memar dan benjut. Ia meringis kesakitan, rahangnya mengeras menahan perih.
"Vanka, di mana letak P3K?" tanyaku seraya berdiri bergegas ingin mencari kotak itu.
"Ada di atas lemari kamar yang kau pakai," ujarnya dengan suara yang mulai melembut. Amarahnya luruh melihat wajah panikku.
Aku melangkah menuju kamar yang kupakai. Dengan pakaian setelan training yang kebesaran, sangat sulit kugapai karena lemari yang cukup tinggi, sedangkan tinggi badanku hanya 157 cm. Mataku menatap tiap sudut mencari kursi untuk kugunakan mengambil P3K. Aku melihat kursi kayu antik yang berada di samping kasur, lalu melangkah dengan sigap dan mendorong kursi itu. Derit kaki kursi menjadi jeritan yang memecah sunyi.
Kursi telah berada di depan lemari dan kakiku mulai menaiki kursi itu untuk mengambil P3K. Vanka mendengar suara gesekan kursi yang beradu dengan lantai, membuatnya datang menghampiriku.
"Kenapa tidak meminta bantuanku? Kenapa kau lebih memilih mendorong kursi itu?" ujar Vanka seraya duduk di atas kasur. Nada suaranya menjadi selimut yang menenangkan.
"Bisakah kau diam? Aku sudah cukup merasa bersalah, lalu aku harus meminta bantuanmu untuk mengambil kotak P3K ini?" ujarku seraya mengangkat kotak P3K tinggi-tinggi. Napasku terengah.
Kotak P3K sudah didapat. Aku perlahan turun dari kursi dan duduk di atas kasur sebelah Vanka. Wajah kami saling beradu, jarak kami hanya sejengkal. Membuatku sedikit gugup. Hanya saja aku harus tetap menahan diri untuk tetap stay anggun. Lalu aku membuka botol alkohol untuk mensterilkan memarnya secara perlahan.
"Auch," Vanka meringis menahan perih. Alkohol itu menjadi bara di lukanya.
"Bisakah kau diam? Tidak usah manja, ini hanya luka kecil," ucapku seraya mengolesi salep di keningnya. Tanganku sedikit gemetar.
Vanka memegang tanganku yang telah selesai mengoles salep di keningnya. Suasana dalam kamar menjadi senyap, hanya ada suara tarikan oksigen yang berat. Mata kami saling tatap dan detak jantungku meningkat cepat. Aliran darahku terasa mengalir deras menjadi sungai di dalam nadi. Aku langsung berdiri dan beranjak mengembalikan P3K-nya, langsung mengalihkan perasaan serta suasana yang baru saja terjadi.
Lalu aku mendorong kursi ke asalnya sehingga mengeluarkan suara akibat gesekan lantai yang kembali berderit.
Dengan gugup aku bicara pada Vanka, "La... lagian untuk apa kau pulang dengan cepat? Bukankah kau pergi bersama ayahku?" tunjukku tanpa arah tujuan, asal bicara agar jantungku tidak meledak.
"Aku membelikanmu beberapa setel pakaian, agar kau ada salinan," ujar Vanka seraya meletakkan paper bag di atas kasur. Paper bag itu terlihat penuh sesak.
"Bukankah kau pergi bersama ayahku?" Nada suaraku melembut dan mencoba memanggil Tuan Ajimo dengan sebutan ayah. Kata itu terasa asing sekaligus hangat di lidahku.
"Aku hanya mengantarnya sampai kantor Pengacara Frans dan ia bersama pengawalku untuk menjaganya," ujar Vanka memberi penjelasan. Suaranya meyakinkan.
"Sekali lagi aku minta maaf, aku tidak tahu itu dirimu. Aku takut tadi itu peliharaan Hans yang menemukanku," ucapku masih merasa bersalah. Bayangan Hans menjadi hantu yang terus membuntutiku.
Vanka lagi-lagi memegang tanganku, membuatku seolah merasa menjadi wanita lemah di hadapannya. Ia menatapku dan menarik tanganku membuat kami saling berhadapan dengan jarak yang hanya beberapa inci. Ia duduk sedangkan aku berdiri di hadapannya. Napasnya menerpa wajahku.
"Naya, aku bangga padamu. Nyalimu besar dan kau berani," ujarnya meyakinkan. Kata-katanya menjadi tameng yang melindungiku.
"Sekarang cobalah pakaian yang kubeli agar kau tidak kesusahan memakai bajuku yang kebesaran," lanjutnya seraya beranjak dari hadapanku meninggalkan kamar. Ia memberiku ruang.
"Baju di dalam paper bag ini cukup banyak, dan kenapa banyak sekali pakaian dress dan setelan celana pendek ini? Kenapa ia tidak bertanya kepadaku bagaimana selera pakaianku?" keluhku di dalam kamar yang suaranya memantul di dinding seraya mengeluarkan dan memilah baju-baju yang dibeli Vanka. Kamar itu menjadi butik dadakan.
Aku memakai dress berwarna cokelat dengan lengan yang pendek dan panjangnya masih di atas lutut. Sebenarnya pakaian seksi membuatku sedikit risih, tapi apa boleh buat. Aku tidak mungkin menolak pemberian tulusnya.
Aku melangkah menuju pintu kamar, membuka pintu kamar.
*Kreekk...*
Aku berdiri di ambang pintu kamar. Tatapan Vanka membulat terpesona, binarnya menjadi bintang yang jatuh di matanya, mulutnya sedikit terbuka. Ia terdiam terpaku.
Aku melangkah menghampirinya, matanya masih tertuju kepadaku, menelusuri dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Vanka, hei, kenapa bengong?" seruku seraya mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya sehingga membuatnya berkedip dan tersadar.
"Naya, kau sangat cocok berpenampilan seperti ini dan kau semakin terlihat anggun," ujar Vanka dengan gombalannya yang jujur. Pipi Vanka yang biasanya pucat kini merona.
Aku tersipu malu dan menunduk, memalingkan wajahku yang memerah menjadi kepiting rebus.
Sedangkan di tempat lain, Tuan Ajimo dan Pengacara Frans sedang menyusun rencana untuk menghancurkan Hans. Papan catur telah digelar, bidak-bidak mulai bergerak.
*Bersambung...