Mikhaila Danya Bimantara, 28 tahun, wanita mandiri pemilik toko bunga istri dari Rain Bagaspati harus menerima kenyataan pahit saat suami yang di cintainya harus menikah dengan sahabatnya yang telah hamil.
Fabyan Alkandra Sadewa, 30 tahun pria lajang tampan, dingin seorang CEO, memilih melajang di usianya yang sudah matang, wanita baginya hanya sosok yang membuat hidupnya tidak fokus mencapai tujuannya menjadi pebisnis nomor satu.
Pertemuan tak di sengaja antara Mikha dan Alka di sebuah cafe membuat hal yang tak pernah mereka bayangkan terjadi.
Sebuah kisah percintaan antara wanita yang pernah kecewa dengan pria yang menganggap wanita terlalu banyak dramanya, akankah membuat mereka bersatu?
Yuk, ikuti kisah cinta antara Mikha, Rain, Alka, pastinya seru dan bikin terharu.
Salam hangat,
ariista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mikha Yang Kelelahan
Mikha pulang dari toko bunga saat malam sudah menunjukkan pukul 20.30 malam. Letih di tubuhnya baru terasa saat sudah sampai di rumah maminya. Mikha berjalan masuk rumah dengan santai.
Rain juga masih tinggal di rumah maminya. Mikha masuk ke dalam rumah, terdengar suara berat mantan suaminya di telinganya saat berjalan melewati ruang keluarga.
"Kamu baru pulang Kha, tumben gak biasanya pulang malam gini,"
Rain yang memang sedang menunggu kedatangan adik angkatnya itu menatap ke Mikha yang tampak kelelahan di wajahnya.
"Eh Kak Rain belum tidur? Iya Kak ini jadi pulang malam tadi ada pesanan mendadak untuk acara anniversary salah satu pelanggan di rumahnya, minta di kirimi beberapa buket bunga, jadi deh lembur,"
"Oh gitu kirian kakak kamu pergi kencan sama Alkha,"
"Kalo memang pergi kencan kenapa Kak? Gak ada masalahkan?" Mikha mengernyitkan alisnya menatap ke lelaki yang sudah membuat hatinya terluka.
Mereka berdua saling menatap.
"Gak apa-apa sih, hanya kamu kan baru juga pisah sama kakak Kha, kalo ada yang lihat kamu udah dekat sama cowokkan gak enak, Kha,"
Mikha semakin mengernyitkan keningnya.
"Kak, Mikha ke kamar dulu ya, mau mandi dan istirahat, mami mana Kak," tanya Mikha tanpa merespon ucapan kakak angkatnya itu.
"Mami udah ke kamarnya barusan juga,"
"Oke, Kak, Mikha kamar dulu,"
Rain manggut manggut.
"Jangan begadang Mikha, istirahat lagi.
"Iya kak Rein,"
Mikha ingin segera pergi dari kakak angkatnya ini. Tidak ingin berlama-lama berada satu ruanganruangan dengan lelaki yang membuat dadanya berdetak kencang, hanya saja rasa itu sudah tidak seprti dulu lagi.
Mikha bergegas pergi menjauh dari Rain berjalan menuju kamarnya.
Mikha heran saat menjadi suaminya kak Rainnya tidak pernah menegur dirinya. Kak Rain selalu tidak ada di rumah mereka saat masih menjadi suami istri. Sekarang kenapa kak Rain jadi kembali seperti kak Rain yang Mikha kenal saat mereka belum menikah selalu hangat dan perhatian kepadanya.
Mikha memasuki kamarnya dan berbaring sejenak. Mikha memikirkan banyak hal, tentang kak Rain yang berubah drastis, tentang Alkha yang mengajaknya menikah, tentang statusnya sekarang.
Mikha berbaring telentang dengan pandangannya ke langit-langit atas kamarnya. Tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Mikha mengambil ponselnya yang masih di dalam tas. Ia meraih ponselnya dilihatnya nama lelaki yang baru saja di pikirkannya. Apakah ini suatu kebetulan jika dirinya sedang memikirkan lelaki tersebut, pasti lelaki itu akan menghubungi dirinya, entah lewat pertemuan dj tokonya, lewat pesan singkat di ponselnya atau seperti saat ini menghubungi dirinya.
Bukankah ini artinya dirinya dan lelaki tersebut memiliki telepati di antara mereka. Jika kita sedang memikirkan seseorang dan orang tersebut datang ke kita, itukah yang dinamakan telepati. Mikha pernah membaca di sebuah artikel online.
Mikha tersenyum melihat siapa yang menghubunginya. Mikha mengangkat ponselnya.
"Assalamu'alaikum, iya Al, aku baru sampai rumah ini, ada pesanan buket bunga lumayan banyak tadi di toko. Iya ini juga mau istirahat Al, sama-sama ya Al, terimakasih banyak Al, salam ya buat mami papi dan eyang putri di rumah, baiklah, kamu juga ya Al, okey Al, terimakasih, waalaikumsalam,"
Mikha menutup ponselnya senyum tersungging di bibirnya. Alka, ya lelaki yang baru saja menghubunginya adalah Alka, lelaki tampan yang akhir-akhir ini selalu saja hadir dalam kehidupannya juga di pikirannya.
Mikha heran, Alka selau hadir mondar mandir di benaknya. Alka dengan kebaikannya, Alka yang selalu bisa menghiburnya, Alka yang ingin melamar dirinya.
Mikha masih memikirkan tentang keinginan Alka yang ingin menikahinya. Mikha masih memikirkan tentang itu. Apakah Alka serius dengan dirinya? Apakah Alka hanya melarikan diri dari perjodohan yang diinginkan eyang putrinya? Aku harus bagaimana ini, batin Mikha.
Malam semakin larut Mikha segera bergegas bangkit dari rebahannya dan masuk ke kamar mandi.
Mikha ingin tubuhnya fresh kembali dan tidur dengan nyenyak.
Alka akan mengajaknya kembali makan siang besok. Mikha mengguyur tubuhnya dengan air hangat di shower, terasa tubuhnya sangat segar disiram oleh air hangat. Air hangat dapat merilekskan tubuhnya yang terasa lelah.
Malam ini Mikha ingin beristirahat besok ia akan kembali lagi ke tokonya masih banyak pekerjaan yang menunggu di tokonya. Banyak even yang sudah membooking buket bunga di tokonya.
Selesai mandi Mikha kembali berbaring di atas ranjang sambil membuka ponselnya. Mikha berselancar di dunia maya melihat perkembangan di medsosnya. Banyak hal yang dilihatnya terutama di medsos toko bunganya banyak customer yang menge-tag tokonya dengan postingan acara di rumah, kantor atau di tempat acara tersebut berlangsung.
Tentu saja Mikha senang karena followernya bertambah banyak. Di dunia yang serba digital ini Mikha merasa terbantu dengan adanya promosi dari para customernya. Toko bunganya pun menjadi ramai pengunjung dan ramai yang membooking buket bunga di tokonya, entah itu untuk sekedar ucapan ke teman, ke atasan, ke orangtua atau juga ke pacar.
Mikha senang dengan perkembangan di toko bunganya. Dirinya dan Dewinta sahabatnya berencana akan menambah staf baru di toko Mikha's Florist.
Setelah mengecek perkembangan di medsos Mikha tertidur karena kelelahan.
***
Di rumah papi Sadewa pagi hari di meja makan keluarga Sadewa sudah duduk di meja makan bersiap untuk sarapan.
Eyang putri juga ada di meja makan, kesehatan eyang putri sudah membaik. Eyang putri duduk berhadapan dengan cucu tampannya.
"Pagi eyang, eyang udah baikan?" sapa Alka yang melihat eyang putrinya baru saja duduk di depannya.
Eyang menatap tajam ke Alka, eyang melengos tidak menjawab pertanyaan cucunya itu.
"Jangan coba-coba mau membujuk eyang, Alka. Eyang masih marah sama kamu, ada yang eyang ingin tanyakan, tapi nanti saja, kalau kamu sudah selesai sarapan,"
"Tentang apa eyang?" tanya Alka.
"Makan aja dulu Alka, jangan terburu-buru, bukannya hari ini kamu ke kantor Alka,"
"Iya eyang,"
Papi Sadewa dan mami Maura saling menatap dan bicara lewat tatapan mata. Keduanya sudah paham kode yang mereka Terima dari pasangannya.
Papi mengedikkan bahunya menjawab pertanyaan dari kode mata istrinya.
Keluarga Sadewa sarapan dengan tenang tanpa bersuara. Selesai sarapan Alka yang akan beranjak dari duduknya di tahan oleh eyang putri.
"Alka jangan pergi dulu, eyang kan tadi udah bilang mau bertanya sesuatu,"
Alka terpaksa duduk lagi dan menunggu pertanyaan dari eyangnya.
"Eyang mau bertanya apa?" tanya Alka yang sudah kembali dudu.
Eyang mencebikkan bibirnya sambil menatap ke cucu tampan kesayangannya itu.
"Apa benar wanita yang kamu bawa kemarin itu seorang janda Alka?" tanya eyang dengan tegas sorot matanya seakan ingin menelan Alka bulat-bulat.
Alka kaget dengan pertanyaan eyangnya ia menelan salivanya. Tenggorokannya terasa tercekat.
Papi Sadewa dan mami Maura kembali saling pandang. Keduanya heran mengapa tiba-tiba eyang putri menanyakan hal tersebut, tau darimana batin keduanya suami istri yang kompak.
Alka segera meraih gelas yang masih ada di meja. Alka meneguknya.
Darimana eyang tau kalo Mikha seorang janda, batin Alka.
"Jangan heran gitu Alka, jawab pertanyaan eyang!" tegas Eyang tidak sabaran.
Alka menatap mami papinya seakan bertanya dengan kode mata apakah gak papa bercerita tentang Mikha.
Mami papi menganggukkan kepalanya. Alka menghela napas panjangnya.
Belum apa-apa Alka sudah kena tanya hal yang tidak pernah terpikirkan oleh Alka jika eyangnya tau status Mikha.
Tau darimana, batin Alka.