NovelToon NovelToon
Mertua Pilih Kasih

Mertua Pilih Kasih

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:611
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Tiga tahun lalu, Maya seorang gadis desa yang polos dan tulus melangkah ke kota membawa impian sederhana: membangun keluarga kecil yang bahagia bersama suaminya. Mengabdi penuh sebagai istri dan menantu, Maya dengan sabar menelan setiap cemoohan, perbedaan perlakuan, dan sikap pilih kasih dari sang ibu mertua yang selalu mengagung-agungkan menantu kayanya.

Bagi Maya, diam dan mengalah adalah kunci keharmonisan. Namun, kepasrahannya justru dimanfaatkan. Di rumah itu, Maya tak lebih dari seorang pelayan yang tenaganya diperas, sementara hak dan perasaannya terus diinjak-injak oleh keluarga parasit yang manipulative. Ketika masalah besar datang dan pengorbanannya kembali dibalas dengan pengkhianatan serta tuduhan keji, mata Maya akhirnya terbuka: kesabaran tanpa batas hanya akan membunuhnya perlahan.

Kini, Maya harus memilih: tetap bertahan dalam cengkeraman keluarga mertua yang toxic demi mempertahankan rumah tangganya, atau memberanikan diri patah arah untuk melepaskan jerat belenggu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Topeng di meja makan

​Meja makan kayu jati berukir itu dipenuhi hidangan. Opor ayam buatan Maya yang tadi dicela habis-habisan oleh Bu Rika tertata rapi di dalam mangkuk porselen, disandingkan dengan makanan dari restoran mahal yang dibawa Masur dan Santi.

​Pak Hendra, ayah mertua Maya, langsung mengambil porsi terbesar tanpa memedulikan orang lain. "Masur, bisnismu gimana? Lancar?"

​"Lancar pak. Bulan ini dapet proyek baru berkat relasi dari Papa-nya Santi," jawab Masur jemawa.

​"Tuh, kan! Ibu bilang juga apa," potong Bu Rika cepat dengan mata berbinar. Tangannya tak henti-hentinya mengambilkan lauk terbaik ke piring Masur dan Santi. "Kalau menantu punya kelas, rezekinya ngalir terus. Nggak kayak yang cuma menumpang hidup!"

​Sindiran itu meluncur mulus saat Maya menyajikan nampan berisi es buah. Tangannya bergetar tipis, namun dia tetap menunduk.

​Arya yang duduk di samping Maya buru-buru memegang tangan istrinya di bawah meja. Jarinya meremas jemari Maya dengan lembut, menyampaikan rasa sayangnya. "May, kamu duduk ya... ikut makan," bisik Arya halus.

​Namun, sebelum Maya sempat menarik kursi, Bu Rika mendelik tajam. "Nanti dulu, Arya! Maya, itu piring kotor di dapur menumpuk. Sekalian sapu halaman belakang. Nanti kamu makan belakangan saja!"

​Arya panik. Dia menatap ibunya dengan raut memohon, lalu beralih menatap Maya dengan wajah serba salah. Bukannya meledak membela istri, Arya justru berbisik pelan di telinga Maya, "May... tolong turuti Ibu dulu ya, Sayang? Kasihan Ibu kalau dibantah, nanti darah tingginya kumat. Kamu kan istri yang solehah, sabar ya? Nanti Mas usap punggungmu di kamar kalau sudah selesai."

​Dada Maya terasa sesak. Sabar lagi? Turuti lagi?

​Santi yang duduk di seberang mereka tersenyum anggun, meminum tehnya tanpa berniat menyela.

​Tak lama, Bu Rika menatap Santi dengan binar penuh harap. "Oh iya, Santi... kalian kan sudah 4 tahun nikah. Gimana? Belum mau nambah anggota keluarga? Tapi ya terserah Santi sih, Ibu paham banget wanita karier zaman sekarang."

​"Iya, Bu. Santi sama Masur masih mau menikmati masa-masa berdua dulu," jawab Santi santai.

​Bu Rika mengangguk-angguk setuju, melayani ucapan itu bagai sabda. Namun, sedetik kemudian, pandangannya beralih tajam ke arah Maya.

​"Beda ya sama yang di sana," sindir Bu Rika, suaranya sengaja dikencangkan. "Sudah 3 tahun nikah, kerjaannya cuma di rumah, tapi belum kasih cucu juga. Jangan-jangan kamu yang ada masalah, Maya? Kalau tidak bisa kasih keturunan, kasihan Arya. Uangnya habis cuma buat kasih makan kamu tapi tidak ada hasilnya!"

​Deg.

​Kata-kata itu menghujam dada Maya begitu dalam.

​Padahal Santi jelas-jelas menunda anak karena keinginannya sendiri, dan Bu Rika memaklumkannya setinggi langit. Sementara Maya yang setiap malam berdoa agar diberikan buah hati, justru dihina seolah-olah dia adalah wanita tak berguna.

​Maya menatap Arya, berharap suaminya yang mengukur kasih sayang lewat usapan lembut tadi, kini bersuara tegas di depan keluarganya.

​Namun, Arya yang kepalanya dipenuhi ketakutan akan dosa durhaka hanya bisa menyenggol lengan Maya di bawah meja. Suaranya bergetar panik, lagi-lagi menyuruh istrinya yang mengalah.

​"May... udah, diam aja. Jangan dibantah. Tolong mengalah sebentar demi Mas, ya?" bisik Arya memohon tanpa memikirkan perasaan istrinya.

​Mata Maya memejam erat. Rasa hangat dari remasan tangan Arya di bawah meja tadi seketika terasa dingin dan hampa. Suaminya memang menyayanginya, tetapi cintanya dangkal, cinta penakut yang selalu mengorbankan perasaan istrinya demi predikat "anak berbakti".

​Pada detik itu, sesuatu di dalam diri Maya patah hingga tak berbekas.

​Maya menarik napas panjang, mengusap air matanya yang nyaris jatuh. Dia melepaskan genggaman tangan Arya di bawah meja dengan sengaja.

​"Saya permisi ke kamar dulu," kata Maya dengan nada suara dingin yang belum pernah didengar siapa pun di rumah itu.

​"Lho, Maya! Ibu belum selesai bicara!" seru Bu Rika.

​"May, jangan gitu sama Ibu..." bisik Arya panik sambil memegang lengan Maya.

​Maya menepis tangan Arya pelan namun tegas. Tanpa berpaling lagi, dia melangkah naik ke lantai atas, meninggalkan meja makan yang mendadak hening.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!