Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 27
Leo tidak langsung mengalihkan pandangannya dari Maya. Di dalam ruang sempit yang kini terasa begitu hangat dan personal itu, pria berpostur tegap itu menatap lurus ke dalam mata kecokelatan istrinya. Tatapan yang selama bertahun-tahun ia jaga agar tetap netral, profesional, dan berjarak, kini memancarkan kejujuran murni yang tak lagi mampu ditutupi oleh protokoler apa pun.
"Ada bagian dari hidup saya yang sengaja saya kubur dalam-dalam demi ketenangan Anda, Maya," ucap Leo dengan suara rendah yang amat mantap. Suaranya bergema halus di balik kekedapan kabin SUV taktis tersebut. "Dunia tempat saya dibesarkan adalah dunia tanpa belas kasihan, tempat informasi dan nyawa diperdagangkan tanpa rasa iba. Tapi Kakek Anda menarik saya keluar dari kegelapan itu, memberikan saya alasan baru untuk bertarung."
Maya tidak menyela. Jemari tangannya yang berada dalam genggaman Leo meremas pelan, memberikan isyarat bahwa ia mendengarkan setiap patah kata dengan keterbukaan penuh.
"Kakek Anda tahu betul serigala-serigala seperti Hendra dan Konsorsium Helios suatu saat akan menerkam," lanjut Leo. Tangannya yang kokoh mengusap punggung tangan Maya dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kepalan tangan yang baru saja melumpuhkan para peretas dan tentara sewaan di pelabuhan. "Tugas saya dari beliau sangat sederhana: menjadi bayangan yang siap menerima peluru sebelum peluru itu menyentuh cucu tunggalnya. Tapi seiring berjalannya waktu... ikrar itu bukan lagi sekadar pelunasan utang budi pada almarhum."
Maya menahan napasnya sejenak. "Lalu?"
"Lalu saya melihat bagaimana Anda bertarung," bisik Leo, matanya mengunci pandangan Maya dengan intensitas yang membuat jantung Sang CEO berdegup kencang. "Saya melihat seorang wanita yang berdiri sendirian di tengah pengkhianatan keluarganya sendiri, memikul beban puluhan ribu karyawan, namun tetap mempertahankan martabatnya tanpa sedikit pun mengeluh. Sejak saat itu, Maya... tugas melindungi Anda bukan lagi sekadar instruksi taktis, melainkan pilihan hidup saya."
Pengakuan yang meluncur jujur tanpa hiasan majas berlebihan itu menghantam lubuk hati Maya yang paling dalam. Pertahanan dingin yang selama ini ia bangun rapat-rapat sebagai pemimpin Maheswari Group meluruh sepenuhnya. Di hadapan pria ini, ia tidak perlu berpura-pura menjadi sosok tanpa cela. Pria ini telah melihat titik terlemahnya, melindunginya di masa-masa paling kritis, dan tetap berdiri di sampingnya tanpa menuntut balasan takhta atau kekayaan.
Maya mengikis jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangan kirinya, menyentuh rahang tegas Leo yang sedikit tertutup bayangan temaram lampu pelabuhan dari luar kaca. Ibu jarinya mengusap pelan pipi suaminya, meredakan sisa-sisa aura ketegangan tempur yang masih tertinggal.
"Kalau begitu, berhentilah memanggilku 'Anda' atau 'Boss' saat kita hanya berdua," kata Maya, suaranya bergetar halus oleh emosi yang membuncah, namun memancarkan kehangatan yang amat tulus. "Di luar sana, di hadapan media dan dewan komisaris, kamu boleh menjadi pengawal pribadiku yang sempurna. Tapi di sini... di dalam ruang ini dan di rumah kita... kamu adalah suamiku, Leo. Pasangan sejatiku."
Leo tertegun sejenak. Iris matanya bergetar halus menerima pernyataan dari wanita yang selama ini dihormatinya melebihi apa pun. Sebuah senyuman tulus bukan lagi senyum taktis atau senyum formality merekah sempurna di wajahnya yang tegas.
"Diterima... Maya," sahut Leo pelan, menyebut nama istrinya tanpa imbuhan formalitas untuk pertama kalinya dengan nada yang amat intim.