NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 PINDAH KE KONTRAKAN KOTA BIAR SELAMAT DARI KUTUKAN

Malam itu setelah Pak Karim bongkar rahasia Salsa adalah anak kandung Arga dan Mira yang meninggal pendarahan di rumah bocor yang sama, aku tidak bisa tidur sama sekali.

Foto USG anak perempuanku yang 16 weeks 2 days itu masih tergeletak di lantai tanah, di samping baju bayi biru 35 ribu pemberian Rendo yang cemburu kemarin. Salsa tidur di tikar peluk boneka kain sobek, nafasnya ngorok kecil. Arga tidur di bale depan rumah bocor, tidak pulang ke rumah induk, langgar syarat kedua yang aku buat: tidak boleh tidur bareng sampai anak lahir. Tapi malam ini dia harus jaga, karena Pak Karim bilang kutukan Kembang Kantil Mbah Wiryo masih ada di rumah bocor ini.

Jam 2 pagi perutku yang 4 bulan 2 minggu ini kram lagi karena lantai tanah lembab dan angin gunung masuk dari bilik bambu bolong. Aku elus-elus perut. "Anak, kamu perempuan ya, Nak. Ibu baru tahu dari USG tadi. Ibu kasih nama siapa ya nanti?"

Jam 5 pagi, belum ada adzan subuh, Arga sudah ketuk pintu bambu pelan.

"Kir, bangun Kir. Kita harus pindah hari ini juga."

Aku buka pintu, mata bengkak karena nangis semalam. Arga wajahnya juga pucat, tidak tidur semalaman jaga pakai golok dan senter.

"Pindah kemana Mas? Pagi-pagi begini?" tanyaku sambil gendong Salsa yang baru bangun, masih ngantuk.

"Ke kontrakan kota, Kir. Yang Bapak bilang dulu di pinggir Jombang kota dekat puskesmas besar. Bapak sudah telepon tadi malam jam 11, kontrakan petak 1 kamar masih kosong. Harga 400 ribu sebulan. Uang tabungan karet Bapak masih ada 2 juta, cukup buat 3 bulan pertama plus buat lahiran kamu nanti di rumah sakit besar, bukan di puskesmas. Biar tidak pendarahan seperti Mira."

Aku diam. Pindah ke kota berarti ninggalin Desa Wonorejo, ninggalin rumah bocor Mbah Wiryo yang sudah aku tempati 4 bulan, ninggalin Bu Minah, ninggalin Mbah Sarti yang baru tau nikah siri, ninggalin Rendo yang masih ganggu.

"Tapi Mas, kontrakan kota jauh, Mas. Salsa sekolahnya gimana? Aku hamil gede nanti siapa yang beliin telur? Di kota tidak ada Bu Minah yang kasih sayur lodeh tiap pagi."

Arga genggam tanganku, pertama kalinya genggam lama setelah akad siri, tangannya kasar tapi hangat.

"Kir, di kota ada puskesmas besar, ada dokter, ada USG tiap bulan gratis pakai BPJS. Di sini cuma ada Bu Bidan yang teman Bu Tati. Mira meninggal di rumah bocor ini 2 tahun lalu karena pendarahan dan kurang gizi, Kir. Bapak tidak mau kejadian itu terulang ke kamu. Kamu hamil anak perempuan, Kir. Anak kita."

Kata anak kita itu bikin aku nangis lagi. Padahal anak di perutku anak Rendo, tapi Arga bilang anak kita.

Jam 8 pagi, Pak Karim datang bawa gerobak sapi kecil, bukan motor, biar bisa bawa barang Banyak. Di gerobak ada kasur tipis, panci, kompor minyak, tikar pandan, dan koper hitamku yang isinya cuma 2 daster dan mukena sobek.

Bu Minah juga datang, bawa rantang terakhir: nasi, sayur lodeh, telur dadar 2 butir buat bekal di jalan.

"Nduk, di kota yang kuat ya Nduk. Jangan ingat Wonorejo yang jahat-jahat. Ingat yang baik-baik aja. Bu Minah doakan kamu lahiran selamat, tidak seperti Mira," kata Bu Minah sambil peluk aku lama, air matanya netes ke kerudung coklatku.

Mbah Sarti tidak datang. Kata Bu Minah, Mbah Sarti masih gengsi, tapi semalam nangis di rumah setelah dengar cerita Pak Karim kalau Salsa adalah cucu kandungnya juga dari Arga dan Mira.

Rendo juga tidak kelihatan. Kata Pak Karim, Rendo sudah dikurung di kamar sejak kemarin sore dobrak pagar bambu, tidak boleh keluar.

Jam 9 pagi gerobak sapi jalan pelan lewat pematang sawah, lewat kebun karet, lewat warung Bu Lasmi yang tutup karena Bu Lasmi ke pasar, lewat rumah Mbah Sarti yang pintunya tertutup.

Aku duduk di atas gerobak, gendong Salsa, perut 4 bulan 2 minggu, lihat Desa Wonorejo yang 4 bulan mengasingkan aku karena hamil duluan, sekarang aku tinggalkan dengan gerobak sapi.

Arga jalan di depan gerobak, tuntun sapi, capingnya miring, baju koko putih kebesaran yang dipakai waktu akad siri 5 hari lalu sudah diganti kaos oblong hitam, tapi peci hitam masih dipakai.

Perjalanan 2 jam ke pinggir Jombang kota. Jalan berlubang, gerobak goyang-goyang, Salsa muntah 1 kali karena mabuk.

Sampai di kontrakan petak jam 11 siang. Kontrakan petak cat hijau, 1 kamar, dapur kecil, kamar mandi luar, lantai sudah semen bukan tanah, atap genteng tidak bocor, ada listrik 900 watt.

Tidak angker. Tidak ada bau kemenyan. Tidak ada suara jangkrik keras. Hanya suara motor lewat dan suara anak-anak main.

Aku turun dari gerobak, lihat kontrakan. Kecil, tapi bersih. Ada kasur tipis sudah dipasang Pak Karim, ada tikar pandan baru.

"Kir, ini rumah kita untuk 6 bulan ke depan sampai anak lahir. Tidak bocor, tidak ada kutukan Mbah Wiryo, tidak ada Bu Tati ngintip jam 5 pagi. Cuma ada kita bertiga: kamu, Salsa, dan Mas," kata Arga sambil buka pintu kontrakan.

Aku masuk, taruh koper hitam di pojok. Di pojok ada foto USG anak perempuan yang tadi pagi jatuh di lantai tanah, sekarang aku tempel di dinding semen pakai lakban.

Salsa lari-lari kecil di lantai semen, senang karena tidak becek.

Sore jam 4, Arga pergi ke puskesmas besar daftar BPJS buat aku, biar USG bulan depan gratis. Aku masak air di kompor minyak, bukan tungku kayu basah yang asapnya perih.

Malam jam 7, hujan turun lagi deras, seperti di Wonorejo. Tapi atap genteng kontrakan tidak bocor sama sekali. Tidak ada suara tet... tet... tet... air jatuh ke panci. Hanya suara hujan di genteng.

Kami makan malam bertiga di dalam kontrakan, bukan pisah pintu bambu. Makan nasi, telur dadar 1 butir dibagi tiga, sayur lodeh Bu Minah yang masih anget. Salsa makan lahap, tidak takut lagi ada Rendo dobrak pagar.

Jam 9 malam, Salsa sudah tidur di kasur tipis peluk boneka kain sobek. Aku dan Arga duduk di lantai semen, lihat foto USG anak perempuan di dinding.

"Kir, terima kasih ya sudah mau pindah," kata Arga pelan.

"Terima kasih juga Mas sudah mau jadi bapak buat anak perempuan ini, meskipun anak ini bukan darah Mas," jawabku.

Arga diam lama, lalu elus perutku yang 4 bulan 2 minggu pelan, pertama kalinya elus perut setelah akad siri.

"Kir, mulai malam ini Mas tidur di dalam ya, tidak di bale luar. Bukan karena Mas mau langgar syarat, tapi karena di kontrakan ini cuma 1 kamar, tidak ada bale luar. Kita tidur pisah kasur, Mas di lantai pakai tikar, kamu sama Salsa di kasur. Boleh?"

Aku angguk. "Boleh Mas."

Malam pertama di kontrakan kota, aku tidur di kasur tipis sama Salsa, Arga tidur di lantai semen pakai tikar pandan, jarak 1 meter, masih pisah sesuai syarat kedua.

Tapi tidak ada lagi angin gunung masuk dari bilik bolong, tidak ada lantai tanah lembab bikin kram, tidak ada kutukan Kembang Kantil.

Hanya ada foto USG anak perempuan di dinding semen, baju bayi biru 35 ribu dari Rendo di dalam koper hitam, dan suara hujan di genteng yang tidak bocor.

Belum nikah KUA, masih istri siri, masih diasingkan tapi sekarang diasingkan di kota, bukan di desa.

Hamil 4 bulan 2 minggu, bawa Salsa yang ternyata anak kandung suami siri, dan bawa anak perempuan di perut yang bapak kandungnya masih ganggu.

Apakah di kontrakan kota ini aku akan selamat sampai melahirkan tanpa pendarahan seperti Mira?

Aku tidak tahu. Yang aku tahu, malam ini untuk pertama kalinya dalam 4 bulan, aku tidur tanpa taruh panci di bawah bocoran.

Dan itu cukup buat malam ini.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!