Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.
Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".
Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah
"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 : Kedatangan Vanesha Usiran Keluarga Konglomerat dan Ketulusa
Angin pagi Sidoarjo berhembus sejuk, membawa aroma jerami kering dan sisa embun yang menguap disapa matahari. Dika Pratama mengayuh sepeda ontel tuanya dengan santai menyusuri jalanan desa berbatu. Dua baskom besar berisi gorengan buatan Emak Sarni Sari tertata rapi di boncengan belakang, ditutup dengan kain serbet bersih agar tetap hangat.
Sesampainya di warung kelontong milik Bu Siti di ujung kampung, Dika segera menghentikan sepedanya dan menurunkan satu baskom.
"Pagi, Bu Siti! Ini titipan gorengan tahu isi sama lumpia buatan Emak, masih krispi dijamin bikin ketagihan," sapa Dika ramah sambil menurunkan baskom ke atas meja warung.
Bu Siti, seorang wanita paruh baya bertubuh subur, menyambutnya dengan senyuman lebar. "Wah, ditunggu-tunggu juga! Gorengan Emakmu emang paling laris di sini, Dik. Kemarin aja kurang terus," puji Bu Siti sambil menghitung jumlah gorengan yang diantar.
"Alhamdulillah kalau laris, Bu. Biar rezekinya lancar terus," jawab Dika sambil tersenyum tulus.
Setelah selesai menyerahkan gorengan dan menerima uang hasil titipan hari sebelumnya, Dika kembali melanjutkan perjalanan ke warung berikutnya. Sambil mengayuh pedal, pikirannya sempat melayang kembali ke kejadian di Alun-Alun Sidoarjo. Ucapan Vanesha yang bertekad akan datang kembali ke Sidoarjo dan siap menghadapi amarah orang tuanya terus berputar di kepala Dika.
Duh, kalau dia beneran nekat datang ke kampung ini pakai mobil sedan mewahnya, alamat jadi tontonan satu RT, batin Dika mengeluh dalam hati.
Ia tahu betul karakter warga desanya yang hobi bergosip. Jika ada mobil mewah asing masuk ke perkampungan sempit itu, dipastikan dalam waktu lima menit seluruh emak-emak komplek akan berkerumun di pinggir jalan untuk melihat siapa tamu penting yang datang.
Namun, kekhawatiran itu perlahan ditepisnya. Dika memilih fokus menjalani rutinitas sederhananya hari ini. Selepas mengantar seluruh pesanan gorengan ke warung-warung desa, ia berencana mendatangi toko pancing langganannya untuk membeli tambahan senar pancing dan kail baru, bersiap untuk siaran langsung YouTube berikutnya di sungai sore nanti.
Menjelang pukul sepuluh pagi, Dika akhirnya tiba kembali di halaman rumah panggung keluarganya. Sepeda ontel ia sandarkan di samping sumur. Begitu melangkah masuk ke ruang tengah, ia mendapati Dinda Ayu Lestari sedang asyik menonton televisi sambil mengunyah kerupuk, sementara Emak Sarni Sari sedang melipat pakaian bersih di dekatnya.
"Udah selesai ngantarnya, Mas?" tanya Dinda tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.
"Udah, nih," jawab Dika singkat sambil meletakkan baskom kosong di lantai dapur. Ia lalu mencuci muka di gentong gerabah untuk menyegarkan diri dari debu jalanan.
"Mas Dika..." panggil Emak Sarni Sari lembut sambil merapikan tumpukan daster. "Tadi siang, waktu kamu masih di jalan, ada mobil sedan hitam lewat pelan-pelan di depan rumah kita. Kayaknya bukan mobil warga sini, mewah banget."
Jantung Dika langsung berdegup kencang seketika. Gerakannya mengambil handuk kecil di dekat sumur mendadak terhenti.
Mati aku! Jangan-jangan itu... batin Dika panik setengah mati.
Darah Dika Pratama rasanya seketika berhenti mengalir mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Emak Sarni Sari. Baru saja ia hendak menarik napas lega karena mengira hari akan berjalan tenang, suara deru mesin mobil mewah yang berhenti tepat di depan halaman rumah panggung mereka langsung memecah keheningan siang itu.
Brummm...
Semua orang di dalam rumah menoleh ke arah jendela. Dinda Ayu Lestari langsung bangkit dari duduknya dengan mata berbinar-binar penuh rasa ingin tahu.
"Wah, siapa tuh, Mak? Ada mobil sultan nyasar ke rumah kita!" seru Dinda heboh, melangkah mendekati kaca jendela.
Bapak Joko Pratama yang tadinya sedang melinting kretek di beranda luar langsung menegakkan tubuhnya, memasang wajah waspada sambil menyipitkan mata menatap ke arah gerbang kayu yang terbuka.
Pintu mobil sedan hitam mengkilap itu perlahan terbuka. Sosok wanita berbalut blazer putih elegan melangkah keluar — bukan lain adalah Vanesha — yang semalam baru saja berjanji akan kembali. Namun, kedatangannya kali ini tidak sendirian. Di kursi belakang, dua orang pria berbadan tegap berjas hitam turun lebih dulu, lalu membukakan pintu bagi dua sosok paruh baya berwajah angkuh yang melangkah turun dengan napas memburu karena amarah: Papah dan Mamah Vanesha.
"Astaga..." cicit Dika pelan, lututnya mendadak terasa lemas seketika. Beneran kejadian badai besar..."
Dalam hitungan detik, Vanesha sudah berdiri di depan pintu rumah panggung itu, dikawal oleh kedua orang tuanya yang memandangi perkampungan sederhana itu dengan tatapan jijik dan merendah. Bapak Joko Pratama segera berdiri dari amben bambunya, menyambut tamu tak diundang itu dengan tangan bersedekap di dada dan wajah tenang — ketegasan seorang ayah yang tak gentar meski dihadapkan pada kekuasaan besar.
"Ada perlu apa kalian datang ke rumah rakyat jelata seperti kami?" tanya Bapak Joko Pratama tajam, suaranya tenang namun menggelegar tegas.
Sebelum Vanesha sempat membuka mulut, Mamanya langsung melangkah maju dengan nada suara tinggi penuh penghinaan.
"Kamu orang tua anak kurang ajar ini?!" maki Mamah Vanesha tajam, menunjuk ke arah Dika dengan jari telunjuk gemetar. Lihat apa yang sudah anakmu lakukan! Beraninya dia merusak masa depan putri saya dan mencuci otaknya sampai melawan keluarganya sendiri!"
"Ma, cukup Jangan bawa-bawa Dika!" sahut Vanesha membela, berdiri tegak di hadapan orang tuanya dengan napas memburu.
Papah Vanesha menatap putrinya dengan mata menyala penuh kemarahan.
"Diam kamu, Vanesha!" bentak Papah Vanesha keras. "Selama ini kami mendidikmu untuk menjadi pemimpin perusahaan besar, bukan perempuan tidak tahu malu yang mengejar-ngejar mantan pegawai rendahan bersarung!"
Ia melangkah selangkah lebih dekat, menatap tajam tepat ke manik mata putrinya sendiri.
"Kalau kamu masih bersikeras membangkang dan mendatangi pemuda kampungan ini, anggap saja hubungan keluarga kita putus hari ini juga." ucap Papah Vanesha tegas, tanpa keraguan sedikit pun.
Suasana di halaman rumah mendadak mencekam. Dinda yang melihat kejadian itu dari balik jendela langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena terkejut, sementara Emak Sarni Sari buru-buru keluar menghampiri suaminya, berdiri di samping Bapak Joko Pratama dengan tangan saling meremas cemas.
Papah Vanesha menatap putrinya dingin, tanpa ada rasa iba sedikit pun.
"Mulai detik ini, semua fasilitas ditarik!" ucap Papah Vanesha dingin. "Mobil dinas, kartu kredit, dan seluruh akses rekening ATM kamu saya bekukan! Silakan rasakan hidup sederhana bersama keluarga pemuda tidak tahu diuntung ini!"
Usai melontarkan ancaman mengerikan itu, Papah dan Mamah Vanesha langsung berbalik badan, masuk ke dalam mobil mewah mereka tanpa menoleh sekalipun, dan meninggalkan Vanesha begitu saja seorang diri di halaman rumah panggung itu.
Brummm
Mobil mewah itu melesat pergi, menyisakan debu jalanan yang perlahan mengendap kembali.
Vanesha jatuh berlutut di atas tanah halaman, kedua lututnya lemas tak bertenaga. Pertahanan diri yang selama ini ia banggakan di balik jas mahal dan jabatan tinggi runtuh seketika. Air matanya tumpah deras, membasahi pipi yang biasanya dingin dan tak tersentuh. Ia kehilangan segalanya dalam sekejap — kemewahan, status sosial, dan keluarga kandungnya sendiri.
Melihat pemandangan itu, Emak Sarni Sari yang tadinya berdiri kaku perlahan melangkah mendekat. Hati keibuannya yang lembut langsung tersentuh melihat seorang wanita yang tadinya angkuh kini menangis tersedu-sedu sendirian.
"Nduk..." panggil Emak Sarni Sari lirih, lalu berjongkok di samping Vanesha, merangkul pundak wanita itu dengan penuh kehangatan. "Sudah... jangan menangis di sini. Masuklah dulu, cuci muka. Di rumah ini tidak ada kemewahan, tapi setidaknya masih ada tempat untuk berteduh bagi orang yang sedang terluka."
Vanesha mendongak, menatap mata Emak Sarni Sari yang begitu tulus memancarkan kasih sayang — sesuatu yang sudah sangat lama tidak ia rasakan dari orang tuanya sendiri. Ia lantas memeluk Emak erat-erat, menangis sejadi-jadinya di pelukan wanita paruh baya itu, melepaskan semua beban yang selama ini dipendam sendiri.
Dika terpaku di tempatnya, menatap Vanesha dengan sejuta rasa di dadanya. Perjalanan dan perjuangan cinta yang sesungguhnya — di luar gemerlap harta dan benteng korporat — kini resmi dimulai dari lantai kayu sederhana rumah panggung Sidoarjo.
Suasana di halaman rumah panggung itu masih dipenuhi sisa-sisa ketegangan setelah mobil mewah keluarga Vanesha melesat pergi meninggalkan debu jalanan. Vanesha masih terisak pelan di dalam dekapan hangat Emak Sarni Sari, sementara Dinda Ayu Lestari berdiri terpaku di ambang pintu, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya — seorang CEO kaya raya mendadak diusir mentah-mentah oleh orang tuanya sendiri demi sebuah cinta.
Di tengah keheningan yang canggung itu, sebuah suara bariton yang mengejutkan tiba-tiba memecah udara.
Wahahahahahahaha
Bapak Joko Pratama mendadak tertawa lepas. Suara tawanya menggelegar ke seluruh sudut halaman, membuat semua orang yang ada di tempat itu langsung menoleh dengan kening berkerut penuh keheranan. Vanesha menghentikan tangisannya sejenak, mendongakkan kepala dengan mata sembab menatap Bapak dari pria yang baru saja ia perjuangkan itu.
Dika Pratama pun melotot kaget menatap ayahnya.
"Bapak kenapa malah ketawa?! Ini orang lagi kena musibah diusir dari keluarganya, Pak!" protes Dika panik.
Bapak Joko Pratama menghentikan tawanya, lalu menyedot sisa kretek Gajah Barunya dengan santai. Lelaki paruh baya itu melangkah mendekat, menatap Vanesha dari atas sampai bawah dengan sorot mata yang kini jauh lebih lunak, menyembunyikan ketulusan di balik garis-garis keriput di wajahnya.
"Wah... wah... hebat juga mentalmu, Nduk," ucap Bapak Joko Pratama sambil menggelengkan kepala pelan. "Baru kali ini Bapak lihat anak orang kaya raya yang rela kehilangan fasilitas dan dibuang keluarganya cuma gara-gara ngejar prajurit sengklek tukang bungkus gorengan."
Vanesha perlahan bangkit, dibantu oleh Emak Sarni Sari. Ia merapikan sedikit blazernya yang kotor, lalu menatap Bapak Joko Pratama dengan pandangan ragu campur takut.
"Maafkan kedatangan saya, Pak... Saya tahu keluarga saya sudah bersikap kasar," ucap Vanesha lirih, suaranya masih bergetar hebat. "Tapi saya benar-benar sudah tidak punya siapa-siapa lagi di Surabaya..."
Bapak Joko Pratama kembali tersenyum tipis, lalu menepuk-nepuk bahu Vanesha pelan — sebuah gestur langka yang menunjukkan bahwa benteng pertahanan lelaki tua itu akhirnya runtuh.
"Kamu tahu, Nduk?" kata Bapak Joko Pratama sambil menerawang jauh ke hamparan sawah di depan rumah mereka. "Dulu... puluhan tahun lalu, Emakmu si Sarni ini juga datang dari keluarga yang lumayan terpandang di desa sebelah. Bapakmu ini cuma pemuda melarat yang kerjanya cuma mancing dan nggak punya masa depan."
Emak Sarni Sari tersipu malu sambil mencubit pelan lengan suaminya. "Ih, Bapak malah cerita zaman purba!" protes Emak sambil tersenyum simpul.
"Beneran, Mak!" sahut Bapak tertawa kecil. "Waktu Bapak datengin kakekmu dulu buat ngelamar, Bapak juga diusir pakai sapu lidi sama diguyur air comberan karena dikira pengangguran nggak tahu diri. Persis kayak kejadianmu hari ini."
Vanesha tertegun. Ia menatap Emak Sarni Sari dan Bapak Joko Pratama bergantian. Ada kehangatan luar biasa yang menjalar di dadanya — sesuatu yang tidak pernah ia temukan di rumah mewahnya yang dingin di Surabaya.
"Jadi... Bapak tidak marah sama saya?" tanya Vanesha pelan, nyaris tidak percaya.
Bapak Joko Pratama memasukkan kedua tangannya ke kantong celana gombrongnya. "Marah itu kalau kamu datang bawa sombong. Tapi kalau kamu datang dengan kepala tertunduk dan siap hidup susah demi anak saya... ya mana mungkin Bapak nolak."
Mendengar kalimat itu, air mata Vanesha kembali menetes — namun kali ini bukan air mata kepedihan, melainkan air mata kelegaan yang amat sangat. Dika yang berdiri di sampingnya menghela napas panjang, merasa beban berat di pundaknya mendadak terangkat separuh.
"Nah, daripada kamu berdiri terus di halaman kayak pengamen jalanan, mending masuk dulu," ajak Emak Sarni Sari sambil merangkul pundak Vanesha dengan penuh kasih sayang. "Masuk dapur, bantu Emak bikin teh hangat. Nanti kita pikirkan langkah selanjutnya."
Dinda yang sejak tadi diam langsung nimbrung sambil nyengir lebar. "Asyik! Punya kakak ipar mantan CEO galak! Nanti aku diajarin cara marahin pegawai ya, Mbak!" canda Dinda mencairkan suasana.
Vanesha tersenyum kecil di tengah air matanya, lalu melangkah memasuki rumah panggung sederhana itu. Hari itu, di bawah atap kayu yang sederhana di Sidoarjo, babak baru perjuangan cinta mereka resmi dimulai — bukan lagi tentang kekuasaan dan jabatan di lantai sepuluh gedung pencakar langit, melainkan tentang ketulusan hidup dari nol.