Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Di dalam aula utama SMA Nusa Bangsa, suasana tidak kalah riuh dari lokasi perlombaan. Pihak sekolah sengaja menggelar acara nobar,nonton bareng melalui layar proyektor raksasa yang terpasang di atas panggung aula. Ratusan siswa dari kelas sepuluh hingga dua belas berkumpul, memadati lantai kayu aula dengan sorak-sorai yang bergema nyaring. Para guru berdiri di barisan belakang dengan dada berdebar, menyaksikan jalannya pengumuman Olimpiade Sains Tingkat Kota secara langsung melalui siaran live streaming.
Sinar proyektor membiaskan gambar definisi tinggi yang menangkap setiap sudut foyer tempat penyerahan piala diselenggarakan. Ketika sang pembawa acara mulai memegang mikrofoni dan menahan napas untuk menyebutkan nama pemenang Juara Pertama, kamera memusatkan sorotannya ke arah deretan peserta.
Di layar lebar itu, terlihat amat jelas sosok Lexa. Dengan wajah berhias senyum keangkuhan dan kepercayaan diri yang membumbung tinggi, Lexa tampak sudah mengambil ancang-ancang. Ia membusungkan dada, merapikan rok mewahnya, dan setengah bangkit dari kursi, bersiap mengibaskan rambutnya untuk melangkah maju ke atas panggung utama.Namun, tepat pada detik berikutnya, suara pembawa acara memecah ketegangan
*"...MAYA DARI SMA NUSA BANGSA!"*
Seketika itu juga, gambar di layar menangkap momen mengerikan sekaligus menggelikan bagi siapa pun yang menyaksikannya. Kamera menyorot ekspresi Lexa yang membeku seketika. Tubuhnya yang sudah terlanjur setengah berdiri mendadak kaku bagaikan patung es, sementara matanya membelalak lebar dalam rasa syok yang tak tertutupi. Di sebelahnya, Maya berdiri dengan raut wajah tak percaya sebelum akhirnya melangkah maju menyusuri karpet merah dengan derai air mata haru.Gedung aula SMA Nusa Bangsa seketika meledak oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai kebanggaan dari para siswa dan guru. Nama Maya digaungkan berulang kali. Namun, di barisan kursi bagian tengah, tiga orang siswa justru terdiam dengan wajah pucat pasi.
Aurel, Hani, dan Lana tiga pengikut setia Lexa saling pandang dengan mata membelalak panik.
"buset... itu tadi seriusan si Lexa udah kepedean berdiri duluan?!" bisik Aurel dengan suara bergetar, menatap layar proyektor dengan raut wajah tak percaya. "Malu-maluin banget, sumpah! Semua orang di aula ini ngeliat dia mau maju duluan!"
"Bentar, bentar..." Lana meremas jemarinya, kepalanya celingukan melihat siswa-siswa lain yang mulai tertawa dan berbisik-bisik menunjuk ke arah layar. "Bukannya kemarin si Lexa yakin banget dia bakal menang? Dia bilang piala itu udah pasti ada di tangannya. Kenapa malah Maya yang menang?!"
Hani menghela napas panjang, mengibaskan tangannya santai seolah sudah bisa menebak akhir dari drama ini sejak awal. Sebelum ini, mereka bertiga memang tidak pernah tahu persis apa rencana rahasia atau strategi yang disimpan Lexa. Mereka hanya mengekor dan mengiyakan setiap omong kosong sang ratu sekolah.
"Ya elah, kalian kayak nggak tahu aja gimana kemampuan akademisnya si Lexa," cetus Hani spontan dengan nada berbisik namun tajam. "Udah nggak heran kali kalau dia kalah. Dari dulu nilai ujian harian sama tugas-tugasnya kan emang pas-pasan banget. Mau gaya kayak gimana juga, otaknya emang nggak nyampe buat nyalip anak sekelas Maya. Gue dari awal udah ragu, cuma ya... males aja debat sama dia."
"Iya sih..." Lana mengangguk setuju, melipat tangannya di dada. "Tapi masalahnya bukan cuma dia kalah, Hani. Masalah utamanya adalah... besok dia balik ke sekolah!"
Aurel menelan ludah dengan susah payah. Bayangan mengerikan langsung terlintas di dalam kepalanya. "Aduh, bener banget. Kalian tahu sendiri kan kalau mood-nya Lexa hancur kayak gimana? Pasti pelampiasannya ke kita lagi! Besok kita yang bakal disuruh-suruh, dimarahin tanpa sebab, atau kena amuk senggol-bacoknya dia sepanjang hari. Mati kita besok!"
Ketiganya mengelus dada, membayangkan hari esok yang akan berubah menjadi neraka kecil bagi mereka hanya karena harus menghadapi amarah dan kekalahan sang ratu sekolah yang terluka gengsinya.Sementara itu, kembali ke tempat perlombaan di halaman gedung aula tingkat kota.Angin sore bertiup dingin, namun suasana di sekitar bangku taman terasa sepanas lahar yang siap meletup. Keheningan yang menindih menyelimuti tiga insan dari keluarga terpandang tersebut.Papa Lexa berdiri tegap di hadapan putrinya. Wajahnya yang biasa tenang dan berwibawa kini memerah padam. Pelipisnya menegang keras, dan matanya menyalang tajam, menatap Lexa yang tertunduk kaku sambil membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Pria paruh baya itu meremas kedua tangannya erat-erat, berjuang sekuat tenaga menahan amarah yang hampir saja membuat suaranya meledak di tempat umum."Lexa..." suara Papanya terdengar begitu rendah, bergetar oleh kemurkaan yang tertahan di tenggorokan. "Kamu tahu apa yang baru saja kamu katakan...?"
Lexa menyerap hawa dingin dari tatapan papanya. Ia tidak sanggup menjawab, air mata ketakutan kini benar-benar menetes membasahi tangannya."Mencuri berkas rahasia dari email kerja Papa... menyalin kunci jawaban... dan menggunakannya untuk berbuat curang di kompetisi resmi?!" Papanya maju satu langkah, menunjuk wajah Lexa dengan jari yang bergetar. "Itu tindakan kriminal, Lexa! Kamu sadar tidak apa yang sudah kamu lakukan?!"
Napas pria itu memburu liar saat membayangkan konsekuensi mengerikan dari aksi bodoh putrinya.
"Papa ini sponsor utama acara ini! Perusahaan Papa berdiri di atas nama baik, integritas, dan kepercayaan publik!" bentak Papanya dengan suara berbisik namun penuh penekanan yang menusuk. "Jika sampai ada satu orang saja yang tahu bahwa putri dari sponsor utama mencuri dokumen rahasia dan melakukan kecurangan di ajang ini... nama baik Papa bakal hancur runtuh seketika! Perusahaan Papa bisa dituntut, saham kita bisa anjlok, dan nama keluarga kita bakal jadi sampah di mata masyarakat!"
Di sampingnya, Mama Lexa terduduk lemas di tepi bangku taman. Air mata mengalir deras merusak riasan wajah mewahnya. Hatinya hancur berkeping-keping, seperti dihantam oleh beban bernilai ton-tonan. Rasa bangga yang baru saja memekar di dadanya kini berganti menjadi rasa malu dan penyesalan yang teramat dalam.
"Ya Tuhan, Lexa..." bisik mamanya di antara isak tangis yang memilukan. "Bagaimana bisa kamu punya pikiran sekeji itu, Nak? Mama sama Papa selalu kasih kamu kasih sayang, kecukupan, dan segalanya... Tapi kenapa kamu malah tumbuh jadi penipu kayak gini?"
Mamanya memegang dadanya yang terasa sesak luar biasa, menatap putrinya dengan pandangan penuh kekecewaan yang tak terobati."Mama merasa gagal..." tangis mamanya makin pecah. "Mama benar-benar merasa gagal mendidik kamu jadi manusia yang jujur! Buat apa pakaian mahal, rumah mewah, dan status sosial kita kalau ternyata anak tunggal Mama kelakuannya tidak lebih baik dari seorang penjahat?!"
Dalam puncak emosi yang meluap dan rasa kesedihan yang merobek dadanya, Mama Lexa menatap ke arah pintu gedung aula tempat di mana Maya baru saja dielu-elukan sebagai pemenang sejati. Tanpa sengaja, ucapan yang begitu menohok terlontar begitu saja dari bibir sang mama di antara isak tangisnya
"Andai saja... andai saja kamu bisa rajin, jujur, dan pintar seperti Maya... Anak penjual sayur yang selalu kamu hina itu jauh lebih terhormat dan membanggakan daripada kamu!".Kalimat mamanya bagaikan sembilu yang menyayat ulu hati Lexa. Dibandingkan secara langsung dan direndahkan di bawah nama Maya oleh mamanya sendiri adalah pukulan paling mematikan bagi keangkuhan Lexa.
Papa Lexa menghela napas berat, menatap putrinya dengan tatapan dingin tanpa sisa kasih sayang sedikit pun untuk hari itu. Kepercayaan pria itu telah hancur total. "Dengar baik-baik, Lexa," tegas Papanya dengan kata-kata yang tajam dan tak terbantahkan. "Papa tarik kembali semua kata-kata Papa tadi. Tidak ada mobil baru, tidak ada barang bermerek, dan tidak ada liburan! Mulai detik ini, seluruh fasilitas kamu Papa cabut kembali!"
Papanya mengambil kembali kunci mobil dan kartu kredit yang sempat diberikan sang mama, lalu memasukannya ke dalam saku jasnya.
"Sita ponsel mewahnya, matikan uang jajannya, dan biarkan dia merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa mengandalkan harta orang tua!" perintah Papanya kepada sang istri dengan nada dingin. "Biarkan dia belajar apa arti kejujuran dan kerja keras yang sebenarnya."
"Papa! Ma! Nggak bisa gitu dong! Ma, tolongin Lexa!" jerit Lexa histeris, mencoba menggapai tangan ibunya.
Namun, Mama Lexa hanya memalingkan wajahnya dengan linangan air mata kekecewaan, menolak memandangi putrinya lagi. Rasa sakit hati sang ibu terlalu dalam untuk diobati oleh rengekan palsu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, dengan rasa amarah, kecewa, dan malu yang mendalam terhadap anak tunggal mereka, Papa dan Mama Lexa berbalik arah. Mereka melangkah pergi menuju area parkir VIP, meninggalkan Lexa sendirian yang terduduk lemas di atas bangku taman.
Sinar matahari sore makin meredup, menyelimuti halaman gedung dalam bayang-bayang kegelapan. Di atas bangku taman yang dingin, sang ratu sekolah kini menangis meraung-raung dalam kesendirian kehilangan harta, kehilangan fasilitas, kehilangan gengsi, dan kehilangan kehormatan yang ia bangun di atas panggung kecurangannya sendiri.