NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Sore harinya, saat bel pulang berbunyi, Celin tidak langsung menuju gerbang. Ia sengaja menunggu di perpustakaan sampai sekolah sepi.

Benar saja, Reja muncul dengan wajah angkuh, bersandar di pintu perpustakaan yang hampir tertutup.

"Gimana? Siap pulang dan nunggu tamu spesial lo, si Rian, dateng ke rumah buat 'belajar'?" Reja menekankan kata belajar dengan nada mengejek.

Celin berdiri perlahan, merapikan tasnya. Ia berjalan mendekat ke arah Reja. Bukannya ketakutan, ia justru menatap Reja dengan senyum tenang—senyum yang pertama kali Reja lihat, dan itu membuatnya waspada.

"Gue baru aja telepon Papa," ucap Celin santai.

Reja mengernyit. "Maksud lo?"

"Gue bilang ke Papa kalau gue capek belajar di rumah terus. Gue bilang, gue pengen belajar mandiri di cafe milik ibu Kirei karena suasananya lebih nyaman buat persiapan olimpiade," Celin melangkah maju, membuat Reja terpaksa mundur satu langkah.

"Dan gue juga bilang... kalau lo setuju buat nganter jemput gue setiap hari ke sana. Papa seneng banget denger kita makin 'kompak'."

Wajah Reja merah padam. "Lo... lo bohongin Papa?!"

"Gue cuma kasih saran yang pasti Papa setujui," Celin menatap Reja tepat di mata. "Sekarang pilihannya ada di lo, Reja. Lo bisa larang gue kerja dan gue bakal bilang ke Papa kalau lo kasar sama gue dan maksa gue tidur di sofa tiap malam. Atau... lo biarin gue kerja, lo jemput gue tiap malam, dan gue bakal tetep jadi 'menantu idaman' di depan Papa."

Reja mencengkeram lengan Celin, namun Celin tidak meringis. Ia justru menunjukkan pergelangan tangannya yang masih terbalut kasa di bawah cardigan.

"Sakit ini nggak ada apa-apanya. Tapi kalau Papa tahu lo bikin aset berharganya berdarah-darah begini... lo tahu siapa yang bakal kehilangan fasilitas lebih dulu," bisik Celin.

Reja terdiam. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar terjepit. Celin baru saja membalikkan keadaan. Dia menggunakan kasih sayang ayahnya sebagai senjata untuk melawan Reja.

"Lo pikir lo pinter?" desis Reja, suaranya rendah dan penuh dendam.

"Gue emang pinter, Reja. Itu alasan gue dapet beasiswa," jawab Celin dingin. "Sekarang, anter gue ke cafe. Gue ada shift sore ini."

Di perjalanan menuju cafe dengan mobil yang dikemudikan sopir (atas perintah Adrian agar mereka selalu bersama), suasana di dalam mobil sangat mencekam.

Reja duduk di sudut yang paling jauh dari Celin, menatap keluar jendela dengan amarah yang mendidih.

Sesampainya di cafe, Celin turun. Reja ikut turun, bukan untuk mengantar, tapi untuk memberi peringatan terakhir.

"Inget, Celin. Lo boleh menang kali ini karena nama Papa," Reja menarik kerah cardigan Celin agar mendekat.

"Tapi jangan harap hidup lo tenang di kamar itu nanti malam. Dan soal bokap lo... kalau lo macem-macem, gue pastiin duit yang lo dapet dari nyuci piring di sini nggak bakal cukup buat bayar biaya rumah sakit dia."

Celin melepaskan tangan Reja dengan kasar. "Gue kerja buat dia. Bukan buat lo."

Celin masuk ke cafe dengan dagu tegak. Kirei menyambutnya dengan bingung melihat mobil mewah itu pergi.

"Celin? Itu tadi mobil keluarga Reja? Kenapa lo bisa bareng dia?" tanya Kirei curiga.

"Papa dia yang minta, Rei. Demi keamanan, katanya," Celin berbohong dengan lancar. "Udah, yuk kerja. Gue butuh uangnya hari ini."

Celin mulai bekerja dengan giat. Di sela-sela melayani pelanggan, ia masuk ke dapur sebentar. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada ayahnya.

[Yah, Celin kirim uang sedikit buat makan. Tolong jangan dipake judi. Celin capek, Yah.]

Tidak ada balasan. Celin menghela napas, menyimpan kembali ponselnya. Di balik senyum ramahnya kepada pelanggan, hatinya menangis.

Ia harus berpura-pura menjadi istri yang bahagia di rumah mewah, menjadi murid teladan di sekolah, dan menjadi pekerja keras di cafe.

Ia tidak tahu sampai kapan ia bisa menjaga ketiga identitas itu sebelum salah satunya meledak dan menghancurkan seluruh hidupnya.

Sementara itu, di seberang jalan, sebuah motor sport hitam terparkir di kegelapan. Reja tidak benar-benar pulang. Ia mengawasi setiap gerak-gerik Celin dari jauh, dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara benci, dendam, dan rasa penasaran yang mulai merayap liar di benaknya.

Malam itu, cafe terasa jauh lebih ramai dari biasanya, namun bagi Celin, waktu terasa berjalan sangat lambat.

Setiap kali lonceng pintu berdenting, jantungnya berdegup kencang, khawatir Reja akan masuk dan membuat keributan lagi.

Namun, hingga jam operasional berakhir, Reja tetap berada di motornya di seberang jalan, hanya mengawasi seperti predator yang menunggu mangsanya lelah.

Setelah berpamitan dengan Ibu Kirei dan menerima upah harian yang tak seberapa, Celin melangkah keluar. Udara malam yang dingin menusuk tulang, membuat luka di pergelangan tangannya kembali berdenyut perih.

Reja menyalakan mesin motornya begitu melihat Celin keluar. Ia mendekat, berhenti tepat di depan Celin, dan melempar helm dengan kasar.

"Naik," perintahnya tanpa menatap wajah Celin.

Di sepanjang perjalanan pulang, tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya deru mesin dan hembusan angin yang menemani mereka. Sesampainya di mansion, rumah sudah nampak sepi. Adrian dan Livia kemungkinan besar sudah berada di kamar mereka.

Begitu pintu kamar mereka tertutup, Reja langsung melempar jaket kulitnya ke lantai. Ia berbalik dan menatap Celin yang sedang melepas cardigan-nya dengan susah payah karena perbannya yang lengket akibat darah yang mengering.

"Hebat ya lo sekarang. Udah berani mainin nama Papa buat dapet izin kerja di tempat sampah itu," Reja mendekat, suaranya rendah namun penuh ancaman.

Celin tidak menjawab. Ia fokus membuka balutan perbannya di depan cermin. Saat perban itu terbuka, terlihat luka sayatan yang kemarin Reja tekan kini membiru dan membengkak. Darah kembali merembes pelan.

Reja yang awalnya ingin memaki, tiba-tiba terdiam saat melihat kondisi tangan Celin di bawah lampu kamar yang terang. Rasa bersalah yang sangat tipis muncul di hatinya, namun segera ia tepis dengan ego.

"Sini," Reja menyambar tangan Celin dengan paksa.

"Lepas, Reja! Mau lo apain lagi?!" Celin meronta, namun Reja justru menariknya menuju tepi tempat tidur—bukan sofa.

"Gue bilang diem!" bentak Reja. Ia mengambil kotak P3K yang tadi pagi ia lemparkan.

Dengan gerakan yang jauh lebih pelan dari biasanya—meskipun tetap terlihat kaku—Reja mulai membersihkan luka itu dengan alkohol.

Celin meringis, air mata hampir jatuh karena rasa perih yang luar biasa. Ia menatap puncak kepala Reja yang sedang fokus mengobati tangannya. "Kenapa? Takut Papa liat luka ini dan lo kena masalah?"

Reja berhenti sejenak, lalu mendongak. Matanya bertemu dengan mata Celin yang sembab. "Gue cuma nggak mau bau darah ganggu tidur gue. Kamar ini udah cukup sempit gara-gara ada lo."

Setelah selesai membalut luka itu dengan rapi, Reja tidak langsung melepaskan tangan Celin. Ia menatap jam tangan mahal yang kini sudah kembali melingkar di sana, jam yang kacanya sedikit retak.

"Besok," ucap Reja sambil melepaskan tangan Celin, "lo nggak usah naik motor sama si Kirei itu lagi. Gue yang bakal anter jemput lo sampai ke pintu cafe. Kalau gue dapet info lo ketemu cowok lain atau Rian di sana... perjanjian kita batal. Papa nggak akan tau apa-apa, tapi bokap lo bakal tau gimana rasanya tidur di jeruji besi."

Celin menarik tangannya, mengelusnya pelan. "Kenapa lo segitunya, Rej? Lo benci gue, tapi lo mau tau tiap langkah gue. Lo punya Tania, tapi lo malah sibuk ngurusin budak kayak gue."

Bersambung...

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!