NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Kehidupan Kedua: Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti / Penyesalan Keluarga
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Serena mati tersambar petir saat bermain hujan di tengah malam karena bosan, Serena berpikir dia akan ke alam baka. Siapa sangka jiwa Serena malah masuk ke tubuh seorang gadis bernama Serena juga, seorang gadis malang yang dikorbankan keluarganya sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi seorang mafia kejam untuk melunasi hutang.

Sebagai seorang pecinta dunia mafia, Serena sangat menikmati hidupnya didunia baru ini. Serena berencana akan memikat hati mafia kejam itu hingga jatuh ke pelukannya.

Bagaimana kehidupan Serena di dunia ini, apakah Serena mampu meluluhkan hati sang mafia? Ataukah Serena malah menjadi mainan mafia itu sendiri?. Stay tune!.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gagal Lagi

Pintu kamar tidur utama terbuka dan tertutup dengan bunyi debaman berat yang mengunci rapat seluruh jalan keluar. Begitu mereka tiba di dalam ruangan, Sergio tidak membuang waktu. Pria itu menurunkan Serena dari bahunya, lalu dengan gerakan tanpa ampun langsung melemparkan tubuh istrinya ke atas permukaan empuk ranjang king size.

​Sebelum Serena sempat merangkak mundur atau menyelamatkan diri, Sergio sudah menyusul naik ke atas ranjang. Dalam hitungan detik, tubuh atletis pria itu mengurung Serena sepenuhnya di bawah kukungan tubuhnya.

​Aroma maskulin khas Sergio, perpaduan antara parfum woody yang tajam, aroma tembakau mahal, dan udara dingin malam langsung menusuk tajam ke indra penciuman Serena, membuat gadis itu semakin merasa terperangkap tanpa celah.

​Serena buru-buru memalingkan wajahnya ke samping, enggan menatap manik mata biru terang suaminya yang menyala penuh dominasi.

​"Tatap mataku, Serena. Aku tidak suka diabaikan!" perintah Sergio dengan suara baritonnya yang rendah dan berat, mutlak tanpa bantahan.

​Karena Serena tetap bersikeras memalingkan wajahnya ke bantal, Sergio tidak kehabisan akal untuk memberikan ancaman maut.

​"Tatap aku, atau ancaman tiga puluh ronde tadi akan ku ubah menjadi lima puluh ronde penuh malam ini!" ancam Sergio telak.

​Mendengar angka lima puluh ronde meluncur begitu saja dari bibir suaminya, mata Serena langsung terbelalak lebar. Sontak, dalam sepersekian detik, gadis itu memutar kepalanya kembali dan menatap lurus ke dalam manik mata Sergio dengan patuh.

​"B-baik! Aku menatapmu! Jangan gila, lima puluh ronde itu namanya pembunuhan berencana, Max!" protes Serena panik, suaranya bergetar hebat.

​Di balik ekspresi datarnya, Sergio harus menahan rasa geli yang luar biasa di dalam dadanya melihat betapa pucat dan ketakutannya sang istri saat ini. Ke mana pergi mulut tajam dan lidah licin yang tadi dengan berani mencoba menggodanya lewat panggilan video kemarin? Sekarang, gadis itu tampak seperti anak kucing basah yang siap di mangsa sang predator.

​Cup!

​Tanpa aba-aba, Sergio langsung mendaratkan sebuah kecupan lembut di bibir Serena. Awalnya kecupan itu terasa ringan dan biasa saja, namun dalam hitungan detik, ciuman tersebut berubah drastis menjadi lebih menuntut dan dalam.

​Sergio melumat bibir bawah Serena dengan penuh penguasaan, menghisapnya lembut namun tegas, membuat napas gadis itu langsung tercekat.

​Di sela-sela ciuman yang memabukkan itu, Sergio menarik wajahnya sedikit, menatap lekat-lekat manik mata Serena yang mulai sayu.

​"Bibir ini... hanya boleh berciuman denganku, Serena. Tidak ada pria lain, termasuk anak buahku. Apakah kamu paham?" desis Sergio tajam tepat di depan bibir istrinya.

"Jawab, Sayang."

​Serena merasakan aliran listrik berdesir di sekujur tubuhnya mendengar panggilan sayang yang diucapkan dengan nada mengancam itu. Dengan sisa-sisa kesadaran dan kepatuhannya, ia mengangguk pelan.

​"I-Iya, Max... aku paham," jawab Serena patuh dengan suara berbisik gemetar.

​Mendengar jawaban yang memuaskan itu, Sergio kembali menundukkan kepalanya, menyatukan bibir mereka sekali lagi. Namun, kali ini ciuman itu terasa jauh berbeda. Tidak ada lagi keterburu-buruan atau amarah yang membara, ciuman itu berubah menjadi jauh lebih pelan, hangat, dan dalam, seolah menyalurkan lelah yang luar biasa.

​Perlahan tapi pasti, Serena yang tadinya kaku mulai luluh. Didorong oleh rasa lelah dan kehangatan yang mengalir, gadis itu mulai membuka bibirnya, membalas ciuman suaminya dengan ragu-ragu namun pasti.

​Beberapa menit berlalu dalam keheningan kamar yang ditemani lampu temaram, Sergio akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Pria itu menghela napas panjang, menyandarkan keningnya di kening Serena, sementara dadanya naik turun perlahan.

​"Aku sangat lelah, Serena..." bisik Sergio dengan suara baritonnya yang terdengar begitu parau dan rapuh, sebuah sisi lain dari sang pemimpin mafia yang tidak pernah diperlihatkannya kepada siapa pun.

"Biarkan aku tidur malam ini sambil memelukmu."

​Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari istrinya, Sergio merosotkan kepalanya ke bawah. Pria bertubuh tegap itu merebahkan kepalanya tepat di atas dada bidang Serena, membenamkan wajahnya di sana, melingkarkan satu tangan kokohnya melingkar di pinggang ramping sang istri, dan bersiap memejamkan mata untuk tidur.

​Serena tertegun kaku di tempatnya. Ia menunduk, menatap kepala suaminya yang bersandar tenang di dadanya. Rasanya begitu aneh, pria paling ditakuti di dunia bawah tanah kini tertidur lelap di pelukannya seperti anak kecil yang kelelahan.

​Namun, di tengah rasa iba dan kebingungan itu, satu pertanyaan konyol tiba-tiba melintas di kepala Serena. Sifat cerewet dan penasarannya mendadak kambuh begitu saja.

​"Lalu... bagaimana dengan rencana membuat anak itu? Dan ancaman lima puluh ronde tadi?" tanya Serena polos tanpa filter, menepuk pelan pundak suaminya dengan ujung jarinya.

​Mendengar pertanyaan frontal tersebut, Sergio langsung mengangkat kepalanya dari dada Serena dalam satu gerakan cepat. Pria itu menatap tajam ke arah istrinya dengan sorot mata biru terang yang kembali menyala penuh peringatan.

​"Kamu benar-benar tidak sabar ingin merasakannya, hm?" selidik Sergio dengan sebelah alis terangkat tinggi, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang berbahaya.

​Wajah Serena langsung merona merah padam hingga ke telinga. Ia buru-buru menggelengkan kepalanya panik.

"B-Bukannya begitu! Bukan itu maksudku, Max! Jangan Pede ya!" sangkal Serena histeris, melambaikan kedua tangannya di udara.

"Aku kan cuma bertanya! Soalnya tadi kan kamu sendiri yang mengancamku mau melakukan itu sampai pagi!"

​Sergio mendengus pelan, menatap wajah merona istrinya dengan tatapan yang melembut seketika, meski ia tetap mempertahankan ekspresi berwibawanya.

​"Dengar, Serena," ucap Sergio serius, kembali merebahkan tubuhnya menindih tubuh sang istri, merapatkan jarak di antara mereka.

"Rencana itu tetap berlaku, tapi tidak untuk malam ini. Tubuhmu masih butuh pemulihan, dan aku benar-benar kelelahan setelah perjalanan panjang di luar kota."

​"Lalu kapan?" kejar Serena penasaran, masih belum puas.

​Sergio menyeringai tipis, mengecup sekilas ujung hidung istrinya. "Setelah kamu lulus belajar menyelam... dan setelah kamu benar-benar mahir berciuman denganku tanpa kehabisan napas di tengah durasi panjang," bisik Sergio telak di telinga Serena.

​Mendengar syarat mustahil dan menyebalkan itu, Serena mendengus kesal. "Ih, curang banget! Mana bisa begitu?!" protesnya merajuk, mendorong dada suaminya pelan.

​"Itu aturan dari suamimu, Nyonya Ziegler," balas Sergio datar tanpa beban.

​Setelah mengucapkan kalimat itu, Sergio kembali merebahkan kepalanya dengan nyaman di atas tubuh Serena, menutup matanya rapat-rapat, dan tidak memberikan kesempatan lagi bagi istrinya untuk melayangkan protes.

​Serena hanya bisa menghela napas pasrah, menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. Pada akhirnya, di dalam dekapan hangat sang penguasa mafia yang tertidur lelap di atas tubuhnya, Serena membiarkan matanya ikut terpejam, menyerah pada kelelahan malam itu dan merelakan hari-hari damainya yang kini resmi digantikan oleh petualangan baru di sisi Sergio Maximilian Ziegler.

Bersambung...

1
Mia Camelia
sergio mah ngancem mulu🤭🤭🤭
Mia Camelia
chapter nya kurang banyak thor🤭🤭🤭🤭
It's me Ri🥕: Padahal author up 4 yang terupdate 1, baru di cek🙏
total 1 replies
Ita Putri
kasihan nasib Callum setelah ini....jangan terlalu kejam hukum Callum nya sergio
It's me Ri🥕: Kayaknya bakalan di bunbun dehh🙏😭
total 1 replies
Mia Camelia
seru banget ngliat tingkah polos serena🤭
Mia Camelia
sergio bisa lembut juga 🤭
Dessy Rinda
klo serenanya jago nela diri sm nembak keren kak thor🤭😁🙏
Dessy Rinda: siiippp
total 2 replies
Mia Camelia
mampir thor🤭
cerita nya bagus thor, pliss jangan di hapus lgi kya 2 judul yg kemarin itu ya😔🤭🤔
Dessy Rinda: semangat nulisnya kk thor,semoga di berikan ide2 cemerlang sehat2 ya kak💪👍
total 2 replies
Sumawita
saya suka dengan cerita nya bagus bangett 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!