Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.
Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
Damian pergi begitu saja dengan kepakan sayapnya yang lebar langsung melesat ke langit. Meninggalkan Cindy yang terdiam di tempat duduknya.
Tatapan Cindy turun ke putrinya Helena yang terlihat mulai gelisah. “Kamu ingin minum susu sayang?“ tanya Cindy. Mengendong putrinya untuk masuk ke dalam rumah. Mengunci seluruh pintu dan jendela sambil menunggu Damian pulang dengan pikiran cemas.
“Semoga papamu cepat pulang ya sayang…” bisik Cindy di telinga Helena, tak lupa ia memberi kecupan pada pipi gembul Helena yang putih merona.
Di sisi lain Damian membawa ratusan sosok yang ia kurung saat istrinya lahiran satu suro kemarin. Lalu tiba-tiba ia muncul di bawah singgasana sang penguasa Pangilon.
“HOHOHO AKHIRNYA KAU DATANG?“ suara menggelegar itu tak mampu membuat Damian berlutut namun pria itu hanya menunduk menyapa sebagai bentuk kesopanan.
“Ini beberapa hal yang saya janjikan.“ ujarnyam Damian mengibaskan tangan kirinya ke udara. Seketika itu juga, pusaran asap hitam pekat berbau belerang keluar dari lengan jubahnya, melepaskan untaian rantai gaib yang mengikat ratusan entitas rawa dan jin hitam yang sempat ia kurung saat malam Satu Suro kemarin. Mahluk-mahluk itu melolong pilu, menggeliat ketakutan di atas lantai batu dimensi Pangilon yang dingin, menyadari takdir mengerikan yang menanti mereka.
Sang Penguasa Pangilon mencondongkan tubuh raksasanya maju. Sepasang mata merahnya yang sebesar kobaran api menatap lapar ke arah kerumunan jiwa yang menggeliat di bawah singgasananya. Hidungnya kembali menyemburkan asap putih tebal, mengeluarkan suara dengusan puas yang menggetarkan seluruh ruangan terlarang itu.
"BAGUS, DAMIAN... KAU TETAPLAH IBLIS YANG MENEPATI JANJI DARAH," raung sang penguasa, suaranya laksana ribuan batu gunung yang berbenturan. Cakar raksasanya terangkat, menyedot seluruh energi dari ratusan mahluk persembahan itu dalam sekali tarikan napas hingga mereka musnah menjadi debu abu-abu.
Setelah menelan seluruh persembahan itu, sang penguasa menatap Damian yang masih berdiri tegap, jubah hitamnya berkibar pelan dan pedang bara apinya telah disarungkan kembali ke dalam bayangan.
"Batu Giok Sukma itu... apakah berhasil menjaga raga fana manusiamu dari hawa kematianmu yang membusuk?" tanya Sang Penguasa Pangilon dengan nada meremehkan namun sarat akan rasa ingin tahu.
Damian mendongak, menatap lurus ke arah sang penguasa dengan mata birunya yang kembali sedingin es. "Batu itu bekerja dengan sangat sempurna. Jiwa manusia istri saya kini terikat mati dengan saya tanpa perlu kehilangan kehidupan ragawinya. Bahkan, putri kami telah lahir dengan selamat."
Sang Penguasa Pangilon terkekeh hebat, sebuah tawa yang memicu badai angin hitam di dimensi tersebut. "MENGORBANKAN ENERGI DAN MELAKUKAN PERJANJIAN DARAH HANYA DEMI SEORANG WANITA MANUSIA DAN ANAK SETENGAH PERI? KAU SUDAH JATUH TERLALU DALAM, PANGERAN VAN DE BERG. KAU MEMILIH MENJADI PELINDUNG MAHLUK LEMAH."
"Lemah atau tidak, mereka adalah milik saya seutuhnya," sahut Damian tegas, suaranya mengalun penuh wibawa aristokrat yang tak tergoyahkan. "Siapa pun yang berani menyentuh mereka, bahkan jika itu adalah entitas dari dimensi ini, akan saya pastikan berakhir di ujung pedang bara saya. Urusan kita sudah selesai, Penguasa Pangilon. Jangan pernah mengusik wilayah saya lagi."
Tanpa menunggu jawaban atau izin dari sang penguasa, Damian membalikkan tubuhnya. Sayap hitam raksasanya mengepak kuat sekali, melesat membelah ruang hampa dimensi tersebut, meninggalkan dimensi kegelapan itu dalam sekejap mata untuk segera kembali ke pelukan istri dan anaknya yang tengah cemas menantinya di dunia fana.
Sosok itu terkekeh, “HAHAHAH DIA PIKIR DIA YANG PALING BERKUASA…. PANGLIMA!“
Sosok itu tertawa keras menggema di seluruh sudut dimensi. Lalu memanggil panglima nya.
Dari balik ke gelapan muncullah sosok tinggi besar hampir sama dengan Damian namun wajahnya nampak buruk berwarna hitam penuh bara api.
“Saya, penguasa Pangilon!“ sosok itu berlutut di hadapan sosok besar itu.
“HAHAHA CEGAT DAMIAN DAN HANCURKAN DIA, DIA KIRA ENTITAS TADI SUDAH CUKUP? TENTU SAJA TIDAK, AKU BUTUH DIA MENJADI BUDAKKU. JERAT DIA JIKA DIA MELAWAN HANCURKAN DIA! HAHAHAHA“
Panglima bertubuh legam itu menundukkan kepalanya yang bertanduk retak hingga nyaris menyentuh lantai batu singgasana. Kobaran bara api yang keluar dari sela-sela pori-pori kulitnya yang buruk rupa tampak bergolak liar, memancarkan hawa panas yang haus akan darah gaib.
"Sesuai kehendakmu, Yang Agung. Jiwa sombong Pangeran Van De Ver akan saya seret kembali ke hadapanmu dalam keadaan hancur," geram sang Panglima dengan suara serak yang bergetar.
"PERGILAH! JANGAN BIARKAN DIA MENYENTUH GERBANG DUNIA FANA!" raung Sang Penguasa Pangilon diiringi tawa menggelegar yang memecah keheningan dimensi hampa tersebut.
SWOSSHHHHH!
Dalam satu hentakan kaki yang memicu retakan di lantai dimensi, sang Panglima melesat bagai komet hitam berlapis api. Ia membelah ruang kabur, memotong jalur gaib yang dilalui Damian sebelum iblis aristokrat itu berhasil mencapai batas wilayah antara jagat Pangilon dan dunia manusia.
Sementara itu, Damian tengah melesat cepat dengan kepakan sayap hitam raksasanya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: wajah cemas Cindy dan kehangatan putri kecil mereka, Helena. Namun, indra gaibnya yang tajam mendadak menangkap anomali energi yang teramat masif dari arah belakang. Atmosfer di jalur lintas dimensi itu mendadak memanas, membakar kabut es penenang yang biasa menyelimutinya.
"Damian Van De Berg! Berhenti kau, budak Pangilon!" sebuah teriakan parau bergema, disusul dengan hantaman gelombang api raksasa yang mengarah tepat ke punggungnya.
Damian berputar di udara dengan tangkas, mengepakkan sayapnya untuk menciptakan tameng angin es guna menghalau hantaman tersebut. Sepasang mata birunya seketika menggelap, berkilat murka saat mendapati sesosok panglima gaib berbaju zirah kuno yang dipenuhi bara api telah mengadang jalannya.
"Berani sekali kau menghentikan langkah saya, mahluk buruk rupa," desis Damian, suaranya drop menjadi nada kematian yang absolut. Dari balik telapak tangannya, pedang mata dua berselimut bara neraka langsung termaterialisasi, memancarkan getaran haus darah.
Sang Panglima menyeringai, memamerkan deretan taringnya yang hitam. "Penguasa Pangilon belum melepaskanmu, Pangeran. Persembahan kecilmu kemarin hanya cukup untuk membuka gerbang, bukan untuk membeli kebebasanmu! Kembalilah ke singgasana dan tundukkan kepalamu, atau aku akan meremukkan sayap kebanggaanmu itu!"
"Jika Penguasamu menginginkan raga saya, biarkan dia sendiri yang datang menagihnya dengan nyawanya!" geram Damian.
Tanpa membuang kata lagi, Damian melesat maju. Pedang mata duanya terayun horizontal, menciptakan tebasan api melingkar yang langsung beradu dengan sebilah kapak besar berlumur lahar yang dikeluarkan oleh sang Panglima.
CRASHHHHH! BUMMMMM!
Benturan kedua senjata tingkat tinggi itu memicu ledakan energi yang luar biasa dahsyat, mengguncang lorong dimensi hingga retak berulang kali. Pertarungan habis-habisan pun pecah di ruang hampa yang terputus dari waktu dunia manusia.
Sang Panglima bergerak dengan keganasan murni, mengayunkan kapak besarnya bertubi-tubi dengan kekuatan penghancur bumi. Sementara Damian bertarung dengan keanggunan seorang predator kelas atas; ia menghindar secepat kilat, memanfaatkan kecepatan sayapnya untuk menusuk celah-celah zirah sang Panglima.
Crasst!
Ujung pedang Damian berhasil menggores dada sang Panglima, mengeluarkan lelehan lahar panas sebagai ganti darah.
Namun, sang Panglima bukan mahluk sembarangan. Sambil menahan rasa sakit, ia mencengkeram salah satu sayap hitam Damian dengan tangan kirinya yang membara, lalu memilinnya dengan kejam.
KRAKK!
Suara remukan tulang sayap Damian terdengar mengerikan, disusul dengan robeknya sebagian bulu-bulu hitamnya akibat terbakar bara api zirah sang Panglima.
"Arghhh!" Damian mendesis menahan perih yang teramat sangat. Amarahnya meledak sepenuhnya. Dengan sisa tenaga, ia mengayunkan pedangnya ke atas, menyabet habis sayap berapi milik sang Panglima hingga terkoyak parah dan mengeluarkan asap hitam yang pekat.
Kedua mahluk kuat itu terdorong mundur, melayang di udara dengan napas yang memburu. Darah gaib berwarna hitam keperakan menetes dari sayap Damian yang terkulai patah sebelah, sementara sang Panglima juga terengah-engah dengan tubuh penuh luka bakar dan sayap yang compang-camping akibat tebasan pedang es-api Damian.
Mereka kembali menerjang, saling hantam, mencakar, dan mengadu kekuatan sihir tingkat tinggi. Waktu seolah melar di dimensi tersebut. Pertarungan itu berlangsung teramat lama, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu tanpa ada satu pun yang benar-benar bisa menundukkan lawan. Keduanya sama-sama terluka parah, terikat dalam lingkaran pertempuran abadi yang menguras seluruh energi inti mereka.
Dua Minggu Tanpa Kabar di Dunia Fana
Di rumah kolonial tua di Yogyakarta, malam demi malam berlalu dalam keheningan yang mencekam. Hari ini tepat hampir dua minggu sejak Damian pamit melesat ke langit pekarangan belakang dan menghilang tanpa kabar sedikit pun. Tidak ada hawa dingin yang familiar di tempat tidur, tidak ada wangi kenanga mati yang menenangkan, dan tidak ada langkah kaki halus yang melayang di atas tegel dapur.
Cindy duduk di kursi teras depan, memeluk erat Helena yang kini sudah semakin besar dan aktif mengoceh. Wajah Cindy tampak begitu sayu, dengan lingkaran hitam di bawah mata cokelat terangnya yang mencerminkan rasa cemas, rindu, dan ketakutan yang mendalam.
Setiap kali angin malam berembus kencang, Cindy refleks menoleh ke arah jalan raya atau pekarangan belakang, berharap sosok jangkung berkemeja hitam dengan senyuman aristokratnya akan muncul dari balik bayang-bayang. Namun, hasilnya selalu nihil. Hanya ada kesunyian.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan tongkat kayu di ubin teras membuyarkan lamunan Cindy. Ia mendongak dan melihat Ki Renggo berjalan perlahan mendekat. Dukun tua itu tampak sudah jauh lebih sehat daripada malam Satu Suro kemarin, meskipun gurat kecemasan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
"Bagaimana keadaanmu dan si jabang bayi, nyonya?" tanya Ki Renggo lembut, mengambil tempat duduk di sofa seberang Cindy.
Cindy tersenyum getir, mencoba membetulkan posisi bedongan Helena. "Kondisi fisikku baik, Ki. Air rempah yang disiapkan Damian sebelum pergi sepertinya masih membekas di tubuhku. Helena juga pintar, tidak rewel... Tapi, Ki... Damian ke mana? Ini sudah hampir dua minggu. Dia janji pulang sebelum fajar di hari dia pergi."
Ki Renggo mengembuskan napas panjang, menatap lurus ke arah langit sore yang mulai menggelap. Ia tahu betul ke mana Damian pergi, dan ia bisa merasakan sisa-sisa getaran pertempuran dahsyat yang bocor dari sela dimensi terlarang.
"Tuan Muda Damian sedang memperjuangkan sesuatu yang besar untuk kalian, Nyonya" ucap Ki Renggo dengan suara serak yang realistis, mencoba menenangkan hati istri majikannya atau Damian tanpa harus membongkar kengerian dimensi Pangilon. "Jagat lelembut itu luas dan tidak punya jam dinding seperti dunia kita. Dua minggu bagi manusia bisa jadi hanya beberapa petikan jari bagi bangsa mereka. Jangan putus asa."
"Aku cuma takut dia terluka, Ki," bisik Cindy, air matanya perlahan menetes di pipi gembil Helena yang tengah menatap ibunya dengan sepasang mata biru pekatnya yang sangat mirip dengan Damian. "Logikaku tahu dia kuat, tapi perasaanku gak bisa tenang."
Ki Renggo mengangguk paham. Ia bangkit berdiri, lalu berjalan mengelilingi teras rumah untuk memeriksa kembali segel penambat sukma dan rajah keselamatan yang ia pasang dari jauh guna melindungi Cindy dari sisa-sisa dendam mahluk rawa.
"Jaga fokusmu sekarang, nyonya. Jaga dirimu dan Helena. Saya akan selalu datang ke sini setiap sore untuk menjaga kalian dari jauh sampai Tuan Muda kembali mengetuk pintu depan rumah ini."
Cindy mengangguk lemah, memeluk Helena semakin erat di dadanya, membiarkan keheningan sore itu membungkus penantian panjangnya di bawah lindungan tak kasat mata sang suami yang masih bertaruh nyawa di dimensi seberang.