Sebuah kecelakaan membuat Alya terbangun di Dinasti Shue, ratusan tahun sebelum zamannya, dalam tubuh Shen Yueli, seorang putri bangsawan yang telah menikah dengan Pei Chanqing, jenderal dari kediaman militer.
Sebagai mahasiswi Sastra China, Alya memang mengenal sejarah negeri itu. Namun hidup di dalamnya adalah perkara berbeda.
Terlebih, pernikahan mereka bukan karena cinta, melainkan sebuah pernikahan politik antara dua kediaman militer.
Kini Alya harus belajar menjadi pengantin dari zaman kuno, sementara sang suami sama sekali tidak berniat mencintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaDww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan Belas—Pembagian Mas Kawin
Pei Chanqing mengerjap pelan, manik gelapnya turun menatap jemari Yueli yang masih bersandar di bibirnya. Aroma teh herbal dan samar wangi tinta menguar di antara jarak mereka yang terlalu dekat. Alih-alih menepis tangan itu, sang jenderal justru menangkap pergelangan tangan Yueli dengan gerakan halus, menurunkan jemari itu perlahan tanpa melepaskan genggamannya sepenuhnya.
"Jika kau sehat, lalu untuk apa jaminan keselamatan berlapis yang kau minta?" tanya Pei Chanqing dengan suara rendah, nyaris berupa bisikan yang sarat akan rasa penasaran. "Kau meminta otonomi mutlak, jaminan perlindungan dari perubahan tabiat, hingga kompensasi kios dan emas sepuluh tael jika aku melanggar janji. Rasanya, kau sedang bersiap untuk..." Pria itu menjeda kalimatnya, "...meninggalkanku kapan pun kau mau."
Yueli mengerjap, sedikit terkejut dengan ketajaman insting pria di hadapannya. Jenderal perang ini memang tidak mudah dibohongi.
Ia menarik pelan tangannya dari genggaman Pei Chanqing, lalu tersenyum tipis—senyum yang menyembunyikan kenyataan bahwa jiwa di dalam tubuh ini memang bisa saja lenyap kembali ke dunianya kapan pun takdir menghendaki.
"Bukannya begitu, Jenderal," kilah Yueli dengan nada santai yang dibuat-buat, berusaha mengembalikan topeng tenangnya. "Di dunia yang kejam ini, bersiap untuk yang terburuk adalah satu-satunya cara agar kita tidak mati mengenaskan. Lagipula..." Yueli menunjuk gulungan kontrak yang kini sudah diberi cap basah. "...dengan kontrak ini, aku justru mengikatkan diri untuk tinggal di sisimu dan membantumu menghadapi musuh. Itu investasi jangka panjang yang bagus untuk kita berdua."
Pei Chanqing menatapnya lama, seolah sedang membaca setiap inci ekspresi wajah wanita itu. Ada misteri besar di balik sorot mata Shen Yueli, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika militer maupun intrik istana. Namun, pada akhirnya, pria itu mendengkus pelan, menerima alasan yang diberikan meski tahu masih banyak rahasia yang disembunyikan sang gadis.
"Baiklah," kata Pei Chanqing akhirnya sambil menggulung lembaran kontrak tersebut dan menyimpannya ke dalam laci kayu terkunci. "Anggap saja aku menerima alasan logismu itu. Tapi ingat, Nona Shen, di dalam kontrak ini juga tertulis bahwa kita adalah sekutu. Jangan coba-coba berjalan sendirian saat badai itu datang."
Yueli mendengus ringan, berdiri dari kursinya sembari merapikan pakaiannya. "Tentu saja, Tuan Jenderal. Karena jika aku jatuh, kau juga akan kehilangan 10 tael emas dan satu kios strategismu."
Mendengar itu, Pei Chanqing tak kuasa menahan senyum tipis di bibirnya—senyum tulus pertama yang jarang sekali ia tunjukkan pada orang lain.
"Sudah malam," ujar Pei Chanqing, melirik ke arah jendela luar yang gelap gulita. "Aku harus kembali ke kediaman sebelum para pelayan curiga."
Yueli mengangguk, mengambil nampan bekas makanan mereka, lalu berbalik melangkah menuju pintu. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, ia berhenti sejenak dan menoleh lewat balik bahunya.
"Oh, ya, Pei Gege," panggil Yueli dengan seringai kecil penuh arti. "Mulai besok, perjanjian ini resmi berlaku."
Yueli melangkah kian dekat; suara ketukan sepatunya di atas lantai kayu terdengar berirama tegas. "Pastikan kau tidak sampai salah pilih tandu pengantin. Pilihlah yang kanan, aku akan berada di sana."
Ia mendekat hingga bibirnya hampir menyentuh telinga Pei Chanqing. "Dan awasi di mana pelayan pribadiku berada untuk berjaga-jaga," bisiknya selembut kain sutra.
Pria itu kian mematung, terdiam kaku, mencoba mencerna maksud di balik peringatan rahasia Yueli. Debar jantungnya mendadak berpacu lebih cepat dari biasanya. Ia hanya mengangguk pelan.
"Baik, yang kanan."
Setelah bayangan pria itu benar-benar menghilang di balik kegelapan malam, suara langkah kaki yang terburu-buru mendadak memecah keheningan di luar paviliun.
"Nona! Tuan Besar memanggil Anda untuk segera datang ke ruang kerjanya," seru seorang pelayan wanita dengan napas tersengal-sengal.
Yueli mengangkat sebelah alisnya, merespons berita itu dengan ketenangan yang kontras. Ia mengangguk singkat, menyerahkan nampan bekas makanan kepada pelayan lain yang berdiri di dekat pintu, lalu melangkah keluar menuju ruang kerja sang ayah.
Ruangan luas itu tampak benderang, diterangi oleh deretan lentera besar dengan pencahayaan paling terang di kediaman tersebut. Di dalam sana, Xuer sudah lebih dulu berdiri menanti. Gadis itu menunduk dalam-dalam dengan kedua tangan saling bertaut gelisah di depan gaunnya.
Di balik meja utama, Tuan Shen mendongak begitu melihat kedatangan putri sulungnya. Tanpa basa-basi, pria paruh baya itu langsung membuka suara.
"Yueli, kemarilah. Ayah memanggil kalian berdua malam ini untuk membahas masalah pembagian mas kawin almarhumah ibu kalian."
Yueli tetap diam, lalu membungkuk memberikan hormat dengan anggun. "Baik, Ayah."
Begitu pembahasan resmi itu dimulai, sang kepala keluarga Shen mulai menguraikan perincian harta peninggalan almarhumah istrinya, termasuk rencana pembagian rata untuk kedua putrinya. Sembذاi mendengarkan, Yueli melirik ke arah Xuer dari ekor matanya. Tangan gadis itu tampak mengepal erat di balik lengan baju, sementara wajahnya memerah menahan rasa tidak terima. Di dalam benak Xuer yang serakah, sebagai putri bungsu ia mungkin merasa berhak mendapatkan bagian lebih, atau setidaknya tidak disamakan dengan kakaknya.
Namun, belum sempat Xuer membuka suara untuk memprotes, sang ayah sudah melanjutkan kalimatnya.
"Untuk Xuer, Ayah berniat memberikan tambahan beberapa tael perak dari bagian khusus," ujar Tuan Shen dengan nada penuh pertimbangan. "Keluarga Pei Yu terbilang kurang mapan jika dibandingkan kediaman Jenderal Pei. Jadi, Yueli... Ayah harap kamu tidak keberatan dengan keputusan ini."
Mendengar ketidakadilan terselubung yang menguntungkan sang adik, Xuer langsung mendongak, menyembunyikan seringai kemenangan tipis di balik tunduk kepalanya.
Sebaliknya, Yueli sama sekali tidak terusik. Gadis itu justru tersenyum tipis—senyum penuh sarkasme yang begitu tenang dan mematikan.
"Tentu saja Ayah, silakan berikan bagian itu pada Xuer," jawab Yueli ringan, suaranya terdengar sangat manis namun menusuk. "Lagi pula, Tuan Jenderal Pei Chanqing sudah lebih dari cukup mapan untuk menghidupiku. Aku tidak butuh tambahan harta peninggalan Ibu untuk hidup mewah di kediamannya."
Mendengar jawaban sang kakak yang begitu santai dan rela melepas haknya, Xuer sontak mendongak. Ia menoleh cepat ke arah Yueli, mengamati ekspresi wajah wanita itu yang tidak menunjukkan secuil pun rasa iri ataupun amarah.
Bagi Yueli—atau lebih tepatnya Alya yang terbiasa membaca berbagai pola manipulasi—pemandangan di hadapannya ini sudah sangat bisa ditebak. Alarm mentalnya langsung berdengung. Ah, pertunjukan utamanya akan segera dimulai.
"Baiklah kalau begitu, bagaimana denganmu, Xuer? Apakah pembagian ini sudah adil menurutmu?" tanya Tuan Shen, meluruskan pandangan kepada putri bungsunya.
Xuer segera mengalihkan tatapannya dari sang kakak, lalu menatap ayahnya dengan sorot mata yang dibuat selugu dan sesantun mungkin.
"Apa pun keputusan Ayah dan Kakak, aku menerimanya," ucap gadis itu dengan penuh penekanan di setiap kata. Suaranya terdengar manis di telinga sang ayah, namun sarat akan getaran rasa benci yang ditahan mati-matian—kebencian yang hanya bisa ditangkap oleh kepekaan tajam milik Yueli malam itu.
...----------------...
udah susah makin susah ini mah
Akhirnya terjebak ambisi sendiri
Berharap jadi selir atau gimana..
etdaaah
🤭🤭🤭🤭
🤣🤣
🤭🤭🤭
seruuu