Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Dewa Kekuatan
Lilin kecil di tangan Putri Lin Xue bergoyang tertiup angin malam, menciptakan bayangan panjang di dinding Dapur Utama. Keheningan di ruangan itu begitu pekat hingga suara detak jantung Lin Xue terdengar seperti tabuhan genderang.
Di hadapannya, Lin Chen yang baru berusia empat tahun masih berdiri dengan satu kaki telanjang agak terangkat, sementara tangan kanan mungilnya memegang pintu lemari besi padat setinggi dua meter melayang di udara.
Lin Xue mengucek matanya dengan tangan yang bebas. Ia menatap adiknya, lalu menatap pintu besi itu, lalu kembali menatap adiknya.
Otak Lin Chen, yang dulunya digunakan untuk memecahkan formasi tingkat dewa dan merancang pembantaian sekte raksasa, kini berputar dengan kecepatan cahaya hanya untuk mencari satu kebohongan yang masuk akal.
Sial, batinnya. Jika aku meletakkan pintu ini sekarang, suaranya akan membangunkan seluruh penjaga istana.
Dengan kontrol otot yang menentang logika, Lin Chen secara perlahan dan tanpa suara, meletakkan pintu besi seberat tiga ratus pon itu ke lantai batu dapur. Ia lalu menepuk-nepuk tangannya yang tidak lecet sedikit pun, menatap kakaknya dengan mata keemasan yang sengaja dibulatkan agar terlihat selugu mungkin.
"Kak Xue," suara Lin Chen terdengar kecil dan polos. "Pintunya... tadi mau jatuh menimpa roti kukus di bawah sana. Chen'er kaget, lalu Chen'er tahan biar rotinya tidak hancur."
Lin Xue berjalan mendekat bagaikan orang yang sedang bermimpi. Ia menyentuh pintu besi itu, mencoba mendorongnya dengan dua tangan. Pintu itu bahkan tidak bergeser satu milimeter pun.
Gadis remaja itu menatap adiknya dengan mulut terbuka. Ia teringat pada dongeng-dongeng yang sering diceritakan Permaisuri Lin Yue tentang pahlawan dari langit.
"Chen'er..." Lin Xue berlutut, memegang kedua pipi adiknya yang tembem. Matanya berbinar-binar dipenuhi kekaguman yang luar biasa. "Kau... apakah kau diberkati oleh Dewa Kekuatan?!"
Lin Chen mengerjap. Dewa Kekuatan? Aku bahkan pernah memotong jari Dewa Luar, pikirnya datar, namun di luar ia hanya mengangguk pelan dengan ragu-ragu. "Mungkin... Chen'er hanya lapar."
Lin Xue tertawa kecil, meskipun tangannya masih sedikit gemetar karena takjub. Ia langsung memeluk adiknya erat-erat. "Adikku ternyata seorang pahlawan kecil! Tapi, Chen'er... kau tidak boleh memberi tahu siapa pun tentang ini, ya? Bahkan Ayah atau Kak Feng."
Lin Chen memiringkan kepalanya, berpura-pura bingung. "Kenapa?"
"Kalau Ayah tahu kau sekuat ini, dia pasti akan langsung mengirimmu ke kamp militer perbatasan untuk berlatih dengan jenderal-jenderal berjanggut bau itu!" Lin Xue bergidik ngeri membayangkan adik imutnya harus tidur di tenda prajurit. "Bisa-bisa kau disuruh mengangkat meriam besi setiap hari! Ini akan jadi rahasia kita berdua. Janji kelingking?"
Lin Xue menyodorkan jari kelingkingnya.
Melihat kekhawatiran tulus dari kakaknya, seutas senyum yang benar-benar hangat terukir di wajah Lin Chen. Sang Penantang Langit mengangkat tangan mungilnya, menautkan jari kelingkingnya dengan jari Lin Xue.
"Janji," jawab Lin Chen.
Malam itu, rahasia kekuatan sang tiran kecil berhasil disembunyikan di balik tiga buah roti kukus dan dua potong daging asap yang mereka makan berdua di sudut dapur.
Keesokan paginya, matahari bersinar terik di atas lapangan latihan militer istana.
Raja Chen, yang mengenakan pakaian bela diri berbahan katun tebal, berdiri dengan dada membusung. Di depannya, Pangeran Pertama Lin Feng memegang pedang kayu dengan kuda-kuda yang kokoh. Di sebelah Lin Feng, berdiri Lin Chen yang memegang pedang kayu kecil, terlihat seperti boneka porselen di tengah medan perang.
"Bagus, Feng'er! Kuda-kudamu sudah mantap!" puji Raja Chen dengan suara menggelegar. "Hari ini, Ayah akan mengajarkan kalian Jurus Pedang Harimau Membelah Gunung! Ini adalah teknik rahasia keluarga kerajaan yang telah memenggal ratusan musuh!"
Lin Feng menatap ayahnya dengan penuh semangat. "Aku siap, Ayah!"
Raja Chen mengambil pedang kayu. Ia menarik napas dalam-dalam, otot-ototnya menonjol, lalu ia mengayunkan pedang itu ke depan dengan sebuah teriakan keras. Angin berdesir, membelah daun-daun yang gugur di udara.
Bagi mata fana, serangan itu terlihat mematikan dan luar biasa cepat.
Namun di mata keemasan Lin Chen, serangan itu... menyedihkan.
Ada tiga ratus tujuh puluh delapan celah terbuka dalam ayunan itu, batin Lin Chen sambil mendesah panjang secara internal. Kaki kirinya tidak seimbang, pernapasan Dantian-nya bocor, dan sudut tebasannya terlalu lebar. Jika dia melawan anjing peliharaan sekte kelas sembilan di Sektor Langit, dia sudah mati dalam setengah tarikan napas.
Namun, melihat ayah fana-nya menatap mereka dengan penuh harap, Lin Chen memaksakan diri untuk bertepuk tangan kecil. "Wah... hebat sekali."
"Hahaha! Tentu saja, Chen'er!" Raja Chen tertawa bangga, menepuk dada bidangnya. "Sekarang, Feng'er, coba kau berikan contoh serangan pada adikmu. Pelan-pelan saja, biarkan dia belajar menangkis!"
"Baik, Ayah!"
Lin Feng berbalik menghadap Lin Chen. Remaja itu memasang wajah serius. "Bersiaplah, Chen'er! Jurus Harimau Membelah Gunung!"
Lin Feng mengayunkan pedang kayunya dari atas ke bawah menuju pedang kayu Lin Chen. Serangannya sangat pelan, sengaja ditahan agar tidak melukai adik kesayangannya.
Masalahnya, bagi Lin Chen, mengontrol kekuatannya agar tidak menghancurkan pedang Lin Feng jauh lebih sulit daripada menahan petir. Otot-otot di lengan balitanya memiliki kepadatan setara dengan naga purba. Jika ia mengangkat pedangnya secara normal, pedang kayu Lin Feng akan hancur menjadi serbuk, dan mungkin tulang lengan kakaknya akan ikut patah.
Tarik kekuatannya. Tarik dari kekuatanmu, Lin Chen, ia mengingatkan dirinya sendiri dengan tegang.
TUK!
Kedua pedang kayu itu berbenturan pelan.
Lin Feng tiba-tiba meringis. Tangan kanannya terasa kebas, seolah ia baru saja menebas sebuah gunung baja alih-alih pedang kayu anak berusia empat tahun.
Melihat Lin Feng meringis, Lin Chen langsung sadar ia menahan pedangnya terlalu kaku. Tanpa berpikir panjang, sang mantan ahli Soul Formation itu melempar pedang kayunya sendiri ke udara, lalu sengaja menjatuhkan tubuhnya ke belakang dan mendarat di atas pantatnya.
"Aduh," ucap Lin Chen dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi, mencoba meniru suara anak kecil yang kesakitan. "Kak Feng kuat sekali. Chen'er... kalah."
Lin Feng mengerjap, rasa kebas di tangannya perlahan menghilang. Ia langsung membuang pedangnya dan berlari memeluk adiknya. "Astaga, Chen'er! Kakak terlalu keras ya?! Maaf, maaf! Pantatmu sakit? Ayo kita panggil tabib!"
"Tidak apa-apa," Lin Chen menghela napas pelan, membiarkan dirinya diangkat oleh Lin Feng. Bermain sandiwara fana ini ternyata menguras energi mentalnya lebih parah daripada melawan elit Kuil Wajah Kosong.
Raja Chen tertawa terbahak-bahak melihat interaksi kedua putranya. "Tidak apa-apa, itu namanya proses belajar seorang pria! Chen'er sudah berani mengangkat pedang saja Ayah sudah bangga!"
Dari sudut lapangan, Lin Xue yang membawa nampan minuman hanya bisa menutup mulutnya menahan tawa. Ia tahu persis adiknya sedang bersandiwara. Dewa Kekuatan kita ternyata pandai berpura-pura jatuh, batinnya geli.
Keluarga kecil itu menghabiskan pagi dengan canda tawa di bawah terik matahari.
Namun, ketenangan itu terpecah saat seorang jenderal penjaga perbatasan masuk ke lapangan latihan dengan wajah pucat pasi. Ia berlari tergesa-gesa, bahkan lupa memberikan salam formal, dan langsung berlutut di depan Raja Chen.
"Yang Mulia! Laporan Darurat dari Benteng Utara!" suara jenderal itu bergetar hebat, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Raja Chen seketika mengubah raut wajahnya menjadi serius. Ia menurunkan Lin Chen dan menatap jenderal itu. "Pemberontak lagi? Berapa jumlah pasukan mereka?"
"Bukan pasukan pemberontak, Yang Mulia..." jenderal itu menelan ludah. "Sebuah kapal kayu raksasa... melayang turun dari langit. Orang-orang di dalamnya mengenakan jubah putih, dan mereka bisa terbang tanpa sayap! Mereka menghancurkan gerbang baja Benteng Utara hanya dengan menunjuknya dari jauh!"
Mata Raja Chen membelalak. Pria perkasa yang tak pernah takut pada ribuan pasukan musuh itu kini memucat. "Makhluk dari legenda... Para Kultivator?"
Di belakang Raja Chen, Lin Feng dan Lin Xue berpelukan dengan raut ketakutan. Makhluk abadi yang bisa terbang adalah cerita horor bagi kerajaan fana.
Namun, di sela-sela jubah Lin Feng, Lin Chen berdiri diam. Mata keemasannya menyipit, menatap ke arah langit utara. Hawa dingin yang familier merayap di ujung sarafnya.
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣