"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 5 Kecelakaan beruntun di jalan tol.
Dua bulan berlalu begitu cepat. Pagi itu, Kaia dan Farida akhirnya kembali menginjakkan kaki di Indonesia.
Pintu otomatis bandara terbuka silih berganti, mengembuskan udara hangat khas Jakarta yang sangat berbeda dari sejuknya musim dingin di Melbourne.
Bandara Soekarno Hatta dipenuhi lalu lalang penumpang, sebagian mengenakan pakaian santai untuk berlibur, sebagian lain bergegas dengan setelan formal dan tas kerja di tangan.
Kaia mengenakan hoodie krem, celana jeans baggy, serta topi yang menutupi rambut bobnya. Kacamata berbingkai tipis bertengger di hidung mancungnya.
Meski tubuhnya lelah setelah penerbangan panjang, matanya berbinar mencari sosok yang dirindukan.
Di balik dinding kaca pembatas, Kiara melambaikan tangan tinggi-tinggi, sementara Hardja berdiri di sampingnya dengan senyum lebar.
"Nek, itu Kak Kiara sama Kakek!" serunya begitu melihat lambaian tangan dari balik dinding kaca.
Farida terkekeh kecil. "Iya, ayo. Kasihan mereka sudah menunggu."
Tanpa sadar langkah Kaia bertambah cepat. Dua bulan bukan waktu yang lama, tetapi cukup untuk membuatnya merindukan rumah.
Begitu tiba di hadapan sang kakak, Kaia langsung memeluknya erat. "Aku kangen banget."
Kiara tertawa kecil sambil membalas pelukan itu. "Rasanya rumah sepi banget deh kamu pergi. Nggak ada yang bisa Kakak ganggu."
"Kan Kakak sudah punya Kak Elio," goda Kaia.
"Beda," protes Kiara cepat. "Elio sering jaga di rumah sakit."
"Tapi Kakak juga sibuk ngonten, ada tim yang bantuin."
"Tetep aja beda." Kiara mencubit pelan hidung adiknya. "Mereka nggak bisa protes, marah balik kayak kamu."
Tawa mereka berpadu dengan tawa Hardja dan Farida.Di samping mereka, Hardja mengecup kening istrinya dengan penuh kasih, seperti yang selalu ia lakukan selama puluhan tahun pernikahan mereka.
"Ya ampun, Kek," protes Kiara sambil tertawa. "Baru dua minggu lalu Kakek ke Melbourne."
Hardja menggenggam tangan Farida semakin erat. "Kalian belum tahu rasanya tua dan jatuh cinta selama puluhan tahun."
"Iya deh iya..." Kebersamaan sederhana itu membuat dada Kaia menghangat.
Sebentar lagi ia akan kembali ke Melbourne untuk waktu yang jauh lebih lama.Untuk sesaat, ia berharap waktu bisa berjalan lebih pelan.
Saat mereka hendak keluar, tiga gadis menghampiri Kiara dengan wajah berbinar dan meminta foto bersama.
"Kak Kiara ya? Boleh minta foto Kak?"
Kiara tersenyum hangat. Melambaikan tangannya. "Boleh dong. Ayo sini."
Kaia hanya tersenyum kecil. Ia sudah terbiasa melihat kakaknya dikenali orang. Ia buru-buru menunduk, membetulkan topi untuk menutupi wajahnya.
Salah seorang dari mereka menatap Kaia yang sedang menunduk. "Boleh tolong fotoin kami, Kak?"
Kaia mengangkat wajah sebentar. "Tentu," jawabnya sambil menerima ponsel itu.
Ia mengarahkan kamera, mencari sudut terbaik, lalu memotret beberapa kali hingga ketiganya puas. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka pun berpamitan.
Dalam perjalanan menuju mobil, Kaia mengembuskan napas pelan. "Aku nggak kebayang kalau harus sering diminta foto begini."
Kiara merangkul pundaknya. "Nggak mau jadi influencer juga? Kamu berbakat loh Kaia. Cantik, pinter coding.Buat aja konten tentang keahlianmu itu."
Kaia cepat-cepat menggeleng. "Nggak ah. Baru ngebayangin nya aja aku udah capek duluan. Kudu bikin konten tiap hari, edit." Ia menggaruk rambutnya. "Ribet banget."
Kiara tertawa kecil."Padahal darah Mama Ivanka kuat banget di kamu, tapi kamunya nggak mau ngembangin potensi itu. Dulu Mama paling senang kalau ada kamera."
Senyum Kaia melunak.Meski hanya mengenal ibunya lewat foto dan cerita, ia selalu suka mendengar kisah tentang perempuan yang telah melahirkannya.
Menurut Kiara. Ivanka adalah ibu sambung tapi serasa seperti ibu kandung. Dia begitu menyayangi dan mensuport Kiara, mengajarkan banyak hal tentang entertainment, berani tampil dan berbicara di depan kamera.
"Mama dulu selalu bilang, kamera itu bukan untuk ditakuti, tapi untuk menyampaikan kebahagiaan." Lanjut Kiara dengan senyum yang masih terpasang di bibirnya.
Kaia menatap kakaknya sejenak, lalu tersenyum tipis. Setidaknya, lewat Kiara, ia merasa masih memiliki sedikit jejak ibunya.
"Beruntung banget, kakak ketemu sama Mama." Kalimat itu keluar ringan dari bibir Kaia namun terasa begitu sendu.
Kiara menoleh, tatapannya lembut. Ia baru tersadar kalau Kaia juga pasti merindukan sosok ibunya.
"Kamu mirip Mama, Kai."
Kiara merangkul lengan adiknya. "Cantik dan baik. Saat aku kehilangan sosok ibu. Mama Ivanka hadir memberikan tangan hangatnya untuk aku genggam."
***
Usai sarapan, Kaia kembali ke kamarnya. Ia merebahkan diri di atas ranjang, memasang earbuds, lalu tenggelam dalam lagu-lagu favoritnya.
Jemarinya lincah membalas pesan Sean yang kini menetap di Inggris. Meski ayahnya melarang, Kaia tak mampu membohongi perasaannya. Ada cinta yang sulit untuk dikubur hanya karena jarak atau larangan.
Senyumnya mengembang saat Sean mengirim foto-foto kegiatannya disertai kalimat singkat yang selalu berhasil menghangatkan hatinya.
"Aku kangen kamu."
Terlalu larut dalam percakapan itu, Kaia tak menyadari pintu kamarnya terbuka pelan dan seseorang menyelinap masuk.
Tiba-tiba sebuah kepala merebah di bantal di sampingnya. "Aku juga kangen banget sama kamu..."
Suara itu?
Kaia sontak menoleh.Matanya melebar bulat. "Kak Kia!"
Ia buru-buru mematikan layar ponsel dan menyelipkannya ke bawah bantal. Tawa Kiara langsung meledak. "Cie... ternyata masih sering chatan sama Sean ya."
"Enggak kok," sangkal Kaia terlalu cepat. Kepalanya menggeleng karena panik.
"Aku laporin ke Papa, ya?" Kiara menarik satu sudut bibirnya ke atas, jahil.
Wajah Kaia langsung pucat. Ia meraih lengan kakaknya. "Jangan, Kak. Please. Aku kan juga udah nggak pernah ketemu dia lagi. Jarak kami jauh."
Kiara terkekeh puas melihat kepanikan itu. "Tenang. Kakak nggak akan bilang sama Papa. Tapi ada syaratnya."
"Apa?" Kaia menatap kakaknya dengan pandangan penuh curiga.
"Aku pinjam mobil kamu seharian ini ya. Mau fitting baju terus abis itu ke Cafe ketemu WO."
Kaia menghela napas. "Emang mobil Kakak kemana sih? Kak Elio nggak jemput emang?"
"Elio masih ada tindakan. Nanti ketemu di cafe Deket RS.Lagian kalo pake mobil sendiri, nanti gampang dikenali orang. Kamu tahu sendiri, persiapan pernikahan kami masih dirahasiakan."
Ya... Tiga Minggu lagi, Kiara dan Elio melangsungkan pernikahan. Sementara kabar ini sengaja belum publish.
Kiara ingin memberikan kejutan pada para pengikutnya.Kata Tim kakaknya, hal ini bisa mendongkrak engagement di sosial media.
Kaia akhirnya mengangguk."Ya sudah." Namun sedetik kemudian ia menahan lengan kakaknya ketika baru teringat sesuatu. "Eh tapi mobil aku seharusnya udah waktunya service Kak. Dari kemarin mang Dadang sibuk anter jemput Kakek jadi lupa belum sempet service."
"Ah tenang kalo cuma itu." Kiara mengibaskan tangannya santai. "Nanti setelah selesai dari cafe. Kakak langsung bawa mobil butut kamu ke dealer."
"Ih itu mobil penuh kenangan ya, Kak. Udah empat tahun nemenin aku." Protes Kaia dengan wajah cemberut. "Kado ulang tahun dari Kakek."
"Iya deh iya." Kiara tersenyum lebar, mengacak rambut adiknya sebelum berlari keluar kamar.
"KAK KIA! JAHIL BANGET SEH!" Teriak Kaia sambil merapikan rambut bobnya yang berantakan.
Setelah pintu kembali tertutup, ia mendengus keras lalu melanjutkan obrolannya dengan Sean. Sambil mendengarkan lagu lagi dari earbudsnya.
Waktu berlalu tanpa terasa. Dua jam kemudian, Kaia iseng membuka media sosialnya. Ia menggulir layar santai, memberi tanda suka pada unggahan teman-teman kuliahnya.
Ada yang sudah bekerja di kantor, ada yang melanjutkan sekolah S2 seperti dirinya.Sampai sebuah siaran berita darurat membuat jemarinya berhenti.
Kecelakaan beruntun di jalan tol.
Video amatir memperlihatkan beberapa mobil yang ringsek. Mula-mula Kaia hanya menonton sekilas.
Namun detik berikutnya, darahnya seolah membeku.
Sebuah city car hitam yang sangat dikenalnya terjepit di antara kendaraan lain. Matanya menyipit, memperhatikan lebih detail.
Stiker kampus yang terpasang di pojok kaca belakang. Kemudian plat nomor mobil.
Deg!
Jantung Kaia serasa berhenti berdetak. Keringat dingin mulai muncul di telapak tangannya yang bergetar kecil.
...****************...
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *
*Terimakasih 🙏 *
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*