NovelToon NovelToon
Genius Keturunan Klan Phoenix

Genius Keturunan Klan Phoenix

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:36.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.

Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.

Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Lautan Bintang dan Konsep Ruang-Waktu

Ketiga sahabat itu kembali melesat ke angkasa, menuju pulau berikutnya. Di alam semesta mini ini, ribuan pulau melayang mengelilingi poros yang tak terlihat — beragam bentuk, beragam warna, seakan meniru rupa alam semesta yang sesungguhnya, hanya saja lebih kecil, lebih dekat, dan penuh dengan rahasia.

Tujuan mereka kali ini adalah pulau berwarna merah menyala. Permukaannya terbuat dari batu yang keras bagai baja, tandus dan gersang, tak ditemukan sehelai daun pun di sana — hanya bebatuan dengan beragam bentuk dan ukuran yang tersusun rapi namun sunyi. Mereka berjalan menyusuri permukaannya, menatap kiri dan kanan, namun tak ada tanda kehidupan.

"Sepertinya pulau ini kosong," gumam Genbu. "Kakak, mungkinkah sudah ada orang yang datang ke sini lebih dulu?"

Riu Han mengangguk pelan. "Bisa jadi. Mari kita cari tempat lain."

Mereka kembali terbang, memandangi hamparan pulau yang berputar perlahan di kejauhan. Di antara banyaknya pulau itu, satu menarik perhatian mereka — berwarna biru jernih, sepenuhnya berupa air yang memantulkan cahaya bintang. Tanpa tanah, tanpa batu, hanya lautan luas yang tak bertepi sejauh mata memandang.

Ketiganya melayang di atas permukaan air yang tenang. Belum lama mereka berada di sana, sesosok bayangan melesat ke atas.

Siut... Bur!

Ikan sebesar kambing melompat tiba-tiba, duri tajam di mulutnya menancap ke arah mereka. Mereka menghindar, dan makhluk itu kembali menyelam. Tak lama kemudian, dua ekor lagi menyerang, lalu puluhan, ratusan — bermunculan dari kedalaman air seakan bangkit dari tidur panjang.

"Binatang Hunshuan tingkat sembilan," ucap Riu Han pelan. Setara dengan Dewa Kecil. Bagi mereka, musuh-musuh ini memang lemah, namun Kristal Roh yang mereka miliki tetap berharga — energi di dalamnya puluhan kali lebih murni daripada Qi di Alam Empat Wilayah.

"Kita berbagi tugas," isyarat Riu Han. Ia bergerak ke depan, satu serangan demi satu serangan merobohkan makhluk-makhluk itu, sementara Genbu dan Bai Wing mengumpulkan Kristal Roh yang berkilauan di permukaan air. Tak butuh waktu lama hingga ratusan ikan itu mengapung diam.

Bai Wing menyerahkan semua Kristal Roh kepada Riu Han, namun ia menolaknya. "Kalian simpan saja. Meski tak cukup untuk menaikkan tingkat, ini tetap bernilai tinggi — bisa ditukar dengan apa saja. Setiap orang wajib membawa hartanya sendiri."

Mereka melanjutkan perjalanan, terbang perlahan di atas permukaan air, menatap ke kedalaman yang jernih. Mata mereka yang tajam mampu melihat ribuan meter ke bawah — di sana tumbuh tumbuhan berwarna-warni, akar yang melilit batu, dan bentuk kehidupan yang tak pernah mereka temui di dunia mana pun. Pengetahuan Riu Han tentang herbal luas, namun tak satu pun tanaman di sini yang ia kenali.

Siut... Bur!

Bayangan raksasa meloncat ke permukaan — ikan sebesar gajah, panjang tiga meter, bergigi tajam seperti hiu purba. Tingkat sepuluh awal, setara Dewa Kecil tingkat akhir.

"Kali ini aku yang menangkapnya," ucap Genbu. Ia melesat ke bawah, mencengkeram makhluk itu, lalu melemparkannya ke arah Bai Wing. Cakar tajam sang harimau menyambar, membelah tubuh makhluk itu bersih. Genbu mengambil Kristal Roh-nya, dan mereka kembali melayang.

Di kejauhan, dua sosok terlihat berhenti melayang. Mereka juga sedang memanen, lautan di bawah mereka penuh dengan ikan yang mengapung. Saat merasakan kedatangan Riu Han dan kawan-kawan, keduanya menoleh. Tersenyum — namun senyum itu tak sampai ke mata.

Dua pria paruh baya menghadang jalan mereka. Satu berpakaian merah menyala, yang lain hijau pekat. Aura mereka kuat — Dewa Besar tingkat sembilan, setingkat di atas Dewa Menengah. Mereka adalah kultivator mandiri, yang hidup di luar aturan klan besar — dan kerap kali itulah yang berbahaya.

"Hahahaha... Tiga anak muda yang rupawan," tawa pria berbaju merah, suaranya serak dan kasar. "Tak peduli dari mana kalian berasal atau siapa leluhur kalian, di sini hukum itu sederhana — siapa yang kuat, dialah yang berhak."

Riu Han memberi hormat dengan sopan. "Tuan, kami hanyalah pemula yang sedang berkelana. Janganlah dibuat repot."

"Tenang saja," pria berbaju hijau menyela. "Serahkan saja Cincin Ruang kalian, dan kalian boleh pergi tanpa luka."

"Kakak, kau terlalu baik," bisik Bai Wing pelan. Genbu mengangguk setuju. Mereka memahami sifat sahabatnya — Riu Han selalu menghindari pertumpahan darah, seakan ia memikul beban kelembutan yang diwarisi dari ayahnya. Di dunia yang kejam ini, ia justru tampak seperti pembawa kedamaian, bukan pembawa maut.

Bai Wing melangkah maju. "Cincin ini milik kami. Jika Anda menginginkannya, datanglah dan ambil sendiri."

"Benar," tambah Genbu sambil mengepalkan tangan. "Mari coba."

Pria berbaju merah tertawa keras. "Anak muda memang selalu berapi-api. Semoga tenaga kalian sebesar mulut kalian!"

Ia melesat ke depan secepat kilat. Riu Han dan kawan-kawan menghindar dengan mudah. Keduanya terperangah — serangan yang seharusnya tak terelakkan ternyata hanya menangkap angin.

"Jadi kalian punya sedikit bakat," geram pria itu. Ia menyerang lagi, lebih cepat, lebih ganas — namun kembali gagal menyentuh mereka. Wajahnya memerah menahan amarah.

Pertarungan pun meletus. Genbu menahan serangan pria berbaju merah, tubuhnya gemetar menahan kekuatan yang jauh lebih besar. Bai Wing menyambar dari samping, cakarnya menyambar tajam, namun ditepis hingga terpental. Keduanya bertarung bergantian, saling melindungi, menyusup ke celah pertahanan lawan — namun perbedaan kekuatan terlalu nyata. Dewa Besar tingkat sembilan memiliki cadangan energi berkali-kali lipat lebih besar dari mereka.

Sementara itu, pria berbaju hijau hendak membantu temannya. Riu Han melesat menghadangnya.

"Jangan ganggu mereka," ucapnya tenang.

Pria itu menyeringai dan memukul. Riu Han menepis, namun tubuhnya terpental puluhan meter. Ia mengeratkan gigi. Sangat kuat, batinnya. Ia kembali melesat, bertarung dengan tangan kosong, menangkis, menghindar, membalas — namun setiap kali benturan terjadi, ia terdorong mundur. Kekuatan mentah mereka belum sebanding. Hanya kecepatan yang menyelamatkannya.

Jika mengandalkan tenaga semata, ia tak akan menang.

Riu Han mengubah caranya. Ia mulai bergerak tak terduga, melesat ke sana kemari, menghilang dan muncul kembali — lalu sesuatu berubah. Saat lawan mengulurkan tangan hendak mencengkeramnya, ia justru merasakan kepalanya terlepas dari tubuhnya. Tanpa rasa sakit, tanpa darah — seakan kepala itu berada di tempat yang berbeda, di waktu yang berbeda. Pria itu melihat tubuhnya sendiri berdiri tanpa kepala, lalu melihat kepalanya ada di tangan Riu Han. Matanya membelalak, lalu kegelapan datang.

Riu Han berdiri diam, merenungi apa yang baru saja terjadi. Ia tak sekadar memindahkan ruang — ia memisahkan ruang dan waktu. Kepala dan tubuh berada di tempat yang sama, namun terpisah oleh jeda waktu yang tak terlihat. Dua momen yang berbeda bertemu di saat yang sama. Konsep ruang dan waktu bukanlah hal yang terpisah — mereka menyatu, menjadi satu kesatuan yang utuh.

Pemahaman itu mengalir deras di benaknya. Penguasaan gerakannya meloncat naik — dari sekadar menghindar, kini ia seakan hadir di mana-mana sekaligus. Melompat puluhan, ratusan, bahkan ribuan meter dalam sekejap. Teknik gerakannya mencapai tingkat baru — kesempurnaan kecil.

"Hahahaha... Luar biasa!" gumamnya pelan.

Ia kembali ke pertarungan. Pria berbaju merah melihat temannya tewas, dan sebelum ia sempat berteriak, Riu Han sudah berada di hadapannya. Dengan satu gerakan yang tak dapat diikuti mata, makhluk itu pun jatuh ke lautan untuk terakhir kalinya.

Genbu dan Bai Wing terengah, menatap kagum.

"Kakak, kau hebat sekali," puji Bai Wing. "Kami berdua kesulitan, namun kau menyelesaikannya sendirian."

Riu Han tersenyum. "Energi kami tak jauh berbeda. Aku hanya beruntung memahami sesuatu yang baru saja terbuka di benakku." Ia mengambil Cincin Ruang milik kedua pria itu. "Ayo kita lanjutkan. Di tempat ini, setiap pertarungan mengajarkan kita hal yang tak diduga."

Mereka kembali melayang di atas lautan biru, membawa pemahaman baru, kekuatan yang tumbuh, dan keyakinan yang makin teguh — perjalanan mereka baru saja memasuki babak yang lebih dalam.

1
Bg Byl
Cerita yang cukup menarik dg alur cerita yg lambat tapi cukup detail untuk dapat dinikmati. Tetap semangat Thor, sehat selalu & terima kasih. ❤️
Edu Juan
lama kuat mc nya
Adek Darmansyah
Gass truss thorr
Adek Darmansyah
mantap alur ceritanya, walaupun ada sedikit kosakata yg terlalu kekinian,👍👍
Adek Darmansyah
Gas truss thorr
Iwan Duan
lanjooooooot
M Amir
lanjuuuttt Q tunggu
☯️꧁༒⫷Loͥngͣ ͫTian ⫸༒꧂☯️
ceritanya jadi berubah ya, yin lin jadi rui lin, yang tadinya saudara angkat jadi kakak beradik 😄😄😄
jhoni
keren jalan cerita , berbudil luhur tapi ga naif
jhoni
pasti niru jurus son goku neh, kamehame ya thor😜
M Amir
lanjuuuttt👍👍👍🙏🙏
Prima Saputra
Seru banget ni cerita mudah2an ngga putusditengah jalan.
M Amir
lanjuuuutttt👍👍👍
M Amir
lanjuuut
M Amir
up yg banyak tor👍👍👍
GeBe AW
bagus, saya selalu mengikutinya,
M Amir
seharusnya novel ini menjadi yg no 2 setelah bo cang
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Lanjut Up Thor
༄𝐇⃟⃝ᵧꕥ ⍟Mᷤbᷡah_Atta࿐
Tetap semangat Thor 💪💪
M Amir
lanjuuuttt👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!