Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.
Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.
Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. MISTERIUS
Pintu mobil sport mewah itu terbuka, namun senyum cerah di wajah Vellora seketika luntur. Alih-alih mendapati sosok sang kakak yang biasanya menunggunya di balik kemudi, ia justru melihat pria berbadan besar lain yang duduk di sana.
"Loh? Kok Kak Bara yang jemput? Kak Leo ke mana?" rajuk Vellora dengan dahi berkerut, menahan pintu mobil agar tetap terbuka.
"Tuan Muda sedang ada urusan mendesak, jadi dia menyuruhku menjemputmu hari ini," jawab Bara dengan nada setenang mungkin.
Vellora mendengus kasar. "Palingan juga dia berbohong! Dia tidak benar-benar sibuk, kan, Kak?" tukas Vellora jengkel. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke kursi penumpang dan membanting pintu mobil dengan keras.
"Tidak kok, Kakak tidak bohong. Tuan Muda memang sedang sangat sibuk di luar," elak Bara, mencoba mempertahankan alibi.
"Alah, Kak Bara tidak usah repot-repot menutupi kebohongan Kak Leo. Aku ini bukan anak kecil berumur lima tahun lagi yang bisa kalian bohongi mentah-mentah!" sembur Vellora, melipat tangannya di dada sambil membuang muka menatap ke luar jendela. "Ya sudah, jalan. Aku mau pulang."
Bara hanya bisa tersenyum tipis melihat tingkah gadis yang sudah beranjak dewasa itu. "Baiklah, Nona Kecil," gumam Bara. Ia menginjak pedal gas, melajukan mobil membelah jalanan sore. Meski bersikap tenang, Bara tahu betul bahwa Leo saat ini sedang berada di sarang bahaya—mengorek informasi demi menuntaskan dendam berdarah yang membelenggunya belasan tahun.
Di sudut kota yang kelam, dentuman musik EDM yang memekakkan telinga menghentak-hentak di dalam sebuah bar bawah tanah. Asap rokok dan bau alkohol bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer yang menyesakkan. Di sudut ruangan VIP yang remang-remang, Leo duduk bersandar dengan tatapan setajam belati. Ia sedang memancing informasi krusial, karena pria bertopeng elang yang membantai keluarganya dikabarkan sering keluar masuk tempat kotor ini.
Seorang wanita penghibur dengan riasan tebal duduk bergelayut manja di pangkuan Leo.
"Jadi, bagaimana kalau kau memberitahuku sekarang... siapa sebenarnya pria misterius bertopeng elang itu?" bisik Leo dingin. Tangannya dengan kasar menarik pinggang wanita itu, mencengkeramnya kuat hingga tubuh mereka menempel.
Wanita itu tersenyum menggoda, mencoba menutupi rasa gugupnya berhadapan dengan aura mematikan Leo. "Tentu saja aku bisa memberitahumu siapa dia... asalkan, kau bersedia membayarku jauh lebih mahal dari ini," bisiknya serak.
"Berapa saja. Sebutkan angkanya," desis Leo, menatap manik mata wanita itu dengan kilat membunuh.
"Uhhh, aku suka sekali tatapan liarmu, Tuan..." goda wanita itu.
Namun, sebelum bibir bergincu merah itu sempat menyebutkan satu nama, sebuah desingan mematikan membelah udara. SYUT!
Tubuh wanita penghibur itu tiba-tiba menegang hebat. Matanya melotot lebar menatap kosong ke udara, sementara tubuhnya mendadak kaku seperti patung es.
"Kenapa kau diam?" tegur Leo, keningnya berkerut. Ia mengguncang bahu sang wanita.
Seketika, tubuh lemas itu merosot dari pangkuannya dan ambruk ke karpet tebal. Tepat di pangkal leher wanita itu, tertancap sebuah peluru jarum kecil berlumur racun mematikan. Wanita itu tewas dalam hitungan detik tanpa sempat menjerit.
"Sialan!" umpat Leo, darahnya mendidih.
Ia langsung bangkit dan berteriak memanggil para pengawalnya yang berjaga di luar. "Periksa rekaman CCTV sekarang juga!"
Dalam hitungan menit, layar monitor keamanan menampilkan siluet seorang pria berpakaian serba hitam. Pria misterius itu menembakkan peluru beracun dari sudut gelap lorong, lalu melompat kabur menembus pintu belakang. Sang pembunuh telah membungkam saksi kunci Leo selamanya.
Kematian mendadak di ruang VIP itu memicu kepanikan. Pemilik bar berlari masuk dengan wajah pucat pasi, berniat menyalahkan Leo. Namun, sebelum pria itu sempat berteriak, Leo merogoh saku jasnya dan melemparkan segepok tebal uang ratusan ribu tepat ke wajah si pemilik bar. Lembaran uang itu berhamburan jatuh menutupi mayat di lantai.
"Tutup mulutmu rapat-rapat. Urus mayat ini, dan jangan pernah sebarkan apa yang terjadi hari ini. Atau kau yang akan menyusulnya ke neraka!" ancam Leo dengan suara bariton yang menggema penuh teror.
Melihat tumpukan uang yang jauh melebihi harga tutup mulut, pemilik bar itu langsung mengangguk gemetar dan mengiyakan tanpa berani menatap mata Leo.
Tanpa membuang detik yang berharga, Leo merangsek keluar. "Cari bajingan itu! Sisir seluruh jalanan dan gang di sekitar bar ini! Cepat!" raungnya.
Para pengawal berpencar menembus kelamnya malam. Leo sendiri melompat ke dalam mobilnya, menyapu setiap sudut jalanan yang remang dengan amarah yang meledak-ledak. Namun, setelah puluhan menit pencarian yang sia-sia, pria berpakaian hitam itu lenyap tak berbekas bagaikan hantu.
"Sialan! Bagaimana bisa dia lari secepat kilat?!" raungnya frustrasi. Napasnya memburu, dadanya sesak oleh kekecewaan.
Dengan rahang mengeras, Leo meraih radio komunikasinya. "Putar balik. Kita kembali pulang," perintahnya dingin. Harapannya untuk menemukan sang pembantai keluarga kembali menemui jalan buntu di tengah malam yang mencekam.