NovelToon NovelToon
Cuma Modal Cerita

Cuma Modal Cerita

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Solo Leveling / Menjadi NPC / Tamat
Popularitas:497
Nilai: 5
Nama Author: jiejie_IYAYA'S

Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.

Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.

"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.

(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)

Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kewirausahaan Jualan Makanan

Suasana kelas di SMK kami selalu hidup, terutama jika sudah menyangkut mata pelajaran Kewirausahaan. Bagi sebagian orang, tugas kewirausahaan mungkin terasa membebani, tetapi bagi kami, ini adalah panggung kecil untuk belajar menjadi pengusaha sungguhan. Kelompok kami beranggotakan tujuh orang: lima perempuan, termasuk aku, dan dua orang laki-laki. Di antara celotehan dan tawa yang meramaikan diskusi, nurul, ditunjuk untuk memimpin ide jualan kami kali ini.

Setelah berdiskusi panjang lebar di sela-sela jam istirahat, tercetuslah sebuah ide makanan yang menurut kami sangat ramah kantong pelajar: Bola-Bola Mie Tahu. Bayangan kami saat itu sangat sederhana namun menggiurkan. Tahu putih yang dihancurkan, dicampur adonan rempah, lalu dibalur gulungan mie renyah sebelum digoreng hingga keemasan. Kami membayangkan betapa renyahnya mie di luar dan lembutnya tahu di dalam saat digigit para pembeli. Tanpa ragu, kami menyusun resep dan menghitung estimasi biaya produksi.

Sore harinya, begitu bel pulang sekolah berdentang, rencana langsung kami eksekusi. Kami mengumpulkan uang patungan dari ketujuh anggota kelompok, lalu berjalan bersama menuju pasar tradisional terdekat untuk membeli bahan-bahan utama: beberapa kotak tahu putih, beberapa bungkus mie instan, telur, bumbu dapur, dan minyak goreng. Dua teman laki-laki di kelompok kami sangat sigap membawa kantong belanjaan yang lumayan berat, sementara kami para perempuan sibuk mencatat pengeluaran agar tidak ada uang patungan yang terbuang sia-sia.

Sore itu juga, kami berkumpul di salah satu rumah teman untuk mengolah adonan. Jam pelajaran Kewirausahaan besok sebenarnya berada di jam siang, tepat setelah istirahat kedua. Namun, karena tidak ingin terburu-buru di pagi hari, kami memutuskan untuk memadatkan adonan dan membentuknya menjadi bola-bola mie tahu malam ini juga. Proses pembuatannya seru sekali. Ada yang bertugas meremas mie, menghancurkan tahu, membentuk bola-bola, hingga mengemasnya ke dalam wadah tertutup. Gelak tawa dan candaan mengiringi setiap prosesnya hingga adonan berbentuk bulat-bulat rapi siap untuk dimasak besok. Setelah semuanya selesai, kami pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan puas dan yakin bahwa produk kami besok akan lulus penilaian dengan nilai sempurna.

Keesokan harinya, rutinitas anak SMK yang padat dimulai. Sebagai anak SMK yang pulang sore, kami sudah harus menginjakkan kaki di sekolah sejak pukul enam pagi. Rasanya energiku sudah banyak terkuras sebelum jam pelajaran siang dimulai. Namun, semangat kami kembali membara ketika bel istirahat pertama berbunyi. Rencana kami adalah menggoreng bola-bola mie tahu di kantin sekolah agar saat disajikan nanti kondisinya masih hangat dan renyah. Sekolah kami memiliki fasilitas kantin yang cukup luas dengan tiga area berbeda, jadi kami bisa meminjam kompor di salah satu lapak ibu kantin yang sudah kami kenal dekat.

Hanya beberapa orang dari kelompok kami yang turun ke kantin untuk mengeksekusi penggorengan, termasuk aku dan dua teman laki-laki yang membantu membawa peralatan masaknya. Aroma minyak panas dan adonan yang mulai berubah kecokelatan memenuhi sudut kantin. Setelah selesai menggoreng semua adonan, kami beristirahat sejenak sambil memesan makanan kantin karena perut kami sudah keroncong. Bola-bola mie tahu yang sudah matang ditata rapi di atas piring saji, siap menunggu giliran dinilai oleh guru Kewirausahaan di jam istirahat kedua nanti.

Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Jam istirahat kedua berbunyi, menandakan sebentar lagi giliran kelompok kami maju untuk mempresentasikan dan menyajikan produk jualan kami. Sebelum membawanya ke hadapan guru, aku dan teman-teman memutuskan untuk melakukan food testing terlebih dahulu. Kami ingin memastikan rasanya pas sebelum dinilai. Aku mengambil satu bola mie tahu yang paling renyah, lalu menggigitnya perlahan.

Seketika itu juga, dahi kami semua berkerut. Ada rasa asam yang cukup menyengat menembus gurihnya balutan mie dan rempah. Rasa asam yang tidak seharusnya ada pada adonan gurih. Kami saling pandang dalam keheningan yang mendadak canggung. Tahu putih yang kami olah kemarin sore rupanya mengalami fermentasi singkat karena dibiarkan mengendap semalaman dalam kondisi basah sebelum digoreng. Kami baru menyadari kesalahan fatal dalam ilmu pengolahan bahan pangan: tahu putih segar yang sudah diolah seharusnya langsung digoreng hari itu juga, bukannya disimpan hingga keesokan harinya.

Rasa asam itu benar-benar merusak seluruh cita rasa adonan yang sudah kami buat dengan penuh kerja keras.

Kepanikan kecil sempat melanda kelompok kami. Waktu penilaian sudah di depan mata dan kami tidak mungkin menyajikan makanan bertekstur asam ini kepada guru, apalagi menjualnya kepada teman-teman seangkatan. Rasa kecewa tentu ada, mengingat kami sudah mengeluarkan modal uang patungan dan tenaga sejak kemarin sore. Namun, menyalahkan keadaan juga tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai kelompok yang solid, kami harus mengambil keputusan cepat.

Setelah berdiskusi singkat di lorong kelas, kami bertujuh sepakat untuk merelakan modal bola-bola mie tahu yang gagal tersebut. Kami tidak boleh patah semangat. Evaluasi singkat langsung kami lakukan di tempat, lalu keputusan besar diambil: kami akan mengganti menu jualan kami sepenuhnya.

Pilihan baru kami jatuh pada Risol Mayo dan Risol Ayam. Isian mayo, telur, sosis, serta olahan daging ayam cincang dinilai jauh lebih aman, tahan lama, dan tentunya sangat disukai oleh anak-anak sekolah. Menu ini tidak menggunakan bahan yang mudah basi seperti tahu segar, sehingga risiko kegagalan serupa bisa diminimalisir.

Meskipun harus merencanakan ulang resep, memutar otak untuk modal tambahan, dan menyusun ulang strategi pemasaran dari awal, kegagalan bola-bola mie tahu ini justru menjadi pelajaran paling berharga bagi kelompok kami. Dari piring tahu asam itu, kami belajar tentang ketahanan bahan makanan, pentingnya manajemen waktu, dan kepemimpinan dalam mengatasi krisis.

Namun, kisah kewirausahaan kelompok kami tidak berhenti sampai di sini. Keputusan mengganti menu menjadi Risol Mayo ternyata menjadi awal mula dari babak baru yang tidak kalah seru. Ada kisah unik di balik bagaimana menu baru ini pada akhirnya menginspirasi nama akun Roblox kesayanganku, Risol Mayosha, serta alur tak terduga yang menyertainya di kemudian hari. Kisah lengkap perjuangan Risol Mayosha itu tentu akan menjadi cerita menarik tersendiri yang siap dibagikan di lain kesempatan.

1
Araara
seru abis
Araara
semangat ya kakak jangan pantang menyerahnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!