NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Menjaga Jarak

Radhika akhirnya berhenti berbohong kepada dirinya sendiri.

Jantung yang berantakan saat Naila memeluknya, tatapan yang terus jatuh ke bibir gadis itu, kecemburuan pada Gilang, dan keinginan menjadi satu-satunya Mas bukan lagi rasa sayang seorang kakak.

Ia menginginkan lebih.

Pengakuan itu terasa salah, bukan karena mereka memiliki darah atau hubungan hukum. Mereka tidak memilikinya. Yang membuatnya takut adalah Naila baru memulihkan ingatan, baru menemukan kembali tempat aman, dan percaya kepadanya sebagai Mas. Jika Radhika salah melangkah, ia bisa menghancurkan rasa aman itu.

Di sisi lain ada perjodohan yang dibawa Eyang.

Satu-satunya pilihan masuk akal adalah menjaga jarak.

Ia menyusun aturan untuk dirinya sendiri. Tidak lagi membiarkan pelukan berlangsung terlalu lama. Tidak menyentuh kepala Naila tanpa alasan. Tidak menuruti setiap permintaan hanya karena gadis itu mengerutkan hidung. Ia tetap akan menjaga keselamatan dan memenuhi janji, tetapi harus berhenti membuat Naila bergantung pada perhatian yang kelak mungkin tidak sanggup ia berikan dengan nama seorang kakak.

Rencana itu terlihat sederhana saat ditulis dalam kepala. Kehadiran Naila selalu membuatnya berantakan.

Jumat sore, ia menunggu di bawah pohon rindang dekat gerbang UI. Naila datang mengenakan mantel tipis warna krem dengan ikat pinggang. Rambutnya dibiarkan tergerai, dan gelang batu merah terlihat di pergelangan.

"Maaas!"

Ia langsung mengaitkan tangan pada lengan Radhika.

"Jangan begini," kata Radhika. "Teman-temanmu lihat. Nanti salah paham."

Naila malah merapatkan kaitannya. "Biar salah paham. Biar mereka berhenti kasih bunga dan permen."

"Kamu bisa menolak tanpa memakai Mas."

"Tapi cara ini lebih cepat."

"Kalau orang mengira kita pacaran, kamu yang repot."

"Kenapa repot?"

"Nanti nggak ada yang berani mendekatimu."

"Bagus. Mas juga yang bilang aku belum boleh pacaran sebelum dua puluh."

Radhika kehabisan bantahan. Aturan yang ia buat untuk menjauh justru digunakan Naila sebagai alasan menempel lebih erat.

Radhika hendak menarik lengan. Naila menatapnya dengan mata curiga, dan tekad menjaga jarak melemah bahkan sebelum mereka tiba di mobil.

Ia membiarkan.

"Bunda sama Om masih di Puncak?" tanya Naila.

"Pulang besok. Bi Rohmah juga izin."

"Berarti rumah kosong. Aku ikut makan sama teman kantor Mas saja, ya? Katanya mereka kumpul di warung tenda."

"Nggak perlu. Mas antar kamu ke rumah, pesan makanan."

"Aku mau kenal teman-teman Mas."

Setelah sepuluh menit bujukan, Radhika kembali kalah.

Sepanjang perjalanan, Naila bercerita tentang tugas kampus sambil beberapa kali menyodorkan layar ponsel. Biasanya Radhika akan mengomentari setiap foto. Hari ini ia hanya mengangguk dan meminta Naila menyimpan ponsel ketika mobil bergerak.

"Mas benar-benar capek?" tanya Naila.

"Sedikit."

"Kalau capek, aku bisa menyetir."

"Kamu belum terbiasa dengan mobil ini."

"Aku bisa pijat bahu Mas nanti."

"Nggak perlu."

Penolakan ketiga membuat Naila diam sampai mereka tiba.

Warung tenda itu berada di kawasan kuliner malam yang ramai. Meja plastik memenuhi sisi jalan, disinari lampu putih dan asap panggangan. Reyhan bersama belasan pegawai muda Cakra Tech sudah menunggu.

Saat turun, Radhika refleks mengangkat tangan untuk melindungi bahu Naila dari orang yang lewat terlalu dekat. Ia baru hendak merangkul ketika ingat keputusan sendiri. Tangannya berhenti di udara, lalu jatuh ke sisi tubuh.

Naila melihat gerakan yang dibatalkan itu.

"Kenapa?"

"Nggak apa-apa. Jalan."

Begitu mereka mendekat, Reyhan berdiri. "Pak Radhika akhirnya datang."

Seorang rekan di sebelahnya bersiul kecil. "Mbak-nya cantik sekali. Pacarnya, Pak?"

Beberapa orang ikut menggoda. Naila menutup mulut sambil tertawa.

"Pak Radhika nggak pernah bawa siapa-siapa," kata pegawai lain. "Sekali bawa langsung secantik ini. Wajar kami salah paham."

"Cukup," ujar Radhika.

Nada datarnya memotong tawa. Ia menarik kursi untuk Naila, lalu duduk satu kursi terpisah, padahal tempat di sebelahnya kosong. Naila memperhatikan jarak itu tetapi tidak berkomentar.

"Bukan. Aku adiknya."

Radhika tidak ikut tertawa. Satu tatapannya membuat seluruh meja mendadak sibuk mengatur kursi.

"Bukan adik kandung," tambah Naila setelah duduk. "Susah dijelaskan. Pokoknya kayak adik sendiri."

"Teman keluarga sejak kecil?" tebak Reyhan.

"Iya. Dulu kami tetangga. Aku sempat lupa sama dia, baru ingat lagi."

"Pantas Pak Radhika protektif."

Radhika membuka menu tanpa mengangkat kepala. "Reyhan, kalau masih ingin punya pekerjaan hari Senin, pilih makananmu."

Satu meja menahan tawa. Reyhan langsung duduk tegak.

Reyhan mengangguk, tetapi wajahnya menunjukkan ia semakin tidak mengerti.

Sebelum memesan, Radhika memanggil penjual dan menjelaskan alergi kacang Naila. Meja mereka dipisahkan dari saus kacang, alat saji diganti, dan satu porsi udang bakar polos disiapkan dengan panggangan serta penjepit bersih. Makanan pedas diletakkan di sisi lain.

Reyhan menawarkan sate dari piringnya. "Mbak Naila mau coba?"

"Dia nggak bisa makan itu," potong Radhika. "Tanganmu juga habis pegang saus kacang. Urus makananmu sendiri."

Reyhan langsung menarik piring. "Maaf, Pak."

"Nggak apa-apa," kata Naila. "Alergiku memang parah."

Penjual mengonfirmasi ulang bahwa bumbu udang hanya memakai garam, jeruk nipis, dan bawang dari wadah baru. Radhika tetap memeriksa piring serta penjepit sebelum mengizinkan Naila mengambil. Sikap hati-hati itu tidak berubah meski ia sedang mencoba bersikap dingin.

Porsi udang polos datang. Naila mengambil satu dan menggigit, tetapi kulitnya belum dibuka. Ia buru-buru meletakkannya kembali.

Radhika memakai sarung tangan sekali pakai. Ia mengupas kulit udang, membuang bagian kepala, lalu menaruh daging bersih dalam mangkuk Naila.

Satu, dua, tiga.

Pada udang keempat, ia teringat keputusan menjaga jarak. Tangannya berhenti. Semua pegawai di meja sudah memperhatikan dengan diam-diam.

Radhika melepas sarung tangan dan mendorong piring ke depan Naila. "Sisanya kupas sendiri."

"Tadi Mas sudah mulai."

"Tanganmu sehat."

Ia berdiri dan pergi menerima telepon.

Naila menatap tiga udang yang sudah bersih dan sisanya yang masih berkulit. Perbedaan kecil itu terasa seperti garis yang sengaja ditarik di tengah piring.

Ia memakai sarung tangan baru dan mengupas sendiri. Kulit tajam menusuk ujung jarinya sekali. Radhika yang berdiri beberapa meter jauhnya langsung menoleh, tetapi menahan langkah setelah melihat tidak ada darah.

Naila melihat ia hampir datang.

Reyhan menatap punggung atasannya, lalu mendekat kepada Naila. "Pak Radhika memang selalu begitu?"

"Kadang baik, kadang galak."

"Beliau di kantor biasanya cuma galak. Saya baru pertama lihat beliau kupas makanan untuk orang."

Pegawai lain mengangguk. "Posesif juga. Tadi saya baru mau pindahkan kursi Mbak, langsung dilihat kayak mau dipecat."

"Dia cuma terlalu protektif," kata Naila.

"Kalau adik saya, saya suruh kupas sendiri dari awal," ujar salah satu pegawai.

Reyhan menendang kaki rekannya di bawah meja, tetapi sudah terlambat. Kalimat itu menetap dalam kepala Naila.

"Mungkin karena kami lama nggak bertemu," jawabnya. "Dia merasa harus mengganti waktu yang hilang."

Jawaban tersebut masuk akal. Entah kenapa, Naila tidak merasa lega.

Namun, ia sendiri mulai bertanya apakah perubahan Radhika malam ini hanya lelah atau sesuatu yang sengaja dilakukan.

Saat menuju toilet, Naila melihat sebuah sedan hitam berhenti di ujung jalan. Damar keluar dari kursi belakang. Di sisi lain, sosok perempuan berambut panjang yang mirip Sekar masuk ke sebuah mobil berbeda.

"Sekar?"

Kerumunan menutup pandangan. Ketika Naila maju dua langkah, kedua mobil sudah bergerak berlawanan arah. Ia menganggap dirinya salah lihat.

Radhika kembali setelah telepon selesai, tetapi tidak lagi duduk sedekat tadi. Ia menjaga percakapan pada pekerjaan dan memastikan makanan Naila aman tanpa menyentuh piringnya lagi.

Saat seorang pegawai mengajak Naila bernyanyi di panggung kecil warung, Radhika menolak sebelum Naila menjawab. Namun, ketika Naila menyandarkan bahu kepadanya karena mengantuk, ia bergeser dengan alasan mengambil air.

Perlindungan tetap ada. Kehangatan sengaja dicabut. Pola itu menjadi semakin jelas.

Dalam perjalanan pulang, kabin terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Naila mengangkat kaki hendak meletakkannya di sisi konsol. Radhika menekan lututnya ke bawah.

"Duduk yang benar."

"Tumitku capek."

"Sandarkan di bawah."

Ia tidak mengusap kepala Naila ketika lampu merah. Tidak menanyakan kelas atau musik kotak yang sudah diperbaiki. Bahkan jarak antara tubuhnya dan sisi konsol tampak sengaja dibuat lebih lebar.

"Mas," panggil Naila.

"Hm?"

"Aku salah apa?"

"Nggak salah."

"Terus kenapa tiba-tiba dingin?"

"Mas tadi nggak mau aku pegang tangan. Nggak mau aku pijat. Di warung juga duduk jauh. Biasanya Mas cerewet kalau aku mengupas udang salah, sekarang ditinggal."

Radhika memandang jalan. Ia tidak menyangka Naila mencatat setiap hal kecil yang ia tarik kembali.

"Kalau aku mengganggu, bilang," lanjut Naila. "Jangan berubah tanpa alasan."

Jari Radhika mengencang pada kemudi. Ia sudah tahu jawabannya: karena ia mencintai Naila dengan cara yang tidak berani ia akui, sementara Naila masih berdiri di tempat aman seorang adik. Karena Eyang meletakkan nama Anindya di jalannya. Karena mendekat terasa egois, tetapi menjauh jelas menyakitinya.

"Nggak apa-apa," katanya akhirnya. "Mas capek."

Naila menatap sisi wajahnya. "Mas bohong."

Radhika memalingkan muka ke jendela dan tidak menjawab.

Pantulan wajah Naila terlihat di kaca. Keningnya berkerut, matanya menunggu penjelasan yang tidak datang. Radhika ingin meraih tangannya dan menghapus kebingungan itu, tetapi kedua tangan tetap dipaksa berada pada kemudi.

Untuk pertama kali sejak berdamai, Naila merasa Mas kembali meninggalkannya meski duduk tepat di sebelahnya.

Keheningan itu menjadi jarak pertama yang sengaja ia bangun, dan luka baru yang sama sekali tidak dipahami Naila.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!