Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH DELAPAN
Ruang UGD rumah sakit malam itu dipenuhi kepanikan. Raka segera dibawa masuk begitu mereka sampai, dokter jaga langsung memeriksa luka di kepalanya yang ternyata cukup dalam, membutuhkan beberapa jahitan serta observasi lebih lanjut karena kekhawatiran akan kemungkinan gegar otak ringan akibat benturan keras di kepalanya.
Wulan duduk di kursi tunggu dengan wajah pucat pasi, tubuhnya masih gemetar, sesekali terisak menahan tangis sambil menunggu kabar dari dalam ruang tindakan. Ayu duduk tidak jauh darinya, sementara Bayu, yang kondisinya sudah mulai jauh lebih sadar setelah pengaruh obat berangsur hilang, duduk dengan kepala tertunduk, dipenuhi rasa bersalah yang teramat dalam.
Tidak lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruang tindakan, menghampiri mereka bertiga dengan raut wajah serius. "Keluarga pasien Raka? Kami perlu tambahan darah untuk transfusi, karena pendarahannya cukup banyak. Apakah ada anggota keluarga yang bisa jadi pendonor?"
"Saya, Sus! Saya ayahnya!" Bayu segera berdiri, meski tubuhnya masih sedikit limbung, tekadnya untuk membantu anaknya mengalahkan kondisi fisiknya yang belum sepenuhnya pulih.
"Baik, Pak. Tapi kami perlu cek dulu golongan darah Bapak, untuk memastikan kecocokan dengan pasien," jelas perawat itu, mengarahkan Bayu untuk mengikuti prosedur pengecekan di ruang laboratorium kecil rumah sakit.
---
Beberapa menit kemudian, Bayu kembali dengan hasil pemeriksaan golongan darah di tangannya, namun raut wajah petugas laboratorium yang mengantarnya tampak sedikit kebingungan. "Maaf, Pak. Golongan darah Bapak O, sementara pasien golongan darah AB. Secara medis, ini agak janggal kalau Bapak memang ayah kandungnya."
Kalimat itu terdengar seperti petir yang menyambar tepat di tengah ruang tunggu yang sudah dipenuhi ketegangan. Bayu terdiam, mencoba mencerna informasi yang baru saja ia dengar, sementara Ayu yang duduk tidak jauh darinya, seketika mengalihkan pandangannya penuh tanda tanya ke arah Wulan yang tiba-tiba tampak semakin pucat dari sebelumnya.
"Itu nggak mungkin. Raka itu jelas-jelas anak Bayu," Wulan buru-buru menyanggah, suaranya terdengar panik, jauh berbeda dari ketegasan yang biasa ia tunjukkan.
"Bu, secara ilmu genetika, kalau golongan darah ayah O dan anak AB, itu kombinasi yang secara teori tidak mungkin terjadi, kecuali ada kesalahan pencatatan golongan darah sebelumnya," jelas petugas laboratorium itu, memberikan penjelasan medis yang, meski disampaikan dengan nada profesional, terasa seperti pukulan telak bagi semua yang mendengarnya.
---
Bayu menatap Wulan dengan tatapan yang mulai dipenuhi kebingungan sekaligus kecurigaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sepanjang hubungan mereka. "Lan... apa maksudnya ini? Kamu pernah bilang golongan darah Raka apa sebelumnya?"
"Aku... aku nggak pernah cek golongan darahnya secara resmi, Bang. Buat apa juga dicek kalau nggak sakit," jawab Wulan, mencoba berkilah, meski kegugupannya semakin jelas terlihat dari cara ia menghindari tatapan mata Bayu maupun Ayu.
"Tapi ini kan bisa dicek ulang. Kalau emang salah catat, ya sudah, dicek lagi aja golongan darah Raka yang benar," sela Ayu, mencoba berpikir jernih di tengah situasi yang semakin rumit, meski dalam hatinya sendiri sudah mulai muncul dugaan yang, jika benar, akan mengubah segalanya secara drastis.
Petugas laboratorium mengangguk, "Baik, kami akan cek ulang golongan darah pasien untuk memastikan. Sementara itu, kami akan coba cari pendonor lain dari bank darah rumah sakit untuk transfusi darurat, karena waktunya cukup mendesak."
Bayu duduk lemas di kursi tunggu, pikirannya dipenuhi kebingungan yang jauh lebih besar dari sekadar rasa bersalah yang selama ini ia rasakan. Jika benar golongan darahnya tidak cocok dengan Raka, pertanyaan besar yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya kini mulai muncul dengan kekuatan yang tidak bisa lagi ia abaikan—benarkah Raka anak kandungnya sendiri?
---
Sambil menunggu hasil pengecekan ulang, suasana di ruang tunggu itu berubah menjadi keheningan yang mencekam, jauh berbeda dari kepanikan awal yang tadinya didominasi oleh kekhawatiran akan keselamatan Raka semata. Kini, ada lapisan ketegangan baru yang menyelimuti mereka bertiga—sebuah pertanyaan besar yang, jika terjawab dengan cara yang tidak diinginkan, akan membongkar satu lagi kebohongan yang, selama ini, bahkan tidak pernah disadari sepenuhnya oleh Bayu sendiri.
Ayu menatap Wulan yang kini duduk membungkuk, kedua tangannya menutupi wajahnya sendiri, tubuhnya bergetar dengan cara yang berbeda dari kekhawatiran seorang ibu terhadap anaknya yang terluka—sebuah getaran yang lebih menyerupai ketakutan seseorang yang sedang berada di ambang terbongkarnya sebuah rahasia yang jauh lebih besar dan lebih gelap dari yang pernah siapa pun duga sebelumnya.
"Wulan," panggil Ayu, suaranya pelan namun penuh penekanan, "kalau emang ada yang perlu kamu jelasin soal ini, sekarang waktu yang tepat. Sebelum semuanya makin runyam."
Wulan tidak langsung menjawab, hanya terisak semakin keras, seolah pertahanan terakhir yang selama ini ia bangun dengan susah payah, kini benar-benar berada di ambang keruntuhan total, tepat di tengah ruang tunggu rumah sakit yang dingin dan penuh ketegangan itu.
---