NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:298
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17 : Sungai Hitam

DUK... DUK... DUK...

Suara langkah kaki raksasa Bhayavedin di padang rumput belakang mereka makin dekat. Kabut hitam di atas rumput bergoyang karena getarannya.

Bima yang jongkok di pinggir Sungai Hitam langsung berdiri.

"Gak ada waktu! Dia udah deket!" bisik Bima panik tapi tetap ditahan pelan, karena Bhayavedin peka suara. "Kita harus nyebur sekarang!"

Keempat lainnya menatap sungai hitam pekat di depan mereka. Airnya hitam seperti tinta, mengalir pelan tanpa riak, dinginnya sampai menusuk mata kaki hanya dari uapnya. Bunga-bunga putih besar di pinggir sungai semuanya menunduk ke air, seperti takut menyentuh air itu.

Elina yang belum pulih, duduk di tanah setelah diturunkan Gilang. Melihat air hitam itu ia ketakutan.

"Guys,gue nggak bisa berenang.Airnya hitam banget,gue takut nanti tenggelam." kata Elina, suaranya gemetar.

Maira yang juga takut air dingin langsung meluk Elina, "El, sama, gue juga takut dingin."

Arga yang baca peta, membaca lagi keterangan di peta kulit kayu itu dengan tangan gemetar di bawah senter HP sisa 8%, "Di sini tulis... -'Rendam dirimu. Jangan lama-lama, airnya sangat dingin.'- berarti nggak harus berenang, cukup rendam aja."

Gilang yang dari tadi gendong Elina, kakinya masih gemetar karena 1 jam jalan, menatap ke belakang. Kabut di padang rumput sudah membentuk siluet kaki raksasa Bhayavedin. Sudah sangat dekat.

"Guys, dengerin gua," kata Bima cepat, jadi pemimpin lagi.

"Selama ini dia nemuin kita karena 3 hal, suara, rasa takut dan bau asing. Kalau kita nyebur ke sungai ini, peta bilang bau asing kita bakal hilang, rasa takut kita bakal tenang. Jadi dia bakal kehilangan 2 indera. Tinggal suara yang harus kita jaga."

"Jadi abis nyebur dia nggak bisa nyium kita lagi?" tanya Maira.

"Iya! Makanya kita harus nyebur! Semua!" kata Bima.

Tapi tidak ada yang bergerak duluan. Semua takut sama air hitam itu.

Bima melihat tidak ada yang berani, ia ambil keputusan.

"Gua duluan!" kata Bima.

Bima melepas sepatunya, hanya pakai kaos dan celana. Ia masuk pelan-pelan ke Sungai Hitam.

BYURR...

Begitu kakinya masuk, dinginnya langsung menusuk tulang. Bima menggigil hebat.

"AH! DINGIN BANGET ASTAGA" Bima hampir teriak, tapi ia langsung tutup mulutnya sendiri, ingat Bhayavedin peka suara.

Tapi anehnya terjadi.

Begitu air hitam itu menyentuh kulit Bima, bau keringatnya, bau tanah, bau takutnya langsung hilang. Seperti tinta hitam itu memakan bau-bau asing. Dan rasa takut di dadanya yang dari tadi berdegup kencang, pelan-pelan jadi tenang. Jantungnya yang berdegup kencang, jadi melambat, jadi kalem.

"Gila" kata Bima pelan, matanya membelalak. "Rasa takut gua hilang,bau gua juga hilang."

Ia menyelamkan kepalanya sebentar ke air hitam itu, lalu muncul lagi. Wajahnya yang tadi pucat ketakutan, sekarang lebih tenang.

"Guys, beneran airnya ngilangin takut.Gua jadi nggak takut lagi. Sini coba kalian nyebur!"

Melihat Bima baik-baik saja, Arga yang baca peta jadi yang kedua.

"Gua abis Bima!" kata Arga. Ia juga masuk pelan.

BYURR...

Arga juga menggigil hebat, "Dingin! Sumpah dingin banget!"

Tapi sama seperti Bima, setelah beberapa detik di dalam air hitam, wajah Arga yang tadi tegang, jadi rileks.

"Gua jadi tenang banget woy."kata Arga.

Sekarang tinggal Maira, Gilang, dan Elina di pinggir.

"Mai, El, sini!" panggil Bima dari dalam sungai, airnya hanya setinggi dada mereka.

Maira masih ragu, "Tapi Elinanya luka.Emang boleh kena air hitam?"

Arga yang di dalam sungai menjawab, "Di peta nggak bilang nggak boleh! Malah harus dicuci biar bau darahnya hilang! Bau darah Elina itu bau asing paling nyengat buat Bhayavedin!"

Maira menatap Elina. Elina yang belum pulih, wajahnya pucat karena kedinginan hanya dari uap sungai.

"G-Gue takut." kata Elina lagi.

Gilang yang gendong Elina dari tadi, akhirnya bicara, "El, dengerin gue ya..Kalau lo nggak nyebur, bau darah lo bakal kecium Bhayavedin terus, dia bakal nemu kita terus. Kalau lo nyebur, lo bakal nggak ditakutin Bhayavedin lagi."

Gilang lalu menggendong Elina masuk ke sungai.

"El, pegangan gua yang kenceng ya.Kita masuk bareng."

BYURR... BYURR...

Gilang dan Elina masuk bersamaan. Air hitam itu langsung membasahi perban baru Elina yang putih.

Elina menjerit pelan karena dingin, "DINGIN!"

"Shhh...Tahan El,tahan..."

Dan keajaiban terjadi pada Elina. Perban putihnya yang tadi menyerap air hitam, lukanya yang nyut-nyutan, rasa sakitnya... pelan-pelan hilang. Bukan hilang lukanya, tapi rasa takutnya akan luka itu hilang. Dan bau anyir darah dari perbannya, yang tadinya menyengat, langsung netral, tidak berbau lagi. Air hitam itu seperti memakan semua bau asing.

"El, gimana?" tanya Maira cemas dari pinggir.

Elina membuka mata di dalam air, wajahnya yang tadi takut, sekarang tenang, "Mai,gue nggak takut lagi. Luka gue nggak sakit lagi."

Maira melihat itu, akhirnya ia juga masuk.

BYURR...

Maira masuk dengan mata terpejam, menggigil.

"AH DINGIN BANGET!" Maira hampir nangis karena dingin.

Bima langsung pegang tangan Maira di dalam air, "Tahan Mai, bentar aja... tarik napas pelan..."

Beberapa detik kemudian, Maira juga merasakan hal yang sama. Rasa takutnya, bau parfumnya yang samar, bau keringatnya, semua hilang dimakan air hitam. Jantungnya yang berdegup kencang jadi tenang.

"Gue jadi kalem banget,serius." kata Maira.

Sekarang mereka berlima sudah di dalam Sungai Hitam. Berendam sampai dada, menggigil kedinginan, tapi wajah mereka semua tenang, tidak ada rasa takut lagi. Bau asing mereka sudah hilang.

Dan tepat saat itu...

DUK...

Bhayavedin sampai di pinggir sungai.

Siluet raksasanya berdiri di pinggir sungai, hanya 10 meter dari mereka. Tubuhnya seperti pohon raksasa yang berjalan, kepalanya tanpa mata, hanya lubang hidung besar dan telinga lebar.

Dia mengendus...

SRRRK... SRRRK...

Dia mendengarkan...

Telinganya bergerak ke kiri kanan.

Tapi...

Dia tidak mencium apa-apa. Bau asing roti, darah, keringat... sudah hilang dimakan Sungai Hitam.

Dia tidak merasakan apa-apa. Rasa takut mereka... sudah ditenangkan oleh Sungai Hitam.

Yang tersisa hanya suara.

Dan mereka berlima diam total di dalam air hitam, tidak bersuara sama sekali. Bahkan napas pun mereka tahan.

Bhayavedin yang buta itu berdiri bingung di pinggir sungai. Ia mengendus lagi, lebih keras. Tidak ada bau. Ia mendengarkan lagi, tidak ada suara. Ia mencoba merasakan takut, tidak ada getaran takut.

Bagi Bhayavedin, sungai itu kosong. Tidak ada mangsa.

"Dia,dia nggak bisa nemuin kita." bisik Arga pelan banget di dalam air, hampir tidak bersuara.

Bima memberi isyarat jari di bibir,"Sstt... jangan bersuara.Dia masih peka suara."

Bhayavedin masih berdiri di pinggir sungai selama 2 menit yang terasa seperti 2 jam. Mereka berlima menahan napas, menahan dingin yang menusuk tulang di dalam air hitam.

Lalu, Bhayavedin berbalik.

DUK... DUK... DUK...

Langkahnya menjauh, kembali ke padang rumput, mencari ke arah lain. Mencari bau asing dan rasa takut yang sudah tidak ada.

Setelah suara langkahnya benar-benar hilang...

Bima baru berani ngomong pelan, "Dia pergi..."

Gilang langsung lemes di dalam air, "Gila... kita,kita selamat."

Maira nangis pelan, tapi bukan nangis takut, nangis lega, "Bhayavedin... dia nggak bisa nyium kita lagi."

Elina yang di gendongan Gilang di dalam air, tersenyum untuk pertama kalinya dengan tenang

"Syukurlah."

Arga yang baca peta, melihat peta kulit kayu yang ia bawa masuk ke air, ternyata peta itu tidak rusak kena air hitam, malah tulisannya makin jelas. Ia baca keterangan terakhir.

"Guys,setelah sungai ini kita pergi ke Pohon Bermata."

" Pohon Bermata?"ulang Gilang.

" Pohon yang jangan kita lihat matanya kan?"tanya Maira mengingat.

Bima mengangguk, masih di dalam air hitam, "Oke, kita rendam dulu 5 menit lagi, biar bau kita bener-bener hilang semua,abis itu kita keluar."

Mereka berlima masih berendam di Sungai Hitam yang dingin menusuk tulang itu, tapi hati mereka untuk pertama kalinya sejak masuk dunia monster itu, benar-benar tenang. Tidak takut, tidak berbau.

Namun kelegaan itu tak bertahan lama. Tiba-tiba sebuah siluet tinggi besar muncul dari balik kabut. Tidak, jumlah mereka bukan hanya satu.

Bhayavedin. Makhluk itu kembali lagi...

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!