Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Parrie melangkah masuk ke dalam ruang kuliah Hukum Perdata yang berukuran luas dengan tatanan tempat duduk melingkar bergaya ampiteater. Langkahnya sempat terhenti sejenak di dekat ambang pintu. Suara gemuruh tawa maskulin yang cukup kencang terdengar menggema memenuhi seisi ruangan yang belum terlalu penuh itu.
Di barisan kursi paling atas dekat sudut jendela, tiga orang pria bertubuh tegap tampak sedang mengobrol santai sambil sesekali tertawa lepas. Namun, mata Parrie seketika membelalak kaget.
Di sana, di antara gelak tawa itu, Kaetos Ashford duduk santai sambil menyandarkan punggungnya. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku, dan matanya yang tajam serta dingin langsung tertuju lurus ke arah Parrie begitu gadis itu melangkahkan kaki masuk.
Parrie tertegun. Si brengsek Glen... dia bilang Kaetos tidak punya teman dan tidak bisa menyentuh siapa pun? batin Parrie dengan dada berdenyut samar.
Lihat sekarang, bukankah pria itu sedang duduk dan tertawa bersama teman-temannya?
Parrie harus mengakui bahwa selama empat bulan menjadi wanita penghangat ranjang Kaetos, ia sama sekali tidak tahu-menahu mengenai kehidupan pribadi atau pergaulan pria itu di luar apartemen.
Setiap hari, Parrie akan pergi bekerja paruh waktu di butik mewah milik Nyonya Ashford—ibu Kaetos—dan saat ia pulang malam hari, Kaetos sudah berada di apartemen lengkap dengan masakan makan malam yang tersaji hangat. Mereka hidup bagaikan bayangan dalam ruang isolasi. Parrie tidak pernah tahu apa pun tentang dunia Kaetos yang sebenarnya.
Melihat Kaetos yang tampak ikut mengobrol dan bahkan terkekeh pelan bersama teman-temannya, ada perasaan lega yang aneh dan terlarang menyusup di relung hati Parrie. Namun Parrie dengan cepat menepis perasaan konyol itu. Ia mengalihkan pandangannya dan melangkah menuju tempat duduknya di barisan tengah, di mana papan nama kecilnya sudah terpasang.
Allen yang berjalan di belakangnya mengangguk pelan saat melewati meja Parrie, lalu duduk dua baris di belakangnya.
Namun, belum ada lima detik Parrie mendaratkan tubuhnya di kursi kayu empuk itu, seorang gadis berwajah sangat cantik dengan riasan flawless yang duduk di depannya langsung berbalik arah.
Dengan mata berbinar-binar yang tampak dramatis, gadis itu menatap Parrie lalu berkata lirih, "Apa kau bisa sulap?"
Parrie berkedip bingung. "Huh? Sulap?"
"Iya, sulap," sahut gadis itu tanpa mengedipkan mata. "Kau baru saja membuatku mabuk dengan parfummu."
Gadis itu kemudian terkekeh pelan dan mengibaskan tangannya santai. "Ah, aku hanya berbasa-basi."
Parrie hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O' kecil, bingung harus merespons apa pada keramahan yang mendadak ini.
"Aku Irysh. Kau Parrie, kan?" tanya gadis cantik itu menyodorkan jemarinya yang lentik.
Parrie mengangguk pelan dan mencoba mengukir senyum tipis. "Ya, aku Parrie."
Belum sempat Parrie menanyakan hal lain, Irysh mendadak memajukan tubuhnya, menatap Parrie dengan raut wajah mendadak serius dan berbisik pelan, "Kau jangan pernah percaya pada siapa pun di Fakultas ini. Lebih-lebih di kelas ini. Tidak ada orang yang mau berteman jika kau tidak menguntungkan bagi mereka. Begitu pula denganku... jangan pernah percaya padaku yang baru saja mengajakmu bicara. Ini nasihat yang cukup berguna untuk gadis polos sepertimu."
Parrie mengerutkan keningnya, mencerna kata-kata Irysh yang jujur tanpa tendeng aling-aling.
Tak lama kemudian, gelak tawa dari barisan meja di sudut atas kembali memanas dan menggelegar di kelas. Irysh mendengus keras, memutar bola matanya malas lalu menunjuk ke arah atas dengan dagunya.
"Lihat tiga pria bajingan di atas sana," desis Irysh sinis. "Mereka tertawa seakan kelas ini milik nenek moyang mereka."
Parrie mengamati sorot mata Irysh. Tampak jelas gadis cantik di depannya ini menyimpan kebencian yang mendalam pada tiga pria berpengaruh di sudut kelas itu—termasuk Kaetos Ashford.
"Satu pria penjahat kelamin di sebelah kiri bernama Marvel," bisik Irys memberi penjelasan. "Satu lagi pria sok narsis di tengah bernama Kendrick. Dan di sebelah kanan... pria temperamental yang tepatnya kemarin duduk di sebelahmu—Kaetos Ashford. Jauhilah kumpulan tiga pria brengsek itu jika kau mau hidupmu tenang."
Tiba-tiba, suara bernada mengejek terdengar menyambar dari barisan atas. "Hey, Irysh! Kau sedang membicarakanku, ya?" seru Marvel sambil menyeringai lebar dari kejauhan.
Irys langsung menoleh dan menjawab dengan nada ketus, "Sorry, aku tidak punya waktu untuk memikirkan pria bajingan sepertimu!"
Tawa riuh seketika menggema di dalam kelas. Beberapa mahasiswa lain ikut tertawa mendengar sahutan pedas Irysh pada Marvel.
Irysh kembali menatap Parrie sambil tersenyum kecut. "Lihat? Mereka hanya akan menganggap mu sebagai lelucon di sini."
Parrie mengangguk pelan. Dalam hati, ia membenarkan perkataan Irysh. Tatapan Parrie tak sengaja bertabrakan dengan mata Allen di belakang, yang hanya memberikan tatapan prihatin samar.
Julian Vance yang terlihat begitu baik saja ternyata menyimpan bahaya, dan Parrie tidak ingin terlihat bodoh hingga dimanfaatkan oleh siapa pun. Namun, di matanya, entah mengapa wanita bernama Irysh inilah yang terasa sangat nyata dan bisa dipercaya—dengan mulut ceplas-ceplosnya yang tanpa topeng.
Tak lama kemudian, dosen pengampu mata kuliah melangkah masuk ke dalam kelas. Suasana riuh seketika hening.
Tiga pria di sudut atas mulai bergerak turun menuju kursi mereka masing-masing. Kaetos melangkah anggun, menyusuri anak tangga ampiteater dan berjalan lurus menuju kursinya—persis di sebelah kanan Parrie.
Saat melewati bagian belakang kursi Parrie, Kaetos membungkukkan tubuhnya sedikit. Napas hangatnya mengusap telinga Parrie saat pria itu berkata lirih dengan nada dingin yang nyaris tak terdengar oleh orang lain, "Kau akan cocok berteman dengan Irysh... Irysh itu kekasih Marvel, sahabatku."
Deg.
Parrie tersentak kaget dan menoleh sedikit. Kekasih? pikir Parrie bingung.
Apanya yang kekasih? Mereka baru saja saling melemparkan umpatan kasar dan kebencian!
Namun Kaetos sudah duduk tegak di kursinya tanpa merubah raut wajahnya yang datar dan tak tersentuh.
...*****...
Dua jam perkuliahan berjalan dengan cepat. Begitu bel tanda berakhirnya jam pertama berbunyi dan dosen melangkah keluar, seluruh mahasiswa mulai bangkit berdiri untuk pergi menuju kantin.
Allen melangkah mendekati meja Parrie dan menepuk bahunya pelan. "Parrie, ayo ke kantin bersama."
Parrie baru saja hendak berdiri dan menyambut ajakan Allen, namun tiba-tiba sebuah tangan kekar bergerak cepat dari samping di bawah celah meja. Jemari panjang Kaetos mencengkeram pergelangan tangan Parrie dengan sangat erat, menahannya di tempat.
Parrie terkejut dan mendongak menatap Kaetos. Namun pria itu bahkan tidak menatapnya—ia bergeming, pura-pura sibuk merapikan buku di mejanya, sementara tangannya di bawah sana mencengkeram tangan Parrie secara posesif dan tak terlepas.
Seakan mengerti ada ketegangan atau urusan tertunda di antara mereka berdua, Parrie buru-buru menatap Allen sambil tersenyum canggung. "Ah, Allen... maafkan aku. Aku mengingat ada banyak catatan perkuliahan yang harus kuselesaikan sekarang. Kau duluan saja ke kantin, ya?"
Allen menatap Parrie sejenak, lalu matanya melirik samar ke arah tangan Parrie yang tersembunyi di bawah meja. Allen tampak mengerti situasi itu. Tanpa bertanya lebih jauh, Allen tersenyum lembut dan mengangguk.
"Baiklah kalau begitu. Jangan lupa makan nanti," bisik Allen ramah sebelum berbalik melangkah keluar kelas yang mulai sepi.
Begitu pintu kelas tertutup dan hanya menyisakan beberapa mahasiswa yang sibuk di ujung lain, Parrie mencoba menarik tangannya dengan kasar. "Lepaskan, Kaetos!" desisnya tajam.
Kaetos tidak melepaskannya. Pria itu justru menarik tas punggung hitamnya ke atas meja, lalu membuka ritsletingnya. Dari dalam tas mahal itu, Kaetos mengeluarkan dua wadah bekal makanan stainless steel berukuran lumayan besar.
"Temani aku makan," kata Kaetos datar. "Kau tahu aku tidak bisa menghabiskan makanan ini tanpa memegang tanganmu."
Parrie memutar bola matanya malas. Rasa jengkel seketika membakar dadanya. "Gombalanmu terlalu murahan, Kaetos. Aku mau ke kantin untuk sarapan—"
"Makan," potong Kaetos tegas, memotong kalimat Parrie. Pria itu membuka salah satu tutup bekal yang mengeluarkan aroma harum tumisan daging segar dan nasi hangat. "Aku memasak banyak pagi ini."
Parrie menatap wadah bekal itu dengan perut yang sejujurnya memang mulai terasa perih karena ia belum sempat menyentuh sarapan sama sekali sejak keluar dari Mansion Ford. Dengan helaan napas terpaksa dan wajah bersungut-sungut, Parrie akhirnya menarik salah satu kotak bekal ke depannya.
Ia mulai memakan hidangan itu dengan sendok plastik. Dan benar saja—pria gila di sebelahnya itu sama sekali tidak melepaskan genggaman tangannya di bawah meja sepanjang Parrie sibuk mengunyah makanan.
Kaetos menyuap makanannya sendiri menggunakan tangan kirinya dengan sangat lihai.
Suasana hening menyelimuti mereka selama beberapa menit, hanya terdengar denting halus sendok menyentuh wadah bekal.
Tiba-tiba, Kaetos memecah keheningan itu. Suaranya terdengar sangat lirih, berbisik datar namun sanggup menghentikan kunyahan Parrie seketika.
"Aku baru saja mewujudkan satu keinginan jalangku... sarapan bersama Kaetos di dalam kelas."
Deg.
Sendok di jemari Parrie bergetar. Kunyahannya terhenti. Parrie menoleh patah-patah menatap profil samping wajah Kaetos dengan rasa terkejut yang meluap hebat di dadanya.
Belum selesai Parrie menguasai rasa terkejutnya, Kaetos berpaling menatap matanya lurus-lurus. Sebuah senyuman tipis yang sangat misterius dan bernada mengejek terukir di bibir pria itu.
"Aku tidak menyangka... diary-mu penuh dengan namaku," sambung Kaetos lirih. "Dan aku tidak menyangka kau memiliki fantasi gila seperti itu di otak kecilmu."
DEG!
Darah dalam tubuh Parrie seolah berhenti mengalir seketika. Wajahnya yang semula pucat kini memerah padam oleh perpaduan antara rasa malu, marah, dan keputusasaan yang membuncah.
Diary!
Parrie teringat secara mendadak. Buku harian kecil bersampul kulit cokelat milik ibunya—tempat ia menumpahkan seluruh kepedihan, rasa sepi, penderitaan, dan curahan hatinya yang paling rahasia selama Enam bulan terakhir—memang telah hilang dari tasnya sejak kemarin!
Dan kini, gila sekali, untuk kedua kalinya dalam hidupnya... Kaetos-lah yang menemukan dan membaca seluruh rahasia terlarang itu!
Pikiran tentang bagaimana Kaetos membaca setiap kata yang ia tulis dengan linangan air mata di tengah malam membuat dada Parrie terasa sesak luar biasa.
Tulisan mengenai betapa sepinya hidup Parrie, betapa hampa jiwanya tanpa kasih sayang, dan bagaimana ia diam-diam mendambakan momen-momen sederhana bersama Kaetos—seperti duduk berdua sarapan di kelas tanpa harus bersembunyi di balik dinding apartemen gelap—sesegalanya telah dikuliti oleh pria di sebelahnya ini.
"Kembalikan diary-ku!" desis Parrie dengan suara bergetar dan mata memerah menahan tangis. "Kau tidak berhak menyimpannya! Kau tidak berhak membacanya, Kaetos!"
Kaetos menyandarkan punggungnya, menatap Parrie dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Aku berhak," sahut Kaetos santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Atas dasar apa kau merasa berhak, Huh?!" teriak Parrie dengan suara tertahan.
"Karena di halaman pertengahan buku itu... ada foto selipan tangan kita berdua saat kita tertidur di sofa," jawab Kaetos datar.
"Jadi aku berhak. Aku sudah terlibat terlalu jauh dalam rumah tangga buku harianmu itu."
Parrie melotot tak percaya mendengar alasan absurd yang keluar dari mulut pria itu. "Kau gila?! Rumah tangga diary?! Kau benar-benar sudah gila, Kaetos!"
"Kau yang gila," potong Kaetos cepat, suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan menusuk. "Kau yang gila karena melanggar kesepakatan awal kita. Kau sengaja menuliskan semua tulisan itu agar aku merasa bersalah, kan?"
"Aku tidak pernah memintamu membacanya!" seru Parrie, air mata kemarahan mulai merebak di pelupuk matanya. "Aku menulisnya untuk diriku sendiri! Untuk membantuku bertahan hidup saat kau memperlakukanku seperti sampah! Kembalikan buku itu!"
Parrie mencoba berdiri dan meraih tas Kaetos secara paksa dengan tangan kirinya. Namun Kaetos bergerak lebih cepat. Pria itu menyambar tengkuk leher Parrie dengan tangan kirinya dan menarik tubuh gadis itu secara mendadak.
CUP.
Di dalam kelas yang sepi itu, bibir Kaetos mendarat telak di atas bibir Parrie.
Ciuman itu tidak lembut, namun tidak pula kasar—sebuah ciuman yang sarat akan rasa frustrasi, kepemilikan, dan kerinduan yang ditahan secara menyiksa.
Parrie membeku di tempatnya, matanya membelalak lebar saat merasakan kehangatan bibir Kaetos yang menyergap indranya secara tiba-tiba. Aroma maskulin pria itu menguasai seluruh napasnya, meruntuhkan dinding pertahanan yang dibangunnya dengan susah payah sejak tadi pagi.
Kaetos menyesap bibir Parrie selama beberapa detik yang terasa bagaikan keabadian, sebelum akhirnya melepaskannya perlahan.
Napas Parrie terengah-engah, dadanya naik turun dengan bibir yang sedikit basah dan gemetar. Ia menatap Kaetos dengan tatapan hancur dan kebingungan yang teramat sangat.
Kaetos menatap manik mata Parrie yang basah dari jarak yang sangat dekat. Ibu jarinya terulur, Melihat sudut bibir Parrie yang robek dengan sangat lembut—sentuhan yang bertolak belakang dengan sikap dinginnya selama ini.
Dengan suara rendah yang sarat akan peringatan dan luka yang tersembunyi, Kaetos berbisik tepat di depan wajah Parrie, "Jika kau belum bisa memahami apa itu cinta... kumohon, jangan pernah berani mencintai siapa pun. Terutama aku."
Deg.