NovelToon NovelToon
Satpam Penjaga CEO

Satpam Penjaga CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Romansa Fantasi / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.

Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.

Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Intaian Mata Tajam sang CEO

Lobi utama Menara Utama Nugroho Group semakin riuh oleh pergerakan para karyawan dan tamu eksekutif yang berlalu-lalang. Kilatan lantai marmer memantulkan bayangan orang-orang yang melangkah terburu-buru mengejar jadwal rapat pagi. Di sudut kiri pintu masuk utama, Arga Dewa Putra berdiri bergeming. Posisinya begitu tegap, kedua tangan bersedekap rapi di belakang punggung, sementara mata tajamnya terus bergerak mengawasi setiap sudut ruangan dari balik masker kain hitam tebal dan pinggiran topi pet yang ditarik agak rendah.

Meskipun berusaha tampil tenang dan profesional, sebetulnya setiap sel tubuh Arga sedang dalam keadaan siaga satu. Udara dingin dari sistem pendingin ruangan yang berhembus konstan dari langit-langit lobi sama sekali tidak mampu menyurutkan rasa tegang yang menggelayuti pikirannya.

Tak jauh dari pos Arga berdiri, seorang petugas keamanan senior bernama Riko mendekat seraya membawa papan jalan berisi lembar log kedatangan tamu. Riko menyenggol pelan lengan Arga dengan sikunya.

"Woi, Arga. Santai dikit napa, bro," bisik Riko dengan nada bercanda. "Posisi berdiri lu tegak banget kayak patung pahlawan di lobi utama. Badan lu kagak pegel apa dari tadi kaku begitu?"

Arga menoleh sedikit tanpa mengubah gestur utamanya. Suaranya terdengar agak meredap dari balik kain masker hitam.

"Lagi fokus aja, Bang Riko," jawab Arga santai, berusaha menutupi keresahan hatinya. "Kan kata Komandan Bambang tadi, kita harus jaga citra pelayanan lobi utama. Apalagi ini hari pertama saya kerja. Ntar kalau saya kelihatan loyo, malah disemprot lagi."

Riko tertawa pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ya kagak sampai segitunya juga kali, Ga. Komandan memang galak, tapi dia paham kok kalau kita butuh peregangan otot sikit-sikit. Lagian muka lu ketutup rapat gitu, emang kagak pengap apa pakai masker motor dari pagi?"

"Agak pengap sih, Bang," aku Arga jujur, mengusap lehernya yang terasa hangat. "Tapi mendingan pengap daripada saya bersin-bersin di depan bos besar. Alergi debu saya kalau kumat lumayan parah soalnya."

"Ya udah, terserah lu deh. Yang penting kalau cape, selang-seling geser tumpuan kaki lu," saran Riko ramah sebelum berjalan menuju area pendaftaran tamu di meja resepsionis.

"Sip, makasih sarannya, Bang," balas Arga.

Arga kembali memfokuskan pandangannya ke arah pintu kaca otomatis. Namun, ketenangan sementara itu runtuh seketika saat pintu lift eksekutif di sebelah timur terbuka. Suara ding halus yang terdengar disusul oleh munculnya rombongan kecil yang dipimpin langsung oleh sosok wanita yang paling Arga hindari, Nadia Nugroho.

Nadia melangkah keluar dari area lift diapit oleh sekretaris pribadinya dan dua orang klien pria berjas rapi. Tatapan mata wanita itu tetap sedingin es, namun gesturnya memancarkan kewibawaan mutlak yang membuat beberapa staf yang melintas refleks menunduk hormat.

"Untuk kerja sama investasi di proyek manufaktur terbaru, tim hukum saya akan mengirimkan draf finalnya sore ini," ucap Nadia tegas dengan nada suara yang tenang namun tak terbantahkan saat berbincang dengan klien di sampingnya.

"Baik, Bu Nadia. Kami sangat mengapresiasi efisiensi dan ketegasan pihak Nugroho Group," sahut salah satu klien pria seraya tersenyum penuh hormat. "Kami akan menunggu dokumennya."

Saat berjalan mengantar para klien tersebut menuju pintu keluar lobi utama, pandangan mata Nadia secara tidak sengaja berpapasan dengan sosok Satpam bermasker hitam yang berdiri tegap di sudut pintu. Langkah kaki Nadia sempat tertahan sejenak. Alis tipisnya yang terukir sempurna bertaut rapat.

Nadia memandangi postur tubuh Satpam baru itu dari atas sampai bawah. Tinggi badan yang di atas rata-rata, bahu yang lebar tegap, serta gestur berdiri yang sangat khas, sebuah kombinasi fisik yang rasanya sangat tidak asing di memori jangka pendek Nadia.

Tinggi badannya... lebar bahunya... gestur tangannya pas berdiri... batin Nadia, memutar kembali rekaman kejadian dua malam lalu di Kafe Merah. Kenapa gaya berdiri Satpam ini mirip banget sama laki-laki menyebalkan yang mengaku Bimo itu?

Arga yang menyadari bahwa arah pandangan Nadia mulai tertuju lurus padanya, merasakan bahaya besar sedang mengintai. Ia memindahkan tumpuan berat badannya secara halus, sedikit memiringkan kepala ke bawah agar bayangan pinggiran topi petnya makin menutupi area matanya, sembari menarik napas dalam-dalam di balik masker kainnya.

"Bu Nadia? Ada yang salah dengan area lobi?" tanya sekretaris pribadinya, Rina, yang menyadari bosnya mendadak menghentikan langkah.

Nadia mengerjapkan matanya, dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya kembali. "Tidak. Tidak ada apa-apa."

Nadia lalu menyalami kedua kliennya dengan profesional. "Terima kasih atas waktunya hari ini, Pak. Driver saya sudah menyiapkan kendaraan Anda di depan."

"Terima kasih banyak, Bu Nadia. Selamat pagi," pamit para klien itu sebelum berjalan melintasi pos Arga menuju area drop-off luar.

Setelah para tamu tersebut keluar dari gedung, Nadia tidak langsung kembali ke lantai atas menuju ruang kerjanya. Sebaliknya, ia memutar arah langkahnya menuju area lounge tempat duduk tamu di tengah lobi utama, sebuah posisi yang memiliki sudut pandang sangat jelas dan terbuka langsung ke arah pos penjagaan pintu utama tempat Arga berdiri.

Nadia mendudukkan dirinya di atas sofa kulit berwarna krem yang empuk. Ia menyilangkan kakinya yang jenjang, lalu menyandarkan punggungnya seraya memangku sebuah tablet kerja.

Rina yang berdiri di sampingnya tampak bingung dengan perubahan jadwal mendadak bosnya itu. "Bu Nadia, bukankah sepuluh menit lagi Ibu ada jadwal video conference dengan jajaran direksi cabang Surabaya?"

Nadia menatap layar tabletnya tanpa mengalihkan perhatian sepenuhnya dari sosok Satpam bermasker hitam di ujung lobi.

"Ubah jadwal videoconference-nya jadi tiga puluh menit lagi, Rina," perintah Nadia dengan suara datar namun tajam. "Katakan pada mereka saya ada urusan internal yang harus ditinjau sebentar di lobi."

"B-baik, Bu. Saya akan hubungi sekretariat cabang sekarang," jawab Rina sigap meski wajahnya menyiratkan rasa heran yang mendalam atas keputusan tidak biasa sang CEO.

Nadia meletakkan tabletnya di atas pangkuan, lalu menyandarkan dagunya di atas jemari tangannya yang saling bertaut. Dari jarak sekitar lima belas meter, matanya yang tajam bak elang mulai memperhatikan setiap gerak-gerik Satpam bermasker tebal itu secara intensif.

Nadia membaca tag nama berwarna emas yang tersemat di dada kiri seragam Satpam tersebut: ARGA D. P.

"Arga..." gumam Nadia sangat pelan di dalam hatinya, mengeja nama tersebut dengan penuh rasa curiga. "Namanya Arga. Tapi kenapa tinggi badan, cara melangkah, dan gestur tubuhnya bisa persis sekali dengan pria norak di Kafe Merah itu? Apa ini cuma kebetulan yang tidak masuk akal, atau ada sesuatu yang disembunyikan?"

Sementara itu, di tempatnya berdiri, Arga bisa merasakan dengan sangat jelas bahwa sepasang mata dingin milik CEO Nugroho Group itu sedang tertuju lurus padanya tanpa berkedip. Keringat dingin mulai membasahi punggung bajunya di balik seragam Satpam yang tebal. Arga menggertakkan giginya di balik masker hitam, berjuang keras menahan getaran refleks pada kakinya agar tetap terlihat kokoh bak patung penjaga.

Nadia terus duduk anggun di sofa lobi utama, melipat tangannya di dada, dan memandangi Arga dari kejauhan dengan tatapan penuh selidik yang seolah siap membongkar rahasia di balik masker tebal tersebut.

1
Dian Paramita Dewi
Salam kenal, bantu like ya Kak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!