Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-detik Kritis di Bawah Langit Kelam
"VARRO!"
Jeritanku melengking tinggi, merobek keheningan malam yang baru saja mereda dari riuhnya pertempuran. Suaraku serak, bergetar hebat, tertelan oleh kepanikan luar biasa yang menghantam dada hingga membuatku nyaris sesak napas.
Telapak tanganku yang gemetar kini sepenuhnya basah oleh cairan hangat berwarna merah pekat, darah segar yang terus mengucur deras dari luka tusukan di lambung bawah Varro. Kemeja hitam yang dikenakannya robek, memperlihatkan robekan daging yang menganga lebar akibat hantaman pisau licik salah satu anak buah Raka saat Varro sedang berlutut tak berdaya melindungiku.
"Al! Varro!"
Suara teriak panik Marcel menggema dari arah samping. Dalam hitungan detik, Marcel dan Brandon berlari kencang menerjang debu lapangan pabrik, meninggalkan kerumunan anggota geng Viper yang kocar-kacir melarikan diri ke dalam kegelapan.
Begitu sampai di hadapan kami, wajah Marcel dan Brandon seketika berubah pucat pasi. Pemandangan ketua mereka yang terkapar tak sadarkan diri di pangkuanku dengan genangan darah di sekelilingnya membuat dunia seolah runtuh seketika.
"Al! Buka mata lo, Al!" Marcel berlutut dengan kasar, menepuk pelan pipi Varro yang mulai mendingin. Tidak ada jawaban. Napas Varro terdengar sangat lemah, tersengal-sengal di ujung tenggorokan, sementara kelopak matanya terpejam rapat dengan wajah tampan yang dipenuhi lebam.
Brandon yang biasanya selalu tenang dan berkepala dingin kini tampak kehilangan kendali. Napasnya memburu cepat, namun insting kepemimpinannya langsung mengambil alih situasi darurat tersebut.
"Marcel, jangan ditepuk-tepuk lukanya! Cepat buka pintu belakang mobil Varro sekarang juga!" perintah Brandon dengan suara bariton yang bergetar tegas. "Kita gak punya waktu buat tunggu ambulans! Kita bawa dia ke rumah sakit swasta terdekat sekarang!"
Tanpa menunggu aba-aba kedua kali, Marcel melompat bangkit dan berlari membuka pintu mobil BMW M8 Coupe milik Varro lebar-lebar.
Dengan gerakan penuh kehati-hatian, Brandon dan Marcel mengangkat tubuh lemas Varro dari pangkuanku untuk dipindahkan ke jok belakang mobil. Aku ikut merangkak masuk, menumpu kepala Varro di atas pahaku agar ia merasa sedikit lebih nyaman, sementara tanganku terus menekan kuat-kuat kain kemejanya yang berdarah untuk menahan laju pendarahan.
"Gisel, tekan lukanya yang kuat tapi jangan dilepas!" instruksi Brandon panik, langsung mengambil alih kursi pengemudi, sementara Marcel duduk di kursi penumpang depan.
VRROOOOM!
Mobil sport mewah itu melompat maju, menerobos jalanan berbatu pabrik tua dengan kecepatan tinggi, membelah malam Jakarta menuju rumah sakit terdekat.
Suasana di dalam kabin mobil belakang terasa begitu mencekam dan menyesakkan. Bau amis darah menyengat tajam di setiap hirupan napas. Aku menunduk, menatap wajah Varro yang sangat pucat di pangkuanku. Bibirnya yang biasa tersenyum miring mengejek kini tampak membiru, dan bulu matanya yang panjang bergetar lemah.
"Varro... buka mata lo..." bisikku di antara isak tangis yang tak mampu kutahan lagi. Air mataku menetes deras jatuh mengenai pipinya yang dingin. "Jangan tinggalin gue... Lo udah janji mau balik dalam keadaan selamat, Varro... Tolong..."
Perlahan, di luar dugaan, kelopak mata Varro bergetar terbuka selebar celah tipis. Bola mata cokelat gelapnya yang redup menatap lurus ke arahku. Suaranya keluar begitu pelan, nyaris berupa bisikan yang tertelan oleh deru mesin mobil.
"Gi... sel..." panggilnya patah-patah.
"Iya, Varro! Gue di sini! Gue ada di samping lo!" jawabku cepat, mencengkram jemari tangannya yang mulai mendingin.
Varro menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman lemah yang dipaksakan di tengah rasa sakit luar biasa yang meremukkan tubuhnya. "Jangan... nangis..." bisiknya terbata. "Gue... belum... mati... Gisel cantik..."
"Jangan ngomong yang aneh-aneh!" bentakku di sela isak tangisku, meski hatiku hancur berkeping-keping mendengarnya. "Simpan tenaga lo! Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit!"
Varro kembali memejamkan matanya, napasnya terdengar makin memburu dan melemah di setiap detik yang berjalan.
Di kursi depan, Brandon menginjak pedal gas hingga batas maksimal, melanggar beberapa lampu merah demi mempercepat waktu tempuh. "Tahan sebentar lagi, Al! Dua menit lagi kita sampai di IGD Rumah Sakit Medika!" seru Brandon lewat kaca spion, raut wajahnya dipenuhi kecemasan yang teramat sangat.
Setibanya di halaman IGD Rumah Sakit Medika, mobil berhenti mendadak sebelum pintunya terbuka sempurna. Brandon dan Marcel langsung berteriak memanggil para tenaga medis.
Dalam hitungan detik, beberapa perawat mendorong brankar dorong darurat keluar. Tubuh Varro yang berlumuran darah dipindahkan dengan cepat di atas tempat tidur beroda itu. Aku ikut berlari mendampingi brankar, menggenggam erat tangan Varro yang terkulai lemas hingga pintu IGD berwarna putih bersih menghentikan langkahku.
"Maaf, Non, keluarga tidak boleh masuk ke ruang tindakan," cegah seorang perawat berjas putih tegas, lalu mendorong pintu hingga tertutup rapat di depan mataku.
Ceklek!
Lampu penanda 'OPERASI/TINDAKAN DARURAT' di atas pintu mendadak menyala terang berwarna merah menyala.
Aku berdiri terpaku di depan pintu ruang IGD yang tertutup rapat. Kakiku terasa lemas tak bertulang, hingga aku luruh dan terduduk lemas di atas lantai rumah sakit yang dingin. Tanganku... telapak tanganku masih berlumuran darah segar milik Varro. Pemandangan itu membuat dadaku bergemuruh hebat, menghadirkan rasa sesak yang luar biasa menyakitkan.
Marcel berjalan mondar-mandir di koridor dengan napas memburu, mengacak-acak rambutnya frustrasi, sementara Brandon berdiri bersandar di dinding koridor dengan tatapan kosong nan tajam ke arah lantai.
"Ini semua gara-gara Raka..." desis Marcel penuh amarah, memukul dinding rumah sakit dengan kepalan tangannya hingga buku-buku jarinya memerah. "Kalau sampai terjadi sesuatu sama Al... gue bakal ratakan kelompok Viper sampai gak ada yang tersisa di kota ini!"
Brandon tidak menjawab kemarahan Marcel. Pria berkacamata itu melangkah mendekatiku yang masih duduk bersimpuh di lantai, lalu berlutut menyamakan tinggi posisinya denganku.
"Gisel..." panggil Brandon lembut. Suaranya yang tenang namun sarat akan kesedihan berhasil menarik perhatianku. Brandon menyodorkan selembar tisu bersih ke tanganku. "Bersihkan tangan lo dulu. Al pasti gak bakal suka kalau lihat lo syok dan terluka begini."
Aku menerima tisu itu dengan jemari gemetar, menyeka noda darah di telapak tanganku meski rasa perih di dadaku jauh lebih menyakitkan daripada luka fisik apa pun.
"Brandon..." suaraku terdengar serak dan nyaris tak bernyebut. "Varro... Varro bakal selamat, kan? Dia gak bakal ninggalin gue, kan?"
Brandon menatapku lekat-lekat. Ada binar ketulusan di mata pria itu yang mencoba menenangkan badai di dalam hatiku. "Al adalah orang paling kuat dan keras kepala yang pernah gue kenal, Gisel. Dia bertahan hidup di lingkungan keluarga yang mengabaikannya selama bertahun-tahun, dan dia melewati banyak pertarungan maut di jalanan. Dia punya alasan paling kuat buat bertahan sekarang... yaitu lo."
Kalimat Brandon membuat air mataku kembali tumpah membasahi pipi.
Ya, dia baru saja mendengar pengakuan cintaku tadi malam. Dia tidak mungkin menyerah begitu saja.
Waktu berjalan terasa begitu lambat merayap. Jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul satu lewat empat puluh dini hari. Selama hampir tiga jam penuh, kami bertiga duduk dalam keheningan yang mencekam di kursi tunggu ruang IGD, menanti detik-detik nasib Varro di dalam sana.
Hingga akhirnya suara derit pintu ruang tindakan terbuka lebar.
Seorang dokter bedah paruh baya berjas putih keluar dari balik pintu dengan raut wajah letih namun tenang, melepas masker bedah yang melilit di wajahnya.
Kami bertiga langsung bangkit berdiri serentak, melangkah cepat menghampiri sang dokter.
"Dok! Gimana keadaan sahabat saya?!" berondong Marcel tak sabar.
Dokter itu menghela napas panjang, lalu menatap kami bergantian dengan senyum tipis yang menenangkan. "Puji Tuhan, operasi daruratnya berjalan lancar. Tusukan pisaunya memang cukup dalam dan nyaris mengenai organ penting di sekitar lambung, tapi kita berhasil menghentikan pendarahannya tepat waktu."
Mendengar penjelasan itu, beban berat yang sejak tadi menghimpit rongga dadaku seolah diangkat seketika. Lututku yang tadinya lemas mendadak terasa mendapat tenaga kembali. Aku menghempaskan napas panjang penuh rasa syukur.
"Tapi..." lanjut sang dokter, membuat napas kami kembali tertahan, "pasien saat ini masih belum sadarkan diri akibat efek bius total dan kehilangan banyak darah. Beliau harus dipindahkan ke ruang ICU untuk pemantauan intensif selama 24 jam ke depan. Jangan ada tamu yang mengganggu istirahatnya dulu."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak," jawab Brandon mewakili kami, menyalami tangan dokter tersebut penuh rasa lega.
"Sama-sama. Silakanurus administrasinya di bagian depan," kata dokter itu sebelum berjalan pergi menyusuri koridor.
Marcel merangkul bahu Brandon erat-erat, tertawa kecil penuh kelegaan. "Dengar itu, Bran? Al selamat! Ketua kita lolos dari maut!"
Brandon mengangguk pelan, lalu menoleh menatapku yang masih terdiam di depan pintu ruang tindakan. "Gisel, lo dengar sendiri kan kata dokter? Al udah melewati masa kritisnya. Lo bisa masuk sebentar buat lihat dia sebelum dipindahkan ke ruang ICU, tapi jangan lama-lama ya."
Aku mengangguk pelan, menyeka sisa air mata di wajahku. Dengan langkah perlahan, aku mendorong pintu kamar pemulihan darurat di mana Varro terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Ruangan itu beraroma khas obat-obatan antiseptik yang menusuk hidung. Di bawah pendar lampu putih temaram, Varro terbaring tak berdaya di atas ranjang putih. Wajah tampannya tampak sangat pucat pasi, selang infus menancap di punggung tangan kanannya, dan perban tebal melilit rapi di perutnya.
Aku melangkah mendekat dengan hati-hati, seolah takut langkah kakiku bisa membangunkannya dari tidur lelap. Aku menarik kursi kecil, duduk tepat di samping ranjangnya.
Jemari tanganku yang gemetar terulur perlahan, menggenggam tangan Varro yang terasa dingin.
"Varro..." bisikku lirih, mengecup punggung tangannya dengan penuh kelembutan. "Lo hebat banget... Lo bener-bener menepati janji lo buat balik ke hadapan gue."
Di atas ranjang, Varro masih terpejam rapat. Tidak ada suara, tidak ada seringai usil atau gombalan khasnya. Namun, di dalam keheningan malam itu, aku tahu persis bahwa perjuangan kami belum benar-benar selesai. Raka dan geng Viper masih berkeliaran di luar sana, dan ancaman itu sewaktu-waktu bisa kembali mengetuk pintu kehidupan kami.
Tapi untuk malam ini... aku hanya ingin duduk di sini, meresapi deru napasnya yang teratur, dan berjanji di dalam hati. Apapun badai yang datang esok hari, aku tidak akan pernah melepaskan tangan pria ini lagi.
Bersambung……