Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meninggalkan Gigolo
Begitu mendengar itu, Viktor langsung menajamkan matanya, darahnya mendidih,
seakan amarahnya telah memuncak.
Dia langsung meninggikan kecepatan mobilnya, menyalip dengan kencang sampai membuat tubuh Anne terhuyung-huyung, dia ketakutan.
Melihat pria itu seperti kesetanan membuat ia meringkuk di kursi sambil berpegangan pada handle.
'kenapa dia seperti ini? apa aku salah bicara?' batinya.
Mobil melaju dengan sangat cepat tak peduli Anne kini ketakutan setengah mati.
Pandangan pria itu begitu dingin, sampai
akhirnya ia berhenti di depan sebuah apotik.
Dia memarkirkan mobilnya, dan turun dari sana lalu berjalan menuju ke dalam apotik itu.
Anne melongok keluar jendela, 'apa yang
akan di lakukan pria itu?'
Tidak lama kemudian Viktor kembali, masuk ke dalam mobil itu dan melempar satu botol kapsul.
"Apa ini?" Anne menerimanya.
Viktor tak menjawab dan merutuki gadis itu yang tak bisa menggunakan matanya untuk membaca.
Anne lalu memindahkan tatapannya dari Viktor yang membisu ke botol itu, lalu
membaca indikasinya dan menyadari bahwa ini adalah kontrasepsi darurat.
Dia segera mengambil botol air mineral dan meneguk satu butir pil itu.
Viktor kembali menyalakan mobilnya melaju ke sebuah tempat.
****
Tidak lama kemudian mereka tiba di dalam hotel, Anne menjadi panik mengapa pria ini malah mengantarnya ke hotel?
Tak sempat bertanya Viktor segera menoleh, "turun!" perintahnya.
Arogansi yang di miliki pria itu memaksanya untuk turun, sehingga ia membuka pintu mobilnya.
Tidak lama Viktor keluar dia lalu berputar dan menggendong Anne tiba-tiba, Anne terkesiap namun Viktor melakukannya karena tak ingin Anne akan kabur setelah ini.
Mereka memasuki lift menuju ke sebuah kamar.
Setelah keluar dari pintu lift, resepsionis membungkuk hormat saat dia melangkah.
Viktor membuka pintu kamar presidential suite, Anne terbelalak karena kamar ini adalah kamar empat tahun silam saat mereka melakukan malam itu.
"Kenapa kamu membawaku kemari?" tanya Anne waspada.
"Jangan-jangan kamu masih ingin melaku... ahh..." belum selesai Anne berbicara Viktor menjatuhkan Anne di atas tempat tidur.
"Mandilah jangan banyak bicara, setelah ini aku akan memesankanmu makan, jika kamu masih ingin protes ku pastikan untuk menidurimu lagi!" ancam Viktor.
Anne panik mendengar ancaman itu, lagi
pula ia juga sangat ingin mandi dan berendam, tubuhnya terasa begitu lengket, sisa sentuhan pria itu semalam benar-benar membuatnya tak nyaman.
Setelah memberinya peringatan Viktor
kemudian pergi ke kamar mandi lain, barulah setelah itu Anne juga pergi ke kamar mandi.
Di dalam sana Viktor lantas melepaskan topengnya yang membuat ia gerah, dia lalu mengambil ponselnya dan memanggil Vin.
"Belikan aku satu set pakaian wanita ke kamar hotel, jangan lama-lama!"
"Baik, tuan."
Panggilan itu berakhir, Vin bergeming sebentar kemudian pergi untuk mencari apa yang bosnya minta.
***
Sesaat setelah Viktor selesai membersihkan tubuhnya dia kembali ke kamar.
Cahaya di kamar pagi itu tidak begitu terang, sedikit gelap, Anne membuka pintu keluar kamar mandi dengan jubah mandi, ketika itu ia melihat Viktor berdiri membelakanginya hanya mengenakan handuk sepinggang.
"Dimana pakaian untukku?"
Viktor terhenyak mendengar suara gadis itu, saat ini ia belum mengenakan kembali
topengnya, 'sial!"
Dan Vin pasti sebentar lagi akan mesini, ia mengetikan pesan di ponsel yang tengah ia genggam pada Vin, 'titipkan pakaiannya pada room service'. perintahnya.
Viktor yang sudah tiba di lantai kamar nya pun mendesah saat membaca pesan itu.
Sementara Viktor masih menunggu celah yang tepat untuk ia mengenakan topengnya lagi.
"Pergilah dahulu aku akan mengenakan pakaian ku!" akhirnya ia menemukan ide.
Anne terkesiap.
"Kamu tidak mungkin mau melihatku bertelanjang kan?" goda Viktor sambil mengancam Anne dengan mulai melepas
handuknya dalam posisi membelakangi itu.
Anne panik, "ah, iy-iyya ..." kemudian mematuhinya karena teringat dengan
ancamannya tadi.
Dia segera berlari masuk ke dalam kamar
mandi.
Viktor tersenyum puas, dia mengenakan topengnya lagi.
Tidak lama setelah itu room service datang mendorong troli meja dengan banyak makanan, dan dua papper bag berisi pakaiannya juga pakaian Anne.
Dia segera mengenalkan pakaiannya ketika
room service telah pergi.
"Apa belum selesai?" Anne berteriak dari dalam kamar mandi.
Viktor pun berjalan menuju pintu kamar mandi itu sambil mengulurkan papper bag
yang kemudian di terima oleh Anne.
"Cepat, kenakan pakaian mu," pintanya dan menutup pintu itu.
Beberapa saat kemudian Anne keluar dan
melihat berjejer makanan telah tertata di meja di dalam kamar itu.
"Makan lah, setelah ini aku akan mengantarmu pulang!" Viktor yang duduk di sofa itu berbicara.
Anne termenung sejenak, kemudian menarik nafasnya.
Saat di kamar mandi tadi ia sudah mengumpulkan sebuah tekad.
"Aku rasa esok kita tidak usah bertemu
lagi, jaminan satu milyar yang harus kamu
bayar tidak usah di teruskan lagi, semua ku anggap lunas," Anne berkata dengan hati-hati, ia rasa ini adalah keputusan yang baik, setelah apa yang mereka lewati semalam membuatnya tak mau lagi bertemu dengannya.
Meskipun dia baik, namun ia tak bisa meneruskan ini.
Viktor terdiam, di kepalanya kini mulai muncul asap setelah mendengar ucapan itu.
Anne diam-diam berjalan menuju pintu keluar tanpa ingin mencicipi makanan itu dahulu.
"Kau meninggalkanku setelah mendapatkan kepuasan dariku?"
"Dasar wanita laknat!" ucapan Viktor membuat langkah Anne terhenti secara mendadak.
Anne termenung.
"Ku rasa itu adalah pilihan yang terbaik,"
Viktor meremas tangannya dengan penuh emosi saat Anne berkata seperti ini.
"Baiklah, jika itu maumu, tapi ingat jika
ada sesuatu lagi aku tidak akan peduli
denganmu!" tentu saja Viktor tak ingin menjatuhkan harga dirinya dengan menahan seorang wanita yang ingin meninggalkannya.
"Ya, aku juga tidak akan menghubungimu
lagi," Viktor tak membalas lagi.
Saat itu Anne pun membuka pintu untuk keluar dari sana.
Di sepanjang jalan Anne menoleh ke belakang, mengingat tentang pria itu ia menjadi serba salah, "dia memang ayah dari anak-anak, tapi aku tidak bisa seperti ini terus, jika saja dia bukan gigolo, meskipun dia lelaki yang tak punya uang sekalipun aku pasti mau menerimanya dan hidup bersama anak-anak."
Sambil memikirkan itu Anne pun memasuki lift dan turun ke lantai satu untuk mencari taksi.
Sementara di dalam kamar, Viktor melepas topengnya dan melempar seluruh makanan yang ada di depannya, ia mengamuk sampai suara pecahan piring dan gelas itu menyeru keras.
***
Anne tiba di rumahnya.
Hari masih pagi, bibi Nora menyiapkan makanan untuk anak-anaknya.
"Nona kamu sudah pulang?" tanya bibi Nora.
Anne melihat raut kekhawatiran dari wajah wanita itu, "maafkan aku bi, aku pergi tidak bilang, semalam aku pergi untuk mengikuti acara jamuan temanku, dia naik jabatan di kantor." ujar Anne.
"Tapi karena terlalu malam akhirnya aku
memutuskan untuk menginap di rumahnya," lanjutnya.
"Ah begitu, yasudah tidak apa,"
"Apa anak-anak sudah bersiap diri?"
"Anak-anak sudah mandi, tinggal menunggu sarapan saja," terang bibi Nora .
"Terimakasih bi, sudah membantu ku saat aku sedang tidak bisa,"
"Nona seperti baru pertama kali mengenal
bibi saja," bibi Nora menyunggingkan senyumnya.
Anne mengangguk, dia kemudian masuk
ke dalam kamar anak-anaknya untuk melihat mereka dahulu, lalu memberi kecupan untuk mereka.
Anne menghela nafas, seharian ini banyak sekali hal yang membuat dia lelah, namun kehadiran anak-anaknya langsung mengobati rindunya.
Setelah itu Anne langsung menyiapkan diri untuk pergi ke kantor dengan cepat kilat.
la tak mau datang terlambat atau masalah akan bertambah dari bosnya.
Dia berjalan memasuki ruangan kerjanya lalu duduk di bangkunya.
Saat itu Alista pun langsung berlari mendekati Anne saat dia baru sampai di pintu.
"Anne!"
"Hei," Anne menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Apa semalam kamu tidak apa-apa?" Alista sangat penasaran.
"Tidak apa-apa, maaf jika semalam aku langsung menghilang,"
"Tidak apa-apa. Oiya apa kamu tahu Feline sekarang di pecat," ungkap Alista.
"Apa? Di pecat?" Anne syok mendengar ini.
"Ya, padahal dia baru saja naik jabatan," Anne kemudian ingat, bahwa kata pria itu Feline dan Selina telah berkomplotan untuk mencelakainya dengan memberi obat pada minumannya.
Apakah mungkin karena hal itu Feline di pecat dari perusahaan, lantas dari mana
perusahaan tahu jika semalam mereka melakukan tindak kejahatan itu?
"Dia di pecat dari perusahaan karena berusaha mencelakaimu semalam, aku juga minta maaf karena seharusya aku tidak mengajakmu datang ke jamuan itu, sehingga kamu harus mengalami hal tidak menyenangkan seperti ini, tapi untungnya
tuan Viktor datang tepat waktu dan menyelamatkan mu,"
"Apa tuan Viktor?" Anne mengerutkan keningnya.
"Ya, aku bertemu tuan Viktor saat baru
selesai rapat, dia kemudian mencarimu,"
Anne termenung, bukankah yang menyelamatkan dirinya adalah gigolonya lalu kenapa bisa tuan Viktor?
la jadi semakin curiga, 'jangan-jangan gigolo itu adalah tuan Viktor? Hah, tapi
sepertinya tidak mungkin, tapi bagaimana ini semua bisa terjadi? Dua orang yang berbeda menolongku dalam waktu yang bersamaan? aku harus menyelidiki kedua orang itu, ya...'
"Anne, kamu di panggil ke ruang personalia."
Saat mereka tengah mengobrol, suara seorang menghentikan lamunan Anne, dan Anne menyadari bahwa managernya yang telah menemuinya.
"Baiklah," Anne pun berdiri menuju bagian personalia setelah pamit kepada Alista.
Di sepanjang jalan ia merasa tak tenang, apakah ia juga akan di pecat oleh Viktor dari perusahaan ini? la menggelengkan kepalanya saat segala pikiran buruk menghantuinya.
Tiba di ruangan itu, ia segera menghadap bagian personalia.
"Anne, kamu sekarang naik jabatan untuk
menjadi sekretaris presdir,"
"Apa?" Anne langsung membolakan matanya.