Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Ciiit.
Mobil van hitam itu berhenti mendadak di area parkir bawah tanah sebuah gedung apartemen kumuh.
Clara segera mematikan mesin mobil dan mencabut kunci kontaknya dengan cepat.
"Ayo turun semuanya, kita sudah sampai di tempat persembunyian daruratku yang paling aman," perintah Clara sambil menengok ke kanan dan ke kiri.
Bayu menggeser pintu mobil dengan pelan sambil memegangi perutnya yang masih terasa kaku.
Anya ikut melompat turun dari kursi belakang sambil memeluk erat tas ransel yang berisi dokumen rahasia tersebut.
"Tempat ini terlihat sangat sepi dan sedikit menyeramkan ya," komentar Anya memandangi pilar pilar beton yang berlumut.
"Justru karena sepi makanya tempat ini aman dari pantauan polisi dan tikus tikus suruhan ibu kota," jawab Clara berjalan memimpin di depan.
Mereka bertiga menaiki tangga darurat yang gelap gulita menuju ke lantai tiga bangunan tersebut.
Klek.
Clara membuka tiga lapis kunci gembok pada sebuah pintu kayu tua lalu mendorongnya ke dalam.
Ruangan apartemen itu tidak terlalu besar namun memiliki perlengkapan komputer yang sangat lengkap di sudutnya.
"Duduklah di sofa itu, aku akan mengambilkan sesuatu untuk mengganjal perut kita," kata Clara berjalan menuju dapur kecil.
Bayu menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa usang berwarna cokelat sambil menghela napas panjang.
Rasa lelah yang amat sangat akhirnya mulai menyelimuti seluruh otot dan tulang di tubuhnya.
Krasak.
Clara kembali dari dapur dan melemparkan tiga bungkus plastik ke atas meja ruang tamu.
"Aku cuma punya stok telur ayam rebus LunaraMode di kulkas, makanlah untuk memulihkan tenaga kalian," ucap Clara mengambil satu bungkus untuk dirinya sendiri.
Anya langsung tersenyum lebar melihat merek makanan yang ada di atas meja tersebut.
"Wah kebetulan sekali, telur ayam LunaraMode ini memang punya kandungan protein yang sangat tinggi," puji Anya membuka bungkus plastiknya dengan semangat.
Bayu mengambil satu butir telur rebus itu dan langsung melahapnya dalam dua kali gigitan besar.
"Rasanya lumayan enak untuk ukuran makanan darurat di tengah pelarian," gumam Bayu mengunyah makanannya.
Setelah menghabiskan makanan ringan mereka, suasana di ruang tamu itu mendadak berubah menjadi sangat serius.
Anya mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam amplop cokelat dan menyebarkannya di atas meja kaca.
"Baiklah, mari kita lihat apa sebenarnya isi dari Proyek Artefak Dimensi Kerajaan Sakral ini," ucap Anya membetulkan letak kacamatanya.
Mata gadis itu bergerak cepat membaca deretan rumus fisika kuantum dan diagram mesin yang tergambar di kertas.
"Ini gila, teori yang ada di dokumen ini benar benar melampaui teknologi manusia modern zaman sekarang," bisik Anya dengan raut wajah terkejut.
Bayu mencondongkan tubuhnya ke depan menatap lembaran kertas yang sama sekali tidak dipahaminya itu.
"Bisa kamu jelaskan dengan bahasa manusia biasa Nona Kacamata?" sindir Bayu meminta penjelasan sederhana.
Anya mendelik tajam ke arah Bayu sebelum akhirnya menunjuk sebuah gambar batu berbentuk kristal di tengah kertas.
"Orang tuamu adalah kepala peneliti yang berhasil menstabilkan energi dari Batu Waktu ini," jelas Anya memulai presentasinya.
"Menurut catatan ini, Batu Waktu sebenarnya adalah setengah bagian dari kunci gerbang dimensi rahasia."
Clara yang sedang mengetik di laptopnya langsung memutar kursi rodanya menghadap ke arah mereka berdua.
"Setengah bagian? Lalu di mana setengah bagian yang lainnya?" tanya sang informan bawah tanah itu penasaran.
"Setengahnya lagi adalah Relik Ruang, dan artefak itu saat ini berada di tangan Dewa Danuartha," jawab Anya menunjuk nama yang dilingkari tinta merah.
Bayu mengepalkan tangannya kuat kuat saat mendengar nama pria yang telah menghancurkan keluarganya tersebut.
"Jadi Dewa Danuartha membutuhkan Batu Waktu milikku untuk menggabungkannya dengan Relik Ruang miliknya?" simpul Bayu dengan tatapan mata yang sangat dingin.
"Tepat sekali, penggabungan ruang dan waktu akan menciptakan sebuah lubang cacing permanen menuju dimensi asal relik tersebut," jelas Anya membaca paragraf kesimpulan di halaman terakhir.
"Orang tuamu menyadari bahaya dari ambisi Dewa Danuartha, makanya mereka menyabotase sistem inti Batu Waktu dan membawanya kabur."
Bayu terdiam sejenak mencerna rentetan informasi yang baru saja membuka tabir masa lalu keluarganya.
"Pantas saja Paman Herman sangat berambisi merebut batu ini dariku malam ini," gumam Bayu teringat wajah pria tua yang mati dalam ledakan itu.
"Dia hanyalah anjing peliharaan yang berharap mendapat tulang dari majikannya di ibu kota."
Clara tiba tiba menekan tombol pengeras suara di laptopnya hingga terdengar suara kresek kresek frekuensi radio.
"Kalian harus mendengarkan ini, aku baru saja menyadap saluran komunikasi radio kepolisian pusat," sela Clara dengan wajah tegang.
Bzzzzt.
"Pusat komando, kami melaporkan bahwa seluruh area Kobra Tower dan helipad bukit utara sudah diisolasi penuh," lapor sebuah suara berat dari dalam radio.
"Apakah kalian menemukan jejak pelaku atau barang bukti di lokasi kejadian?" balas suara lain dari pusat.
"Negatif komandan, namun kami baru saja menerima instruksi langsung dari kementerian pertahanan."
Suara di radio itu terdengar sedikit bergetar seolah sedang membicarakan sesuatu yang sangat menakutkan.
"Pasukan khusus dari Konsorsium Ibu Kota yang dipimpin oleh tim Anjing Geladak akan mengambil alih kasus ini mulai besok pagi."