NovelToon NovelToon
Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Warisan Hati & Si Kecil Berbakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Anak Genius / Cintapertama
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Andi diana Nana anggrini

CEO dingin Lin Yicheng meninggalkan Su Wan lima tahun lalu tanpa tahu ia mengandung anaknya. Kini Su Wan kembali membawa Lin Xiaoqi, putra jenius berusia lima tahun yang bertekad menyatukan orang tuanya. Si kecil perlahan mencairkan hati batu sang ayah, namun ancaman bisnis dan penolakan keluarga menguji cinta mereka. Warisan terbesar bukanlah harta, tapi keluarga yang akhirnya bersatu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andi diana Nana anggrini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Kecil di Kepala Anak Jenius

Xiaoqi bukan anak biasa. Orang melihatnya hanya sebagai anak laki-laki berusia lima tahun yang ceria, sedikit pendiam, tapi selalu sopan dan cerdas. Mereka tidak tahu bahwa di kepala kecilnya, tersimpan pikiran yang jauh lebih dewasa dari usianya. Di saat anak-anak lain sibuk bermain mobil-mobilan atau boneka, Xiaoqi sibuk mengamati, menganalisis, menyusun rencana — persis seperti ayahnya, tanpa pernah diajari. Ia memiliki ketajaman observasi yang luar biasa, kemampuan menghafal detail yang orang lain lewatkan begitu saja, dan tekad yang tak mudah goyah — sifat yang ia warisi dari kedua orang tuanya, meski ia belum menyadarinya sepenuhnya.

Pagi itu, setelah Su Wan berangkat ke toko bunga, Xiaoqi duduk di meja belajarnya di ruang tengah. Di depannya terhampar selembar kertas besar, pensil, penggaris, dan peta kota yang ia unduh dari ponsel ibunya saat ia sedang tidur semalam. Di sampingnya berdiri sebuah jam weker kecil yang berdetak pelan — hadiah ulang tahun yang ia terima saat berusia empat tahun, dan sejak saat itu, ia selalu membawa ke mana pun ia pergi. Bagi Xiaoqi, waktu bukan sekadar angka di layar — waktu adalah alat. Dan ia akan menggunakannya dengan cerdik.

Ia mulai menggambar — garis lurus melambangkan jalan, kotak-kotak melambangkan gedung, titik merah melambangkan posisi rumahnya, dan titik biru besar melambangkan Grup Lin, gedung tempat ayahnya bekerja. Ia menghitung jarak di peta, memperkirakan waktu tempuh dengan bus kota, lalu mencoret angka yang tidak cocok dan menggantinya dengan angka baru. Alisnya sedikit berkerut, bibirnya bergerak pelan seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri, menghitung, menyesuaikan, menyempurnakan.

"Jaraknya sekitar tiga kilometer," bisiknya pelan, jari telunjuknya menelusuri garis di peta. "Bus nomor tujuh berhenti di depan gedung itu. Berangkat pukul tujuh lewat dua puluh menit, sampai di sana pukul tujuh lewat empat puluh lima. Tapi Ayah biasanya sampai di kantor pukul enam lewat tiga puluh, kata Ibu — dari cerita lama. Jadi kalau aku datang terlalu pagi, mungkin aku tidak bisa menemuinya. Kalau aku datang jam makan siang, dia mungkin sedang makan. Kalau sore, dia mungkin sudah pulang."

Xiaoqi berhenti sejenak, berpikir keras. Ia mengambil peta itu lagi, melihat rute alternatif, lalu menulis di bagian bawah kertasnya: Rencana A, Rencana B, Rencana C. Seorang anak jenius tidak hanya punya satu rencana — ia harus punya cadangan.

Ia mulai menulis:

Rencana A — Hari Rabu Depan, Pukul 11.30

Alasan: Ayah pasti istirahat makan siang, tidak terlalu sibuk dibanding pagi hari. Gedung tidak terlalu ramai.

Cara: Naik bus nomor 7 dari halte dekat rumah, turun di Halte Pusat Bisnis. Masuk ke lobi, cari informasi — nama Ayah: Lin Yicheng, Lantai 40.

Tujuan: Melihat Ayah dari dekat, memastikan dia benar-benar Ayah. Belum bicara dulu.

Kembali sebelum jam 13.00, sebelum Ibu pulang dari toko bunga.

Rencana B — Kalau Rencana A Gagal

Datang hari Jumat sore, pulang sekolah. Berdiri di seberang gedung sampai Ayah pulang kerja. Ikuti dari kejauhan, lihat ke mana dia pergi, apakah dia sendirian.

Catatan: Jangan sampai ketahuan. Jangan membuat Ibu khawatir.

Rencana C — Kalau Ayah Tidak Pernah Keluar

Kirim surat. Tulis nama Ayah, alamat Grup Lin, Lantai 40. Isi surat: "Halo Ayah. Aku Xiaoqi. Aku menunggumu di seberang gedung." Kirim lewat pos kurir, jangan pakai nama pengirim. Supaya Ayah penasaran dan datang melihat sendiri.

Xiaoqi meletakkan pensil, menatap tulisan-tulisannya dengan puas. Tiga rencana. Cukup aman. Cukup sederhana. Dan tidak akan membuat Ibu tahu — setidaknya belum untuk saat ini. Ia tidak ingin mengecewakan Ibu, tidak ingin melanggar janji untuk bersabar — tapi menunggu saja tidak akan menyelesaikan apa-apa. Ibu bilang Ayah orang yang sangat sibuk, orang yang mungkin tidak tahu tentang keberadaannya. Kalau ia tidak bertindak, kapan Ayah akan tahu? Kalau ia tidak pergi ke sana, kapan mereka akan menjadi keluarga yang lengkap?

Ia melipat kertas itu dengan hati-hati, menyimpannya di dalam laci rahasia mejanya — di bawah tumpukan buku cerita, di belakang kotak pensil, tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun kecuali dirinya sendiri. Lalu ia berdiri, merenggangkan tubuhnya, tersenyum kecil. Semuanya sudah direncanakan. Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat.

 

Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa. Xiaoqi bersikap seolah tidak terjadi apa-apa — bangun pagi, sarapan, berangkat sekolah, pulang, mengerjakan tugas, membantu Ibu di toko bunga jika sore tidak terlalu ramai. Ia tidak bertanya lagi tentang Ayah setiap hari, tidak menatap gedung itu terlalu lama di depan Ibu — ia belajar menyembunyikan perasaannya, persis seperti ayahnya yang menyembunyikan kesepian di balik wajah dingin. Su Wan merasa lega, berpikir bahwa Xiaoqi akhirnya mulai terbiasa, mulai menerima keadaan, mulai berhenti terlalu memikirkan hal yang belum siap ia hadapi. Ia tidak tahu bahwa di kepala putranya, rencana itu sudah matang, sudah diatur, dan tinggal menunggu hari pelaksanaannya.

Sore itu, saat mereka sedang merangkai bunga bersama di toko, Xiaoqi bertanya dengan nada santai, seakan itu pertanyaan biasa saja:

"Bu, kalau aku pergi ke tempat yang agak jauh, naik bus sendiri, boleh tidak?"

Su Wan berhenti merangkai bunga, menatap anaknya dengan sedikit terkejut. "Naik bus sendiri? Xiaoqi, kamu baru lima tahun. Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"

"Enggak apa-apa, cuma penasaran," jawab Xiaoqi sambil menyusun bunga melati ke dalam vas, wajahnya tenang, tidak menunjukkan kegugupan sedikit pun. "Teman di sekolah bilang dia bisa naik bus sendiri ke rumah nenek. Jadi aku pikir, mungkin aku juga bisa. Kalau rutenya sudah hafal, kan?"

Su Wan tersenyum, mengelus rambut anaknya. "Kamu pintar, Xiaoqi. Tapi naik bus sendiri itu berbahaya untuk anak seumuranmu. Nanti saja kalau sudah lebih besar, ya? Kalau kamu mau pergi ke mana-mana, beri tahu Ibu, nanti Ibu antar. Kamu tidak perlu pergi sendirian."

Xiaoqi mengangguk, tersenyum manis. "Iya, Bu. Aku tahu. Cuma bertanya saja."

Tapi di dalam hatinya, ia berpikir — Ibu tidak akan pernah mengizinkannya. Jadi ia harus pergi tanpa memberi tahu. Bukan karena tidak patuh, bukan karena ingin membuat Ibu marah — tapi karena ini penting. Lebih penting daripada aturan, lebih penting daripada ketakutan. Ini tentang keluarga. Dan keluarga harus disatukan, apa pun caranya.

 

Hari Rabu pun tiba — hari pelaksanaan Rencana A.

Pagi itu, Xiaoqi bersikap biasa saja. Ia sarapan dengan lahap, memakai seragam sekolahnya, melambaikan tangan saat Su Wan mengantarnya ke gerbang sekolah. Tapi begitu mobil ibunya menghilang di tikungan jalan, Xiaoqi berbalik arah — bukan masuk ke gerbang sekolah, melainkan berjalan perlahan ke arah halte bus di seberang jalan, tempat yang sudah ia hafal rutenya sejak lama. Ia memeriksa jam weker kecil di tas punggungnya — pukul tujuh lewat dua puluh lima. Bus nomor tujuh biasanya lewat pukul tujuh lewat tiga puluh. Ia punya waktu cukup.

Ia berdiri di halte, tas punggung kecil di punggungnya, memakai topi sekolah yang ditarik sedikit ke bawah agar tidak terlalu mudah dikenali, wajahnya tenang namun jantungnya berpacu cepat — bukan karena takut, tapi karena antusias. Hari ini ia akan melihat ayahnya dari dekat. Hari ini ia akan membuktikan bahwa gedung tinggi itu bukan sekadar bangunan — itu tempat di mana separuh dirinya berada.

Bus nomor tujuh datang tepat waktu. Xiaoqi naik ke atas, membayar ongkos dengan uang saku yang ia tabung selama berminggu-minggu, lalu duduk di kursi dekat jendela, menatap ke luar, menghitung setiap pemberhentian, memastikan tidak melewati tempat tujuannya. Setiap kali bus berhenti, ia mengecek nama tempat di papan tulis, membandingkan dengan peta yang sudah ia hafal di kepalanya. Benar — rutenya tepat.

Pukul sebelas lewat empat puluh lima, bus berhenti di Halte Pusat Bisnis. Xiaoqi turun, berdiri di trotoar luas yang bersih, dan di hadapannya — menjulang tinggi, megah, berkilau terkena sinar matahari siang — gedung Grup Lin. Lebih besar, lebih megah, lebih mengesankan daripada yang ia lihat dari kejauhan. Xiaoqi mendongak tinggi, menatap lantai demi lantai hingga puncaknya, dan dadanya terasa penuh — bangga, kagum, dan sedikit gugup. Ayahnya ada di sana. Di puncak gedung ini.

Ia berjalan menuju pintu utama, dua pintu kaca besar yang terbuka otomatis saat ia mendekat. Lobi di dalamnya luas, dingin, berlantai marmer putih yang mengkilap, dipenuhi tanaman hias besar di sudut-sudut ruangan, dan di dinding depan tertera tulisan emas berkilau — GRUP LIN. Beberapa orang berjalan terburu-buru masuk dan keluar, semua berpakaian rapi, semua terlihat sibuk. Xiaoqi berdiri diam di dekat pintu, memperhatikan resepsionis di meja depan, lalu berjalan perlahan mendekat.

Dua wanita muda di meja resepsionis melihat anak kecil yang berjalan sendirian menuju mereka, dan mereka sedikit terkejut. Seorang anak kecil dengan seragam sekolah, berdiri tegak di depan meja resepsionis, menatap mereka dengan mata besar yang jernih, tidak malu-malu sama sekali.

"Halo, Nak," sapa salah satu wanita itu dengan ramah. "Kamu mencari siapa? Orang tuamu di mana?"

Xiaoqi tersenyum sopan, menangkupkan kedua tangannya di depan perut, berusaha terlihat setenang mungkin. "Halo, Kak. Saya mencari Tuan Lin Yicheng. Dia ada di lantai empat puluh, kan?"

Wanita itu sedikit terkejut, menatap rekan kerjanya sejenak, lalu kembali menatap Xiaoqi. "Tuan Lin Yicheng? Kamu tahu nama dia dari mana? Dan siapa kamu?"

"Dia ayah saya," jawab Xiaoqi dengan yakin, suaranya jernih dan tegas, tidak ada keraguan sedikit pun. "Saya Lin Xiaoqi. Saya ingin bertemu Ayah. Boleh saya naik ke atas?"

Kedua wanita itu saling pandang lagi, matanya membelalak terkejut. Anak ini mengatakan Tuan Lin adalah ayahnya? Lin Yicheng yang dingin, yang tidak pernah terlihat membawa keluarga, yang tidak pernah disebutkan memiliki anak? Mereka tidak berani sembarangan mengizinkan anak kecil naik ke lantai empat puluh — itu kantor CEO, area terlarang bagi orang asing. Tapi anak ini… wajahnya, matanya, cara dia berdiri dan berbicara — semuanya terlihat begitu mirip dengan Tuan Lin. Bahkan ekspresinya, tatapannya, ketegasan di matanya — persis seperti dia.

"Nak… maksud kami…" wanita itu sedikit bingung, memilih kata dengan hati-hati. "Tuan Lin sedang sangat sibuk hari ini. Dia sedang rapat penting. Mungkin kamu bisa datang lain kali bersama ibumu, ya? Kami tidak bisa mengizinkan anak kecil naik ke atas sendirian. Maaf ya."

Xiaoqi tidak kecewa. Ia sudah memprediksi hal ini — Rencana A belum tentu berhasil pada percobaan pertama. Ia mengangguk sopan. "Baik, Kak. Saya mengerti. Kalau Ayah sedang sibuk, saya tidak mau mengganggu. Boleh saya tahu kapan Ayah selesai makan siang? Saya bisa menunggu di sini."

"Kami tidak tahu pasti, Nak. Beliau tidak selalu makan di jam yang sama," jawab wanita itu lembut, merasa kasihan melihat anak kecil yang begitu sopan dan tegas ini. "Mungkin kamu pulang dulu, ya? Nanti biarkan ibumu yang mengantar ke sini."

"Baik, Kak. Terima kasih," Xiaoqi membungkuk sedikit, lalu berjalan mundur perlahan, tidak langsung pergi. Ia berjalan ke sudut lobi, duduk di bangku panjang di dekat pintu keluar, pura-pura memainkan jam weker di tasnya, tapi matanya tetap mengawasi lift dan pintu masuk. Ia tidak akan pergi begitu saja. Kalau tidak bisa naik ke atas, ia akan menunggu di sini. Cepat atau lambat, ayahnya akan keluar untuk makan siang. Dan saat itu terjadi, ia akan melihatnya — dari dekat, bukan dari kejauhan seperti biasanya.

 

Sementara itu, di lantai empat puluh, Yicheng baru saja selesai menandatangani dokumen terakhir. Ia merenggangkan tubuhnya yang kaku, melirik jam di dinding — pukul dua belas lewat sepuluh. Sudah waktunya makan siang. Biasanya ia memesan makanan ke kantor dan makan sambil bekerja, tapi hari ini, entah mengapa, ia merasa ingin keluar ruangan, menghirup udara segar, berjalan sebentar di luar gedung. Sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk turun ke lobi, seakan ada sesuatu yang menunggunya di bawah sana.

Ia meraih jasnya, memakainya rapi, berjalan menuju lift pribadinya, dan menekan tombol lobi. Pintu lift terbuka, dan ia masuk sendirian. Saat lift turun perlahan, ia merenung — belakangan ini, ia sering merasa seperti ini, gelisah, seakan ada sesuatu yang penting yang sedang terjadi di sekitarnya, sesuatu yang ia lewatkan karena terlalu sibuk bekerja. Dan anak kecil yang berdiri di seberang gedung itu — ia tidak tahu mengapa, tapi ia berharap melihatnya lagi.

 

Di lobi, Xiaoqi masih duduk di bangku panjang, matanya tak lepas dari pintu lift. Ia sudah menunggu lebih dari tiga puluh menit, tapi ia tidak bosan, tidak lelah, tidak gelisah. Ia terbiasa menunggu — menunggu Ibu pulang dari toko, menunggu hari libur, menunggu waktu yang tepat untuk bertemu Ayah. Menunggu adalah hal yang ia pelajari dengan baik selama lima tahun ini.

Tiba-tiba, pintu lift di sudut lobi terbuka — lift yang tidak pernah digunakan orang lain, lift khusus untuk lantai atas. Xiaoqi berdiri perlahan, jantungnya berpacu cepat, napasnya tertahan di tenggorokan. Pintu terbuka, dan seorang pria melangkah keluar — tinggi, berjas hitam rapi, rambut hitam tertata sempurna, wajahnya tegas namun terlihat sedikit lelah. Ia berjalan dengan langkah tegap, tenang, penuh wibawa — dan matanya, matanya yang tajam dan cerdas, persis seperti matanya sendiri.

Itu Ayah. Xiaoqi mengenalnya seketika, tanpa keraguan, tanpa ragu sedikit pun. Wajah itu — rahang tegas, alis yang sama, bentuk hidung yang sama, bahkan cara ia berjalan — semuanya persis seperti di foto yang ia simpan di saku jaketnya. Hanya saja, di kehidupan nyata, Ayah terlihat lebih gagah, lebih kuat, dan… lebih lelah dari yang dibayangkannya.

Xiaoqi melangkah maju tanpa sadar, satu langkah, dua langkah, mendekat ke arah pria itu. Ia ingin memanggil, ingin berteriak "Ayah!", ingin berlari dan memeluknya — tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, berat, sulit diucapkan. Ia takut. Takut Ayah tidak mengenalnya, takut Ayah tidak menginginkannya, takut Ayah akan pergi sebelum sempat menyapanya.

Yicheng berjalan keluar dari lift, berniat menuju pintu utama, tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok kecil berdiri di depannya — anak laki-laki dengan seragam sekolah, mata besar yang menatapnya tak berkedip, wajahnya sedikit terkejut namun penuh harap. Hati Yicheng berhenti berdetak sejenak. Anak ini… anak ini… wajahnya… matanya… persis seperti dirinya saat kecil. Dan ada sesuatu di tatapan anak itu — keakraban, kehangatan, seakan mereka sudah saling kenal sejak lama, seakan mereka terhubung oleh ikatan yang tak terlihat.

Mereka berdiri berhadapan, hanya berjarak beberapa langkah, tidak bersuara, hanya saling menatap — ayah dan anak, yang terpisah selama lima tahun, akhirnya berdiri di ruangan yang sama, di tempat yang sama, saling melihat wajah satu sama lain untuk pertama kalinya dalam kehidupan mereka.

Xiaoqi menatap ayahnya, matanya berkabut, bibirnya sedikit bergetar. Ia ingin berkata sesuatu, ingin menyapa, tapi kata-kata itu hilang. Ia hanya bisa menatap, menatap pria yang menjadi alasan keberadaannya, pria yang selama ini ia cari, pria yang selama ini ia rindu tanpa pernah bertemu.

Yicheng menatap anak itu, dadanya terasa penuh, sesak, penuh perasaan yang tidak bisa ia jelaskan — keterkejutan, keheranan, kehangatan, kerinduan, dan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang membuat kakinya terasa lemas, seakan tanah di bawah kakinya bergerak. Anak ini terasa begitu dekat, begitu akrab, seakan ia adalah bagian dari dirinya yang hilang dan kini kembali.

Waktu seakan berhenti berputar di lobi yang luas itu. Orang-orang di sekitar mereka tampak kabur, suara langkah kaki dan percakapan terdengar samar — hanya mereka berdua, ayah dan anak, saling menatap untuk pertama kalinya, di persimpangan takdir yang sudah menunggu terlalu lama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!