ZONA DEWASA‼️
Luna seorang mahasiswa yang berkuliah di universitas elite di ibukota menyembunyikan identitasnya yang seorang putri tunggal dari pengusaha yang diambang kebangkrutan, dia pun melarikan diri dari rumahnya karna hendak di jodohkan.
Di kampusnya ia jatuh cinta dengan Adrian Xander Mahasiswa terpopuler di universitas Legacy.
Namun secara tidak sengaja Luna mengalami sebuah peristiwa yang membuatnya terikat dengan Moreno Xander yang juga merupakan saudara tiri Adrian
Apa yang akan terjadi pada kehidupan Luna setelah dia dihadapkan dengan dua Xander bersaudara???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Pagi pun menjelang. Cahaya matahari menyusup tipis dari balik tirai kaca penthouse, menerangi kamar utama.
Luna menggeliat pelan, merasakan seluruh tubuhnya menegang dan pegal luar biasa. Bagaimana tidak? Semalaman penuh ia terpaksa tidur dalam posisi kaku, terkunci oleh lengan kekar Moreno yang melingkari perutnya.
"Dasar bule gila... ngerusak kualitas tidur gue aja," umpat Luna berbisik, mendesah kesal merutuki pria di sebelahnya.
Dengan berhati-hati, Luna mengangkat lengan Moreno agar bisa keluar dari ranjang tanpa membangunkannya. Namun, baru saja ia menggeser tubuhnya beberapa sentimeter, gerakan refleks Moreno jauh lebih cepat.
Greb.
Lengan itu kembali menyambar pinggangnya, menarik Luna dengan sekali hentakan hingga gadis itu terjatuh pasrah kembali ke dalam dekapan Moreno.
"Lepasin, Ren..." omel Luna seraya menepuk bahu tegap itu.
"Mau ke mana?" gumam Moreno serak, suara khas orang yang baru terbangun.
"Ini udah pagi! Bukannya gue harus ngejalanin tugas gue jadi babu di rumah lo ini?" cetus Luna sewot.
Moreno tidak langsung membuka mata. Pria itu justru makin menenggelamkan wajahnya di leher Luna, berbisik santai.
"Mulai hari ini lo gue pecat jadi babu. Lo punya pekerjaan baru."
Luna mengerutkan kening, lalu berbalik badan hingga kini posisinya berhadapan langsung dengan wajah tampan Moreno yang masih memejamkan mata.
"Pekerjaan baru apa lagi, coba?" tanya Luna heran.
Moreno mengulas senyum tipis di bibirnya, lalu menjawab tanpa beban,
"Mulai sekarang, tugas utama lo cuma jadi guling gue."
Luna yang mendengarnya hampir saja tertawa. Baru kali ini ada tawaran kerjaan cuma disuruh jadi guling... emang agak laen otak ini orang, batin Luna terheran-heran sekaligus geli melihat tingkah ajaib pria di hadapannya.
"Terus gue mau sampai kapan disuruh jadi guling lo?" cibir Luna seraya menggeser sedikit tubuhnya.
"Ini udah jam tujuh pagi, bentar lagi kita harus berangkat ke kampus."
Moreno perlahan membuka matanya. Sepasang mata abu-abu itu menatap Luna dalam-dalam, lalu bibirnya mengukir senyum lebar yang amat manis.
Luna terdiam sejenak. Jantungnya berdesir halus, mendadak sedikit terpesona melihat ketampanan pria itu di bawah paparan sinar matahari pagi.
Kletuk.
"Aduh!" Luna meringis seraya mengelus hidungnya yang baru saja disentil pelan oleh Moreno.
"Selain jadi guling, lo juga merangkap tugas jadi pengasuh gue," ucap Moreno santai, binar jahil terpancar jelas dari matanya.
Luna menyipitkan mata penuh selidik.
"Maksud lo pengasuh gimana? Jangan aneh-aneh ya lo, Ren!"
"Pengasuh yang ngurusin semua keperluan gue, tentunya," sahut Moreno seraya menyangga kepalanya dengan satu tangan.
"Dan tugas pertama lo sebagai pengasuh pagi ini... mandiin gue."
Luna melotot sempurna. Sungguh sebuah permintaan yang teramat diluar nalar!
"Gak! Gue gak mau!" tolak Luna mentah-mentah.
"Memangnya lo bayi sampai harus dimandiin segala?!"
"Suka-suka gue dong. Gue kan bos lo," balas Moreno tanpa beban, menaikkan sebelah alisnya.
"Sebagai bawahan yang baik, lo harus turuti perintah atasan."
"Permintaan lo tuh gak masuk akal banget, tahu gak!" desak Luna kesal setengah mati.
"Terus kalau lo habis BAB, gue harus nyebokin lo juga gitu?!"
Moreno menahan tawanya yang hampir meledak melihat raut wajah Luna yang merah padam dan super menggemaskan.
"Kalau lo mau... why not?" jawabnya santai tanpa dosa.
"Gila lo ya!"
Luna mendorong dada bidang Moreno sekuat tenaga, berusaha bangkit untuk menjauh dari pria gila di hadapannya. Namun, Moreno jauh lebih cepat. Dengan mudah ia kembali menyambar pinggang Luna, membalikkan posisi hingga membuat Luna terkunci dalam dekapannya lagi.
"Oke, oke. Lo gak harus mandiin gue," ucap Moreno mengalah, lalu menyunggingkan senyuman miring.
"Tapi pagi ini... kita mandi bareng."
"Mandi bareng?!" Luna tambah melotot, membelalak tak percaya. "Ogah!!"
"Kenapa gak mau?" goda Moreno seraya membelai helai rambut Luna.
"Lo takut ya nanti gue apa-apain di dalam kamar mandi?"
"Tentu aja gue takut! Otak lo kan mesum!" seru Luna blak-blakan.
Moreno tersenyum-senyum geli. Entah kenapa, menggoda Luna di pagi hari seperti ini memberikan kesenangan tersendiri baginya.
Moreno menunduk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Luna lalu berbisik dengan nada intimidasi,
"Tapi sayangnya... gue gak suka penolakan. Lo lupa sama aturan itu, hm?"
Luna menatap Moreno dengan tatapan menjerit frustrasi dalam hati. Lama-lama tinggal bersama dengan pria ini, membuatnya ikut menjadi sinting!
Melihat celah saat Moreno sedikit lengah, Luna langsung melompat turun dari kasur dan mengambil langkah seribu menuju pintu. Ia harus keluar dari kamar ini sekarang juga!
Sayangnya, pergerakan Moreno jauh lebih sigap. Hanya dalam dua langkah panjang, Moreno berhasil menyusul dan memotong jalan Luna. Tanpa memberikan waktu untuk menghindar, Moreno langsung menyambar pinggang Luna dan mengangkat tubuh mungil itu ke atas bahunya—seperti sedang mengangkut sekarung beras.
"Argh! Reno! Lepasin gue!" memekik histeris seraya memukul-mukul punggung tegap Moreno dengan tinju kecilnya.
"Turunin enggak?! Reno, lepas!"
Moreno sama sekali tak acuh pada teriakan dan pukulan itu. Dengan santai ia melangkah lebar membawa Luna masuk ke dalam kamar mandinya yang berukuran luas.
Moreno mendudukkan Luna begitu saja di dalam bathtub porselen yang dingin. Sebelum Luna sempat memanjat keluar, Moreno dengan cepat memutar kran shower utama. Seketika itu juga, kucuran air hangat mengguyur deras dari atas, membasahi sekujur tubuh Luna dalam hitungan detik.
"Reno! sialan lo ya!" teriak Luna basah kuyup, mengusap air yang menutupi matanya seraya memaki penuh kekesalan.
Bukannya merasa bersalah, Moreno justru menyeringai tipis. Tanpa mengalihkan pandangannya dari Luna, pria itu melepas kaos oblongnya dengan satu gerakan cepat, disusul celana pendeknya, hingga kini hanya menyisakan celana boxer yang melekat di tubuh atletisnya.
Dengan santai, Moreno melangkah masuk dan mendudukkan dirinya di dalam bathtub, tepat di hadapan Luna.
"L-lo mau ngapain?!" gagap Luna, refleks merapatkan punggungnya ke dinding bathtub.
Moreno menaikkan sebelah alisnya, terkekeh pelan.
"Di kamar mandi ya mau mandi lah. Memangnya mau ngapain lagi? Jangan-jangan otak lo yang mesum ngebayangin macam-macam, ya?"
Sentilan verbal itu sukses membuat pipi luna langsung merah padam.
"M-mana ada! Gue enggak mikir gitu ya!"
Moreno tidak menjawab lagi. Pandangan perlahan turun menyusuri tubuh Luna yang basah kuyup. Gaun tidur tipis berwarna lembut yang dikenakan Luna kini menempel ketat di kulitnya, menjadi agak menerawang dan memperlihatkan lekuk tubuh gadis itu dengan sangat jelas di bawah guyuran air.
Jakun Moreno naik-turun, menelan ludah kasar sewaktu gairah liarnya mulai naik.
"Buka baju lo," perintah Moreno rendah, suaranya mendadak berubah menjadi serak dan berat.
"Hah?! Buat apa?!" tolak Luna panik.
"Memangnya lo mau mandi pakai piyama basah gitu?" Moreno makin mendekatkan tubuh tegapnya, mengikis jarak hingga membuat Luna benar-benar tersudut di ujung bathtub.
"Mau gue yang bukain... atau lo buka sendiri?"
Melihat sorot mata Moreno yang berubah pekat dan berbahaya, Luna tahu pria ini tidak sedang bercanda. Dengan canggung, Luna perlahan menanggalkan gaun tidurnya yang basah kuyup, menyisakan setelan bra dan underwear berwarna merah yang membungkus kulit putih bersihnya.
Moreno menatap pemandangan indah di depannya tanpa berkedip dari atas ke bawah. Meski terhalang genangan air hangat di bathtub, keindahan tubuh mulus Luna terpampang sangat nyata di matanya.
"Lo sadar enggak sih, Lun... kalau lo itu seksi banget?" bisik Moreno pelan.
Wajah Luna rasanya mau meledak karena panas yang membakar seluruh pipinya. Ia memalingkan wajah, tak sanggup menatap mata Moreno yang seolah siap menelannya hidup-hidup.
Sebelum Luna sempat memprotes lagi, tangan Moreno terulur menyambar belakang tengkuk Luna. Pria itu menarik wajah Luna mendekat dan langsung melumat habis bibir basah gadis itu dengan ciuman yang sarat akan gairah yang mendominasi.
Ciuman itu begitu liar dan menuntut, seolah Moreno ingin merenggut seluruh oksigen dari paru-paru Luna. Pria itu menangkup wajah Luna rapat-rapat, hampir tidak memberinya celah sedikit pun untuk mengambil napas.
Hingga akhirnya, ketika Luna mulai kehabisan udara dan memukul-mukul kecil bahu tegap Moreno, pria itu perlahan melepaskan tautan bibir mereka. Luna terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat.
"Lo mau bunuh gue ya, hah?!" protes Luna kesal, menyeka bibirnya yang bengkak dan basah.
Moreno menyeringai kecil, menatap bibir ranum gadis itu dengan tatapan puas.
"Habisnya, bibir lo manis banget. Bikin gue ketagihan."
Mendengar kejujuran blak-blakan itu, Luna seketika salah tingkah. Ia berusaha menetralkan debaran jantungnya yang kembali menggila.
"Gak begitu juga kali, Ren! Lo nyium gue kayak orang kerasukan, hampir aja gue mati kehabisan napas!"
Moreno tertawa renyah, menikmati ekspresi protes gadis di depannya.
"Iya, iya, maaf. Lain kali gue cium dengan lebih lembut, deh."
Luna mendecak kesal, memalingkan muka meski sudut bibirnya sempat berkedut hendak tersenyum.
Setelah menyelesaikan "ritual mandi" pagi itu—yang untungnya bagi Luna, otak mesum Moreno sedang tidak aktif sehingga ia terbebas dari hal-hal yang belum diizinkan terjadi—keduanya pun bersiap dan pergi ke kampus bersama.
Sepanjang perjalanan, ada sedikit perbedaan yang dirasakan Luna atas sikap Moreno. Pria itu jauh lebih banyak tersenyum padanya dan sedikit lebih banyak bicara dari biasanya. Di dalam hatinya, Luna perlahan mulai merasa kalau Moreno sebenarnya tidak sebrengsek yang ia pikirkan selama ini.
Karena meskipun sangat menyebalkan, sikap pria itu nyatanya cukup baik dan perhatian padanya.
Hingga akhirnya, mobil mewah Moreno membelah jalanan dan memasuki area parkiran kampus.
Seperti biasa, sebelum turun dari mobil, Luna terlebih dahulu celingukan memantau situasi sekitar dengan waspada.
Moreno yang melihat tingkah sembunyi-sembunyi itu mendengus kesal sendiri.
"Kalau mau turun ya turun aja, emangnya kelihatan memalukan banget kalau lo ketahuan datang bareng gue?" cibir Moreno dingin.
Luna menoleh cepat.
"Bukan masalah malu! Gue cuma gak mau berurusan sama para haters dan pemuja rahasia lo di sini. Lo lupa kejadian di kantin waktu itu gara-gara apa?!"
Moreno mendengus pelan. "Kalau ada yang berani ganggu lo, bilang ke gue."
"Terus, mau lo apain orang itu?" selidik Luna.
"Gue culik, terus gue buang ke Samudra Pasifik," jawab Moreno santai tanpa dosa.
Luna mendecak kesal. "Dih, ditanya serius malah bercanda!"
Merasa suasana sekitar sudah cukup sepi, Luna lantas turun dari mobil. Namun, baru beberapa langkah ia menjauh, Moreno melangkah cepat mengejarnya dari belakang.
Luna terkejut dan berbalik. "Ada apa?"
Moreno menyodorkan sebuah paper bag sedang berwarna cokelat.
"Nih. Di dalamnya ada roti sandwich sama susu hangat. Buat lo, tadi pagi kan lo belum sempat sarapan."
Luna mengambilnya dengan kening berkerut heran. "Kapan lo beli ini?"
"Tadi, pas lo ketiduran di mobil," jawab Moreno acuh tak acuh.
Luna hanya ber-oh ria, tersenyum kecil seraya berterima kasih. Tiba-tiba, tangan Moreno terulur, merapikan beberapa helai rambut Luna yang agak berantakan. Sentuhan manis dan perhatian kecil itu seketika membuat pipi Luna merona.
"Lo lupa sisiran ya?" ledek Moreno pelan.
"Ini semua gara-gara lo yang bikin kita hampir kesiangan!" balas Luna sewot untuk menutupi rasa canggungnya.
Moreno hanya tersenyum geli. Luna pun berbalik badan melangkah menuju gedung fakultasnya dengan perasaan campur aduk.
Namun, tanpa disadari oleh keduanya, dari kejauhan ada sepasang mata yang terus mengawasi interaksi manis mereka dengan tatapan tajam.
Adrian berdiri di balik pilar parkiran, meremas jemarinya rapat-rapat. Ia merasa ada sesuatu yang tidak wajar di antara mereka berdua—karena sangat tidak biasanya seorang Moreno bersikap selembut dan sebaik itu pada seseorang.
Sebuah seringai licik terukir di wajah Adrian, disertai gumaman.
"Jadi begitu ya... Apapun yang lo sukai Reno, bakal gue rebut."
Visual of Adrian Xander