Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 - Hari Pertama
Cila memiringkan kepala, lalu memperhatikan hasil riasan Nayla dari berbagai sudut. Riasan yang digunakan tidak berlebihan. Wajah Nayla hanya dibuat terlihat lebih segar, dengan warna-warna lembut yang membuat kecantikannya semakin menonjol tanpa menghilangkan kesan natural.
Rambut panjangnya juga ditata sederhana. Tidak ada aksesori mencolok, hanya tatanan rapi yang membuatnya terlihat jauh lebih profesional.
Cila akhirnya tersenyum puas.
"Sudah."
Nayla membuka mata dan menatap pantulan dirinya di cermin. Untuk beberapa saat, dia hanya diam.
"Ini aku?"
Yuli yang sejak tadi memperhatikan langsung tertawa.
"Ya ampun, Nay! Aku sampai hampir enggak mengenalimu."
Nayla menoleh. "Lebay!"
"Aku serius." Yuli berdiri dan mendekatinya. "Kamu sebenarnya sudah cantik dari awal. Cuma selama ini kamu memang enggak pernah benar-benar memperhatikan penampilan."
Cila mengangguk setuju.
"Betul. Wajahmu punya bentuk yang cocok untuk riasan natural. Jadi aku tidak perlu mengubah banyak hal."
Nayla tersenyum malu. Dia kembali melihat cermin. Ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Bukan karena menjadi orang lain, tetapi karena untuk pertama kalinya dia melihat dirinya dengan penampilan yang benar-benar disiapkan untuk sebuah lingkungan profesional.
"Menurut kalian cocok untuk kerja di kantor?"
"Cocok banget," jawab Yuli cepat.
Cila ikut tersenyum. "Asalkan kamu mempertahankan penampilan seperti ini. Tidak perlu berlebihan. Yang penting rapi, bersih, dan sesuai dengan lingkungan kerja."
Nayla mengangguk berkali-kali.
"Terima kasih, Cil."
"Sama-sama."
Nayla berdiri kemudian melihat pakaian yang akan dikenakannya besok. Cila juga membantunya memilih beberapa kombinasi sederhana yang bisa dipadukan dengan pakaian yang sudah dimilikinya. Tidak semuanya harus mahal. Dengan sedikit penyesuaian, pakaian sederhana milik Nayla tetap bisa terlihat profesional.
Sepanjang perjalanan pulang, Nayla tidak berhenti tersenyum. "Aku masih enggak percaya," katanya.
Yuli meliriknya. "Apa?"
"Aku benar-benar akan bekerja di Nebula."
"Kamu pantas mendapatkannya."
Nayla terdiam sejenak. Kemudian senyumnya kembali muncul.
"Aku ingin cepat-cepat mulai."
"Kamu malah tidak takut?"
"Takut."
"Terus?"
Nayla tertawa. "Bisa dibilang campur aduk."
Malam itu, Nayla mempersiapkan semuanya. Dia menyetrika pakaian, membersihkan sepatunya, menyiapkan tas, serta memastikan seluruh dokumen yang diperlukan sudah berada di tempatnya.
Sebelum tidur, Nayla membuka ponselnya dan membaca kembali email penerimaan dari Nebula.
Dia tersenyum.
"Besok..."
...***...
Keesokan paginya, gedung Nebula kembali dipenuhi aktivitas. Para karyawan sibuk memasuki ruangan masing-masing. Beberapa orang membawa dokumen, sebagian lainnya berjalan cepat menuju ruang rapat.
Di lantai tiga puluh dua, Tristan baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum berangkat menuju luar kota.
Zay berdiri di hadapannya sambil membawa sebuah map.
"Pak Tristan, sekretaris barumu akan mulai bekerja hari ini."
Tristan yang sedang memeriksa ponselnya hanya mengangguk.
"Namanya siapa?"
"Nayla Putri Lestari."
Zay menyerahkan map berisi informasi mengenai Nayla.
"Ini data kandidat yang kemarin lolos seleksi."
Tristan mengambilnya, tetapi tidak langsung membukanya. Dia hanya meletakkannya di atas meja.
"Kau sudah memeriksa semuanya?"
"Sudah."
Tristan mengangguk puas. Dia memang tidak terlalu suka menghabiskan waktu memeriksa pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada orang lain. Terlebih Zay adalah orang yang selama ini selalu bisa diandalkan.
"Aku percaya penilaianmu."
Zay tersenyum kecil. "Terima kasih, Pak."
"Hari ini aku harus ke luar kota. Ada pertemuan dengan investor."
"Baik."
"Bimbing dia selama aku pergi. Jelaskan semua tugas yang harus dia lakukan."
"Siap!"
Tristan mengambil jasnya. "Kalau ada masalah, hubungi aku."
"Baik, Pak."
Tristan berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, dia sempat berhenti.
"Dan Zay."
"Ya?"
"Pastikan dia tahu standar kerja di sini."
"Tentu."
Tristan mengangguk lalu meninggalkan ruangan.
Zay menatap kepergian atasannya. Setelah itu, dia kembali memeriksa beberapa dokumen.
Tak lama kemudian, suara ketukan terdengar dari pintu.
Tok! Tok!
"Masuk!"
Pintu terbuka. Seorang perempuan muda berdiri di ambang pintu.
"Permisi."
Zay mengangkat kepala. Untuk sesaat, dia tampak sedikit terkejut. Nayla berdiri dengan pakaian kerja yang sederhana tetapi sangat rapi. Rambutnya ditata profesional, wajahnya dihiasi riasan tipis, dan senyumnya terlihat sopan.
"Kau Nayla?"
Nayla mengangguk. "Ya. Saya Nayla Putri Lestari. Hari ini saya mulai bekerja sebagai sekretaris Pak Tristan."
Zay berdiri. "Selamat datang di Nebula."
"Terima kasih, Pak."
"Saya Zay."
Nayla tersenyum. "Saya tahu. Nama Anda tercantum dalam email yang dikirim HR."
"Bagus."
Zay mempersilakannya masuk. "Pak Tristan sedang tidak ada. Beliau harus menghadiri meeting di luar kota."
Nayla mengangguk. "Baik."
"Sebelum mulai bekerja, aku akan menjelaskan beberapa hal."
Nayla langsung mengambil buku catatan kecil dari tasnya.
Zay memperhatikan gerakan tersebut. "Kau akan mencatat?"
"Iya. Saya takut lupa."
Zay mengangguk puas. Dia kemudian menjelaskan berbagai tugas yang harus dilakukan Nayla. Mulai dari mengatur jadwal Tristan, memeriksa agenda rapat, memastikan dokumen yang perlu ditandatangani tersedia, menerima tamu yang berkepentingan dengan Tristan, hingga menyaring panggilan telepon dan pesan yang masuk.
Nayla mencatat semuanya dengan teliti.
"Untuk dokumen penting, jangan sampai ada yang terlewat," ujar Zay. "Pak Tristan sangat menghargai ketelitian."
"Baik."
"Kalau ada perubahan jadwal, segera beritahu beliau."
Zay kemudian berhenti sejenak sebelum menambahkan sesuatu.
"Ada satu hal lagi."
Nayla mengangkat wajah. "Kau harus melaporkan kepadaku segala sesuatu yang dilakukan Pak Tristan selama berada di kantor."
Nayla sedikit bingung. "Segala sesuatu?"
"Ya."
"Termasuk?"
"Jadwalnya, siapa yang datang menemuinya, siapa yang menelepon, rapat yang dihadiri, dan perubahan agenda. Pokoknya semua hal yang berkaitan dengan aktivitas beliau di kantor."
Nayla mengangguk tanpa banyak bertanya. "Baik, Pak."
Zay kemudian tersenyum. "Tenang saja. Tidak sesulit yang kau bayangkan."
Dia membuka sebuah catatan lain.
"Aku juga akan memberitahu apa yang disukai dan tidak disukai Pak Tristan."
Nayla kembali bersiap mencatat.
"Pak Tristan sangat menghargai ketepatan waktu. Jangan membuatnya menunggu. Dia tidak suka ruangan berantakan."
Nayla mencatat.
"Dia juga tidak suka orang yang terlalu banyak bicara ketika sedang bekerja. Jangan mengganggunya ketika sedang membaca dokumen penting kecuali memang mendesak."
Nayla mengangguk.
"Dan satu lagi."
Zay menatapnya. "Pak Tristan sangat menjaga privasinya."
Nayla menatap serius. "Saya mengerti."
"Jadi, apa pun yang kau dengar atau lihat selama bekerja, jangan membicarakannya kepada orang lain. Kecuali aku. Oke?"
"Tentu."
Zay merasa cukup puas dengan responsnya.
"Bagus. Kalau begitu, aku akan membantu kau menyesuaikan diri."
Nayla mengembuskan napas lega. Ternyata Zay cukup ramah. Dia sempat khawatir akan bertemu atasan yang kaku dan sulit diajak berkomunikasi, tetapi setidaknya orang pertama yang membimbingnya justru bersikap baik.
Nayla kemudian duduk di meja sekretaris yang berada tidak jauh dari ruangan Tristan. Dia mulai menata alat tulis, membuka komputer, dan memeriksa beberapa dokumen yang diberikan Zay.
Sementara itu, Zay berdiri beberapa langkah di belakangnya. Tatapannya sempat tertuju pada Nayla cukup lama. Sebagai lelaki, dia tentu terpesona. Akan tetapi gadis seperti Nayla bukanlah tipe yang dirinya sukai. Zay hanya kagum dengan kecantikan paras Nayla untuk sesaat.